Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 94 Jaga diri, jaga jarak dan jaga hati


__ADS_3

Ustadzah Indri menatap nanar punggung Ustad Fariz yang mulai menjauh dengan berjalan sangat mesra bersama istrinya.


Pasti sangat senang mempunyai suami seperti Kyai Fariz, selain bisa membimbing di jalan Allah dia juga sangat menjaga istrinya dan romantis pada istrinya. Coba aja aku ada diposisi istrinya, pasti aku sangat beruntung sekali. Apa bisa aku berada diposisi itu? Ustadzah Indri mengagumi Ustad Fariz dalam hatinya dan dia ingin berada diposisi Rhea saat ini.


"Shinta?" celetuk Ustadzah Farida setelah mendengar Rhea menyebutkan nama Shinta yang membuat Ustad Jaki sangat antusias.


Ustadzah Anisa menoleh dan memandang heran pada Ustadzah Farida.


"Ada apa Ustadzah?" Ustadzah Anisa bertanya pada Ustadzah Farida.


"Shinta, apa dia wanita yang bersama Mbak Rhea dan Umi Sarifah waktu acara kemarin itu Ustadzah?" bukannya menjawab pertanyaan dari Ustadzah Anisa, Ustadzah Farida malah bertanya balik pada Ustadzah Anisa.


Ustadzah Anisa mengangkat bahunya tanda bahwa dia tidak tahu.


"Mana aku tau, liat dia aja baru kemarin itu pas ada acara di sini. Tapi melihat Ustad Jaki sangat senang mendengar nama wanita itu tadi, sepertinya mungkin ada hubungan diantara mereka. Udah yuk kita lanjutin ini biar cepat selesai," Ustadzah Anisa mengatakan apa yang ada dipikirannya.


Apa aku ada kesempatan ya untuk bisa lebih dekat dengan Ustad Jaki? Kenapa selama ini hanya sebatas teman mengajar saja seperti dengan Ustad dan Ustadzah yang lainnya? Padahal kan selama ini aku selalu berusaha mendekatinya. Apa dia tidak tau ya? Ustadzah Farida membatin dalam diamnya.


"Eh kok malah diem aja? Ayo bantuin," Ustadzah Anisa menarik lengan gamis Ustadzah Farida dan membuatnya tersadar akan lamunannya yang mempertanyakan semuanya pada dirinya sendiri di dalam hatinya.


Di rumah Umi Sarifah, tepatnya di ruang tengah ditemani Ustad Fariz, Rhea menikmati es krim yang baru dibelinya bersama Ustad Fariz sambil menonton tayangan televisi.


"Berhasil Ustad?" Rhea bertanya pada Ustad Jaki ketika melihat Ustad Jaki masuk ke dalam ruang tengah sambil tersenyum senang dan tangannya masih menenteng ponselnya.


"Berhasil dong, gak liat apa muka gantengku ini sumringah," candaan Ustad Jaki mendapatkan hadiah dari Ustad Fariz berupa bantal sofa yang melayang tepat di wajahnya.


"Kepedean, sok-sokan ngomong muka ganteng, gak ingat apa muka galaunya gimana tadi pas nungguin pesan dan telepon dari Shinta?" Ustad Fariz mengejek Ustad Jaki yang kini akan melayangkan bantal sofa itu kembali pada Ustad Fariz.


"Eits... eits... gak boleh nyakitin suamiku ya. Gak mau dibantuin lagi ya biar langsung nikah sama Shinta?" Rhea menghentikan gerakan tangan Ustad Jaki yang akan melempar Ustad Fariz dengan bantal sofa.


"Ck, suamiku, gaya banget, mentang-mentang udah nikah," Ustad Jaki menggerutu sambil duduk di kursi depan Rhea dan Ustad Fariz berada.


Tiba-tiba Rhea mengeluarkan ponselnya dari saku gamisnya dan menaruhnya di atas meja.


"Nih dengerin ya, gak ada yang boleh komentar dulu sebelum selesai," Rhea memutar rekaman suara Ustadzah Farida, Ustadzah Anisa dan Ustadzah Indri yang dia rekam tadi di lorong Pondok Pesantren Al-Mukmin ketika dalam perjalanan ke ruangan Ustad Fariz.


Ustad Fariz dan Ustad Jaki yang mendengarkan rekaman tersebut dengan serius merasa kaget dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dari rekaman suara tersebut.


Mereka berdua saling memandang dan tidak bisa berkata-kata lagi.


"Bagaimana? Apa sekarang kalian percaya dengan firasatku dan Shinta? Kami kaum wanita lebih peka dan pasti kami akan mempunyai firasat jika ada sesuatu dengan pasangan kami," ucap Rhea dengan memandang wajah Ustad Fariz dan Ustad Jaki bergantian untuk memperhatikan ekspresi wajah mereka.

__ADS_1


"Baiklah Sayang kami akan selalu waspada pada mereka, tapi... kamu percaya sama aku kan, sama suamimu ini?" Ustad Fariz mengatakannya dengan mengambil kedua tangan Rhea dan menggenggamnya, dia ingin meyakinkan istrinya agar dia selalu percaya padanya.


"Aku selalu percaya pada Hubby, tapi aku tidak percaya sama mereka. Aku takut mereka akan melakukan berbagai macam cara untuk dekat dan lebih dari sekedar itu, karena aku mendengar sendiri ucapan yang benar-benar keluar dari mulut mereka," Rhea menatap Ustad Fariz dengan raut kecemasan.


"Insya Allah kita bisa jaga diri Sayang. Kita akan menjauh dari mereka. Iya gak Ustad Jaki?" Ustad Fariz meyakinkan Rhea agar tidak terlalu banyak pikiran agar kandungannya selalu sehat.


"Iya, selama ini kita bisa jaga diri, jaga jarak dan jaga hati untuk cinta pertama kita. Benar gak Ustad Fariz?" Ustad Jaki mengeluarkan candaannya untuk meyakinkan Rhea.


"Dan kamu juga jangan banyak pikiran. Ingat itu Sayang. Kita kan gak mau kandungan kamu terpengaruh karena terlalu banyak pikiran," Ustad Fariz kembali mengingatkan istrinya.


"Iya suamiku...," kini Rhea yang mengeluarkan candaannya untuk suaminya yang dibalas senyum senang oleh Ustad Fariz.


"Terus aja kalian pamer kemesraan. Liat aja nanti kalau aku udah nikah sama Shinta pasti kalian tersaingi," ucap Ustad Jaki dengan percaya dirinya.


"Pertanyaannya nih, kapan nikahnya?" kini giliran Ustad Fariz yang menjahili Ustad Jaki.


"Tunggu aja, sebentar lagi kedua orang tua Shinta akan pulang. Setelah itu aku akan langsung mengkhitbahnya," Ustad Jaki dengan percaya diri menegaskan rencananya pada Ustad Fariz dan Rhea.


"Wuiiih....Ustad Jaki keren.... dua jempol deh kalau memang beneran langsung bisa nikahi Shinta," canda Rhea memuji keseriusan Ustad Jaki.


"Oiya dong... Jaki Al Fathir," Ustad Jaki menyombongkan dirinya dan mendapatkan kekehan dari Ustad Fariz dan Rhea.


"Yakin dong," jawab Ustad Jaki.


"Yakin Sayang," jawab Ustad Fariz.


"Aku pegang janji kalian berdua. Awas aja kalau aku dan Shinta salah paham lagi, bisa-bisa Ustad Jaki gak jadi nikah dengan Shinta dan Hubby.... hehehe.... Hubby gak dapat jatah," Rhea terkekeh di akhir kalimatnya.


"Hahahaha.... gak dapat jatah, alamat stress dia," Ustad Jaki tertawa terbahak-bahak melihat raut kesengsaraan Ustad Fariz.


Ustad Fariz melempar kembali bantal sofa pada Ustad Jaki agar tidak menertawakannya lagi.


"Yaaa... kok gitu sih Sayang, aku kan gak ngapa-ngapain," Ustad Fariz mengiba pada Rhea dan menggapai kedua tangannya untuk digenggamnya.


"Mangkanya kalian berdua harus bisa jaga jarak sama mereka. Awas aja kalau kita tau kalian dekat-dekat sama mereka," Rhea melepaskan genggaman tangan Ustad Fariz dan beranjak dari kursinya.


"Jaga jarak, kayak truk aja ada tulisannya jaga jarak," Ustad Jaki terkekeh dengan candaannya menanggapi ucapan Rhea.


"Daripada gak jadi nikah kan Ustad Jaki?" Rhea tersenyum jahil pada Ustad Jaki, dan berjalan masuk meninggalkan mereka berdua.


Ucapan Rhea itu membuat Ustad Jaki menghentikan tawanya dan berkata seiring kepergian Rhea,

__ADS_1


"Ya jangan dong, masa' aku cuma jadi sopir kalian aja, tiap hari bisanya cuma liat kalian uwu-uwuan, kan aku juga pengen."


"Mangkanya cepet nikah," Ustad Fariz kembali menaruh bantal sofa yang dipegang oleh Ustad Jaki pada wajah Ustad Jaki.


"Sayang.... tungguin," Ustad Fariz mengikuti Rhea ke dalam dan meninggalkan Ustad Jaki yang sedang mengomel karena kejahilannya.


......................


Di tempat yang berbeda, mantan istri Ustad Fariz, Mirna merasa frustasi dan stress karena setiap dia keluar rumah selalu disambut cibiran oleh semua orang.


Sekuat-kuatnya hati Mirna, dan sekuat-kuatnya keras kepalanya itu, dalam hati Mirna sangat merasa sakit dan sedih.


Apa aku sejahat itu? Apa benar aku gak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan seperti yang mereka semua bilang? Kenapa semuanya jadi begini.... huffftt... Ya Allah aku harus bagaimana? air mata Mirna menetes tanpa dia sadari seiring dia bertanya dalam hatinya.


"Sssst.... kenapa sakit sekali?" Mirna menahan rasa sakit di perutnya.


Mirna berjalan dengan sedikit membungkuk menahan rasa sakit di perutnya. Tangan kanannya sedikit menekan perutnya untuk mengurangi rasa sakit tersebut.


"Sedang apa Mbak?" tiba-tiba suara Anita membuat Mirna terhenyak dari rasa sakitnya.


"Eh Nit, lagi buat teh hangat," Mirna mengucapkannya dengan raut wajah yang menahan rasa sakit.


"Mbak Mirna kenapa? Mbak Mirna sakit?" Anita mendekati Mirna dan memegang bahunya.


"Perutku sakit Nit, kayak kram gitu. Mungkin karena aku sedang menstruasi," jawab Mirna sambil lebih menekan perutnya dan mendesis kesakitan.


"Loh Mbak Mirna masih mens? Bukannya udah seminggu yang lalu Mbak mulainya? Kan selisih dua hari sama aku waktu itu," Anita bertanya karena merasa heran.


"Gak tau Nit, mungkin karena aku sedang stress kali gara-gara mendengar semua orang yang menyalahkan aku dan selalu mencibirku ketika mereka bertemu denganku," jawab Mirna sambil meminum sedikit demi sedikit teh hangat yang dibuatnya.


Gak ketemu Mbak Mirna juga mereka suka ngomongin Mbak. Cuma Mbak Mirna nya aja yang gak tau, Anita membatin dalam hati menanggapi ucapan Mirna.


"Ya udah, Mbak Mirna gak usah keluar rumah. Mbak Mirna di dalam rumah aja biar gak denger mereka ngomongin Mbak Mirna. Dan sekarang Mbak Mirna istirahat aja biar cepat hilang rasa sakitnya," Anita memberikan sarannya pada Mirna.


"Ya udah, aku ke kamar dulu ya Nit," Mirna berjalan menuju kamarnya sambil membawa teh hangat yang baru saja dibuatnya.


"Eh Mbak, apa gak sebaiknya Mbak Mirna periksa aja ke dokter Mbak?" pertanyaan Anita menghentikan langkah Mirna.


"Lihat nanti aja Nit, aku kan takut disuntik," setelah menjawab pertanyaan Anita, Mirna kembali berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Apa Mbak Mirna baik-baik aja ya? Semoga aja deh Mbak Mirna baik-baik aja. Kasihan dia sampai stress gitu," ucap Anita lirih ketika sudah melihat Mirna masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2