Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 50 Tidak terima


__ADS_3

"Wa'alaikumussalam..."


"Mirna?" ucap Umi Sarifah kaget.


Rhea dan Ustad Fariz pun menoleh. Kaget karena Umi menyebut nama Mirna.


"Mbak Mirna, sini Mbak, duduk sini," Rhea tersenyum pada Mirna.


Namun Mirna melengos tidak mau menyapa ataupun melihat ke arah Rhea. Umi Sarifah yang mengetahui ekspresi Mirna pada Rhea merasa bingung harus bagaimana. Yang dia tahu bahwa mereka berdua tidak boleh meributkan masalah talak di depan Rhea.


"Mas, aku mau bicara tentang-"


"Rhea, bantuin Umi yuk ke belakang," Umi Sarifah memotong perkataan Mirna agar dia tidak meributkan masalah talak itu di depan Rhea karena Umi Sarifah tahu bahwa Mirna tidak akan mau menerima begitu saja keputusan Ustad Fariz.


"Eh, sekarang Umi?" tanya Rhea bingung karena kenapa ada Mirna datang malah Umi mengajaknya ke belakang.


"Iya, mau ya, Umi lupa tadi belum menyiapkan untuk makan malam nanti," jawab Umi yang sudah berdiri dan menarik tangan Rhea untuk ikut bersamanya.


"Tadi kan udah Umi masaknya," ucap Rhea sambil berjalan dengan tangan yang masih ditarik pelan oleh Umi Sarifah.


"Ada yang kelupaan," jawab Umi Sarifah.


Kepala Rhea menoleh ke belakang. Dia memandang suaminya yang juga memandang padanya, lalu Rhea kembali menghadap ke depan setelah mendapat anggukan disertai senyuman oleh suaminya.


"Apalagi Mir? Bukannya tadi udah jelas semuanya?" Ustad Fariz kesal dan lelah menghadapi Mirna yang keras kepalanya Masya Allah.


"Aku gak mau Mas, aku gak terima ini. Aku gak mau cerai dari kamu Mas," ucap Mirna ngeyel.


"Udahlah Mirna, itu udah jadi keputusanku. Selama ini kurang apa aku sama kamu. Aku selalu menuruti kemauan kamu. Dan udah berapa kali kamu berbuat kesalahan yang seharusnya tidak bisa dimaafkan, dan sekarang kamu lakukan hal yang lebih fatal lagi. Aku udah gak bisa mentolerir nya lagi Mir, karena itu menyangkut nyawa," Ustad Fariz beristighfar dalam hati, benar-benar menguras emosi berbicara dengan Mirna.


"Bukan aku yang melakukannya. Dan pokoknya akau tidak mau dicerai," Mirna mengatakannya dengan tegas dan tidak mau dibantah.


Prang.... pyaaarrrr....

__ADS_1


Nampan dan gelas yang ada di atasnya jatuh karena Rhea yang kaget mendengar kata cerai dari mulut Mirna.


"Sayang, kamu gapapa?" Ustad Fariz berlari menuju Rhea yang baru masuk ke ruang tengah yang biasa digunakan untuk menonton TV.


Rhea hanya berdiri tegak dengan ekspresi terkejut memandang ke arah Mirna dan Ustad Fariz duduk.


"Sayang... sayang, kamu gapapa? Ada yang sakit?" Ustad Fariz memperhatikan tubuh Rhea dari atas sampai bawah karena takut istrinya terluka.


"Sayang...," Ustad Fariz mengusap pipi Rhea agar tersadar.


"Eh, Bie... cerai? Siapa yang cerai? Kenapa?" Rhea tersadar dan langsung memberondong suaminya dengan beberapa pertanyaan.


"Huffft.. kamu gak terluka kan?" Ustad Fariz bernafas lega ketika Rhea menggelengkan kepalanya tanda dia baik-baik saja.


"Astaghfirullahaladzim... ada apa ini?" Umi Sarifah keluar dari arah dapur.


"Ma-maaf Umi, tadi Rhea gak sengaja jatuhin gelasnya," ucap Rhea yang merasa bersalah sambil berjongkok memunguti gelas yang pecah.


Umi Sarifah menggantikan Rhea memunguti pecahan gelas yang pecah.


"Umi, biar Fariz yang membereskannya. Tolong Umi temani Rhea saja," Ustad Fariz mencegah tangan Umi yang memunguti pecahan gelas di lantai.


Umi Sarifah pun mengangguk dan berjalan menuju kursi yang dekat dengan Rhea. Ustad Fariz menoleh ke arah pintu masuk ketika akan memunguti pecahan gelas tersebut, ternyata ada Pak Ratmo yang sedari tadi berdiri di sana.


Pak Ratmo sejak tadi menunggu Mirna di depan pintu masuk, karena dia tidak berani masuk begitu saja tanpa permisi dan dia juga merasa malu dengan kelakuan Mirna pada Umi Sarifah. Pak Ratmo juga mendengar serta melihat apa yang terjadi dan dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa mencegah Mirna untuk datang ke rumah Umi Sarifah menemui Ustad Fariz.


"Biar saya saja Kyai," Pak Ratmo sudah berada di dekat Ustad Fariz setelah berlari kecil tadi.


"Bapak ada di sana sejak kapan? kenapa tidak masuk?" tanya Ustad Fariz.


"Maafkan saya Kyai tidak bisa mencegah Mirna untuk datang kemari. Silahkan duduk, biar saya saja yang membereskan ini," Pak Ratmo segera meraih nampan yang jatuh tadi dan membereskan pecahan gelas-gelas yang jatuh tadi.


Mirna, Rhea dan Umi Sarifah hanya diam saja sejak tadi. Mirna memutar bola matanya malas melihat Rhea yang sok baik hati menurutnya. Jari tangannya mencengkeram gamisnya dengan kuat, rasanya dia ingin menjambak rambut Rhea dan mencakar mukanya agar tidak lagi menjadi cantik menurutnya.

__ADS_1


Ustad Fariz duduk di depan Mirna, yang artinya dia duduk di dekat Rhea. Jadi Rhea diapit oleh Ustad Fariz dan Umi Sarifah.


"Mirna, aku harap yang tadi aku sampaikan kamu terima. Karena semuanya sudah jelas dan itu sudah menjadi keputusanku yang tidak bisa lagi diganggu gugat," ucap Ustad Fariz dengan tegas.


Rhea masih tidak mengerti dengan yang dibicarakan oleh suaminya, namun dia tidak berani bertanya ataupun menyela.


"Pokoknya aku gak mau diceraikan titik. Dan aku ingin bertemu dengan orang yang menyebar fitnah itu. Aku tidak rela jika mereka berhasil memfitnahku sehingga aku diceraikan olehmu Mas," Mirna masih saja mengelak.


"Astaghfirullahaladzim Mirna... tadi kan sudah aku jelaskan semua alasannya, masih belum jelas juga?" Ustad Fariz menghembuskan nafasnya kesal menghadapi keras kepalanya Mirna.


"Cerai?" celetuk Rhea tanpa sadar.


"Iya, Mas Fariz menceraikan aku, dan itu pasti gara-gara kamu," ucap Mirna kesal dan menatap penuh amarah pada Rhea.


"Mirna, jaga ucapan kamu!" seru Ustad Fariz pada Mirna.


"Apa? Kenapa? Memang benar kan? Mas Fariz selalu aja belain dia. Jadi besar kepala kan dia," ? ucap Mirna ya g besungut kesal.


"Mbak maaf jika aku punya banyak salah sama Mbak, tapi demi Allah aku tidak pernah menyuruhnya untuk menceraikan Mbak," ucap Rhea penuh perasaan.


"Sayang tenanglah," ucap Ustad Fariz menenangkan Rhea sambil merangkul pundaknya dan mengusapnya.


"Mirna, ini mutlak keputusanku dan tidak ada yang mempengaruhiku. Bahkan Rhea tidak tahu tentang keputusanku ini," ucap Ustad Fariz dengan tegas.


"Kenapa Bie, kenapa Mbak Mirna diceraikan?" tanya Rhea memandang wajah suaminya dengan penuh tanya.


"Karena.. karena dia sudah melakukan hal yang berbahaya, sehingga aku tidak bisa lagi memaafkannya," Ustad Fariz ragu untuk mengatakan pada Rhea.


"Hal yang berbahaya? Apa itu?" tanya Rhea ingin tau.


Ustad Fariz menceritakan semua perbuatan Mirna yang menyebabkan Rhea terpeleset waktu itu. Rhea menggeleng dan tangan kanannya menutup mulutnya, dia tidak percaya mendengar penjelasan dari suaminya.


"Kenapa Mbak? Kenapa Mbak Mirna berbuat sekeji itu padaku?" Rhea bertanya dengan mata yang berkaca-kaca, sedih mendengar orang yang dihormatinya dan dianggap sebagai kakaknya malah mencelakainya.

__ADS_1


__ADS_2