
Pondok Pesantren Al-Mukmin kedatangan tamu dari keluarga besar Kyai Pondok Pesantren Al Hikmah.
Mereka datang untuk bersilaturahmi dan dengan tujuan tertentu.
"Kyai, sebenarnya kami ke sini karena kami berniat untuk menjodohkan putri kami, Adiba dengan Izam putra Kyai Fariz," ucap Kyai Anwar di hadapan semua yang ada dalam ruang tamu rumah Ustadz Fariz.
"Uhuuk!"
Salsa yang sedang menikmati minumannya kala itu menjadi tersedak mendengar perkataan dari Kyai Anwar.
Begitu juga dengan anggota keluarga Ustadz Fariz yang lain. Mereka tidak menyangka jika tujuan Keluarga Kyai Anwar di samping untuk bersilaturahmi, mereka juga berniat untuk menjodohkan putri mereka dengan Izam.
Izam pun tak menyangka hal itu. Bahkan dia tidak ada pikiran menikah untuk saat ini. Apalagi Yasmin, adiknya baru saja ditemukan. Dia tidak mau momen kebersamaan dengan adiknya terganggu.
Untuk Rhea dan Ustadz Fariz, mereka tidak ada pikiran sama sekali untuk menjodohkan kedua anak mereka. Karena mereka pernah gagal dalam membina rumah tangga sehingga mereka tidak ingin kedua anak mereka terpaksa menikah hanya karena perjodohan tanpa dilandasi dengan cinta.
Oleh sebab itu mereka tidak pernah memaksakan masalah pasangan pada anak-anak mereka.
Ustadz Fariz menoleh pada istrinya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Menyetujui? Dia tidak mungkin menyetujuinya tanpa bertanya pada istri dan anaknya, Izam. Menolaknya? Dia juga sungkan jika secara langsung menolak keinginan Kyai Anwar yang jauh lebih tua darinya.
Kyai Anwar merupakan sahabat dari Kyai Farhan, pemilik Pondok Pesantren Al-Mukmin, suami dari Umi Sarifah.
Bagaimana bisa dia begitu saja menolaknya jika hubungan Kyai Anwar dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Mukmin sangatlah dekat.
"Bagaimana Kyai, apa Kyai menerima perjodohan ini?" tanya Kyai Anwar pada Ustadz Fariz.
Salsa merasa hatinya sangat sakit. Dia tidak mengira jika rasa yang dimilikinya bisa sesakit itu ketika mendengar perjodohan Izam dengan Adiba.
Salsa melihat Adiba yang sedari tadi mencuri pandang pada Izam. Gadis bercadar itu terllihat tersenyum ketika mencuri pandang pada Izam. Sangat jelas terlihat dari kedua matanya jika senyuman gadis itu senyuman bahagia.
Yasmin mengerti apa yang dirasakan oleh Salsa. Dia pernah membaca buku diary milik Salsa yang menyatakan rasa kagumnya pada Izam.
__ADS_1
Tangan Yasmin memegang erat tangan Salsa untuk memberikan kekuatan padanya. Dia tersenyum dan mengangguk ketika Salsa menoleh padanya. Dalam senyuman dan wajah Yasmin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Saya tidak bisa menolak ataupun menyetujuinya Kyai. Semua keputusan ada pada Izam. Jika mereka berdua menyetujui perjodohan ini, kami sebagai orang tua tidak bisa melarangnya. Tapi jika mereka berdua tidak menyetujui perjodohan ini, kami juga tidak bisa memaksanya," tutur Ustadz Fariz menjawab pertanyaan Kyai Anwar.
Izam menundukkan kepalanya, dia tahu di sini dia tidak bisa bertanya pada Abi dan Bundanya. Dia harus menjawab sendiri untuk menentukan pilihannya.
"Bagaimana Adiba, apa kamu menyetujui perjodohan ini?" tanya Kyai Anwar pada Adiba, putrinya.
Adiba, gadis bercadar itu menunduk dan menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
"Alhamdulillah...," ucap Kyai Anwar sambil tersenyum diikuti oleh anggota keluarganya.
"Lalu Izam, bagaimana denganmu, apa kamu menyetujui perjodohan ini?" tanya Kyai Anwar pada Izam.
Izam yang menundukkan kepalanya kini mendongak melihat Kyai Anwar yang menunggu jawaban darinya.
Izam gugup, dia takut salah mengambil keputusan. Dipejamkannya matanya dan dihelanya nafasnya sebelum dia menjawab pertanyaan dari Kyai Anwar itu.
Ustadz Fariz dan Rhea saling menatap, kemudian mereka beralih memandang Izam. Mereka tersenyum pada Izam untuk memberitahukan bahwa mereka setuju atas apa yang diucapkan Izam dan mereka bangga akan Izam yang tidak gegabah menentukan jawaban meskipun dalam situasi terdesak.
"Baiklah, kalian berdua harus lebih saling mengenal agar perjodohan ini bisa dilanjutkan. Saya tunggu kabar baiknya Izam. Karena saya ingin sekali tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga Kyai Farhan dan Pondok Pesantren Al-Mukmin ini," tutur Kyai Anwar menanggapi jawaban dari Izam.
Tidak tahan mendengar semuanya, Salsa segera berdiri dan berlari keluar dari tempat tersebut tanpa berpamitan. Tentu saja hal itu membuat keluarganya menjadi kaget, heran dan bertanya-tanya.
Izam pun menoleh pada Yasmin seolah bertanya ada apa dengan Salsa dan Yasmin pun menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau mengatakan pada kakaknya tentang apa yang dirasakan oleh Salsa padanya. Hanya Salsa lah yang berhak mengatakan perasaannya sendiri pada Izam.
"Kenapa Salsa Nda?" tanya Ustadz Jaki pada Shinta.
Shinta menggelengkan kepalanya dengan raut wajah cemasnya pada Salsa. Dia ingin menyusul Salsa, tapi tidak akan sopan jika dia meninggalkan tamunya hanya untuk mengejar Salsa.
Ammar, kakak dari Adiba yang sedari tadi mencuri pandang pada Salsa dan Yasmin merasa kaget dengan kepergian Salsa secara tiba-tiba keluar dari ruangan tersebut. Dia ingin berkenalan dengan Salsa dan Yasmin karena keduanya mampu mencuri perhatiannya.
__ADS_1
"Yasmin, tolong kamu cari tau ada apa dengan Salsa" bisik Shinta pada telinga Yasmin.
Yasmin mengangguk dan dia segera keluar dari ruangan tersebut untuk mencari tahu keberadaan Salsa.
Di tepi danau, tempat favorit Rhea waktu itu, kini Salsa merenung dengan berlinang air mata, menenangkan diri di sana.
Melihat air yang begitu menenangkan dan suara ikan yang timbul di permukaan air membuat Salsa lebih tenang di sana. Semilir angin yang bertiup membuat hijab Salsa menari-nari terkena terpaan angin tersebut mengalihkan sedikit rasa sakit hatinya.
"Kak Salsa," sapa Yasmin sambil menepuk pundak Salsa.
Salsa segera menghapus jejak air matanya, kemudian dia menoleh memaksakan senyumnya pada Yasmin.
"Apa Kak Salsa kecewa pada keputusan Kak Izam?" tanya Yasmin pada Salsa dengan sama-sama menatap lurus ke depan melihat air danau yang tenang.
Salsa tersenyum tipis. Dia tidak menyangka jika akan mendapat pertanyaan itu dari Yasmin.
"Kamu tau Yasmin?" tanya Salsa yang masih menatap lurus ke depan.
"Kita sesama perempuan pasti tau Kak. Yasmin merasakannya," jawab Yasmin sambil mengalihkan pandangannya dari danau pada Salsa dan dia tersenyum ketika Salsa menoleh padanya.
"Bodoh ya aku Yasmin. Mencintai seseorang yang sama sekali tidak mencintai aku. Dan naasnya lagi, dia akan dijodohkan dengan perempuan lain," ucap Salsa sambil tersenyum meremehkan dirinya sendiri.
"Tidak Kak. Rasa suka dan cinta itu anugerah. Dan belum tentu juga Kak Izam menerima perjodohan itu. Bukankah Kak Salsa dengar sendiri tadi Kak Izam tidak langsung setuju begitu saja dengan perjodohan itu?" tukas Yasmin.
"Tapi untuk besoknya gimana? Sudah pasti mereka akan tetap dijodohkan. Kamu tau sendiri kan Kyai Anwar itu siapa?" ucap Salsa dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
"Abi dan Bunda tidak seperti itu Kak. Mereka tidak akan memaksakan apapun untuk anak-anaknya," sahut Yasmin dengan suara lembut dan memeluk tubuh Salsa untuk menenangkannya.
Shinta, dia mendengar apa saja pembicaraan Salsa dengan Yasmin. Dia merasakan kesedihan dalam hatinya.
Ya Allah, aku harus bagaimana? batin Shinta melihat Salsa yang menangis dalam pelukan Yasmin.
__ADS_1