Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 112 Jalan tol bebas hambatan


__ADS_3

Ustadz Fariz keluar dari ruangan dokter Shinta dengan mendorong kursi roda Rhea, sedangkan Ustadz Jaki mengikuti Ustadz Fariz dibelakangnya.


"Mas Fariz aku ingin bicara," lagi-lagi suara itu menghentikan langkah kaki Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz, Ustadz Jaki dan Rhea pun menoleh pada suara yang memanggil Ustadz Fariz. Ternyata suara itu dari Mirna yang baru keluar dari ruangan pemeriksaan dokter.


"Ck, dia lagi," gerutu Ustadz Jaki sambil menoleh ke arah lain.


Sedangkan Rhea tersenyum pada Mirna dan mencoba untuk berdiri, namun dilarang oleh Ustadz Fariz.


"Duduk aja Sayang," ucap Ustadz Fariz sembari tangannya menahan kedua pundak istrinya agar tidak turun dari kursi roda dan Rhea pun menurut, dia duduk kembali di kursi rodanya.


Mirna menatapnya dengan tatapan iri, namun dia ingat tujuannya, sehingga dia harus bisa menetralkan raut wajahnya.


"Mbak Mirna apa kabar? Maaf Mbak aku harus duduk di sini," ucap Rhea sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.


Mirna membalas uluran tangan Rhea dan berkata,


"Kabarku buruk, dan ternyata aku harus segera di rawat agar tidak lagi merasakan sakit seperti sekarang. Kasihan sekali bukan nasibku? Aku tidak punya orang terkasih yang mengantarkanku seperti dirimu," ucap Mirna dengan raut wajah sedih.


Bibir Rhea seperti terkunci, dia tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu sehingga dia hanya bisa diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Kamu kan ada Anita dan Pak Ratmo yang menjagamu. Mereka keluargamu dan mereka menyayangimu," ucap Ustadz Fariz yang melihat raut kesedihan pada wajah Rhea.


"Iya Mbak, ada aku dan Bapak yang akan selalu ada untuk Mbak Mirna. Tenang aja, Mbak Mirna gak usah khawatir," Anita menimpali ucapan Ustadz Fariz.


"Mas Fariz, apa aku boleh berbicara berdua denganmu?" Mirna mengiba pada Ustadz Fariz.


Rhea kaget dengan permintaan Mirna, reflek dia mendongak, melihat ke arah Ustadz Fariz dan Ustadz Fariz pun sama, dia melihat Rhea karena dia takut istrinya itu kembali bersedih karena salah paham.


"Apaan lagi ini....," gerutuan Ustadz Jaki mewakili apa yang ingin dikatakan oleh Ustadz Fariz.


"Rhea kamu pasti mengijinkannya bukan?" ucap Mirna sambil memandang Rhea dengan penuh permohonan.


"Tidak bisa Mir, lebih baik kamu bicara di sini saja di depan orang banyak karena kita bukan lagi suami istri, jadi kita tidak bisa berbicara hanya berdua saja," sahut Ustadz Fariz tidak menunggu Rhea menjawab, karena dia tahu jika Rhea tidak akan bisa menolaknya jika Mirna yang memintanya. Bahkan Ustadz Fariz menggunakan bahasa formal untuk berbicara dengan Mirna.

__ADS_1


"Betul itu. Buruan Mbak ngomongnya, kita udah mau pulang ini. Kasihan Rhea, dia harus istirahat gak boleh kecapekan," kini giliran Ustadz Jaki yang mencegah permintaan Mirna.


"Rhea kenapa? Apa Rhea baik-baik aja? Kenapa tadi kalian sampai tergopoh-gopoh begitu? Apa kandungan Rhea gapapa? Atau mungkin.... keguguran?" Mirna ragu mengucapkannya, namun kata keguguran itu keluar begitu saja dari mulut Mirna.


"Mbak!" seru Anita kaget mendengar perkataan Mirna.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Rhea dan Ustadz Jaki bersamaan dengan Ustadz Fariz berbicara.


"Astaghfirullahaladzim... Mirna apa maksudmu? Istriku baik-baik saja dan kandungannya sama sekali tidak bermasalah. Kalau hanya ini yang akan kamu bicarakan, lebih baik kita permisi saja. Assa-" Ustadz Fariz kesal dengan apa yang diucapkan oleh Mirna, namun ucapannya menggantung ketika Mirna menyelanya


"Mas aku mohon temani aku berobat. Aku butuh dukungan Mas Fariz seperti Mas Fariz memperlakukan Rhea," akhirnya permintaan Mirna keluar juga dari mulutnya.


Ustadz Fariz, Rhea dan Ustadz Jaki terkejut dengan permintaan Mirna. Mereka tidak mengira permintaan itu keluar kembali dari mulut Mirna.


"Sepertinya kamu masih belum mengerti Mirna. Kamu bukan istri saya lagi, dan saya tidak berkewajiban untuk menemani kamu seperti saya menemani Rhea, istri saya. Dan kamu seharusnya fokus pada pengobatanmu saja, jangan pikirkan yang lainnya agar kamu cepat sembuh," ucap Ustadz Fariz sambil bersiap mendorong kursi roda Rhea.


"Aku mohon mas. Aku minta maaf, maafkan semua kesalahanku. Tolong sekali ini saja agar aku bisa tenang dirawat di sini. Mas tau kan aku sangat takut di rawat di rumah sakit, aku takut disuntik, mas tau itu kan?" Mirna memohon sambil memegangi perutnya yang semakin nyeri.


"Saya maafkan kesalahan kamu, tapi maaf, saya tidak bisa menuruti kemauanmu. Assalamu'alaikum....," Ustadz Fariz segera mendorong kursi roda Rhea meskipun tangan Mirna masih menghalangi menahan kursi roda Rhea agar tidak berjalan.


Dengan segera Anita melepaskan tangan Mirna dari kursi roda Rhea.


"Mbak maaf," kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Rhea ketika tangan Mirna dilepaskan oleh Anita dari kursi roda Rhea.


"Kenapa lama sekali?" tiba-tiba Shinta sudah berada di situ dengan nafas ngos-ngosan.


"Biasa ada halangan. Kenapa di sini gak dibangun jalan tol aja sih biar gak ada halangan?" ucap Ustadz Jaki ngelantur bermaksud menyindir Mirna.


Mirna tidak lagi menjawab, bahkan dia menekan perutnya sambil memasang wajah kesakitan dan wajahnya sangat pucat, serta mengalir keringat dingin dari pelipis dan dahinya.


"Bu Mirna, Bu Mirna baik-baik saja?" tanya Shinta yang merasa Mirna tidak baik-baik saja.


Shinta segera membuka ruangan praktek dokter yang menangani Mirna tadi dan dia meminta pertolongannya.


Ceklek!

__ADS_1


"Dok, sepertinya pasien harus dirawat sekarang juga," seru Shinta pada dokter Dita yang masih berada di ruangannya sedang memberikan resep yang telah dia tulis pada pasiennya.


"Sus, cepat bawa masuk ke dalam," dokter Dita memerintahkan pada perawat yang bertugas membantunya.


Rhea panik, dipegangnya tangan Ustadz Fariz yang berada di pegangan kursi rodanya dan memandangnya dengan penuh kegelisahan. Ustadz Fariz hanya menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kita doakan saja supaya dia cepat sembuh," ucap Ustadz Fariz sambil tersenyum untuk menenangkan istrinya.


"Mirna! Kamu kenapa?" suara Pak Ratmo membuat semua orang menoleh padanya.


"Ustad?! A-ada apa ini?" Pak Ratmo bingung dengan keadaan ini.


Dia tadi hanya mengantarkan Mirna dan Anita tanpa ikut masuk ke dalam rumah sakit karena masih ada pekerjaan di Pondok Pesantren yang harus dia kerjakan, dan saat ini setelah pekerjaannya selesai, Pak Ratmo berniat untuk menjemput Mirna dan Anita.


"Maaf Pak, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum...," Ustadz Fariz segera mendorong kursi roda Rhea menjauh dari tempat itu.


"Pak, tolong dijaga keponakannya agar tidak lagi mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin meskipun dengan berjuta alasan. Dan jangan sampai dengan alasan sakitnya dia ini Rhea menjadi sedih dan tertekan, karena itu bisa membahayakan kandungannya. Bapak tau kan Umi sangat menantikan kehadiran cucunya? Saya permisi dulu Pak. Assalamu'alaikum....," Ustadz Jaki memberitahukan apa yang harus Pak Ratmo lakukan karena dia tahu jika Ustadz Fariz ingin sekali mengatakan itu, namun tidak bisa karena ada Rhea bersamanya.


"Wa'alaikumussalam...," Pak Ratmo menjawab salam dengan suara lirih karena dia sedang bingung dengan apa yang terjadi.


Ustadz Jaki menggandeng Shinta agar berjalan di sampingnya meninggalkan mereka. Pak Ratmo masih mematung melihat kepergian Ustadz Fariz yang berada di depan Ustadz Jaki. Sedangkan Mirna sudah masuk ke dalam ruang pemeriksaan bersama Anita.


"Huffft... ada-ada aja...," Ustadz Jaki berkeluh kesah di dalam mobil ketika baru saja duduk di depan kemudi.


"Gak baik mengeluh begitu," ucap Shinta ketika mendengar keluhan dari suaminya.


"Habisnya selalu aja ada pengganggu. Besok-besok bangunin jalan tol aja dari ruang pemeriksaan langsung ke parkiran supaya gak ada hambatan," canda Ustadz Jaki untuk mencairkan suasana.


"Ngawur aja dipikir jalan raya apa," jawab Shinta sambil menggelengkan kepalanya heran dengan pikiran suaminya yang mempunyai ide-ide konyol.


"Bukannya gitu-"


"Diem gak!" Shinta mengancam dengan memberikan jari telunjuknya di depan bibir Ustadz Jaki.


Ustadz Jaki pun mengangguk dan tidak bersuara lagi.

__ADS_1


Gawat, dari pada gak dapat jatah nanti malam, mending nurut, diem aja gak usah protes, Ustadz Jaki berbicara dalam hati dengan senyum yang ditujukan pada istrinya, namun bibirnya tetap mengatup, tidak terbuka sedikitpun.


__ADS_2