
Mata Pandu terbelalak dan reflek dia mengangkat kepalanya yang sebelumnya sedari tadi menunduk.
"Mi-Mirna?" celetuk Pandu ketika mendengar nama Mirna yang akan dinikahkan Pak Ratmo dengannya.
"Iya, Mirna. Kamu sudah setuju tadi. Sebentar ya, Bapak panggilkan Mirna dulu agar dia bisa berbicara dengan kita," ucap Pak Ratmo sambil berdiri untuk pergi mencari Mirna.
Kok jadi Mirna sih? Bukannya tadi Anita ya yang akan dinikahkan denganku? Mana aku tadi langsung setuju aja lagi. Boleh gak ya tukar aja sama Anita? Kalau kayak gini mendingan aku mengharapkan Rhea kembali aja. Tapi..., belum selesai Pandu berkata-kata dalam hatinya, dia dikagetkan kembali oleh kedatangan Pak Ratmo dengan Mirna yang berada di belakangnya.
"Nah Pandu, ini Mirna sudah ada di sini. Mari kita bicarakan tentang pernikahan kalian sekarang," ucap Pak Ratmo sambil duduk di kursi tempatnya duduk tadi di dekat Pandu.
Mirna pun duduk di depan Pak Ratmo dan mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Pak Ratmo pada mereka berdua.
"Nah kalian berdua sudah setuju untuk menikah. Jadi kapan kalian akan melaksanakan pernikahan kalian? Bapak rasa harus secepatnya karena semua warga menantikan pernikahan ini," Pak Ratmo mulai membicarakan pokok pembahasannya.
"Menikah? Tapi kan Mirna-"
"Kamu tadi sudah setuju Mir. Tadi Paman sudah bertanya padamu dan kamu mengangguk menyetujuinya. Kamu ingat kan?" Pak Ratmo menyela ucapan Mirna agar pembahasan mereka cepat selesai karena sudah terlalu malam.
"Kapan? Eh Mirna beneran gak ingat Paman," jawab Mirna dengan raut wajah bingungnya.
"Kamu gak perlu malu di depan Pandu Mir. Pandu juga sudah setuju tadi. Benar kan Pandu?" Pak Ratmo bertanya kembali pada Pandu.
Pandu diam, dia tidak membenarkan ataupun mengelak. Dalam hatinya dia sedang bergejolak,
Masa' iya aku harus jawab enggak, tadi hanya salah sangka. Pasti Pak Ratmo akan kecewa dan nantinya kami akan tinggal di mana jika kami tidak diperbolehkan tinggal di sini? Dan apa ini? Mirna kenapa berkelit? Apa dia benar-benar menyukaiku tapi dia malu denganku? Ah... lalu bagaimana dengan Anita? Kenapa bukan dia saja yang dinikahkan denganku? Pandu kembali membatin di dalam diamnya.
__ADS_1
"Tapi Paman, Mirna rasa kami berdua tidak saling mencintai. Lalu buat apa kami menikah jika tidak ada rasa cinta di antara kami berdua?" Mirna berkata untuk menolak keinginan pamannya.
"Paman yakin jika cinta bisa datang seiring dengan jalannya pernikahan kalian. Dan Paman juga yakin kamu tidak lupa jika dulunya kamu juga tidak mencintai mantan suamimu pada saat kalian menikah, dan akhirnya kamu mencintainya juga kan?" ucap Pak Ratmo menanggapi perkataan Mirna.
"Tapi itu kan-"
"Apa kamu mau kalian berdua diusir dari desa ini? Apa kalian juga tega dengan Hana dan Emir yang juga akan diusir dari desa ini?" tanya Pak Ratmo menyela ucapan Mirna.
"Diusir? Kami?" celetuk Pandu setelah mendengarkan ucapan Pak Ratmo.
"Iya. Kalian akan diusir dari desa ini jika kalian tidak menikah," jawab Pak Ratmo setelah menghela nafasnya dengan berat.
"Kami diusir? Tapi kenapa kami diusir Pak? Apa kami berbuat salah? Perasaan saya tidak pernah berbuat salah pada mereka. Bahkan saya tidak pernah berbicara pada mereka," tanya Pandu yang merasa heran dengan perkataan dari Pak Ratmo.
Akhirnya Pak Ratmo menceritakan kembali cerita yang tadi sudah disampaikannya pada Mirna. Dan Pandu merasa bingung serta heran dengan kehidupan di daerah tersebut.
Apa benar keputusanku untuk meninggalkan rumah Pak Minto salah sehingga sekarang semua ini terjadi? Ani pergi meninggalkan kedua anaknya dan aku untuk selamanya dan kini aku harus menikah dengan Mirna. Apa ini akibat dari aku tidak menyetujui permintaan Ani untuk tetap tinggal di rumah kami? Ah... bagaimana ini? Apa aku harus menikahi Mirna? Pandu kembali berkata dalam hatinya.
"Bagaimana, apa kalian akan tetap menolak pernikahan ini dan siap diusir dari desa ini?" Pak Ratmo bertanya sambil melihat ke arah Mirna dan Pandu secara bergantian.
"Paman heran sama kalian berdua. Bukannya tadi kalian sudah setuju untuk menikah. Tapi kenapa sekarang pada saat kalian berdua berhadap-hadapan malah saling berkelit seperti ini?" Pak Ratmo bertanya dengan kesal pada mereka berdua.
"Cepatlah kalian putuskan karena mereka menunggu kepastian dari kalian," ucap Pak Ratmo kembali.
Pak Ratmo kembali memandang Mirna dan Pandu bergantian namun mereka hanya diam saja, sepertinya mereka tidak ada keinginan untuk menjawabnya sehingga Pak Ratmo berniat untuk meninggalkan mereka berdua untuk berbicara berdua.
__ADS_1
"Tunggu Pak, saya setuju dengan pernikahan ini," Pandu menghentikan langkah Pak Ratmo ketika akan meninggalkan mereka berdua.
"Tapi kita-"
"Mir, bisa kita bicara berdua?" Pandu menyela ucapan Mirna.
"Baiklah, lebih baik kalian bicarakan dulu berdua. Saya tinggal dulu ke dalam, nanti kalian bisa panggil saya jika kalian sudah selesai berbicara. Dan jangan terlalu lama kalian berbicara karena ini sudah sangat malam," ucap Pak Ratmo yang kemudian benar-benar meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.
"Mir, maaf jika aku terlalu egois. Tapi aku mohon setujui pernikahan ini karena aku tidak tau lagi harus pergi ke mana karena tentunya masalah biaya dan Hana juga Emir yang tidak ada menjaganya ketika aku bekerja. Hanya kalian yang kami punya di sini. Dan jika kamu keberatan dengan pernikahan ini, kamu bisa tidak melayaniku sebagai seorang istri. Cukup setujui pernikahan ini saja serta rawatlah Hana dan Emir seperti anak kandungmu sendiri. Aku yakin kamu bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk mereka, karena aku lihat kami juga menyayangi mereka," Pandu menjeda perkataannya untuk melihat reaksi Mirna, kemudian dia kembali meneruskan ucapannya.
"Jadi, apa kamu mau menerima pernikahan ini Mir?" tanya Pandu dengan sedikit ragu.
Bodoh amat dengan perasaan, aku harus merendahkan harga diriku agar aku dan kedua anakku bisa tetap tinggal di sini. Masalah nantinya bagaimana bisa diurus nanti, ucap Pandu dalam hatinya.
Jika aku tidak menyetujuinya pasti aku akan diusir juga dari sini. Lalu aku akan pergi ke mana? Warung milikku saja ada di sini. Mau pulang kampung? Ah tidak mungkin, kakak-kakakku sudah mengusirku dan pasti mereka tidak mau menerimaku lagi. Apa ini takdirku? Apa aku harus menikah dengannya? Tapi tidak ada jalan lain. Bagaimana ini? Mirna bertanya-tanya dengan resah dalam hatinya.
"Mir... Mirna! Bagaimana?"
Pandu membuat Mirna kaget ketika Mirna sedang berkata dalam hatinya sehingga dia reflek menjawab pertanyaan Pandu.
"Ok aku setuju," ucap Mirna tanpa sadar dengan ekspresi kaget.
"Terima kasih Mir, kamu memang wanita yang baik. Aku yakin kamu juga bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk Hana dan Emir," ucap Pandu sambil tersenyum pada Mirna.
Tanpa sadar Mirna pun tersenyum padanya. Kemudian Pandu memanggil Pak Ratmo untuk memberitahukan jawaban mereka.
__ADS_1
"Jadi, kapan kalian akan menikah?"