Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 62 Titik terang


__ADS_3

Kue yang dibuat oleh Rhea sudah tersaji di meja makan. Rhea dibantu Mbak Atik untuk membereskan peralatan yang sudah dipakainya untuk membuat kue tadi.


"Mbak Atik, udah semua kan? Aku tinggal ke kamar dulu ya, mau mandi, gerah banget soalnya," Rhea beranjak dari tempatnya saat ini untuk berjalan menuju ke kamarnya setelah mendengar jawaban dari Mbak Atik.


"Udah Mbak. Mbak Rhea tinggal aja, ini juga udah selesai kok tinggal di lap aja," jawab Mbak Atik untuk menyuruh Rhea segera pergi ke kamar karena takut kelelahan.


Mbak Atik menyimpan kembali peralatan yang tadi digunakannya bersama Rhea ke tempat penyimpanan barang.


"Emmm enak ini kuenya, siapa yang buat Mbak?" tanya Ustad Jaki pada Mbak Atik yang sedang lewat.


Ustad Jaki makan kue tersebut dengan lahap dan sudah beberapa potong yang sudah ada di tangannya.


"Ya istriku lah," jawab Ustad Fariz dengan percaya diri.


"Iya Mbak?" tanya Ustad Jaki lagi pada Mbak Atik.


"Iya Ustad," jawab Mbak Atik yang sedang sibuk berjalan ke sana dan ke sini mondar mandir untuk mengembalikan barang ke tempat penyimpanan.


"Ehem... enak kan? Buatan istrinya siapa dulu dong," ucap Ustad Fariz dengan jumawanya.


"Cieee yang punya istri," ledek Ustad Jaki pada Ustad Fariz.


"Cieee yang gak punya istri," ledek balik Ustad Fariz pada Ustad Jaki namun merubah muka Ustad Jaki yang tadinya senang menjadi muram, karena mendengar ledekan Ustad Fariz yang membuatnya galau, Ustad Jaki melempar Ustad Fariz dengan gumpalan tisu hasil kreasinya secara dadakan barusan.


Mbak Atik berdiri tidak jauh dari Ustad Fariz dan Ustad Jaki seperti ingin mengatakan sesuatu. Dari wajah Mbak Atik terlihat khawatir dan gelisah melihat ke arah Ustad Jaki dengan tangan yang memelintir-melintir ujung hijabnya.


Ustad Jaki yang sedang menikmati kue buatan Rhea merasa terganggu melihat muka Mbak Atik yang seperti itu.


"Kenapa Mbak, kok muka Mbak Atik kayak gitu?" Ustad Jaki bertanya pada Mbak Atik sambil mengunyah kuenya.


"Kayak gitu gimana Ustad?" Mbak Atik bingung mendengar perkataan Ustad Jaki tentang mukanya saat ini.

__ADS_1


"Kayak kebelet nahan kentut yang mau keluar," canda Ustad Jaki disertai kekehannya.


Mbak Atik melongo mendengar perkataan Ustad Jaki mengenai wajahnya saat ini yang dikatakan lagi nahan kentut. Tidak tahu saja Ustad Jaki kalau saat ini Mbak Atik sedang bingung menahan sesuatu yang ingin dia katakan.


"Ustad Jaki mah gitu, Mbak Atik kan mau ngomong tapi takut," terpaksa Mbak Atik jujur daripada dibilang Ustad Jaki dia lagi nahan kentut.


Ustad Fariz hanya tertawa sambil menikmati kue buatan istrinya melihat Ustad Jaki dan Mbak Atik yang sedang berdebat dengan candaan mereka.


"Itu Ustad, anu... itu... aduh...," Mbak Atik ragu-ragu mengatakannya karena ada Ustad Fariz di sana.


"Apa sih Mbak, udah cepetan ngomong," desak Ustad Jaki agar Mbak Atik cepat berbicara.


"Itu Ustad, tadi... tadi-"


"Apaan sih Mbak, cepetan ngomong," desak Ustad Jaki tidak sabar mendengarkan hal yang ingin dibicarakan Mbak Atik padanya.


Akhirnya Mbak Atik menceritakan semua kejadian yang dialaminya dengan Rhea mulai dari pasar sampai kejadian di toko depan Pondok Pesantren Al-Mukmin tadi.


Ustad Fariz dan Ustad Jaki saling menoleh, mata mereka mengisyaratkan kemarahan. Ustad Fariz merasa dia sudah tidak bisa mengulur waktu lagi.


"Gimana Ustad, apa udah selesai semuanya?" Ustad Fariz ingin mengetahui persiapan untuk acara pertemuan bersama perangkat desa dan warga sekitar mengenai berita yang beredar yang kini sudah menjadi gosip yang dikonsumsi masyarakat luas.


"Udah 90% sih, apa dimajukan nanti malam aja?" Ustad Jaki meminta persetujuan dari Ustad Fariz.


"Apa kira-kira mereka semua bisa datang jika dimajukan?" tanya Ustad Fariz ragu.


"Insya Allah bisa Ustad, biasanya nih kalau menyangkut berita yang menggegerkan warga, pasti mereka menyempatkan waktunya untuk datang," ucapan Ustad Jaki seperti candaan namun benar adanya, warga selalu lebih tertarik dengan gosip yang beredar daripada urusan yang lainnya.


"Ya udah Ustad, aku percayakan padamu. Sekarang aku akan menemui istriku dulu, pasti dia sedang sedih sekarang ini," Ustad Fariz beranjak dari duduknya untuk berjalan menuju kamarnya.


"Loh Mbak Atik kok masih di sini?" tanya Ustad Fariz heran melihat Mbak Atik yang sedari tadi berdiri di tempat yang sama.

__ADS_1


"Lah kan belum disuruh pergi, saya kira masih dibutuhkan di sini," Mbak Atik nyengir merasa malu.


"Udah Mbak Atik terusin aja kerjaannya. Oiya, makasih ya Mbak udah ngasih tau kita," ucap Ustad Jaki sembari mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Sedangkan Mbak Atik segera pergi dari tempat tersebut menuju dapur untuk menyiapkan masakan selanjutnya.


Dengan segera Ustad Jaki menghubungi orang-orang yang membantunya untuk memberitahukan acara pertemuan malam nanti.


Setelah menghubungi semuanya, Ustad Jaki mengalihkan perhatiannya dengan melihat foto profil kontak Dokter Shinta.


Shinta... Shinta, kamu kenapa sih gak jawab-jawab pernyataanku tempo hari? Bahkan sampai sekarang kamu belum menjawabnya. Aaah... jadi mikirin Shinta kan, gara-gara Ustad Fariz ngomongin istri sih, jadi ingat Shinta kan, Ck.... Astaghfirullahaladzim...., batin Ustad Jaki yang masih galau menanti jawaban dari Dokter Shinta mengenai lamarannya.


"Sayang, kamu gapapa?" tanya Ustad Fariz pada istrinya yang sedang mengedit video memasaknya tadi untuk channel YouTube nya.


Rhea menoleh, dia tersenyum manis seraya berkata, "Gapapa Bie, kenapa? Aku baik-baik aja kok, gak ngerasa capek juga."


Ustad Fariz tersenyum, merasa lega melihat istrinya tersenyum meskipun sedikit memancarkan aura kesedihan yang dipendamnya.


"Aku udah tau dari Mbak Atik," Ustad Fariz tidak membahasnya secara detail agar Rhea tidak merasa sedih lagi karena mengingat kejadian tadi.


Rhea memandang intens manik mata suaminya. Senyum manisnya mengembang agar Ustad Fariz tidak khawatir terlalu berlebihan padanya.


"Kata Hubby kan kita harus ikhlas meskipun sulit," kini Rhea tersenyum lebar untuk menutupi kesedihannya.


Ustad Fariz masih saja menatapnya seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.


"Aku baik-baik aja Bie, beneran, jangan khawatir," ucap Rhea untuk menepis kekhawatiran suaminya.


"Sayang, dengarkan aku, nanti malam akan ada acara pertemuan yang akan aku adakan di tempat pertemuan Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk mengklarifikasi berita yang beredar tentang kita dan tentang perceraianku dengan Mirna. Aku harap kamu di rumah saja bersama Umi Sarifah, dan jangan kemana-mana sampai aku datang kembali ke sini. Mengerti?" ucap Ustad Fariz dan diangguki oleh Rhea.


"Tidak ada masalah lagi kan Bie nantinya?" tanya Rhea sedikit khawatir.

__ADS_1


"Insya Allah gak ada Sayang. Kita berdoa ya supaya masalah kita cepat selesai, dan anak kita ini sehat sampai lahiran," Ustad Fariz menyentuh perut Rhea dengan perasaan sayangnya yang berlimpah untuk anak dan istrinya.


__ADS_2