Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 237 Antara Izam, Salsa, Hana dan Yasmin


__ADS_3

"Salsa!" seru Izam sambil menoleh padanya.


Salsa pun menoleh ke arah Izam yang sedang menatapnya dan menggelengkan kepalanya pada Salsa.


Merasa Izam telah membentaknya, dengan segera Salsa berlari keluar dari ruangan tersebut.


Izam menghela nafasnya, dia merasa bersalah pada Salsa. Dia tahu jika saat ini pasti Salsa sedang salah paham padanya.


Dengan segera Izam mengejar Salsa. Orang tua mereka memang tidak menyuruhnya, namun Izam sendiri yang berinisiatif untuk mengejarnya.


"Salsa," seru Izam sambil memegang tangannya yang berbalut gamis.


Seketika Salsa berhenti dan membalikkan badannya karena tarikan tangan dari Izam.


Dengan wajah sebalnya Salsa melihat ke arah Izam. Bibirnya yang mengerucut itu membuat Izam tahu jika Salsa kini sedang kesal padanya.


"Jangan kesal gitu, nanti jadi jelek. Maafin Kak Izam ya," ucap Izam dengan mengeluarkan candaannya sambil terkekeh.


Bukannya tertawa mendengar candaan dari Izam, Salsa malah tambah mengerucutkan bibirnya. Dia merasa ditertawakan dan diejek oleh Izam.


"Udah dong keselnya, kan Kakak udah minta maaf," ucap Izam kembali.


"Habisnya Kak Izam sih, belain Hana terus. Salsa gak suka ya. Dia itu yang menyebabkan-"


"Kakak tau Salsa, Kakak hanya tidak mau kamu mendendam dan bersikap buruk pada orang lain," Izam menyela perkataan Salsa.


"Tapi itu fakta Kak, bukan fitnah," ucap Salsa dengan menggebu-gebu.


"Iya Kakak tau kamu gak akan berbohong, tapi masalahnya Yasmin tidak menyalahkan Hana, jadi Kakak gak mau kamu seolah menyudutkan Hana. Nantinya pasti orang lain akan berpikiran buruk tentang kamu. Sudahlah, nanti pasti Abi yang urus masalah ini. Kita balik saja ke kamar Yasmin," tutur Izam sambil menarik hijab Salsa dan membawanya berjalan.


"Kak Izam iiih... lepas! Jadi berantakan nih," seru Salsa sambil merapikan hijabnya.

__ADS_1


Izam hanya terkekeh dan melanjutkan langkahnya dengan pelan untuk menunggu Salsa berjalan bersamanya.


Di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Hana kini sedang berada di ruang Ustadz dan Ustadzah untuk dimintai keterangan tentang kejadian Yasmin yang jatuh hingga berdarah seperti itu.


Hana sungguh ketakutan, namun dia mengatakan yang sejujurnya pada Ustadz Bani yang ditugaskan oleh Ustadz Fariz mencari tahu tentang kejadian tersebut.


"Hana, kamu beruntung. Zahra tidak menyalahkan kamu. Sebaiknya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Sudahlah, kembalilah," ucap Ustadz Bani setelah menerima telepon dari Ustadz Fariz.


Setelah berpamitan, Hana kembali ke dalam kamarnya. Dia berpikiran untuk meminta maaf pada Yasmin.


"Aku harus meminta maaf pada Zahra. Tapi apa aku harus ke rumah sakit? Atau menunggu dia kembali ke Pondok Pesantren?" tanya Hana pada dirinya sendiri.


"Ah aku lupa, aku harus kembali pulang. Ibu sendirian di rumah," ucap Hana sambil membereskan tasnya.


Kemudian dia keluar kamar tersebut dengan membawa tasnya dan berpamitan pada Ustadzah yang bertugas.


Setiap hari Hana selalu pulang ke rumahnya dan tidak lagi tinggal di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Itu semua atas permintaan Mirna yang semakin hari semakin manja di masa kehamilannya.


Tentu saja Yasmin sangat bahagia, dia tidak menyangka jika jalan hidupnya begitu memilukan. Dan mulai saat itu Zahra dipanggil dengan nama Yasmin.


"Bunda, besok kita ke makam Ibu dan Bapak ya. Sama sekalian bertemu dengan Bu Maria," pinta Yasmin pada Rhea ketika Rhea sedang menyisir rambut Yasmin.


"Baiklah, Bunda juga ingin bertemu dengan mereka dan berterima kasih karena telah merawat kamu dengan baik. Nanti Bunda sampaikan pada Abi ya," tukas Rhea yang sedang menatap penampilan Yasmin dari cermin setelah dia selesai menyisir rambut Yasmin.


Yasmin menatap lurus ke arah cermin untuk memandang Bundanya dari cermin tersebut. Kemudian dia mengangguk dan tersenyum padanya.


Setelah itu dia berdiri dan memeluk tubuh Bundanya itu dengan sangat erat dan berkata dengan sangat manjanya,


"Yasmin sangat senang bertemu dengan kalian. Yasmin sangat sayang pada kalian semua."


Air mata Rhea jatuh tak terbendung. Kini air matanya menunjukkan air mata bahagia. Dia kini sudah bisa memeluk kembali Yasmin, putri kedua mereka.

__ADS_1


Memang sangat disayangkan oleh Rhea karena dia melewatkan masa tumbuh kembang Yasmin ketika bayi. Namun rasa syukurnya tidak habis-habisnya dia ucapkan setelah bertemu dengan Yasmin saat ini.


Begitupula dengan Izam. Dia yang dulu paling senang ketika mendengar kehamilan Bundanya, kini dia benar-benar memanjakan Yasmin meskipun sudah remaja.


Ke mana pun Yasmin pergi, selalu diantarkan oleh Izam. Hingga semua orang yang melihat mereka mengira jika Yasmin adalah calon istri dari Izam.


Memang status Yasmin belum diketahui oleh orang-orang, hingga mereka salah sangka pada Yasmin dan Izam. Bahkan ada yang menilai buruk tentang Izam karena sering kali berboncengan dengan Yasmin dan masih banyak yang membicarakan tentang kejadian waktu itu ketika Izam menggendong Yasmin ke klinik Pondok Pesantren.


Rencananya mereka akan memberitahukan tentang Yasmin pada saat acara syukuran penyambutan Yasmin kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Hana yang ketika akan pulang dari Pondok melihat Izam yang sedang memakaikan helm pada Yasmin. Hatinya merasa sakit kala melihat senyuman mereka dan tatapan mata mereka yang penuh akan kasih sayang.


"Sepertinya aku sudah tidak punya kesempatan lagi," ucap Hana lirih sambil memegang dadanya yang terasa sakit di dalam hatinya.


Kemudian dia meneruskan langkahnya setelah kepergian Izam dan Yasmin. Hana mengurungkan niatnya untuk meminta maaf pada Yasmin. Dia merasa iri dengan kedekatan Yasmin dan Izam.


"Ada apa Hana? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Mirna ketika melihat Hana masuk ke dalam rumah dengan lesu.


"Tidak Bu. Hana hanya sedang kurang enak badan saja," jawabnya sambil berlalu setelah mencium punggung tangan Mirna.


Mirna memandang heran Hana yang masuk ke dalam kamarnya dengan lesu dan langkahnya yang tidak bertenaga.


"Kenapa sih anak itu?" ucap Mirna dengan mengusap-usap perutnya.


Sejak kehamilannya, Mirna meminta tolong Anita untuk mengurus warungnya. Dan Anita setuju karena dia merasa senang mendengar berita kehamilan Mirna yang sangat diharapkan oleh Mirna selama ini.


Mirna jadi sangat manja dan tidak mau melakukan apa-apa. Dia takut jika nantinya akan membahayakan kandungannya jika dia terlalu banyak bekerja.


Untunglah ada Anita dan Hana yang mau membantunya untuk mengerjakan pekerjaan Mirna. Untuk pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh Hana dan untuk masalah warung Anita lah yang mengurusinya.


Dan Pandu, dia hanya mengurus Mirna jika sudah berada di rumah. Mirna tidak mau lepas darinya dan itu membuat Pandu merasa risih karena terkesan Mirna yang semakin posesif terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2