
Kebahagiaan terpancar pada wajah Ustadz Jaki dan Shinta. Sekarang mereka sudah menjadi orang tua yang harus bisa menjadi teladan anak-anak mereka.
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, Shinta dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Pondok Pesantren Al-Mukmin kembali berbahagia mendapatkan anggota keluarga baru mereka. Semua orang di Pondok Pesantren Al-Mukmin bersuka cita menyambut anak dari Ustadz mereka yang merupakan keluarga pendiri dari Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Siapa namanya? Pelit banget dari kemarin gak dikasih tau namanya?" Ustadz Fariz bertanya pada Ustadz Jaki ketika mereka berkumpul bersama setelah kepulangan Shinta dan bayinya ke rumah.
"Jangan-jangan belum punya nama yang pas ya?" Rhea menyahuti ucapan Ustadz Fariz.
"Apa perlu Umi yang memberi nama untuk bayi mungil ini?" Umi Sarifah pun ikut berkomentar.
"Salsabila Humaira, gimana bagus gak?" ucap Ustadz Jaki sambil tersenyum bangga.
"Wuiiih.... keren.... iya gak Bie?" ucap Rhea mencari dukungan dari suaminya.
"Iya, pinter juga kamu bikin namanya. Terus si cantik ini nama panggilannya siapa?" Ustadz Fariz bertanya pada Ustadz Jaki sambil mengusap pipi gembul bayi cantik itu yang berada dalam gendongan Umi Sarifah.
"Salsa" jawab Ustadz Jaki dengan mata yang berbinar.
"Masya Allah Salsa... cantiknya cucu nenek," Umi Sarifah berbicara pada Salsa dan Salsa tersenyum padanya.
"Tolong gendong Salsa sebentar, Umi mau ke toilet sebentar," ucap Umi Sarifah sambil menyerahkan Baby Salsa pada Ustadz Jaki, namun Ustadz Jaki ragu-ragu antara menerimanya atau tidak.
Ustadz Jaki masih kikuk menggendong Baby Salsa. Bukannya bisa menenangkan Baby Salsa yang sedang menangis, Baby Salsa malah menangis lebih kencang karena tidak nyaman dalam gendongan Ustadz Jaki.
"Sini Umi, biar Shinta saja yang menggendongnya," ucap Shinta sambil tangannya meraih tubuh Baby Salsa dari tangan Umi Sarifah.
"Ustadz kenapa? Gak mau gendong atau takut? Tuh liat Izam aja sama Abi nya," Rhea bertanya pada Ustadz Jaki.
"Bukan dua-duanya. Salsa malah kencang nangisnya kalau yang gendong aku. Kalau yang gendong Shinta aja dia diam, tidur malah," Ustadz Jaki menjawab dengan kesal.
Seketika Rhea dan Ustadz Fariz tertawa mendengar curahan hati kekesalan Ustadz Jaki pada anaknya yang masih bayi. Mereka menertawakan kemalangan Ustadz Jaki yang tidak diinginkan anaknya untuk menggendongnya.
"Astaghfirullahaladzim... masa' Salsa gak mau digendong Abi nya sendiri? Kasihan kau Abi Jaki," Ustadz Fariz mengejek Ustadz Jaki sambil menampilkan senyuman ejekannya.
__ADS_1
Ustadz Jaki bertambah kesal karena diejek oleh Ustadz Fariz yang dengan gembiranya sengaja memperlihatkan dirinya sedang bermain dengan Izam yang sedang dipangkunya.
"Bukannya gak mau, sepertinya Salsa kurang nyaman digendong sama Ustadz Jaki. Coba kalau Ustadz Jaki menggendongnya dengan nyaman tanpa rasa takut, pasti Salsa akan nyaman digendong Ustadz Jaki," Rhea memberikan pendapatnya.
"Tumben belain aku? Biasanya aja belain mati-matian suaminya," Ustadz Jaki menyindir Rhea sambil melirik Rhea.
"Shinta, bisa gak sih suamimu ini gak ngeselin sehari aja. Rasanya pengen tak bejek-bejek sama ulekan," Rhea berucap kesal pada Ustadz Jaki sambil tangannya memperagakan sedang mengulek.
Ustadz Fariz terkekeh melihat istrinya yang sedang kesal pada Ustadz Jaki, sedangkan Ustadz Jaki menelan ludahnya, ngeri melihat Rhea yang sedang kesal padanya dengan ekspresi yang seperti benar-benar akan melakukan itu padanya.
"Coba bejek aja Rhe, siapa tau habis kamu bejek-bejek, dia langsung bisa gendong Salsa," Shinta menanggapinya dengan enteng.
"Kok gitu sih Sayang? Bundanya Izam ini serem loh kalau sedang marah. Bisa-bisa aku bonyok beneran," ucap Ustadz Jaki sambil bergidik ngeri melihat Rhea.
"Dipikir aku hantu apa?" ucap Rhea sambil melotot pada Ustadz Jaki.
"Habisnya aku kesel banget sama kamu, masa' udah jadi Abi gak bisa bantuin gendong anaknya, kan capek aku kalau gak ada yang gantiin gendong pas malam hari Salsa nangis," ucap Shinta melampiaskan kekesalannya.
"Iya... iya... nanti belajar. Habisnya dulu kalian pelit banget, aku pinjam Izam buat belajar gendong aja gak boleh. Jadi kaku kan sekarang," Ustadz Jaki menyalahkan Ustadz Fariz dan Rhea sambil menatap Ustadz Fariz dan Rhea bergantian.
Dengan sangat terpaksa Ustadz Jaki mengulurkan tangannya dan menerima tubuh Baby Salsa dalam gendongannya.
"Rileks... gak usah takut, gak usah kaku," Shinta menenangkan suaminya yang sedang belajar menggendong bayi mereka.
Ustadz Jaki mengikuti saran dari Shinta. Dia melakukan apa yang diperintahkan oleh istrinya itu. Dan benar saja, Baby Salsa tertidur lelap dalam gendongan Ustadz Jaki. Tidak seperti biasanya yang menangis meskipun sedang tertidur apabila digendong oleh Ustadz Jaki.
Bibir Ustadz Jaki tersenyum menikmati dirinya yang sedang menggendong anaknya.
Ternyata mengasyikkan juga ya gendong bayi. Apalagi bayi kita sendiri. Jadi ingat pas buatnya gimana, Ustadz Jaki berkata dalam hati dan bibirnya menyunggingkan senyum.
"Gimana Ustadz, seneng kan bisa gendong anak sendiri?" Ustadz Fariz bertanya pada Ustadz Jaki sambil terkekeh.
Ustadz Jaki tidak menjawab, dia memandang wajah Baby Salsa sambil tersenyum membenarkan apa yang diucapkan oleh Ustadz Fariz.
__ADS_1
"Ehem... Shinta, kalau udah anteng gini bisa kita tinggal nyalon berdua nih," Rhea mengeluarkan candaannya sambil terkekeh.
"Boleh, tapi khusus wanita," Ustadz Fariz menyahuti kemauan istrinya dengan tegas.
Rhea dan Shinta saling menoleh dan menahan tawanya melihat reaksi Ustadz Fariz yang dengan tegas melarang mereka untuk pergi ke tempat yang bukan khusus untuk wanita.
"Lagian ngapain sih kalian pakai ke salon-salon segala. Mau spa? Kita bisa kok jadi terapisnya, lebih dari itu malahan. Kita bisa kasih layanan ekstra khusus buat kalian," Ustadz Jaki ikut berkomentar dengan kesal.
Akhirnya pecahlah sudah tawa Rhea dan Shinta. Mereka tidak bisa lagi menahan tawa melihat suami mereka yang sedang kesal hanya karena takut mereka berada dalam tempat yang ada laki-lakinya tanpa mereka temani.
"Ya udah Shin, kita panggil orang salonnya aja ke rumah kalau mau perawatan," ucap Rhea menengahi agar suami-suami mereka tidak lagi kesal dan khawatir.
Dan benar saja, seketika senyum Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki merekah setelah Rhea mengatakannya.
Hari itupun tiba, acara tasyakuran kelahiran dan aqiqah dari Salsabila Humairah diadakan di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Semua santri serta Ustadz dan Ustadzah pun turut serta mempersiapkan acara tersebut.
Kembali suka cita dirasakan di Pondok Pesantren Al-Mukmin sama seperti kelahiran Abrisam Gibran Mahadi kala itu. Kini Umi Sarifah bisa tersenyum bahagia. Berkali-kali ucapan syukur itu diucapkannya karena Umi Sarifah merasa lega dan bersyukur telah diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi nenek dari cucu-cucunya. Dan dia sudah merasa lengkap mempunyai cucu laki-laki dan perempuan.
"Jaki, Shinta selamat ya atas kelahiran anak kalian," suara seorang wanita membuat Ustadz Jaki dan Shinta menoleh ke arah sumber suara.
"Tasya? Hai apa kabar?" Shinta tersenyum bahagia menyapa Tasya, sahabatnya yang pernah ingin merenggut kebahagiaannya.
Ekspresi wajah Ustadz Jaki berubah, sebelumnya senyum kebahagiaan selalu terpancar dan sekarang senyuman itu langsung lenyap ketika melihat kedatangan Tasya dalam acara bahagia mereka.
"Ngapain sih dia datang? Tau dari mana dia kita ada di sini?" Ustadz Jaki bertanya dengan berbisik pada Shinta untuk mengeluarkan kekesalannya.
"Aku yang memberitahunya. Dia hanya ingin mengucapkan terima kasih pada kita," jawab Shinta dengan berganti berbisik pada Ustadz Jaki.
Mata Ustadz Jaki membelalak, dia tidak suka jika Shinta kembali dekat dengan Tasya yang pernah mengganggu mereka. Entahlah, sepertinya Ustadz Jaki belum bisa percaya sepenuhnya dengan Tasya.
"Kami datang ingin mengucapkan terima kasih pada kalian. Dan ini anak kami yang lahir lebih awal," ucap laki-laki yang merupakan ayah dari bayi Tasya itu yang sekarang sudah berstatus menjadi suami Tasya.
"Benarkah? Laki-laki atau perempuan?" Shinta menanggapi ucapan suami Tasya.
__ADS_1
"Laki-laki Shin. Besok-besok boleh kan anakku jadi santri di sini?" ucapan Tasya ini membuat Ustadz Jaki melotot karena kaget.