Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 216 Suatu keinginan


__ADS_3

"Kek, kapan Hana bisa masuk Pondok Pesantren?"


Hana bertanya pada Pak Ratmo ketika sedang bersantai menonton TV sambil menikmati singkong rebus dan kopi buatan Anita.


Pak Ratmo mengalihkan perhatiannya dari TV dan beralih memandang Hana yang duduk di kursi sebelahnya.


"Apa Hana sudah memutuskan untuk pindah ke sana?"


Hana menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan suara lirih,


"Iya Kek, Hana akan pindah ke sana saja."


"Alhamdulillah.... Hana memang masih kecil, tapi Kakek yakin jika Hana bisa melakukannya. Semoga Hana menjadi anak yang shalihah ya," ucap Pak Ratmo sambil mengusap rambut Hana dengan lembut.


"Oiya, nanti biar Mbak Anita yang menemani kamu untuk menyiapkan semua kebutuhan kamu," ucap Pak Ratmo kembali sambil tersenyum lega menatap Hana.


Lagi-lagi Hana mengangguk, kemudian dia bertanya kembali,


"Kapan Kek kita berangkatnya?"


"Tunggu persiapan Hana selesai dulu ya," jawab Pak Ratmo kemudian.


"Anita.... Anita....!"


Pak Ratmo teriak memanggil Anita yang berada di kamarnya.


"Iya Pak, ada apa?"


Anita menjawab dari dalam kamar sambil berjalan cepat menuju ruang tengah.


"Hana sudah memutuskan untuk masuk ke Pondok Pesantren. Tolong kamu bantu dia untuk persiapannya ya."


Pak Ratmo meminta Anita untuk membantu Hana mempersiapkan semuanya. Bukan tanpa alasan karena Anita pernah menjadi santri di Pondok Pesantren tersebut.


"Baik Pak. Biar nanti saya siapkan baju, hijab dan perlengkapan lainnya," ucap Anita sambil tersenyum pada Hana.


Anita sangat senang mendengar Hana yang mau masuk ke Pondok Pesantren. Dia berharap agar Hana bisa menjadi anak shalihah, karena sejak Hana tinggal bersamanya, Anita tahu jika Hana sangat butuh sekali pengetahuan tentang agama islam. Selain dia masih kecil, orang tuanya juga tidak pernah mengajari Hana tentang ibadah dan sebagainya.


Di tempat lainnya, Mirna sedang mengomel tanpa henti. Dia masih mempermasalahkan tentang Pandu yang akan mengantarkan Anita.


"Mas, pokoknya aku gak mau Mas Pandu dekat-dekat sama Anita. Gak usah ngantar-ngantar juga. Awas aja kalau kalian berdua dekat-dekat."


Mirna mengomel dan mengancam Pandu ketika mereka sedang berada di dalam kamarnya.


Pandu menghela nafasnya, dia sungguh lelah hati ini menghadapi kenyataan hidupnya yang tidak sesuai dengan harapannya. Dan sekarang ketika dia ingin mengistirahatkan badannya, istrinya kembali mengomel padanya.


Ngomel lagi, ngomel lagi. Badan udah capek gini bukannya dipijitin malah diomelin. Hufft.... nasib... nasib... Udahlah jawab aja yang bikin dia tenang, gak usah didebat biar cepat selesai, Pandu berkata dalam hatinya sebelum dia menjawab perkataan Mirna yang ditujukan padanya.


"Iya, iya Mir. Aku cuma merasa banyak hutang saja sama Pak Ratmo dan Anita. Kita masih menumpang di rumah mereka dan mereka sangat baik sama kita, terutama pada Hana dan Emir. Aku tidak bisa membalasnya untuk sekarang ini, aku hanya berharap bisa membantu mereka jika mereka sedang butuh bantuan tenagaku."


"Iya aku tau. Tapi bantunya lihat-lihat juga dong. Kalau misalnya disuruh nikahi Anita apa Mas Pandu langsung mau karena merasa harus membayar budi mereka? Itu lah Mas kenapa Mas Pandu harus bisa menolak juga jika memang tidak sesuai dengan keinginan Mas Pandu."

__ADS_1


Mirna masih saja tidak mau mengalah. Dia malah memberikan pengandaian untuk memberikan contoh pada Pandu.


Ya jelas mau lah Mir. Kalau bisa ditukar tambah saja kamu dengan Anita. Lagian Mirna ini kenapa sih ngambil contoh kayak gitu, apa dia lupa jika kami menikah juga karena alasan yang sama? Ck, sebenarnya Mirna ini labil atau pelupa sih?


Pandu kembali berkata dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan Mirna dengan jujur.


"Mas dengerin Mirna ngomong kan?" tanya Mirna sambil memicingkan matanya menatap ke arah suaminya.


"Aku denger Mir. Udah ya, aku mau tidur dulu, badanku capek semua," jawab Pandu sambil merebahkan tubuhnya di samping Mirna.


"Mas Pandu apa mau dibikinkan minuman seperti waktu itu?" tanya Mirna dengan antusias.


"Minuman apa Mir?" tanya Pandu sambil menoleh ke arah Mirna.


"Yang herbal itu. Kan habis minum itu Mas Pandu jadi semangat. Capek-capeknya hilang kan?" ucap Mirna yang masih antusias.


"Oh itu. Gak usah deh Mir. Aku kasih balsem aja deh sama tiduran. Besok pasti sudah ilang," jawab Pandu sambil tersenyum kaku.


"Iya nanti setelah minum minuman itu langsung dikasih balsem biar lebih cepat hilang capeknya. Aku buatkan ya Mas."


Mirna masih saja memaksa Pandu agar mau dibuatkan minuman yang diracikkan oleh Pak Minto untuknya.


"Gak usah ya Mir, aku tidur aja sekarang," ucap Pandu sambil menutup badannya menggunakan kain selimut.


"Mas, Mas Pandu gak mau punya anak dari aku ya Mas?" tanya Mirna dengan sewot.


"Kamu ini ngomong apa sih Mir?" tanya Pandu dengan wajah bingungnya menghadap ke arah Mirna.


"Mangkanya Mas Pandu mau dong minum minuman herbal itu supaya kita bisa nganu, siapa tau aku bisa hamil. Ibu nya Hana kan gitu."


Dan keadaannya kini ketika bersama dengan Pandu pun juga seperti itu. Dia mengira Anita menginginkan suaminya, dan dia ingin mempertahankan suaminya. Selain karena dia menginginkan anak yang lahir dari rahimnya, dia juga menginginkan Rhea melihat dia bisa mempunyai anak dari mantan suami Rhea.


Anak lagi, anak lagi. Gimana ini? Aku harus bagaimana? Apa aku turuti saja ya, kan gak ada salahnya. Tapi kalau masalah anak... aku belum siap. Emir aja masih bayi. Jika aku bicara jujur pada Mirna, apa dia akan mau menerima alasanku? Iya kalau dia mau nerima, kalau dia malah marah-marah gimana? Aduh... tambah pusing nih aku, Pandu bertanya-tanya dalam hatinya, dia sangat bimbang menghadapi keinginan Mirna.


"Mir, untuk masalah anak.... aku..."


"Aku buatin dulu ya Mas minumannya."


Mirna menyela ucapan Pandu dan beranjak turun dari ranjang menuju laci penyimpanan obat. Setelah mengambil satu bungkus obat tersebut, dia menuju dapur untuk membuatnya.


"Hufffttt.... Mirna... Mirna... kenapa sih kamu selalu mengutamakan keinginanmu? Aku sih gak masalah sama prosesnya, seneng malahan. Tapi untuk tujuannya, aku benar-benar gak siap jika harus mempunyai dua bayi dalam jangka waktu berdekatan. Bagaimana nanti biaya mereka?"


Pandu menatap pintu kamar yang dilewati oleh Mirna dengan mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Mirna namun tidak bisa dikatakannya secara langsung.


Akhirnya Pandu lebih memilih mengistirahatkan badannya di ranjang sebelum Mirna kembali masuk ke dalam kamar.


Setelah beberapa menit Mirna kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa gelas yang berwarna seperti teh untuk diberikan pada Pandu.


"Mas... Mas Pandu, ini diminum dulu," ucap Mirna sambil menggoyang-goyangkan lengan Pandu setelah meletakkan gelas yang dia bawa tadi di atas meja yang berada di sebelah ranjang mereka.


"Apa Mir?" ucap Pandu dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


"Ini diminum dulu minumannya," jawab Mirna yang kini tangannya menepuk-nepuk ringan pipi Pandu.


Dengan malasnya Pandu terpaksa bangun dari tidurnya. Kini dia harus meminum minuman yang telah dibuat oleh Mirna meskipun masih dalam keadaan panas.


Masih dengan mata yang sedikit terpejam, Pandu menghabiskan minuman tersebut sesuai dengan perintah Mirna.


"Habiskan Mas minumannya, aku kan udah capek-capek membuatnya. Dan agar efeknya lebih kuat," perintah Mirna pada Pandu ketika meminum minuman tersebut.


Setelah Pandu selesai meminum minumannya, Pandu mencoba sekuat tenaga menahan efek yang selalu datang setelah meminum minuman tersebut. Namun Mirna yang tidak melihat reaksi apapun pada Pandu mencoba membuat Pandu menginginkannya.


Kok gak ngefek sih? Masa' iya Mas Pandu udah kebal sama obat ini? Kalau gitu biar Mirna yang beraksi, Mirna berkata dalam hatinya.


"Mas, sini aku pijitin biar capeknya hilang," ucap Mirna sambil membuka paksa baju Pandu.


"Tapi Mir kamu kan juga capek, nanti kamu tambah kecapekan. Belum lagi besok harus menjaga Emir. Kamu pasti sangat lelah."


Pandu mencoba membujuk Mirna, karena dia tahu apa maksud Mirna saat ini.


"Gapapa Mas, kan udah tugasku jadi istrinya Mas Pandu memijit Mas Pandu dan untuk merawat Emir juga tugasku sebagai ibunya," ucap Mirna dengan lembut dan tersenyum manis pada Pandu.


Tangan-tangan Mirna mulai beraksi di atas kulit Pandu. Pandu yang sedang menahan reaksi dari obat yang diminumnya membuatnya terpancing akan sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh Mirna. Dan setelah itu terjadilah malam yang diinginkan oleh Mirna.


Malam panas yang penuh dengan peluh dan membuat Mirna tersenyum puas karena keinginannya telah tercapai untuk malam ini, hanya harapan tentang kehamilannya saja yang belum bisa dia gapai untuk sekarang ini. Dan dia berharap agar dia akan segera hamil.


Tok... tok... tok...


"Bapak... ibu.... Hana mau tidur bersama Bapak dan Ibu."


Suara Hana membuat Pandu dan Mirna kelabakan. Untung saja kegiatan mereka baru saja usai, jika tidak pasti Mirna akan mengomel kembali pada Pandu dan Hana.


"Gawat. Mir cepat pakai bajumu," ucap Pandu sambil tergesa-gesa memakai baju dan celananya.


"Lagian ngapain sih Hana malam-malam minta tidur di sini? Dia kan udah gede Mas, manja," Mirna berkata dengan kesal sambil memakai pakaiannya.


Tok... tok...tok..


"Pak... Bu... buka pintunya dong," ucap Hana kembali dari depan pintu kamar Pandu dan Mirna sambil mengetuk pintunya.


Pandu hanya menghela nafasnya mendengar jawaban dari Mirna. Dan dia segera berjalan menuju pintu untuk segera membukakan pintu untuk Hana.


Setelah Pandu melihat Mirna sudah berpakaian lengkap, Pandu segera membukakan pintu kamarnya.


"Hana, kenapa?"


Pandu menggandeng Hana masuk ke dalam kamarnya.


"Hana hanya ingin tidur bersama Bapak, Ibu dan adik Emir sebelum Hana berangkat ke Pondok Pesantren. Boleh kan Pak, Bu?" jawab Hana lirih dengan penuh permohonan.


"Tentu saja boleh Hana, ayo kita tidur, sudah malam," jawab Pandu sambil tersenyum pada Hana.


Sedangkan Mirna melihat Hana dengan perasaan kecewa.

__ADS_1


Harusnya setelah ini aku bisa tidur dalam pelukan Mas Pandu, kalau ada Hana mana bisa aku tidur di pelukan Mas Pandu? Mirna berkata dalam hatinya.


"Loh ini kenapa jadi berantakan seperti ini Pak kasurnya?" tanya Hana dengan wajah polosnya.


__ADS_2