Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 246 Kecemasan Izam


__ADS_3

Tring!


Suara notifikasi pesan dari ponsel Salsa mengagetkannya ketika dia sedang membaca buku karya Rhea yang dipinjamnya dari Mandanya.


"Siapa sih? Males banget," ucap Salsa tanpa melihat ponselnya.


Beberapa menit kemudian suara notifikasi pesan itu kembali terdengar. Suara itu mengalihkan perhatian Salsa dari buku yang dibacanya karena suara pesan itu berkali-kali berbunyi secara beruntun.


Mata Salsa berkaca-kaca, bahkan ada sedikit air mata yang menetes di pipinya ketika membaca buku-buku karya Rhea.


"Siapa sih yang kirim pesan, iseng banget," ucap Salsa kesal.


Karena tidak mau terganggu lagi ketika membaca, tangan Salsa meraih ponselnya dan membuka pesan yang ada begitu banyaknya itu.


Mata Salsa membelalak melihat dua puluh pesan yang dikirimkan oleh Izam padanya. Dibukanya satu persatu pesan tersebut. Dan air matanya kembali menetes ketika membaca semua pesan yang dikirimkan Izam padanya.


Rasa sakit dalam hatinya kembali terasa. Bahkan sekarang tanpa sadar air matanya keluar membanjiri wajahnya hingga dia sesenggukan.


"Sedih banget sih ceritanya Bunda," ucap Salsa di sela isakan tangisnya.


Dia menolak untuk mengatakan bahwa dia menangis karena pesan dari Izam, dia lebih memilih mengatakannya karena hal lain.


Seperti halnya pada waktu itu, dia menangis karena melihat Izam, tapi dia mengatakan menangis karena makan rujak yang sangat pedas. Dan sekarang dia menangis karena membaca semua pesan dari Izam, tapi dia mengatakan menangis karena membaca buku-buku karya Rhea.


Sungguh dia tidak mau terlihat lemah dihadapan siapapun, bahkan dihadapan dirinya sendiri dia menolak mengatakan bahwa dirinya lemah.


Salsa sama sekali tidak membalas pesan dari Izam, dia hanya membacanya dan hanya mendapatkan sakit hati saja.


Padahal isi pesan Izam hanya menanyakan kabarnya saja, menanyakan perubahan sikap Salsa padanya dan menanyakan kenapa Salsa tidak pernah main ke rumahnya serta menyuruh agar Salsa segera membalas pesannya.


Entah mengapa semua pesan Izam itu membuat hatinya sangat sakit. Seandainya saja dia tidak dalam keadaan menghindari Izam untuk menyembuhkan lukanya, pasti dia akan sangat cepat membalas pesan-pesan itu. Dan sekarang semua itu hanya menjadi goresan luka dalam hatinya.


Kurang lebih tiga puluh menit berlalu setelah pesan-pesan Izam dibacanya, kini ponsel Salsa kembali berdering, bukan notifikasi pesan, melainkan suara dering telepon dari Izam yang sepertinya mengharuskan Salsa untuk mengangkatnya.


"Sepertinya dia tau jika aku membaca pesannya dan tidak mau membalasnya. Bodoh amat ah, aku gak mau sakit hati lagi. Mendingan makan bakso bisa membuat hatiku tenang," Salsa bermonolog sambil berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Setelah mengambil tasnya, Salsa segera berjalan menuju ruang tamu. Terdengar suara ketukan pintu dan suara yang tidak asing lagi di telinganya memanggil namanya.


Dibukanya pintu tersebut dan mendapati Yasmin berada di depan pintunya. Setelah itu dia mengajak Yasmin pergi untuk membeli bakso di warung yang berada di depan Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Tiba-tiba Salsa menangis ketika sedang memakan baksonya yang super pedas dengan tambahan tujuh sendok sambal.


"Kak Yasmin kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Yasmin cemas.


"Baksonya pedas sekali," ucap Salsa disela isapan ingusnya.


Yasmin segera memberikan tisu pada Salsa untuk mengelap ingusnya yang mengalir keluar seiring air matanya.


Yasmin memandang Salsa dengan tatapan menyelidik. Dia sebenarnya sudah melihat sikap aneh Salsa mulai dari mereka dalam perjalanan menuju warung bakso. Dan sekarang Salsa kembali menangis seperti waktu itu, pada saat mereka memakan rujak yang super pedas.


Ternyata begitulah cara Salsa untuk mengeluarkan tangisnya. Dia mengeluarkan air matanya dengan memakan makanan yang super pedas agar tangisnya keluar dan hatinya lega.


Setelah tangisnya reda dan makannya sudah selesai, Salsa meminum es teh manisnya dengan sekali teguk tanpa jeda.


Yasmin hanya bisa melongo melihat tingkah Salsa ketika menikmati bakso dan es tehnya.


"Ouch...."


"Kak Salsa, Kak Salsa kenapa?" Yasmin panik sambil memegangi tubuh Salsa yang duduk meringkuk memegang perutnya.


Di ruangan Abi nya, Izam sangat resah melihat ponselnya. Pesan-pesan yang dia kirimkan untuk Salsa telah dibaca tapi tidak dibalasnya. Izam menjadi tidak sabar dan khawatir karena tidak biasanya Salsa seperti itu.


Segera di tekannya tombol telepon pada kontak Salsa. Hingga berkali-kali berdering, teleponnya tidak diangkat.


Izam yang sedang duduk di sofa dalam ruangan Abi nya menjadi panik. Dia berdiri dari posisi duduknya, kemudian dia duduk lagi. Setelah itu dia berdiri lagi dan berjalan mondar mandir di hadapan Abi nya yang sedang duduk di meja kerjanya membaca rancangan program Pondok Pesantren Al-Mukmin yang diajukan oleh Ustadz Jaki.


"Kamu kenapa sih Zam? Mondar mandir gitu kayak bini nya mau lahiran aja," ucap Ustadz Fariz sambil melihat Izam dengan tatapan heran.


"Abi nih, orang lagi khawatir malah dikatain," tukas Izam yang berhenti dari mondar mandirnya.


"Habisnya kamu ngalah-ngalahin Abi aja pas Bundamu ngelahirin kamu sama Yasmin. Abi khawatir, cemas dan panik banget persis seperti kamu saat ini," ucap Ustadz Fariz sambil terkekeh.

__ADS_1


Izam memberengut kesal, kemudian dia berkata,


"Ini loh Bi, Salsa gak biasanya kayak gini. Apa dia sedang ada masalah? Dia berubah Bi, bahkan Izam dicuekin sama dia. Sekarang dia seperti menghindari Izam."


Ustadz Fariz menghentikan pekerjaannya, lalu dia menatap Izam dan berkata,


"Sejak kapan itu Zam?"


Izam terlihat berpikir, dia menelaah kapan pastinya Salsa berubah bersikap acuh dan menghindarinya.


"Sepertinya sejak keluarga Kyai Anwar datang ke rumah waktu itu Bi. Sejak dia meninggalkan ruang tamu," jawab Izam.


Ustadz Fariz tersenyum, dia sebenarnya mengerti apa yang sedang terjadi, hanya saja dia belum mau ikut campur dengan masalah yang mereka hadapi karena menurutnya belum saatnya untuk mencampuri urusan mereka.


"Kamu benar-benar khawatir pada Salsa ya Zam?" tanya Ustadz Fariz sambil terkekeh.


"Abi ini gimana sih, dari kecil kan kita selalu bersama, dia sudah seperti adik Izam, sama seperti Yasmin dan kita tidak pernah menjauh sampai seperti ini Bi," jawab Izam ketika sudah duduk di kursi depan Abi nya.


"Yakin kamu hanya menganggapnya sebagai adik atau saudara Zam?" tanya Ustadz Fariz dengan menatap mata Izam, menelisik kejujuran dari mata Izam.


Belum juga Izam menjawab, terdengar suara dering ponselnya. Diambilnya ponsel itu dari saku celananya. Matanya membelalak sempurna ketika melihat nama kontak Yasmin di layar ponselnya. Dan segera diangkatnya ponselnya itu.


"Assalamu'alaikum, ada apa Yasmin?" ucap Izam setelah mengangkat teleponnya.


Wa'alaikumussalam... Kak Izam tolong Yasmin, terdengar suara panik dari Yasmin di seberang sana.


"Yasmin, kamu kenapa?" tanya Izam tidak kalah panik dengan Yasmin.


Ustadz Fariz yang mendengar nama Yasmin disebut dengan nada panik oleh Izam segera mendekat ke arah Izam.


Kak Salsa, Kak Salsa kesakitan. Cepat Kak Izam tolong Kak Salsa, Yasmin menjawab dengan kepanikan yang luar biasa.


"Salsa kenapa? Dia sakit apa? Kalian di mana?" tanya Izam yang bertambah panik ketika mendengar Salsa sedang sakit.


Di warung bakso depan Pondok. Cepat Kak Izam ke sini, jawab Yasmin yang kemudian segera mematikan teleponnya karena Salsa kini sudah sangat lemas dan berkeringat dingin.

__ADS_1


__ADS_2