
Pandu bernafas lega ketika mendengar pertanyaan Mirna tentang Hana. Berarti rencananya untuk menggagalkan aktivitas malam mereka pada saat Mirna sedang subur berjalan dengan lancar.
"Mas Pandu, kok malah bengong sih? Hana kenapa?" tanya Mirna dengan kesal berulang kali tidak mendapatkan sahutan dari Pandu.
"Eh itu Mir, sepertinya dia butuh sekali kita sebagai orang tuanya. Aku sadar selama ini aku tidak benar-benar dekat dengannya. Selama ini Ani yang sangat dekat dengannya. Dia hebat bisa menjadikan Hana gadis yang pengertian seperti sekarang ini."
Pandu mengatakan apa yang ada di pikirannya sambil tersenyum bangga mengingat Ani yang telah meninggalkannya untuk selamanya.
Mirna bertambah kesal dan sewot pada Pandu. Dalam hatinya kini dia menggerutu,
Mas Pandu ini gimana sih, masa' dia ngomong tentang Ani sampai segitunya di depanku? Istrinya sekarang kan aku, kenapa dia malah mengagung-agungkan mantan istrinya? Ya jelas aja dia dekat sama Hana, dia kan ibunya, ibu kandungnya.
"Mir, aku harap kamu bisa menjadi ibu yang seperti itu untuk Hana dan Emir. Dekati mereka dan kasihi mereka seperti anak kamu sendiri."
Pandu mengatakan harapannya pada Mirna, dia tidak menginginkan kedua anaknya kekurangan kasih sayang seorang ibu padahal mereka mempunyai ibu sambung saat ini.
Mirna memandang suaminya itu, dan dia menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,
"Aku ini ibu mereka sekarang, jadi aku akan melakukan itu semua tanpa diminta. Dan Mas Pandu jangan membicarakan mantan istri Mas Pandu di hadapanku jika Mas Pandu menginginkan aku menjadi ibu yang baik untuk mereka."
Mirna berkata pada Pandu dengan menatapnya sangat intens.
Kemudian Mirna bergerak lebih mendekat pada Pandu sehingga membuat Pandu merasa terpojok tidak bisa bergerak.
Dibukanya kancing bajunya satu persatu di hadapan Pandu hingga membuat mata Pandu terbelalak sempurna. Kemudian dia berbisik di telinga Pandu,
"Buatlah aku menjadi seorang ibu yang bisa melahirkan seorang anak."
Setelah itu bibir Mirna mendarat pada bibir Pandu dan kini posisi Mirna berada di pangkuan Pandu yang duduk dengan kaki berselonjor di atas ranjang.
Pandu tidak bisa lagi mengelak, dia harus bisa meluluhkan Mirna dan membuat Mirna merasa puas agar dia bisa melaksanakan tugasnya menjadi seorang ibu dan istri yang baik seperti keinginan Pandu saat ini.
Dan malam itu terjadi sesuai dengan kemauan Mirna. Ranjang itu menjadi berantakan karena aktivitas panas mereka.
__ADS_1
Ranjang yang tadinya dingin itu menjadi panas dan penuh peluh akibat pergulatan panas mereka.
Mirna tersenyum puas dengan apa yang telah mereka lakukan. Dia berharap agar dia bisa segera hamil, karena kondisinya sudah semakin membaik. Dan dia sangat ingin membuktikan pada mantan suaminya dan istri barunya yaitu Ustadz Fariz dan Rhea, bahwa dirinya bisa hamil dan melahirkan anak.
Pandu melihat ke samping di mana Mirna sedang tersenyum melihat ke arahnya. Kemudian Mirna melingkarkan tangannya memeluk pinggang Pandu yang masih menatap padanya.
Apa benar Rhea merebut suami Mirna? Setahuku Rhea bukan perempuan seperti itu. Dan apa benar suaminya menceraikan Mirna karena Mirna tidak kunjung memberinya anak? Pandu bertanya-tanya dalam hatinya ketika dirinya dipeluk oleh Mirna.
Keesokan harinya, Mirna benar-benar berubah menjadi istri dan ibu yang perhatian pada Pandu serta Hana dan baby Emir.
Dia tidak lagi uring-uringan dan selalu tersenyum pada Pandu, Hana dan baby Emir ketika menangis serta membuatnya sangat sibuk.
Apa Mirna uring-uringan karena tidak pernah terjamah? Husss... apa yang aku pikirkan ya? batin Pandu ketika melihat wajah Mirna yang cerah tidak seperti biasanya.
"Hana mau diantar ibu ke sekolah?"
Mirna bertanya pada Hana ketika sedang memakan sarapannya.
Hana menatap wajah Mirna yang tersenyum manis padanya. Beberapa detik kemudian bibirnya ikut tersenyum.
"Memangnya Hana mau berangkat hari ini?" tanya Mirna pada Hana.
"Belum tau Bu, Kakek belum memberi tau Hana lagi kapan jadinya ke sana," jawab Hana.
"Sini Ibu bantuin makannya."
Mirna mengambil piring Hana dan menyuapi Hana layaknya ibu menyuapi anaknya sendiri.
Pandu menatap heran pada Mirna. Hari ini dia lagi-lagi dibuat heran dengan perubahan sikap Mirna padanya dan anak-anaknya.
Apa dia selalu seperti ini jika dia merasa puas dengan malam harinya di ranjang seperti kemarin? Ah benar, pada saat malam pernikahan kami, dan malam-malam selanjutnya setelah hal itu terjadi pasti pagi harinya dia akan berubah lebih baik lagi. Apa aku harus memberikan kepuasan padanya setiap malam agar dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik seperti ini?
Pandu bertanya-tanya dalam hatinya sambil mengamati Mirna yang sedang menyuapi Hana dengan telatennya.
__ADS_1
"Hana jadi berangkat sekolah apa tidak?"
Mirna kembali bertanya pada Hana setelah mereka selesai sarapan.
Tampak Hana sedang berpikir. Sebenarnya dia ingin berangkat ke sekolah, tapi dia takut akan pandangan teman-temannya padanya.
"Apa Hana sekolahnya mau ditunggui ibu sampai pulang? Kalau mau Ibu akan temani Hana di sekolah."
Mirna berkata dengan memperlihatkan senyumnya pada Hana.
Hana beralih memandang bapaknya seolah dia bertanya pada bapaknya itu. Dan Pandu pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda untuk memperbolehkannya.
"Hana ganti baju dulu ya Bu," ucap Hana sebelum berjalan menuju kamarnya untuk berganti seragam.
"Mas antar kita ke sekolah ya," ucap Mirna pada Pandu dengan senyum manisnya yang diperlihatkan khusus untuk suaminya itu.
"Lalu Emir bagaimana? Apa dia dititipkan pada Anita saja? Tapi warungnya bagaimana?" Pandu mengeluarkan banyak pertanyaan pada Mirna.
"Biar Emir sama aku aja Mas. Aku kan ibunya. Yang jaga warung biar Anita saja."
Mirna benar-benar menunjukkan bahwa dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi Pandu dan kedua anaknya.
Ternyata Mirna benar-benar mengajak Emir mengantar dan menunggu Hana di sekolahnya. Pandu hanya mengantar mereka dan dia segera berangkat bekerja setelah mengantarkan anak dan istrinya.
"Eh itu kan Hana, kok dia masih sekolah di sini sih? Kirain aja dia bakal pindah sekolah."
"Kok gak dikeluarin aja dih dari sekolah ini. Kata ibuku dia anak yang bikin sial."
"Iya, ibuku juga bilang gitu. Mangkanya kita gak boleh dekat-dekat sama dia. Bisa-bisa kita apes lagi kayak Izam sama neneknya."
"Yuk.. yuk pergi yuk..."
Teman-teman Hana kembali membicarakan Hana dengan melihatnya seolah jijik padanya.
__ADS_1
Mirna yang mendengar Hana dihina seperti itu menjadi marah. Tiba-tiba saja dia berbalik arah dan menarik tangan salah satu anak yang berbicara buruk tentang Hana.
"Eh, aduuuh sakiiiiit...."