
"Rhea bersedia menikah dengan Ustad Fariz," ucap Rhea mantap dengan mata masih terpejam.
Rhea takut jika matanya terbuka, dia tidak akan bisa mengucapkan kata-kata tersebut.
"Alhamdulillah....," mereka semua mengucap hamdalah setelah mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rhea.
"Jadi kapan pernikahannya akan dilaksanakan?" tanya Umi Sarifah.
Mata Rhea sudah terbuka, namun dia hanya menunduk karena malu dan sudah bisa dia pastikan jika pipinya kini bersemu merah.
"Bagaimana baiknya saja Umi," jawab Ustad Fariz malu.
"Udah gak nahan ya Ustad?" ledek Ustad Jaki yang dihadiahi pelototan dari Ustad Fariz.
Ucapan dari Ustad Jaki menambah semu merah di pipi Rhea. Ustad Fariz yang melirik ke arah Rhea pun ikut tersenyum.
"Ayah dan Ibu terserah kalian berdua saja. Dan Umi Sarifah pasti lebih tau daripada kami," ucap Bu Ratih.
"Kalau memang mereka berdua bersedia menikah dan sudah direstui semua keluarga lebih baik untuk disegerakan saja," ucap Umi Sarifah dengan senyum kebahagiaan.
"Emmm... maaf, bukan maksud Ibu untuk merusak suasana, hanya saja Ibu ingin tau dan mumpung semua ada disini, jadi kita bisa mendiskusikan masalah ini," ucap Bu Ratih sungkan.
"Ada apa Bu? Apa ada yang masih mengganjal di hati Ibu?" tanya Ustad Fariz khawatir.
"Bukan begitu Nak, Ibu hanya ingin tahu saja, apa boleh Ibu bertanya?" ucap Bu Ratih dengan sungkan.
"Boleh Bu, silahkan," jawab Ustad Fariz dengan sopan.
"Emm... bagaimana dengan istri Ustad? Kenapa dia tidak ada disini?" tanya Bu Ratih ragu.
Ibu mana yang tega menjadikan putrinya istri kedua dari lelaki yang masih sah mempunyai istri yang masih hidup dan lagi istri pertama itu pernah menyakiti hati putrinya. Rasanya Bu Ratih tidak tega melepaskan Rhea untuk menjadi istri kedua Ustad Fariz.
Namun Bu Ratih juga tidak bisa menghalangi niat suci kedua insan tersebut yang saling mencintai sejak dulu. Hingga mungkin kini mereka sudah waktunya untuk bersama dalam satu ikatan pernikahan.
Ustad Fariz menghela nafasnya ketika akan menjawab pertanyaan Bu Ratih.
"Mirna sedang di rumah Pamannya Bu, dan sebelum Fariz memantapkan untuk meminang Rhea, terlebih dulu Mirna yang menyuruhku untuk menikahi Rhea Bu," jawab Ustad Fariz dengan senyum yang bisa menentramkan hati Bu Ratih.
Bu Ratih menganggukkan kepalanya ketika saling beradu pandang dengan Pak Adrian. Lalu Bu Ratih kembali bertanya pada Ustad Fariz.
"Tapi dia tidak akan menyakiti hati Rhea kan Nak Ustad? Ibu gak bisa kalau harus melihat Rhea kembali menderita dalam menjalani rumah tangganya," ucap Bu Ratih sedih mengingat nasib rumah tangga anaknya waktu itu yang harus menjadi janda di umur pernikahannya yang belum sampai satu tahun.
__ADS_1
"Insya Allah tidak Bu, Fariz akan selalu menjaga Rhea," jawab Ustad Fariz dengan yakin.
"Tenang aja Bu, Pak, kita bertiga akan menjaga Rhea dari siapapun yang akan berbuat jahat padanya," sahut Ustad Jaki yang membuat seisi ruangan tertawa.
"Lalu Nak, nanti kalian akan tinggal dimana? Kalian tidak akan tinggal bertiga kan?" tanya Bu Ratih ragu.
"Nanti kami akan tinggal di rumah yang ada di sebelah rumah ini Bu, beda rumah kok dengan yang dihuni Mirna, dan kami juga bisa tinggal disini karena sebenarnya Umi meminta kami untuk tinggal disini. Tapi semua tergantung bagaimana Rhea saja," jawab Ustad Fariz menjelaskan.
Rhea mendongak mendengar jawaban dari Ustad Fariz. Jujur dia belum pernah menanyakan hal ini padanya, dan dia juga belum mendengar hal ini pada Ustad Fariz.
"Ya sudah sebaiknya kita tetapkan saja tanggal pernikahannya," ucap Pak Adrian yang diangguki oleh semua orang.
Disisi lain ada Mirna yang uring-uringan karena suaminya tidak menjemputnya. Sudah sehari semalam dia menginap di rumah Pamannya namun Ustad Fariz tidak menjemputnya. Memang Paman Mirna tidak mengatakan pada Mirna jika Ustad Fariz mencarinya, Paman Mirna hanya menyuruh Mirna agar berpikir dengan tenang dan menginstropeksi dirinya dengan menginap di rumahnya.
Tidak disangka oleh Paman Mirna jika Mirna yang sekarang sangat jauh dengan Mirna yang dulu dia kenal. Kini Mirna menjadi wanita yang emosi dan egois. Hampir semua barang di kamarnya di banting, padahal dia sangat tahu jika kamar itu milik keponakannya dan kondisi keuangan Paman Mirna pun pas-pasan.
Kini Paman Mirna mengerti mengapa Ustad Jaki kemarin menceritakan keburukan Mirna padanya, sekarang dia tahu jika yang disampaikan Ustad Jaki bukan keburukan Mirna, melainkan sikap Mirna yang memang sulit untuk ditolerir lagi.
Paman Mirna menjadi tidak enak dengan Ustad Fariz dan Umi Sarifah. Dan Paman Mirna pun mengerti perasaan Ustad Fariz yang masih sabar pada Mirna karena keinginan dari Ayah Mirna sebelum dia meninggal.
"Awas saja, aku tidak akan membuat hidup wanita itu tenang!" teriak Mirna ketika membanting baju-bajunya yang dia keluarkan dari lemari.
Kini Ayah, Ibu, Ustad Fariz, Umi Sarifah dan Uatad Jaki sedang mendiskusikan tanggal pernikahan Ustad Fariz dengan Rhea. Sedangkan Rhea sibuk dengan editan video yang berhasil dia rekam tadi pada saat memasak dan membuat kue. Dan kebahagiaannya pun kini dia goreskan melalui pena di atas kertas. Kisah ini yang akan menemaninya kini merajut mahligai pernikahannya.
Seminggu sudah Mirna berada di rumah Paman Mirna. Setiap hari Mirna bertanya pada Pamannya apa suaminya menitip pesan atau mencarinya. Karena Paman Mirna sampai sekarang masih mengabdi di Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Jawaban yang diberikan oleh Paman Mirna selalu sama, dia mengatakan bahwa Ustad Fariz mempercayakan Mirna padanya, dan berharap agar Mirna bisa menjadi lebih baik lagi ketika pulang nanti.
Mirna sangat kesal mendengar jawaban yang keluar dari mulut Pamannya selalu sama. Dia berniat akan pulang besok, karena sekarang hari sudah sangat larut.
Keesokan harinya, sewaktu Paman Mirna sudah berangkat ke Pondok, Mirna membawa pakaiannya yang sudah dia masukkan ke dalam tas semalam. Sekarang Mirna menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Suasana Pondok Pesantren Al-Mukmin diselimuti dengan kebahagiaan dari semua orang, tak terkecuali para santri. Mereka semua sangat menyukai Rhea jika menjadi istri Kyai mereka.
Para Ustad dan Ustadzah pun turut menyiapkan acara besar Pondok Pesantren Al-Mukmin ini.
Mirna menatap heran suasana hiruk pikuk yang terjadi di hari jumat. Karena tidak biasanya seperti itu. Kemudian dia mencari tahu dengan menghampiri para santri yang sedang sibuk membuat banyak hiasan. Ada yang berupa hiasan barang, hiasan box dan ada juga hiasan dinding.
Mirna mengingat-ingat hari penting apa yang kemungkinan besar telah ia lewatkan. Namun tidak ada hari spesial menurut ingatan Mirna.
Sampai-sampai dia dengar ada santriwati di belakangnya mengatakan bahwa mereka tidak sabar menunggu pernikahan Kyai mereka dengan wanita yang bernama Rhea yang akan segera diselenggarakan di Pondok Pesantren ini.
__ADS_1
Mirna meremas ujung bajunya, matanya menyiratkan kemarahan yang teramat dalam dan hidungnya kembang kempis menghirup dan mengeluarkan nafas dengan cepat seirama dengan kemarahannya.
Secepat kilat dia meninggalkan tempat itu menuju ke rumahnya. Namun tak didapatinya suaminya itu di rumah. Dengan setengah berlari dia menuju rumah Umi Sarifah untuk menemui suaminya.
Bruaaaak...
Suara pintu yang dibuka dengan sangat keras membuat penghuni rumah berjingkat kaget.
"Mas Fariiiiiz....," seru Mirna dari depan pintu setelah pintu dibukanya dengan keras.
"Astaghfirullahaladzim Mirna... ada apa ini? Kamu bikin Umi kaget aja," Umi Sarifah mengelus dadanya kaget.
"Mana Mas Fariz Umi?" tanya Mirna dengan suara lantang.
"Astaghfirullah Mbak, pelankan suaramu! Gak sopan ngomong sama Umi kayak ngomong sama anak kecil aja," ucap Ustad Jaki kesal.
"Halah udah, gak usah byk omong deh Ustad. Mas Fariz mana? Istri gak ada di rumah gak dicariin, ini malah nyiapin mau nikah lagi," Mirna meluapkan kemarahannya pada orang yang salah, karena Ustad Fariz saat ini sedang ada di ruangan kantornya untuk mengurusi hal-hal yang lain mengenai pernikahannya.
"Kamu ini datang-datang langsung marah-marah, gak bisa apa ngomong baik-baik?" tanya Ustad Jaki dengan kesal.
"Gimana bisa baik-baik kalau suamiku mau nikah lagi sewaktu aku gak ada. Bukannya istrinya dicariin malah dia mau nikah lagi," ucap Mirna yang masih dengan emosinya yang meluap-luap.
"Yang dulu nyuruh Ustad Fariz nikahin Rhea siapa? Terus yang keluar rumah tanpa ijin suaminya siapa? Ngaca dong kalau mau ngomong itu," sahut Ustad Jaki tidak kalah kesalnya dengan Mirna.
Mirna sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dia memang yang salah disini. Dia sadar, namun dia tidak pernah mengakui kesalahannya.
"Mending kamu pulang sekarang Mbak untuk mempersiapkan diri besok di acara pernikahan suamimu," ucap Ustad Jaki dengan senyum yang mengejek.
Mirna mengeram kesal. Mulutnya komat kamit seperti merapal mantra, namun dia melampiaskan semua amarahnya dengan mengatakan rutukan untuk suaminya dengan cepat.
Di ruang kantornya, Ustad Fariz sedang menghubungi kenalan-kenalannya dari pihak Pondok-Pondok Pesantren yang lain. Untuk urusan Wedding Organizer sudah dihandle oleh Ustad Jaki dan Pak Adrian yang tentunya lebih berpengalaman. Karena Rhea tidak ingin pernikahannya diadakan di kotanya. Hanya orang-orang tertentu saja yang akan hadir dari kotanya seperti Ustad Yadi dan saudara-saudara dari Rhea dan Ustad Fariz.
Mbak Atik berlari menuju ruangan kantor Ustad Fariz untuk memberitahu bahwa Mirna ada di rumah Umi Sarifah dan membuat keributan.
Mbak Atik menceritakan semua yang dia dengar karena Mbak Atik mengerti semua permasalahan yang ada di rumah Umi berkat omongan dari Mirna tadi.
Ustad Fariz menarik nafas dalam dan menghembuskan nafas panjangnya berharap dia bisa mengontrol emosinya.
Karena Rhea mendengar suara yang tidak biasa dari ruang bawah, dia turun dari kamarnya dan berhenti di tangga ketika suara Mirna berteriak tertuju padanya.
"Itu semua gara-gara kamu wanita penggoda suami orang! Beraninya kamu tinggal disini dengan tenang sementara aku tersiksa di sana!" teriakan itu mampu membuat semua mata tertuju pada Rhea yang berada di tangga.
__ADS_1