
"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un...."
Para warga sekitar memberi ucapan duka setelah mendengar kabar meninggalnya Pak Anto.
Bu Yati dan Yasmin menangisi kepergian Pak Anto untuk selamanya. Mereka tidak menyangka jika Pak Anto meninggalkan mereka secepat itu.
"Padahal semalam kita menunggunya di sini. Tapi ketika kita meninggalkannya, malah kita tidak tau jika pada saat itu Bapak meninggalkan kita," Bu Yati mengatakannya pada setiap orang yang menanyakan kematian Pak Anto.
Kepergian Pak Anto untuk selamanya itu memberikan pukulan yang sangat dalam bagi Bu Yati dan Yasmin. Mereka kini hanya hidup berdua saja, sedangkan tuntutan hutang mereka sangat besar hingga mereka pun tidak tahu harus sampai kapan menanggung hutang yang tiap hari bunganya semakin bertambah.
Baru saja pagi tadi jenazah Pak Anto dimakamkan, namun malam harinya ketika Bu Yati dan Yasmin sedang tidur, pintu rumah mereka digedor kasar oleh orang-orang dari Bos Leo.
Dok... dok... dok...
"Siapa itu Bu? Kenapa mereka kasar sekali mengetuk pintunya?" tanya Yasmin pada Bu Yati.
Bu Yati menggelengkan kepalanya. Kemudian dia beranjak turun dari tempat tidurnya. Yasmin dilarang oleh Bu Yati ketika ikut turun dari tempat tidur mereka.
Malam ini mereka tidur bersama karena kesedihan mereka ditinggal oleh Pak Anto. Dan kini mereka harus merasa ketakutan setelah Pak Anto tidak lagi berada di rumah tersebut.
"Biar Ibu saja yang membukanya. Kamu di sini saja dan jangan keluar jika Ibu tidak memintanya," perintah Bu Yati pada Yasmin.
"Tapi Bu, mereka sepertinya-"
Bu Yati menghentikan ucapan Yasmin dengan meletakkan jari telunjuknya di atas bibirnya.
"Ingat pesan Ibu," ucap Bu Yati sebelum melangkah keluar dari kamarnya.
Semoga tidak terjadi apa-apa. Semoga mereka bukan pencuri seperti dugaanku, Yasmin berkata dalam hatinya ketika melihat Bu Yati pergi meninggalkannya.
Ceklek!
Pintu rumah tersebut terbuka.
Betapa kagetnya ketika Bu Yati mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan dari Bos Leo.
"Ada apa kalian malam-malam datang ke rumah saya?" tanya Bu Yati dengan menyembunyikan ketakutannya di hadapan mereka.
"Mana anak Ibu yang cantik itu? Kami ada perlu dengannya," ucap salah satu dari mereka dengan tegas dan memasang wajah mengerikan.
"Kenapa mencarinya? Kalian tidak ada perlu apa-apa dengannya," ucap Bu Yati dengan sedikit gemetar.
"Hutang Ibu dan Bapak semakin banyak dan sudah pasti ibu tidak bisa membayarnya. Apalagi Bapak sudah meninggal. Sekarang biar anak Ibu saja yang membayarnya. Bos Leo menginginkannya. Panggilkan dia, kami akan membawanya sekarang juga untuk menemui Bos Leo."
Bu Yati panik. Dia tidak memprediksi keadaan seperti ini akan terjadi. Dan dia tidak mempunyai persiapan apa-apa untuk menghadapi mereka jika dia dihadapkan dengan keadaan seperti ini.
"Dia masih kecil dan tidak tau apa-apa. Biar saya saja yang membayarnya. Bawa saya saja untuk menghadap Bos Leo, jangan anak saya."
Bu Yati mencoba untuk terlihat tidak takut di hadapan mereka.
__ADS_1
"Buat apa kami membawa orang tua seperti anda. Sudahlah, cepat panggilkan dia atau kami akan masuk dan mencarinya sendiri," ucap salah satu dari mereka sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Bu Yati menghentikannya dengan menghalau orang tersebut dengan berada di depannya.
"Biar saya saja yang memanggilnya," ucap Bu Yati meyakinkan orang tersebut.
Kemudian Bu Yati masuk ke dalam kamarnya dan memberitahu Yasmin agar pergi dari rumah itu dan bersembunyi di rumah Maria.
"Pergilah dari sini dan bersembunyi lah di rumah Maria. Jangan datang ke rumah ini hingga Ibu menyuruhmu datang," ucap Bu Yati secara terburu-buru dan mendorong-dorong tubuh Yasmin untuk pergi melalui pintu belakang.
"Tapi Bu, ada apa? Siapa mereka?" tanya Tasmin dengan panik.
Bu Yati tidak menjawab, dia malah mendorong tubuh Yasmin agar cepat keluar dari pintu belakang.
Setelah Yasmin berhasil keluar dari pintu belakang, Bu Yati segera mengambil pisau dan menyembunyikannya di balik bajunya. Lalu dia berjalan keluar menemui orang-orang tersebut.
"Mana dia? Kenapa lama sekali?" tanya salah satu dari mereka.
"Dia belum pulang. Kamarnya kosong, mungkin sebentar lagi," jawab Bu Yati dengan sedikit gemetar di tangannya.
Kedua orang tersebut saling menoleh dan salah satu dari mereka menggerakkan dagunya untuk memerintahkannya agar masuk ke dalam mencari anak dari Bu Yati.
Terlihat sekali kecemasan dari wajah dan gestur tubuh Bu Yati ketika salah satu dari mereka masuk untuk memeriksa ke dalam rumahnya.
"Kosong!" teriak orang yang sedang memeriksa dalam rumah Bu Yati.
"Kamu sembunyikan di mana dia?" tanya orang yang berada di dekat Bu Yati dengan mencengkeram baju Bu Yati.
"Brengsek! Cepat katakan pada kami di mana dia berada, atau kamu akan ku bunuh," ucap orang tersebut dengan mengarahkan kedua tangannya di leher Bu Yati.
Merasa terpojok, Bu Yati mengeluarkan pisaunya dan terjadilah tarik menarik pisau tersebut. Tenaga Bu Yati sudah terkuras hanya dalam beberapa detik saja karena tenaganya yang tidak sebanding dengan tenaga dari pria tersebut.
Naasnya, adegan tarik menarik itu kini sudah berhenti. Pada saat tarik menarik pisau tersebut, Bu Yati tidak mengira jika pisau yang dia pegang kini mengarah padanya. Dan pisau itu menancap di perutnya.
"Ada apa?" tanya pria yang masih memeriksa dan mongobrak-abrik rumah Bu Yati ketika keluar karena mendengar kegaduhan di ruang tamu.
"Yuk cabut!" ucap pria yang bersama Bu Yati tadi.
Pria yang dari dalam rumah itu melihat Bu Yati tergeletak di lantai dengan pisau yang tertancap di perutnya.
"Mati?" tanyanya pada pria yang satunya.
"Mungkin. Ayo cepat kita pergi cari gadis itu!"
Mereka berdua meninggalkan rumah tersebut dengan Bu Yati yang masih tergeletak tidak berdaya dengan pisau yang masih menancap di perutnya.
Di rumah Maria, Yasmin mengetuk pintunya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa malam-malam begini?" tanya Maria ketika membukakan pintu untuk Yasmin.
__ADS_1
Yasmin tidak menjawab, dia bergegas masuk ke dalam rumah Maria. Dan Maria pun segera menutup pintunya dan menguncinya seperti biasa.
"Bu, tolong aku," ucap Yasmin dengan ketakutan.
"Ada apa?" tanya Maria yang tak kalah panik dengan Yasmin.
Dengan singkatnya Yasmin menceritakan pada Maria. Kemudian Maria berdiri dan mengambil sesuatu dari laci lemarinya.
"Sini biar Ibu bantu," ucap Maria sambil mengarahkan gunting di depan Yasmin.
Yasmin terkejut dan ketakutan melihat benda yang tajam itu berada di depan wajahnya.
"Jangan takut Zahra, Ibu akan memotong rambutmu agar mereka tidak lagi mengenalimu," ucap Maria dengan senyumnya.
Terlihat kelegaan dari wajah Yasmin. Dengan segera Yasmin memutar balik kepalanya agar rambutnya bisa dipotong oleh Maria.
Secepat kilat Maria memotong acak rambut hitam panjang Yasmin. Rambut Yasmin kini menjadi sangat pendek seperti rambut laki-laki.
"Sudah. Sekarang kamu pergilah dari daerah sini. Jangan pernah kamu kembali ke tempat ini. Dan pakailah jaket ini, tutuplah kepalamu menggunakan penutup kepalanya," ucap Maria sambil memakaikan jaket hoodie pada Yasmin dan memasangkan penutup kepalanya.
"Bu, terima kasih. Aku pasti akan membalas kebaikan Ibu," ucap Yasmin sambil memeluk tubuh Maria.
"Jangan kembali terlalu cepat. Dan jika bisa kamu jangan kembali ke tempat ini. Pergilah yang jauh, doa Ibu selalu menyertaimu," ucap Maria sambil membalas pelukan Yasmin dengan erat dan air matanya keluar mengiringi pelukan mereka.
Maria membuka kunci pintu rumahnya dan menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan keamanan Yasmin.
"Sudah aman. Pergilah," ucap Maria melepas kepergian Yasmin.
Sebelum keluar dari rumah itu, Yasmin mencium pipi Maria dan segera berlari keluar dari rumah Maria.
"Siapa Bu yang datang malam-malam begini?" tanya Tian yang baru saja keluar dari kamarnya dengan mengusap-usap matanya.
"Zahra, dia harus kabur meninggalkan daerah ini," jawab Maria.
"Apa? Ke mana?" tanya Tian dengan panik.
Maria menjelaskan secara singkat dan Tian dengan cepatnya keluar rumah mengejar Yasmin untuk berniat melindunginya.
Sedangkan Yasmin merasa ada yang mengikutinya, dia berlari dengan kekuatan penuh agar cepat keluar dari daerah tersebut.
Ciiiiiiit!
Mobil yang sedang melintas di jalan itu mengerem mendadak karena dihalau oleh Yasmin yang tiba-tiba berada di depan mobil mereka.
"Abi ada apa?"
"Tidak tau Bun. Dia siapa ya, kenapa menghentikan mobil kita?"
Yasmin berlari mendekati mobil tersebut dan mengetuk-ngetuk kaca mobil tersebut.
__ADS_1
Tok.... tok... tok..
"Tolong saya. Tolong bawa saya pergi dari tempat ini. Bebaskan saya dari mereka. Cepat, mereka akan menangkap saya. Saya mohon!"