Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 115 Ketenangan sesudah dan sebelum badai


__ADS_3

Mulai dari hari itu, Ustadzah Farida selalu menjauhi Ustadz Jaki. Dia selalu menghindar ketika akan berpapasan dengan Ustadz Jaki. Begitupula ketika ada Ustadz Jaki di dalam ruang pengajar, pasti dia tidak akan masuk ke dalam ruangan tersebut, kecuali jika sangat penting atau mendesak.


Kini Rhea dan Shinta merasa tenang karena tidak ada lagi yang mengganggu suami mereka. Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki pun merasa lega karena mereka bisa menikmati kebahagiaan bersama istri mereka.


Hari berganti dirasa mereka lalui dengan cepat karena mereka merasa kehidupan mereka sekarang ini sempurna. Bahagia tanpa adanya persoalan seperti yang lalu-lalu.


Acara tujuh bulanan Rhea dirayakan dengan sangat ramai dan penuh antusias dari pihak keluarga Rhea dan keluarga Pondok Pesantren Al-Mukmin. Semua santri pun ikut membantu prosesi tujuh bulanan tersebut sehingga acara itu bisa terselenggara dengan sangat baik dan lancar.


"Auch...!" suara teriakan terdengar di dalam kamar mandi yang terletak di kamar mandi bawah.


Sontak saja semua orang yang berada di dapur berlari menuju kamar mandi. Ketika mereka berlari ke sana, ternyata pintu kamar mandi sudah terbuka sedikit dan mereka melihat Shinta duduk di lantai kamar mandi dengan memperlihatkan wajah yang merintih kesakitan.


Rhea segera menghubungi Ustadz Jaki karena diantara Rhea, Umi Sarifah dan Mbak Atik tidak bisa mengangkat Shinta yang tidak bisa berdiri ketika ditolong oleh Mbak Atik. Dia merasa kesakitan, dan lama kelamaan mengalir darah segar di kaki Shinta ketika menunggu Ustadz Jaki yang sudah dihubungi oleh Rhea.


Ustadz Jaki berlari dari salah satu ruang kelas Pondok Pesantren Al-Mukmin menuju rumah setelah Rhea menghubunginya dan mengatakan apa yang terjadi dengan Shinta.


"Sayang... Sayang... kamu gapapa? Sayang... Shinta sadarlah, jangan pejamkan matamu. Dengarkan aku Sayang, kamu akan baik-baik saja," Ustadz Jaki panik dan dia menggendong Shinta untuk di bawa masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit.


Ustadz Fariz yang mendapat kabar dari Rhea pun ikut menyusul pulang ke rumah dengan tergesa-gesa berlari dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Ustadz Fariz bertanya dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari dari Pondok Pesantren Al-Mukmin menuju rumah Umi Sarifah.


"Ustadz tolong kemudikan mobilnya, antarkan kita ke rumah sakit sekarang," Ustadz Jaki menyuruh Ustadz Fariz tanpa menjawab pertanyaan dari Ustadz Fariz terlebih dahulu.


"Baiklah cepat bawa masuk ke dalam mobil," ucap Ustadz Fariz.


Rhea berjalan cepat dari kamar Ustadz Jaki dan Shinta menuju luar rumah dengan memegangi pinggang belakangnya.


"Tunggu! Ustadz Jaki, ini gamis milik Shinta sudah aku masukkan di dalam tas ini. Siapa tau akan dibutuhkan untuk ganti karena darahnya mengalir sangat banyak di gamisnya," ucap Rhea sambil memberikan sebuah tas yang sudah diisinya dengan gamis yang dia ambil dari lemari di dalam kamar Ustadz Jaki.


"Terima kasih, tolong kamu taruh di dalam mobil saja," ucap Ustadz Jaki yang akan meletakkan tubuh Shinta di kursi penumpang yang berada di belakang.

__ADS_1


Rhea pun menaruh di kursi depan dekat kemudi yang kali ini kursi kemudi itu diduduki oleh Ustadz Fariz.


"Sayang, aku antarkan Ustadz Jaki dan Shinta ke rumah sakit dulu ya," Ustadz Fariz berpamitan pada Rhea ketika Rhea menaruh tas yang berisikan gamis milik Shinta tadi.


"Aku ikut ya Bie," ucap Rhea yang terlihat sangat khawatir pada Shinta.


"Apa Umi juga boleh ikut?" Umi Sarifah bertanya dengan sangat khawatir pada keadaan menantunya.


"Lebih baik Umi sama Rhea tunggu di rumah saja, nanti pasti akan kami kabari secepatnya," jawab Ustadz Fariz yang sudah mulai menyalakan mesin mobilnya.


Dengan sangat terpaksa Rhea dan Umi Sarifah menyetujui permintaan dari Ustadz Fariz. Setelah memerintahkan pada Rhea dan Umi Sarifah untuk menunggu di rumah, Ustadz Fariz segera melajukan mobilnya dengan melafalkan basmallah dan mengucapkan beberapa doa sambil dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat karena Ustadz Jaki yang menyuruhnya untuk segera sampai di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Shinta segera digendong Ustadz Jaki menuju ruang UGD.


"Dokter Shinta?" ucap seorang dokter laki-laki muda yang bertugas di UGD pada saat itu.


Shinta hanya merintih kesakitan sambil memegang perutnya dan sedikit memejamkan matanya. Sejak dari rumah Shinta tidak berkata sepatah katapun karena dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, dia hanya bisa merintih kesakitan saja.


"Ada apa dengan Shinta Pak?" tanya dokter tersebut pada Ustadz Jaki.


"Dia terjatuh di kamar mandi dok," jawab Ustadz Jaki dengan panik.


"Dokter Shinta, Shin... apa kamu tau keadaanmu saat ini? Apa benar dugaanku?" tanya dokter laki-laki tersebut yang terdengar sangat khawatir setelah memeriksa keadaan Shinta.


Shinta mengangguk lemah tanpa membuka lebar matanya.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya dok? Apa yang terjadi dengan istri saya?" Ustadz Jaki bertanya dengan menekankan kata istri agar dokter laki-laki yang sedang memeriksa Shinta itu sadar jika yang berada di hadapannya saat ini adalah suami dari Shinta, pasien yang sedang dia periksa saat ini.


"Maaf Pak, kita akan memeriksanya lebih lanjut, karena menurut saya dokter Shinta sekarang sedang hamil dan mengeluarkan banyak darah. Mohon bapak-bapak menunggu di luar agar kami bisa memeriksanya lebih lanjut," ucap dokter laki-laki tersebut yang diketahui Ustadz Jaki bernama Ridwan dari nama tag yang dia pakai.


Seketika Ustadz Jaki lemas dan menutup matanya sambil beristighfar,

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim...."


Ustadz Fariz pun beristighfar hampir bersamaan dengan Ustadz Jaki.


"Kita tunggu diluar saja Ustadz," Ustadz Fariz merangkul pundak Ustadz Jaki dan membawanya keluar dari ruangan UGD tersebut menuju ruang tunggu di depan UGD.


Ustadz Fariz segera menghubungi Rhea dan Umi Sarifah karena dia yakin jika mereka berdua sangat cemas menunggu kabar dari Shinta.


"Assalamu'alaikum.... Sayang, Shinta masih dalam pemeriksaan di ruang UGD, tapi kata dokter yang memeriksa, sepertinya Shinta sedang hamil dan mengeluarkan banyak darah. Ini masih dalam pemeriksaan untuk memastikannya," Ustadz Fariz memberikan kabar tentang Shinta pada Rhea dan Umi Sarifah melalui telepon.


Wa'alaikumussalam...Astaghfirullahaladzim... kami akan segera ke sana Bie. Bolehkan aku mengemudikan mobilku sendiri ke sana bersama dengan Umi? Rhea berucap dengan panik di seberang sana melalui telepon dengan Ustadz Fariz.


"Apa tidak sebaiknya kalian menunggu di rumah saja?" Ustadz Fariz menyatakan keberatannya secara tidak langsung.


Bie, aku dan Umi sangat mencemaskan keadaan Shinta, kami ingin berada di sana saat dia sedang kesulitan dan merasa butuh support dari banyak orang. Kita yang paling dekat dengan dia, apa kita tidak bisa berada di dekatnya sekarang ini ketika dia sedang membutuhkan kami saat ini? jawaban dari Rhea ini tidak bisa membuat Ustadz Fariz kembali menolaknya, karena Ustadz Fariz pu. merasa memang benar apa yang diucapkan oleh Rhea saat ini.


"Baiklah, tapi apa tidak bisa kalian diantar oleh Pak Ratmo aja?" Ustadz Fariz merasa khawatir melepaskan istrinya dalam keadaan hamil besar mengemudikan mobilnya sendiri.


Pak Ratmo tadi keluar mengantarkan Ustadz Bani membeli kebutuhan Pondok Pesantren Bie. Jadi bagaimana, apa boleh aku mengemudikan mobilku sendiri ke rumah sakit sekarang?" Rhea kembali meminta persetujuan dari Ustadz Fariz.


"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati dan pelan-pelan saja. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kalian bertiga," ucap Ustadz Fariz mengingatkan istrinya.


Bertiga? Rhea heran dengan ucapan dari suaminya.


"Iya, kamu, anak kita dan Umi," sahut Ustadz Fariz yang mengetahui jika Rhea sedang bingung.


Oh iya, hehehe... baiklah sekarang kita akan pergi ke sana. Assalamu'alaikum... Rhea mengakhiri pembicaraannya melalui telepon dengan Ustadz Fariz dan menutup teleponnya setelah mendengar jawaban salam dari suaminya.


Ustadz Jaki yang berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD menunggu kabar dari dokter yang memeriksa Shinta.


Terlihat seorang dokter wanita yang berjalan cepat dan sedikit berlari menuju ruang UGD. Dan Ternyata dokter tersebut adalah dokter Dina Sp.OG yang menjadi dokter Mirna pada saat itu.

__ADS_1


"Dengan keluarga dokter Shinta?" dokter Dina keluar dari ruang UGD dan ingin menemui keluarga dari Shinta.


__ADS_2