Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 124 Keegoisan yang berakhir malu


__ADS_3

Ustadzah Farida berlari menuju kamarnya. Dia menanggung malu karena keegoisannya atas perasaannya pada Ustadz Jaki. Keegoisannya dan keegoisan ibunya itu mengantarkannya pada cibiran dan hujatan orang lain padanya.


Berkali-kali Ustadzah Anisa mengetuk pintunya, namun Ustadzah Farida tidak membukakan pintu untuknya. Bahkan untuk bertemu Ustadzah Anisa saja dia malu. Karena selama ini Ustadzah Anisa lah yang selalu mengingatkannya agar mengikhlaskan perasaannya itu agar nantinya tidak menyakiti siapapun. Dan kini ucapan dari Ustadzah Anisa itupun terbukti.


Ustadzah Farida tetap saja mengacuhkan Ustadzah Anisa yang berusaha menenangkannya dengan ucapan-ucapannya. Bahkan Ustadzah Anisa menghubungi nomer ponsel Ustadzah Farida, namun tetap saja Ustadzah Farida mengacuhkannya.


Akhirnya Ustadzah Anisa menyerah, karena jam mengajar sudah kembali berbunyi. Ustadzah Anisa meninggalkan kamar Ustadzah Farida dengan perasaan cemas. Dan Ustadzah Farida pun tidak kembali mengajar, dia lebih memilih menenangkan dirinya di kamar untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Ya Allah aku malu sekali.... Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menghilang saja dari sini? Atau aku harus menghadap keluarga Ustadz Jaki untuk meminta maaf? Tapi aku benar-benar malu.... Ustadzah Farida berkata dalam hatinya disela isakan tangisnya.


Ustadzah Anisa pun tidak lagi menghubungi Ustadzah Farida karena dia yakin jika Ustadzah Farida ingin sendirian untuk saat ini. Sampai sore hari, Ustadzah Anisa yang berniat untuk ke kamarnya mencoba mengetuk pintu Ustadzah Farida hanya untuk mengetahui keadaan Ustadzah Farida.


Berkali-kali Ustadzah Anisa mengetuk pintu kamar Ustadzah Farida, namun sama saja, Ustadzah Farida tidak menyahut. Ustadzah Anisa pun menjadi sangat cemas, dia takut terjadi apa-apa dengan Ustadzah Farida, karena menurut penilaian Ustadzah Anisa, Ustadzah Farida tidak berpikir panjang jika akan melakukan sesuatu.


Ustadzah Anisa mencoba membuka pintu Ustadzah Farida, namun pintu kamar begitu saja terbuka ketika handle pintu di pegang oleh Ustadzah Anisa. Dengan rasa terkejut dan juga senang, Ustadzah Anisa segera masuk ke dalam kamar Ustadzah Farida.


Kamar Ustadzah Farida kosong, dan sangat rapi. Ustadzah Anisa tidak menemukannya di mana pun meskipun Ustadzah Anisa sudah mencarinya di setiap sudut kamar. Sampai akhirnya Ustadzah Anisa menghentikan pencarian dan memanggil nama Ustadzah Farida ketika mata Ustadzah Anisa tertuju pada dua buah amplop yang ada di meja sebelah ranjang Ustadzah Farida.


Ustadzah Anisa membuka amplop yang bertuliskan namanya. Dalam amplop tersebut Ustadzah Farida mengucapkan terima kasih atas pertemanan mereka selama ini, dan Ustadzah Farida meminta maaf karena tidak mendengarkan nasehat-nasehat Ustadzah Anisa tentang perasaannya pada Ustadz Jaki. Dan Ustadzah Farida meminta tolong untuk menyampaikan surat yang ada di amplop satunya lagi untuk Umi Sarifah.


"Huffft.... Ustadzah Farida kenapa kamu harus pergi? Harusnya kamu meminta maaf secara langsung. Tapi ya memang malu sih, tapi gimana lagi, dengan pergi seperti ini sama saja kamu menjadi seorang pengecut dan belum tentu nantinya kalian tidak bertemu di lain kesempatan. Ya sudahlah, sekarang aku harus memberikan amplop itu pada Umi Sarifah," Ustadzah Anisa berkata seorang diri di kamar Ustadzah Farida.


Ustadzah Anisa memasukkan amplop surat yang bertuliskan namanya di dalam saku bajunya. Sedangkan amplop surat untuk Umi Sarifah dia bawa dan segera diantarkannya ke rumah Umi Sarifah.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


"Assalamu'alaikum....," Ustadzah Anisa mengucap salam dengan mengetuk pintu rumah Umi Sarifah.


"Wa'alaikumussalam...," jawaban salam dari dalam rumah.


"Ustadzah Anisa? Ada apa Ustadzah kok tumben ke sini di jam seperti ini?" Umi Sarifah heran mendapati Ustadzah Anisa tiba-tiba datang tanpa disuruh oleh Umi Sarifah.


Memang biasanya Ustadz atau Ustadzah datang ke rumah Umi Sarifah karena disuruh Umi Sarifah menemuinya. Dan sekarang tiba-tiba saja Ustadzah Anisa datang ke rumah Umi Sarifah tanpa diketahui oleh Umi Sarifah.


"Maaf Umi, saya hanya ingin menyampaikan ini," Ustadzah Anisa memberikan sebuah amplop pada Umi Sarifah.


"Apa ini Ustadzah? Eh sampai lupa, silahkan masuk dulu Ustadzah," ucap Umi Sarifah sambil mempersilahkan Ustadzah Anisa masuk ke dalam rumahnya.


"Tidak usah Umi, saya hanya mau menyampaikan ini dari Ustadzah Farida," ucap Ustadzah Anisa yang masih memegang amplop tersebut sedari tadi yang belum diambil oleh Umi Sarifah dari tangannya.


"Saya tidak tau Umi, tadi saya masuk ke dalam kamar Ustadzah Farida dan menemukan dua amplop, yang satunya ada nama saya di amplopnya, dan dalam surat tersebut Ustadzah Farida meminta tolong pada saya untuk menyerahkan amplop yang satunya lagi pada Umi Sarifah. Maaf Umi saya permisi dulu, masih ada kegiatan sebentar lagi," Ustadzah menjelaskan apa yang terjadi di kamar Ustadzah Farida pada Umi Sarifah.


Umi Sarifah menganggukkan-anggukkan kepalanya sebagai tanda dia mengerti apa yang dijelaskan oleh Ustadzah Anisa padanya.


"Baiklah, terima kasih Ustadzah Anisa," ucap Umi Sarifah.


"Sama-sama Umi. Assalamu'alaikum...," Ustadzah Anisa mengucap salam sebelum meninggalkan rumah Umi Sarifah.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam...," Umi Sarifah menjawab salam Ustadzah Anisa yang sudah berjalan beberapa langkah menjauhinya.


Umi Sarifah membuka surat tersebut dan membacanya. Umi Sarifah menyayangkan dengan tindakan Ustadzah Farida yang hanya meninggalkan surat untuk meminta maaf. Umi Sarifah tau jika Ustadzah Farida malu akan perbuatannya dan ibunya waktu itu sesuai dengan apa yang Ustadzah Farida jelaskan dalam suratnya, namun alangkah lebih baiknya jika Ustadzah Farida masih tetap berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin jika dia benar-benar sudah menyesal dan meminta maaf secara langsung pada Ustadz Jaki dan istrinya, serta pada Ustadz Fariz dan istrinya.


Umi Sarifah menyimpan surat tersebut di sakunya, dia akan memberikannya pada Ustadz Jaki dan Ustadz Fariz nanti karena dalam surat Ustadzah Farida itu, nama mereka semua disebut untuk permintaan maafnya.


Setelah memberikan surat Ustadzah Farida pada Umi Sarifah, Ustadzah Anisa kembali ke ruangan pengajar untuk menyiapkan materi mengajarnya.


"Assalamu'alaikum...," Ustadzah Anisa mengucap salam saat masuk ruangan pengajar.


"Wa'alaikumussalam....," jawab para Ustadz dan Ustadzah yang berada di dalam ruangan tersebut.


Ustadz Jaki memang tidak pernah datang ke ruangan pengajar setelah malam itu, malam di mana Ustadzah Farida datang bersama ibunya ke rumah Umi Sarifah untuk meminta Ustadz Jaki menjadikannya istri.


"Ustadzah Anisa, saya mau pinjam kunci gudang penyimpanan, mau menyimpan buku-buku ini," Ustadzah Ami mendekat pada Ustadzah Anisa dengan membawa buku-buku di tangannya dan diikuti Ustadzah Santi di belakangnya.


Ustadzah Anisa tersenyum dan mengangguk, kemudian dia mengambil kunci di saku bajunya. Namun pada saat Ustadzah Anisa mengambil kunci dari sakunya, tanpa sengaja surat dari Ustadzah Farida yang dia taruh di saku bajunya terjatuh dari dalam saku bajunya.


"Ini kuncinya Ustadzah," ucap Ustadzah Anisa tanpa mengetahui surat dari Ustadzah Farida jatuh ke lantai.


"Apa ini Ustadzah?" Ustadzah Santi mengambil amplop tersebut dari lantai.


Ustadzah Anisa yang sedang membuka-buka bukunya untuk menyiapkan materi mengajarnya tidak menoleh ke arah Ustadzah Ami dan Ustadzah Santi.

__ADS_1


"Hah, Ustadzah Farida pergi dari sini karena malu?" ceplos Ustadzah Santi yang sudah membuka surat tersebut dan membacanya.


Sontak saja Ustadzah Anisa menoleh ke arah Ustadzah Santi yang masih berada di dekat mejanya. Dan semua orang yang ada di ruangan tersebut pun memandang Ustadzah Santi untuk mendengarkan kelanjutan dari ucapannya. Memang dengan suara Ustadzah Santi yang keras karena kaget dan ceplas-ceplosnya itu membuat semua orang percaya padanya.


__ADS_2