
Shinta memeluk Rhea dengan berderai air mata. Suara tangisannya terdengar sangat menyakitkan di telinga Rhea. Di usapnya punggung Shinta untuk menenangkannya. Rhea memang sengaja tidak mengatakan apapun agar Shinta merasa tenang berada di dalam pelukannya. Lama dia terisak di dalam pelukan Rhea, hingga akhirnya dia mengeluarkan suaranya.
"Rhea, haruskah aku....," Shinta menggantungkan ucapannya.
"Harus apa Shin?" Rhea bertanya sedikit gusar, karena dia tidak mau jika sampai Shinta menyetujui permintaan Tasya.
"Haruskah aku pindah dari kota ini?" Shinta bertanya sambil mengusap air matanya dan mengusap sedikit ingusnya yang keluar dengan lengan bajunya.
"Untuk apa?" Rhea bertanya karena merasa bingung mendengar pertanyaan Shinta padanya.
"Agar Tasya tidak bisa menemukanku dan Jaki. Aku bingung Rhea, dia itu sahabatku, sahabat baikku. Sejak dulu dia selalu ada untukku di saat aku sedang susah ataupun senang. Dan sekarang.... di saat sekarang dia membutuhkan pertolonganku, aku gak bisa menolongnya. Aku memang sangat menghargai persahabatan kami, bahkan aku sangat menyayanginya layaknya seorang saudara karena ya... kamu tau sendiri kan aku anak tunggal yang kesepian di saat kedua orang tuaku pergi ke luar kota. Dan sepertinya, dia menagih balasan dari apa yang dia lakukan padaku dulu," Shinta mulai bercerita pada Rhea, dia menghela nafasnya berat seolah sedang mengalami kesusahan.
Rhea tidak menyahuti ataupun memberikan jawaban atas pertanyaan Shinta. Rhea lebih memilih untuk mendengarkan terlebih dahulu apa yang akan diutarakan oleh Shinta padanya.
Shinta mengambil nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia melakukan itu berkali-kali untuk membuat perasaannya sedikit lega.
"Aku harus bagaimana Rhea? Aku tidak mau jika harus berbagi suami dengan wanita lain, meskipun dia adalah sahabatku. Aku tidak siap dan aku rasa aku tidak akan siap," Shinta kembali mengutarakan apa yang dia rasakan.
Selang beberapa menit mereka berdua diam. Dirasa Shinta sudah tidak berbicara lagi, Rhea memberikan jawabannya.
"Shin, jika kamu gak siap dan gak mau, kamu gak perlu melakukannya. Poligami gak segampang itu Shin. Dan tidak diperbolehkan juga wanita hamil untuk menikah, serta yang terpenting adalah Ustadz Jaki, suamimu itu aku yakin dia gak mau menikah lagi. Dia itu setia loh Shin. Jadi, kamu gak perlu risau, kamu gak perlu khawatir lagi ya. Udah deh buang jauh-jauh itu semua dari pikiranmu, meskipun aku tau itu gak akan mudah," Rhea mencoba menenangkan hati Shinta dengan ucapannya dan dia terkekeh di akhir kalimatnya, karena memang wanita tidak akan mudah untuk tidak memikirkan sesuatu meskipun sudah berniat tidak memikirkannya.
"Tapi aku takut dia akan kembali lagi di saat anaknya sudah lahir dan meninta kembali agar suamiku menikahinya," suara Shinta kini bergetar, sepertinya dia memang sedang benar-benar ketakutan.
"Kamu bisa menolaknya Shin. Untuk urusan yang satu ini kamu harus bisa tegas selama suamimu gak menginginkan pernikahan itu," ucap Rhea kembali menumbuhkan kembali keyakinan pada hati Shinta.
"Tapi jika-"
"Dan aku menolaknya. Aku gak akan menerima wanita lain manapun untuk menggeser posisimu di hatiku. Udahlah Sayang gak usah kamu merasa bersalah atau memikirkan wanita itu lagi. Aku mohon ya... demi aku, demi anak kita yang ada di sini," tiba-tiba Ustadz Jaki masuk ke dalam kamar tersebut dan menyahut ucapan Shinta dengan mengusap perut Shinta untuk mengingatkan Shinta bahwa ada anak mereka yang sedang bersamanya.
"Sssttt... sssttt... Sayang, ayo keluar," ucap Ustadz Fariz lirih memanggil Rhea agar keluar dari kamar Ustadz Jaki dan Shinta.
Rhea mengalihkan pandangannya dari padangan suami istri yang ada di hadapannya itu pada suaminya yang sedang melambai-lambaikan tangannya untuk memanggilnya mendekat ke arahnya.
Rhea pun keluar dari kamar Ustadz Jaki dan Shinta, berjalan mendahului Ustadz Fariz untuk menemui Umi Sarifah dan Baby Izam yang berada di ruang tengah.
__ADS_1
Namun tiba-tiba badan Rhea terhuyung, tangannya seperti sedang ditarik. Dan benarlah, Ustadz Fariz menarik tangan Rhea untuk masuk ke dalam kamar mereka.
"Eh ini apaan sih?" Rhea kaget ketika tangannya seperti ada yang menariknya.
"Loh Bie, ini kenapa pakai ditarik-tarik ke dalam kamar gini sih? Bunda mau ambil Izam loh, kasihan Umi pasti capek gendong Izam," Kiki menyambung ucapannya yang tidak ada jawaban dari suaminya sejak tadi.
Ustadz Fariz hanya tersenyum melihat wajah Rhea yang sedang kesal dan mengomel padanya.
"Ini juga malah diam, gak mau jawab, pakai senyum-senyum lagi," Rhea kembali mengomel.
"Lagi melihat bidadari aku yang lagi ngomel, cantiiiiiiik sekali," ucap Ustadz Fariz dengan senyum yang tidak hilang dari bibirnya serta matanya masih menikmati wajah istrinya yang ada di hadapannya.
Seketika Rhea jadi salah tingkah, bibirnya tersenyum tanpa sadar dengan semburat merah di pipinya. Pemandangan yang sangat dirindukan oleh Ustadz Fariz.
Tiba-tiba Ustadz Fariz mengangkat tubuh Rhea yang sedang malu hingga dia benar-benar kaget karena tubuhnya merasa melayang.
"Eh Bie ini ngapain pakai digendong-gendong? Nanti Izam-"
"Tuh Izam udah bobok nyenyak di box nya," Ustadz Fariz menyahuti ucapan Rhea sambil memperlihatkan Baby Izam yang sudah terlelap dalam box bayinya.
Di kamar Ustadz Jaki pun sama. Ustadz Jaki dan Shinta melakukan hal yang sama dengan kamar di sebelahnya. Mungkin mereka sudah janjian untuk melakukannya bersamaan.
"Bie, kira-kira Shinta gimana ya? Apa Ustadz Jaki sudah bisa meyakinkan dan menenangkannya?" tanya Rhea pada Ustadz Fariz ketika dia berada dalam pelukan suaminya setelah melakukan ritual ranjang mereka.
Ustadz Fariz tersenyum, dia mengingat percakapannya dengan Ustadz Jaki tadi sebelum menuju kamar Ustadz Jaki.
"Ustadz, gimana kalau kita janjian?" Ustadz Jaki bertanya pada Ustadz Fariz ketika mereka berjalan menuju kamar Ustadz Fariz untuk meletakkan Baby Izam ke dalam box bayinya.
"Janjian apaan?" tanya Ustadz Fariz bingung.
"Kita main bareng di kamar masing-masing," jawab Ustadz Jaki sambil tersenyum lebar.
"Mau balapan gitu? Lomba?" Ustadz Fariz menggelengkan kepalanya, dia heran dengan ide Ustadz Jaki yang sering nyeleneh.
"Habisnya, kalau gak barengan kan nanti kedengaran suaranya dari kamar sebelah. Lah kalau lagi sibuk bareng-bareng kan gak dengar suara dari kamar sebelah," jawab Ustadz Jaki sambil terkekeh.
__ADS_1
"Aneh-aneh aja kamu itu," ucap Ustadz Fariz yang kini sedang meletakkan Baby Izam di dalam box bayinya.
"Siapa hayo yang ngajari katanya cara meluluhkan istri agar marahnya reda pakai begituan," ucap Ustadz Jaki sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Lah kan kalian yang sedang ada masalah. Kenapa aku juga dibawa-bawa?" tanya Ustadz Fariz yang membuat Ustadz Jaki menjadi kesal.
"Beneran gak mau gituan? Gak mau nganu? Padahal tadi kan Rhea lagi kesel gara-gara kentut," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh menggoda Ustadz Fariz.
"Husss.... lambemu. Udah sana temui istri kita masing-masing," Ustadz Fariz mendorong tubuh Ustadz Jaki untuk keluar dari kamarnya menuju kamar Ustadz Jaki.
Ingatan akan percakapannya dengan Ustadz Jaki tadi membuat Ustadz Fariz tersenyum-senyum sendiri menuruti ide konyol dari Ustadz Jaki.
"Bie... kok malah senyum-senyum sendiri sih?" Rhea bertanya dengan wajah herannya pada suaminya.
"Enggak, gapapa kok. Kenapa Sayang? Ada apa, Hmmm?" Ustadz Fariz bertanya karena tidak mendengar pertanyaan dari Rhea.
"Itu, kira-kira Shinta gimana? Apa dia akan baik-baik saja?" Rhea mengulangi pertanyaannya.
"Serahkan aja sama Ustadz Jaki, dia kan suaminya, pasti dia bisa meluluhkan dan menyenangkan hati istrinya," jawab Ustadz Fariz yang membuat Rhea semakin bingung namun dia percaya apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar adanya.
Keesokan harinya, seperti biasa, Shinta diantar oleh Ustadz Jaki berangkat kerja. Ustadz Jaki mewanti-wanti Shinta agar tidak sedih ataupun memikirkan masalah Tasya kembali. Dan Ustadz Jaki pun menitipkan Shinta pada perawat yang membantunya untuk menjaganya secara ekstra. Untung saja perawat itu sudah sering bertemu dengan Ustadz Jaki sehingga dia sudah tahu sifat dan sikap Ustadz Jaki.
Sering sekali para perawat meledek Shinta karena suaminya yang bucin padanya dan membuat mereka iri.
Selang beberapa menit, ada perawat yang menghubungi Shinta untuk segera menuju UGD karena ada pasien yang membutuhkan tenaganya sebagai dokter kandungan.
Shinta menuju ruang UGD dengan perasaan was-was, dan di saat dia masuk ke dalam ruang UGD, dia disambut para tenaga medis yang sedang sibuk menyelamatkan pasien yang baru datang dibawa oleh ambulans.
"Dokter Shinta, di sini pasiennya. Silahkan dok," seorang perawat UGD memanggil Shinta dan mengarahkan Shinta pada pasien yang membutuhkan seorang dokter kandungan.
"Tidak....!" Shinta berseru ketika melihat tubuh pasien tersebut yang sedang tidak sadar dan berlumuran darah di atas ranjang pasien.
Bruk!
"Dokter....!"
__ADS_1