
Terdengar suara motor yang mendekati tempat kejadian di mana Rhea pingsan saat itu.
Masih terlihat di sana Ustadz Fariz yang berusaha mencari bayinya.
"Gimana Pak, kena gak penculiknya?" tanya salah satu warga pada orang yang mengejar penculik tadi.
"Mereka berdua mati ketabrak truk," jawab salah satu dari mereka yang mengejar penculik tadi.
"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un...."
"Terus bagaimana dengan bayinya yang diculik?" tanya salah satu warga tersebut.
Ustadz Fariz yang mendengar kabar meninggalnya penculik itu merasa syok mengingat mereka membawa baby Yasmin bersamanya.
"Anak saya di mana Pak?" tanya Ustadz Fariz sekuat tenaga menahan kesedihannya.
"Tadi ditolong warga dan dibawa ke rumah sakit. Sebaiknya Kyai cepat ke sana karena mereka akan menunggu kedatangan orang tua bayi itu di rumah sakit," jawab salah satu dari mereka yang mengejar penculik tadi.
"Apa anak saya terluka?" tanya Ustadz Fariz kembali.
"Kami kurang tau karena sepertinya tadi bayi itu terlempar dari gendongan penculik tadi ketika mereka tertabrak oleh truk yang melintas di depan mereka," jawab salah satu dari mereka kembali.
Kaki Ustadz Fariz lemas seperti tidak bertulang. Dia merasa kejadian itu begitu sangat cepat. Kini dia merasa sangat terpukul, bingung dan linglung, tidak tau apa yang akan dilakukannya.
"Ustadz, ayo cepat ke rumah sakit," ucap Ustadz Jaki sambil mengarahkan badan Ustadz Fariz masuk ke dalam mobil yang sudah ada Rhea di dalamnya.
"Istighfar Ustadz.... istighfar!"
__ADS_1
Suara Ustadz Jaki dari balik kemudi menyadarkan Ustadz Fariz yang kini sedang memangku kepala Rhea.
"Astaghfirullahaladzim..... Astaghfirullahaladzim...... Astaghfirullahaladzim...... "
Tak henti-hentinya Ustadz Fariz beristighfar sampai dia merasa agak tenang dan sedikit lega dalam hatinya.
"Kita berdoa saja agar Yasmin benar-benar dibawa ke rumah sakit dan tidak akan terjadi apa-apa dengannya," ucap Ustadz Jaki kembali.
Shinta meneteskan air matanya melihat apa yang terjadi. Dia merasa sangat iba pada Ustadz Fariz dan Rhea yang tak henti-hentinya menerima ujian dari Allah.
Segera dihapusnya air matanya ketika tangan Ustadz Jaki berada di tangannya. Shinta mengerti jika suaminya saat ini mencoba menenangkannya.
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera membawa Rhea ke ruang UGD. Sedangkan Ustadz Jaki segera mengelilingi ruang UGD dan seluruh lorong untuk mencari baby Yasmin yang menurut berita dibawa oleh warga ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan setelah kecelakaan itu terjadi.
Sedangkan Shinta, dia menghubungi Mbak Atik agar meliburkan Izam dan Salsa agar tidak bersekolah. Dan Shinta melarang Mbak Atik untuk membawa Izam dan Salsa ke rumah sakit karena Izam trauma datang ke rumah sakit setelah mengetahui kematian Umi Sarifah.
Setelah Izam sudah tidak melakukan pengobatan dan terapi lagi, mereka baru mengatakan yang sebenarnya tentang Umi Sarifah.
Sebelumnya mereka hanya mengarang cerita tentang keberadaan Umi Sarifah selama Izam belum sembuh total. Setelah kabar itu didengar oleh Izam, sikap Izam pun berubah dan dia tidak mau sama sekali datang ke rumah sakit apapun yang terjadi.
Ustadz Fariz panik menunggu Rhea yang sedang diperiksa di ruang UGD. Dan dia meminta tolong pada Ustadz Jaki untuk mencari baby Yasmin di rumah sakit tersebut.
Di tempat lain baby Yasmin sedang menerima perawatan. Di sebuah klinik yang tidak jauh dari tempat kecelakaan, baby Yasmin kini berada di sana.
Tadinya sepasang suami istri yang menolong baby Yasmin itu akan membawanya ke rumah sakit seperti janji mereka, namun di pertengahan jalan, baby Yasmin muntah dalam gendongan si istri penolong tersebut. Oleh karena itu mereka segera berbelok ketika melihat Klinik di jalan yang mereka lewati.
Beruntung Klinik tersebut memiliki perlengkapan alat yang dibutuhkan oleh baby Yasmin dan dokter yang jaga saat itupun dokter yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya sepasang suami istri tersebut pada dokter yang menangani baby Yasmin.
"Bayi Bapak dan Ibu mengalami gegar otak ringan. Saya sarankan agar bayi ini dirawat secara intensif untuk mengetahui keadaannya selanjutnya," ucap dokter tersebut setelah memeriksa keadaan baby Yasmin.
"Zahra, nama yang bagus," ucap dokter itu kembali setelah melihat kalung di leher baby Yasmin.
Pak Anto dan Bu Yati, sepasang suami istri yang menolong baby Yasmin itu saling memandang. Mereka ingat obrolan mereka jauh-jauh hari yang ingin memberikan nama untuk anak mereka kelak dengan nama Zahra.
Mereka memang sudah lama menikah namun belum juga dikaruniai seorang anak satupun.
Apa ini cara Allah untuk membuat kami menjadi orang tua? Bu Yati bertanya dalam hatinya.
"Bu gimana ini biayanya? Pasti mahal. Apa kita bawa saja ke rumah sakit sesuai janji kita tadi?" Pak Anto berbisik di telinga istrinya.
"Cantik sekali bayi ini. Pasti besarnya dia sangat cantik dan jadi rebutan banyak cowok," ucap dokter tersebut sambil terkekeh dan perawat yang membantunya pun ikut terkekeh setelah menyetujui ucapan dokternya.
Dokter Randi, dokter yang resign dari Rumah Sakit tempat Shinta bekerja karena cintanya benar-benar ditolak oleh Shinta. Kini dia mendirikan Klinik di sekitar daerah tersebut dengan peralatan dan fasilitas yang tidak kalah dengan Rumah Sakit tempatnya bekerja sebelumnya.
Dokter Randi memang dari keluarga yang berada, bahkan keluarganya merupakan keluarga dokter secara turun temurun. Sehingga keinginannya untuk mendirikan Klinik sendiri sangat didukung dan dibantu oleh keluarganya.
Bu Yati menarik tangan suaminya agak menjauh dari dokter dan perawat yang sedang memberi perawatan baby Yasmin.
"Pak, apa tidak bisa kita rawat saja anak ini? Ibu merasa bahwa Allah mengirimkan dia untuk kita rawat Pak. Buktinya kita tadi kan berniat berjalan-jalan dan membahas tentang anak, tapi bayi itu tiba-tiba terlempar ke arah kita. Apa itu bukan cara Allah memberikan anak untuk kita? Meskipun dia bukan anak kita sendiri, mungkin saja Allah memberikan dia sebagai pancingan bagi kita untuk mempunyai anak nantinya."
Bu Yati meminta pada suaminya agar mereka merawat baby Yasmin sebagai anak mereka. Karena keinginan Bu Yati memiliki seorang anak dari dulu belum terpenuhi, dia sangat ingin sekali merawat baby Yasmin karena ingin merasakan menjadi seorang ibu meskipun tidak melahirkannya.
Kecantikan baby Yasmin membuat Bu Yati ingin sekali memilikinya. Dan Pak Anto sebagai suaminya merasa iba melihat istrinya yang selalu sedih setiap melihat bayi yang mereka temui. Apalagi mereka selalu mendapatkan sindiran dari tetangga mereka karena sudah sekian lama menikah dan tidak memiliki anak sama sekali.
__ADS_1
"Bagaimana Pak, apa Bapak setuju dengan keinginan Ibu?" tanya Bu Yati pada suaminya.