
"Shinta!" Ustadz Jaki mengurai pelukannya dan menyerukan nama istrinya.
"Jangan berbicara seperti itu, aku gak suka kamu menyalahkan dirimu sendiri, karena memang gak ada yang salah di sini. Semua ini atas kehendaknya, bukan karena Allah gak mempercayai kita menjadi orang tua, hanya saja Allah ingin memberikan ujian bagi kita. Jadi, aku harap kamu jangan pernah menyalahkan dirimu lagi Sayang, dan kita harus melewati semua ujian bersama, jangan sampai ada kesalahpahaman diantara kita," ucap Ustadz Jaki setelah itu dia mencium kening istrinya.
"Tapi kamu pasti sangat bersedih bukan? Kamu... kamu... hufffttt... bahkan kamu gak mau melihatku tadi ketika aku baru saja sadar. Apa kamu marah padaku?" suara Shinta kembali bergetar dan air matanya pun lolos jatuh membasahi pipinya.
"Tidak Sayang, kamu salah paham... Aku hanya tidak ingin kamu melihat aku menangis, dan aku tau pasti kamu akan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini. Aku tadi menangis karena menyadari kebodohanku karena tidak menyadari jika kamu sedang hamil, bukan karena aku marah dan menyalahkanmu. Aku berani bersumpah jika-"
"Cukup. Tolong jangan bersumpah demi apapun. Aku percaya padamu, karena kamu suamiku dan aku mencintaimu," ucap Shinta sambil mengeluarkan air matanya lebih deras lagi dan telapak tangannya menutup mulut Ustadz Jaki agar tidak meneruskan ucapan sumpahnya.
Tok... tok... tok...
Entah siapa yang mengetuk pintu kamar perawatan Shinta, hal itu membuat percakapan suami istri ini terhenti. Ustadz Jaki berjalan ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang datang berkunjung.
"Maaf mengganggu, saya hanya ingin memeriksa keadaan dokter Shinta," seorang dokter laki-laki yang sangat tidak diinginkan kehadirannya oleh Ustadz Jaki kini berada di depannya.
"Kenapa harus dokter? Bukannya seharusnya dokter Dina yang memeriksa istri saya?" Ustadz Jaki kembali menekankan kata istri dengan tujuan agar dokter Randi mengingat jika Shinta adalah istrinya.
"Saya dan dokter Dina yang bertanggung jawab atas dokter Shinta selama berstatus menjadi pasien di sini. Dan saya harap anda tidak menghalangi saya untuk memeriksanya," dokter Randi menerobos masuk dengan menyingkirkan sedikit tubuh Ustadz Jaki yang berada di depannya.
Ustadz Jaki mendengus kesal, tangannya mengepal namun dalam hati dia beristighfar agar tidak termakan oleh emosinya.
"Dokter Randi, kenapa dokter ada di sini?" Shinta mengernyit bingung.
Dokter Randi hanya tersenyum dan menunjukkan stetoskopnya sebagai tanda dia akan memeriksanya.
"Bukannya dokter Dina yang menjadi dokterku?" Shinta bertanya menyatakan kebingungannya.
"Tidak ada larangan jika aku juga memeriksamu karena awalnya kamu pasienku ketika datang di UGD," dokter Randi memasang stetoskopnya di kedua telinganya.
"Maaf, sebentar, saya punya hak untuk menunjuk dokter bukan? Dan saya sebagai wali dari pasien menunjuk dokter Dina sebagai dokter istri saya," Ustadz Jaki mengatakan yang ingin dia katakan sedari tadi.
"Maaf, tidak bisa," dokter Randi menolak permintaan Ustadz Jaki.
"Apa maksud anda, bukannya anda harus-"
"Sayang, sebentar, aku akan berbicara dengan dokter Randi, bisa tinggalkan kami sebentar saja untuk berbicara?" Shinta ragu-ragu mengatakannya.
__ADS_1
Ustadz Jaki membelalak tidak percaya dengan keinginan istrinya. Dia tidak menyangka jika istrinya ingin berbicara hanya berdua saja dengan seorang laki-laki yang tidak disukai oleh Ustadz Jaki meskipun laki-laki tersebut berstatus sebagai teman dari istrinya.
Ustadz Jaki menahan amarah yang berasal dari kecemburuannya, dia mengendalikannya dari dalam hatinya dengan selalu beristighfar meskipun hanya diucapkannya dalam hati.
"Boleh, tapi harus ditemani Rhea atau Umi," jawab Ustadz Jaki tegas dengan memandang dokter Randi penuh permusuhan.
"Maaf saya tidak punya banyak waktu, bisakah anda menuruti keinginan istri anda sekali saja? Biasanya seorang suami akan menuruti semua keinginan istrinya jika dia mencintainya," dokter Randi menyulut kemarahan Ustadz Jaki.
Ustadz Jaki mengepalkan tangannya mendengar perkataan dari dokter Randi, dan itu bisa dilihat oleh Shinta. Dia tidak mau jika suaminya melakukan hal yang tidak biasanya dia lakukan, seperti memukul misalnya. Shinta takut jika Ustadz Jaki akan memukul dokter Randi karena ucapannya yang sangat menyinggung Ustadz Jaki.
"Sayang, sebentar saja. Kamu tunggu saja di depan pintu ya, jangan jauh-jauh," Shinta mencoba tersenyum manis dan berkata dengan penuh permohonan agar suaminya mau menurutinya.
Ustadz Jaki melihat mata Shinta yang penuh permohonan kepadanya, dan dia tidak bisa mengacuhkannya jika istrinya yang memintanya. Dengan perasaan kesal, Ustadz Jaki berjalan keluar dari kamar tersebut. Dan sesuai dengan permintaan Shinta, dia berada di depan pintu untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Pintu itu sengaja tidak ditutup rapat sehingga terdapat celah agar dia bisa melihat apa yang mereka lakukan dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Apa maksudmu mengatakan itu pada suamiku?" Shinta bertanya dengan ketus pada dokter Randi sebagai permulaan.
"Tidak ada, aku hanya ingin memeriksamu," dokter Randi mendekat dan mengarahkan stetoskopnya ke arah Shinta.
"Stop! Kamu bukan dokterku dan aku hanya mau diperiksa oleh dokter Dina. Tolong kamu jangan seperti ini. Dan apa maksud semua ini? Aku tidak mengerti kenapa seorang dokter Randi bisa memaksakan kehendaknya untuk memeriksa pasien?" Shinta mulai jengah dengan keras kepalanya dokter Randi.
"Apa maksudmu?" Shinta bertanya dengan sedikit emosi.
"Apa kamu mencintainya? Apa kamu bahagia dengannya?" pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ada di benak dokter Randi dengan seketika dia tanyakan pada Shinta.
"Ya, aku sangat mencintainya, dan aku sangat bahagia dengannya," jawab Shinta dengan tegas.
"Lalu kenapa ini bisa terjadi? Suami apa yang tidak tau jika istrinya sedang hamil?" dokter Randi tersenyum miring, meremehkan Ustadz Jaki.
"Tutup mulutmu! Jangan kamu berbicara seperti itu tentang suamiku. Ini semua salahku, bahkan aku sendiri yang menjadi dokter Sp.OG saja tidak menyadari jika aku sedang hamil, lalu bagaimana suamiku bisa mengetahuinya?" Shinta membela Ustadz Jaki agar tidak direndahkan oleh orang lain.
"Bukannya kamu tadi mengetahuinya?" dokter Randi masih saja dengan pemikirannya.
"Itu setelah aku terjatuh dan merasakan sakit di perutku, kemudian aku melihat darah yang mengalir di kakiku. Apa aku perlu menjelaskan semuanya padamu? Sedangkan kamu bukan siapa-siapaku," Shinta sangat kesal pada dokter Randi.
"Tapi Shin aku-"
__ADS_1
"Dokter Shinta, panggil saya seperti biasanya karena kita tidak lebih dekat dari hubungan profesional seorang dokter saja," sahut Shinta dengan penuh kekesalan.
Ustadz Jaki melihat dan mendengarkan dari celah pintu kamar tersebut. Rhea pun ikut melihat sedari tadi tanpa disadari oleh Ustadz Jaki. Sedangkan Ustadz Fariz mengantarkan Umi Sarifah untuk pulang ke rumah karena kondisi Shinta yang sudah lebih baik.
Sebenarnya Umi Sarifah tidak mau pulang karena dia masih khawatir pada menantunya namun Ustadz Fariz dan Rhea memaksa Umi Sarifah untuk beristirahat saja di rumah, sehingga Umi Sarifah tidak bisa lagi mengelak dari permintaan mereka berdua.
"Istri setia tuh Ustadz," Rhea berkata lirih di dekat Ustadz Jaki.
"Astaghfirullahaladzim Rhea kamu tuh ngagetin aja," Ustadz Jaki memegangi dadanya.
Rhea tersenyum geli melihat tingkah Ustadz Jaki yang sedang cemburu, terlihat jelas pada wajah Ustadz Jaki jika dia ingin sekali masuk ke dalam kamar tersebut.
Tiba-tiba saja Rhea masuk ke dalam kamar tersebut dan mengagetkan Ustadz Jaki yang berada di depan pintu tersebut.
"Shinta, sudah lebih baik bukan? Apa sudah boleh pulang?" Rhea berkata sambil berjalan mendekati Shinta.
Dokter Randi dan Shinta menoleh ke arah Rhea. Tatapan mata mereka pada Rhea berbeda. Shinta menatapnya dengan kelegaan dan dihiasi senyumnya. Sedangkan dokter Randi menatap Rhea dengan kesal.
Ustadz Jaki pun mengikuti Rhea masuk ke dalam kamar tersebut dan mendekat pada istrinya.
"Menurutku sudah bisa pulang. Aku akan meminta pada dokter Dina agar memperbolehkan ku pulang," Shinta tersenyum melihat suaminya dengan perasaan bersalah.
"Tapi sebaiknya kamu-"
"Bukannya urusan anda di sini sudah selesai dokter?" Ustadz Jaki menyela ucapan dokter Randi sehingga dokter Randi tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
"Silahkan dok, pintunya ada di sebelah sana. Biar saya antar," Ustadz Jaki menunjukkan arah pintu dengan tangannya.
Shinta tidak membela dokter Randi ataupun melihatnya, dia sengaja mengajak Rhea berbicara agar dokter Randi tidak menunggunya.
"Silahkan dok," Ustadz Jaki mengulangi ucapannya dengan tangan yang masih menunjuk arah pintu.
Dokter Randi melihat Shinta yang mengacuhkannya, sehingga mau tidak mau dia harus keluar dari ruangan tersebut tanpa membawa hasil dari keinginannya. Tadinya dokter Randi ingin menyatakan perasaannya pada Shinta dan ingin menyuruhnya berpisah dengan suaminya sehingga Shinta bisa menjadi istrinya. Menurutnya perasaannya pada Shinta adalah cintanya yang kuat padanya sehingga dia tidak peduli dengan status Shinta saat ini.
"Saya harap anda tidak lagi mengganggu dan mendekati istri saya lagi," ucap Ustadz Jaki mengiringi langkahnya mengantar dokter Randi keluar dari ruangan tersebut.
Dokter Randi menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ustadz Jaki.
__ADS_1
"Saya harap anda tidak menikah lagi hanya karena Shinta keguguran, karena biasanya orang seperti anda ini doyan poligami," dokter Randi tersenyum meremehkan Ustadz Jaki.
"Jaga mulut anda! Sampai kapanpun saya tidak akan melepaskan Shinta, apalagi hanya untuk lelaki seperti anda," Ustadz Jaki meninggalkan dokter Randi untuk masuk kembali ke dalam ruangan istrinya.