Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 102 Harapan


__ADS_3

Mirna merasakan rasa sakitnya itu bertambah ketika dia memikirkan penyakit dan nasibnya. Dia bingung harus apa selain berobat. Mirna memikirkan nasibnya yang jauh dari kebahagiaan.


"Apa aku harus memberitahu Mas Fariz ya? Apa dia tidak akan marah jika aku datang ke sana? Isss... ini nomer teleponnya gak bisa dihubungi lagi, kenapa ya? Apa nomernya ganti?" Mirna mencoba berkali-kali untuk menghubungi nomer telepon Ustadz Fariz.


Dengan memikirkan semuanya, dia mengganti pakaiannya dan mematut dirinya di depan cermin. Wajahnya sedikit pucat karena merasakan nyeri di perutnya yang kadang menderanya. Dipolesnya wajahnya itu menggunakan bedak dan bibirnya menggunakan lipstik berwarna merah agar tidak terlihat pucat.


Setelah yakin penampilannya berkesan, dia segera berangkat ke Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk menemui Ustadz Fariz, karena biasanya di jam segini Ustadz Fariz berada di rumah, jadi dia yakin akan bisa bertemu dengannya.


Mirna melihat sekelilingnya sepi, mungkin Anita sedang di kamarnya atau sedang di dapur, mungkin juga Anita sedang keluar rumah untuk membeli sesuatu.


Mirna segera melangkahkan kakinya menuju wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin. Yang ditujunya adalah rumah Umi Sarifah, karena jika dia menemui Ustadz Fariz di ruangan kantornya, sudah bisa dipastikan jika banyak orang yang tahu dan pastinya Pak Ratmo juga pasti mengetahuinya, dan itu berarti dia bisa diusir dari rumah Pamannya itu.


Dan benarlah seperti dugaan Mirna, kini Ustadz Fariz sedang berada di teras rumah dengan Rhea yang mengusap-usap perutnya sambil menerima suapan potongan kue dari Ustadz Fariz.


Andaikan aku berada di posisi Rhea, pasti aku akan sangat senang sekali Mas... Kenapa jadi seperti ini sekarang? Harusnya aku yang ada di sana bersamamu. Andai saja aku tidak menderita penyakit ini, pasti aku sudah memberikanmu anak dan pasti kamu tidak akan pernah menceraikanku seperti sekarang, Mirna membatin sambil melihat kemesraan dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah suami istri yang berada di depannya.


Mirna terdiam dan bersembunyi di belakang pohon untuk melihat Ustadz Fariz dan Rhea yang sangat membuatnya iri, terlebih lagi ketika dia menerima diagnosa tentang penyakitnya.


Di sudut lain ada Ustadzah Farida sedang berjalan dengan Ustadzah Indri hendak keluar gerbang Pondok Pesantren untuk membeli sesuatu di mini market yang berada di seberang jalan.


Ustadzah Indri menghentikan langkahnya ketika melihat Ustadz Fariz dan Rhea bercanda dan tertawa serta perlakuan Ustadz Fariz yang sangat romantis dan perhatian pada istrinya.


"Ustadzah, ayo... ngapain di sini? Nanti dikira ngelihatin mereka loh. Malu tau, ayo...," Ustadzah Farida menarik tangan Ustadzah Indri agar berjalan kembali.


"Aku juga pengen kayak gitu Ustadzah. Apa gak bisa aku diperlakukan seperti itu?" tanya Ustadzah Indri pada Ustadzah Farida seiring langkah kaki mereka.


"Bisa, tapi jangan berharap lebih dari Kyai Fariz, karena dia sangat mencintai istrinya itu. Sudah terlihat jelas bukan cintanya dari setiap pandangan dan perlakuannya. Semua orang iri pada keromantisan mereka. Jadi lebih baik Ustadzah Indri menyerah saja sekarang, daripada sakit hati dan malu nantinya. Kagumi saja orangnya, tapi jangan berharap lebih daripada itu. Dan lebih baik Ustadzah Indri mencari calon suami lain saja," Ustadzah Farida menuturi Ustadzah Indri sambil berjalan beriringan dengannya.


"Ck, Ustadzah Farida aja masih berjuang mendapatkan hati Ustadz Jaki, masa' aku gak boleh berjuang untuk mendapatkan hati Kyai Fariz?" protes Ustadzah Indri pada Ustadzah Farida.


"Beda Ustadzah, Ustadz Jaki belum ada yang punya, masih bisa diusahakan. Kalau udah ada yang punya, jatuhnya kita malah jadi pelakor," jawab Ustadzah Farida.


"Jadi kalau Ustadz Jaki udah nikah, Ustadzah Farida gak akan berusaha mendapatkan hatinya lagi?" tanya Ustadzah Indri menyelidik.


"Gak akan, mungkin aja kita gak jodoh atau mungkin kalau memang kita berdua berjodoh, bisa juga jodoh kita untuk bersatu tertunda, seperti mereka berdua, Kyai Fariz dan Mbak Rhea. Jadi senang kalau melihat mereka berdua seperti itu, bikin baper tau gak," ucap Ustadzah Farida sambil menoleh melihat Ustadz Fariz dan Rhea.

__ADS_1


"Ck, baper apaan, jadi iri aku tuh," Ustadzah Indri menggerutu.


"Eh memangnya mereka kenapa Ustadzah? Apa mereka memang sebelumnya sudah punya hubungan?" lanjut Ustadzah Indri bertanya karena penasaran pada ucapan Ustadzah Farida barusan.


"Loh, itu kan Bu Mirna, sedang apa dia di sana," ucap Ustadzah Farida heran ketika melihat Mirna berjalan menuju rumah Umi Sarifah.


"Bu Mirna? Siapa? Kenapa Ustadzah Farida jadi kaget gitu sih?" tanya Ustadzah Indri bingung.


"Itu mantan istri Kyai Fariz yang sudah diceraikan beberapa waktu yang lalu. Yuk ah buruan jalan, kita ditungguin Ustadzah yang lain," Ustadzah Farida segera menarik tangan Ustadzah Indri agar berjalan lebih cepat lagi.


"Ustadzah, apa kita tidak perlu mendekat ke sana?" tanya Ustadzah Indri yang masih dalam posisi berjalan dan ditarik tangannya oleh Ustadzah Farida.


"Ngapain? Udah jangan ikut-ikutan masalah orang lain," Ustadzah Farida lebih cepat berjalan dengan tangannya masih tetap menarik tangan Ustadzah Indri menuju mini market di seberang jalan.


Ck, Ustadzah Farida bikin kepo aja. Aku kan pengen tau ada apa mantan istrinya ke sana. Apa ada masalah ya? Atau akan terjadi masalah? Aduuuh.... jadi pengen tau kan kalau begini, Ustadzah Indri berkata dalam hati seiring langkah kakinya.


"Mas...," sapa Mirna ketika sudah berada di depan Ustadz Fariz dan Rhea yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya di depan mereka karena Ustadz Fariz dan Rhea sedang sibuk dengan dunia kebahagiaan mereka.


"Mirna?!" ucap Ustadz Fariz tidak percaya dan kaget ketika melihat ke arah suara yang memanggilnya.


"Ada apa kamu kemari Mir? Kan sudah saya bilang, saya tidak mau kamu masuk ke dalam wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin jika hanya membuat masalah saja," ucap Ustadz Fariz dengan raut wajah dingin dan tangannya menggenggam tangan Rhea yang masih duduk di sampingnya.


"Aku mau bicara Mas, penting," ucap Mirna tanpa melihat Rhea, tatapan matanya hanya tertuju pada mantan suaminya yang berada di hadapannya.


"Emmm... Mbak silahkan masuk, lebih baik kita masuk ke dalam rumah saja," Rhea berdiri dari duduknya dan diikuti Ustadz Fariz karena dia tidak mau berduaan dengan Mirna di sana.


Mirna pun menurut, dia mengikuti Rhea dan Ustadz Fariz masuk ke dalam rumah. Mirna duduk di depan kursi Ustadz Fariz dan Rhea yang duduk saling berdekatan.


Raut wajah iri tergambar pada wajah Mirna dan sakit hati dirasakan oleh Mirna tatkala melihat tangan Ustadz Fariz dan Rhea yang tidak kunjung lepas memegangnya.


"Ada perlu apa Mir?" tanya Ustadz Fariz dengan nada datar.


"Mas... apa Mas Fariz bisa menemaniku berobat? Aku sakit Mas," ucap Mirna dengan raut wajah sedih dan mengiba.


"Maaf Mirna aku tidak bisa. Kita bukan suami istri lagi, jadi aku tidak bisa melakukan itu," jawab Ustadz Fariz dengan tegas.

__ADS_1


"Aku tau Mas, hanya saja aku ingin memiliki orang yang bisa mensupport aku pada saat aku berobat. Sungguh sakit ini sangat menyiksaku Mas....," Mirna mengiba pada Ustadz Fariz dan meneteskan air matanya.


"Maaf Mir, jawabanku tetap tidak. Ada hati yang harus aku jaga. Dan aku sudah tidak ada kewajiban dan hak untuk mengurusimu lagi. Lebih baik kamu meminta support dari keluargamu, dan aku yakin keluarga Pak Ratmo tidak akan membiarkanmu sendirian menghadapi ini," ucap Ustadz Fariz tegas sambil berdiri kemudian berjalan masuk meninggalkan Mirna.


"Mas... Mas... aku mohon Mas... sekali saja... bantu aku Mas...," seru Mirna ketika Ustadz Fariz berjalan meninggalkannya.


Rhea tidak tahu harus bagaimana, dia diam saja karena posisinya sulit. Dia merasa iba dan sedih melihat Mirna seperti itu, tapi dia juga tidak mau jika suaminya kembali dekat dengan Mirna yang merupakan mantan istri dari suaminya.


Mirna menoleh pada Rhea dan menatapnya dengan penuh iba, dia tahu jika Rhea mempunyai hati yang sama dengan Ustadz Fariz, mereka sama-sama merasa tidak tega dengan orang lain.


"Rhea, aku harap kamu bisa-"


"Sayang, ayo masuk," ucap Ustadz Fariz membuat perkataan Mirna pada Rhea terputus.


Tadi ketika Ustadz Fariz masuk ke dalam setelah berbicara pada Rhea, Dia tidak mendapati Rhea berada di belakangnya. Ustadz Fariz sampai lupa jika Rhea tidak diajaknya masuk karena dia ingin sekali segera mengusir Mirna dari hadapannya. Namun dirinya kelupaan untuk mengajak istrinya masuk ke dalam, dan sudah bisa dipastikan jika Rhea sungkan akan meninggalkan Mirna di ruang tamu sendiri untuk mengikuti Ustadz Fariz.


Dengan segera Ustadz Fariz berjalan cepat untuk menyusul Rhea, karena dia takut jika Mirna mengatakan macam-macam padanya. Dan benarlah, Mirna berbicara pada Rhea, dari maksud pembicaraannya sudah bisa ditebak jika dia memohon pada Rhea untuk mengijinkan dan menyuruh suaminya untuk menemani Mirna berobat meskipun ucapan Mirna belum selesai.


"Mas... aku-"


"Maaf Mirna, lebih baik kamu pulang dan jangan pernah mengharap apa-apa lagi dari saya karena saya bukan lagi suami kamu," ucap Ustadz Fariz dengan tegas dan bernada kesal.


Ustadz Fariz menarik tangan Rhea dengan pelan dan mengajaknya masuk ke dalam meninggalkan Mirna yang masih duduk di sana.


"Mas aku mohon sekali saja," seru Mirna mengiringi kepergian Ustadz Fariz dan Rhea.


Tanpa sadar air mata Mirna benar-benar menetes, sepertinya dia benar-benar sedih dari hatinya yang terdalam. Berbeda dengan dulu-dulu saat dia berakting untuk bersedih.


Apa salahku Mas sehingga kamu terlihat sebenci itu padaku? Apa aku tidak punya hak sedikitpun untuk mendapatkan perhatianmu? Meskipun kita sudah berpisah, tapi aku pernah jadi bagian dalam hidupmu Mas, suara batin Mirna mengiringi tatapan nanar Mirna pada pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruangan lainnya.


Pintu yang tadi dilewati oleh mantan suaminya. Pintu itu pernah menjadi pintu masuknya selama beberapa tahun tanpa meminta ijin pada siapapun. Kini pintu itu terasa tertutup baginya, bahkan dia harus meminta ijin untuk masuk ke dalamnya.


Huuufft.... Mirna menghela nafasnya dan berdiri, berjalan keluar dari rumah Umi Sarifah dengan perasaan sedih karena harapannya tidak bisa dipenuhi oleh mantan suaminya. Mirna berjalan gontai menuju gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Mirna!"

__ADS_1


__ADS_2