
Ustad Fariz mendatangi Ustad Jaki untuk membicarakan apa yang harus dilakukan untuk menghentikan gosip yang beredar dan agar mereka semua tidak menghujat Rhea kembali.
"Aku rasa kita harus membeberkan kebenarannya pada mereka semua," Ustad Jaki mengeluarkan pendapatnya.
"Apa Rhea akan setuju?" tanya Ustad Fariz ragu.
"Kenapa sih kalian berdua selalu gak tega sama Mbak Mirna? Padahal Mbak Mirna sendiri tega banget sama kalian, jahat banget malah. Udah deh Ustad, gak isah kebanyakan mikir, daripada Rhea dan Ustad Fariz yang malu juga sakit hati, mending Mbak Mirna yang malu dan ganti dihujat oleh mereka," Ustad Jaki merasa kesal dengan sepasang suami istri ini yang selalu tidak tega dengan Mirna padahal Mirna sudah seringkali menyakiti mereka.
"Bukannya begitu Ustad, hanya saja-"
"Iya, kalian berdua terlalu baik, mangkanya jodoh," ucap Ustad Jaki sambil terkekeh.
"Huffft... ya udah kalau gitu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ustad Fariz kembali karena dia juga merasa sudah tidak ada lagi cara lain yang bisa mengembalikan nama baik mereka.
"Apa perlu kita tanyakan pada Umi?" tanya Ustad Jaki pada Ustad Fariz.
"Lebih baik kita putuskan dulu apa yang kita harus lakukan, setelah itu kita beritahu Umi," ucap Ustad Fariz.
Hening sejenak karena mereka sedang berpikir apa yang akan mereka lakukan agar tidak mencemarkan nama baik Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Ustad, bagaimana kalau kita undang saja semua perangkat desa dan orang yang dituakan disekitar kita untuk memberitahukan kebenarannya, alasan tentang kenapa Mirna bisa aku ceraikan" Ustad Fariz menyatakan pikirannya.
Ustad Jaki mengangguk dan berkata, "Boleh, itu ide yang bagus."
"Maaf Ustad, apa saya bisa minta ijin pulang sekarang? Saya akan menjenguk anak saya yang ada di Pondok," Pak Ratmo meminta ijin pada Ustad Fariz dan Ustad Jaki.
"Boleh Pak, silahkan," jawab Ustad Fariz.
"Sebentar Pak, maaf mau tanya," ucap Ustad Jaki.
__ADS_1
"Iya Ustad silahkan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Ratmo.
"Selama ini apa Mbak Mirna sering bercengkrama dengan ibu-ibu sekitar sini Pak?" tanya Ustad Jaki menyelidik.
"Waduh saya kurang tau Ustad, saya kan seharian ada di sini. Nanti coba saya tanyakan sama Anita, karena dia selama ini saya suruh untuk mendampingi Mirna kemanapun dia pergi, karena saya takut Mirna akan berbuat ulah lagi," jawab Pak Ratmo.
Ustad Jaki melihat Ustad Fariz dan Ustad Fariz mengangguk mengerti.
"Begini Pak, ada yang harus Bapak ketahui," Ustad Fariz berniat untuk menceritakan gosip yang beredar di sekitar.
"Apa itu Ustad?" tanya Pak Ratmo.
Ustad Fariz menceritakan semua yang terjadi dimulai dari kabar yang terdengar di warga sekitar Pondok Pesantren Al-Mukmin , di pasar dan di desa tetangga. Ustad Fariz juga memberitahukan bahwa mereka mengatakan jika yang memberitahukan itu semua adalah Mirna. Tidak hanya itu saja, karena Ustad Jaki menceritakan jika pada pengajian di desa sebelah semua menggunjingkan dan menyalahkan Rhea atas perceraian Mirna.
Malu, kesal dan sangat menyesal yang dirasakan Pak Ratmo saat ini. Pak Ratmo menutup matanya sebentar ketika selesai mendengarkan penuturan dari Ustad Fariz dan Ustad Jaki.
"Saya minta maaf Ustad, saya benar-benar malu dan sangat menyesal, saya gagal lagi mendidik Mirna," Pak Ratmo menundukkan kepalanya karena merasa malu dan sangat menyesal.
"Lalu saya harus membantu apa Ustad agar masyarakat kembali percaya pada kalian?" tanya Pak Ratmo karena ingin membantu.
"Apa saja Pak yang penting bisa merubah pikiran mereka kembali seperti dulu, percaya lagi pada kami," ucap Ustad Fariz.
"Baiklah Ustad, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum...," Pak Ratmo berpamitan pada Ustad Fariz dan Ustad Jaki.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Ustad Fariz dan Ustad Jaki.
"Mirna.... kamu-"
Mirna kaget mendengar teriakan Pamannya yang baru saja datang.
__ADS_1
"Ada apa Pak?" tanya Anita yang sedang menonton acara televisi bersama Mirna.
"Aaah... gak gapapa, ayo kita berangkat jenguk adikmu," Pak Ratmo menahan amarahnya pda Mirna karena Pak Ratmo tidak ingin Anita mendengarnya marah pada Mirna.
Anita segera beranjak dari duduknya menuju kamarnya untuk berganti pakaian, sedangkan Mirna masih tetap duduk manis di depan TV.
"Kamu gak ikut Mi" tanya Pak Ratmo dengan nada kesal.
"Enggak ah, ngapain ikut ke sana. Di rumah aja enak, bisa nonton TV, gak capek," jawab Mirna yang masih melihat TV tanpa menoleh pada Pak Ratmo.
"Kamu gak boleh keluar rumah selama kita belum kembali, ngerti?" tutur Pak Ratmo dengan nada tegas.
Marni hanya diam saja seraya berkata dalam hati,
Enak aja, aku kan mau ngegosip bareng ibu-ibu di sana, mumpung gak ada Anita jadi lebih leluasa aku ngomongnya.
"Mir!" seru Pak Ratmo menginginkan jawaban dari Mirna.
Mirna hanya mengangguk tidak menjawab sepatah kata pun.
Pak Ratmo mendengus kesal sambil beristighfar dalam hati.
Astaghfirullahaladzim...
Pak Ratmo dan Anita berangkat ke Pondok Pesantren tempat adik Anita belajar. Mereka menaiki mobil dari Pondok Pesantren Al-Mukmin yang biasanya dibawa oleh Pak Ratmo untuk mengantarkan Umi Sarifah ke pasar. Mobil ini mobil lama yang masih layak pakai dan masih kuat dikendarai jarak jauh. Jarak yang mereka tempuh untuk sampai di sana hanya dua jam saja jika tidak ada halangan.
"Nduk, apa Mirna tidak pernah berbuat ulah di luar rumah?" tanya Pak Ratmo pada Anita.
"Berbuat ulah gimana Pak?" tanya Anita heran.
__ADS_1
"Ya mungkin pernah ngomong sesuatu sama ibu-ibu sekitar tentang apapun itu. Bisa kamu beritahu Bapak?" Pak Ratmo mencoba bertanya dengan hati-hati pada Anita.
"Mmm... oh iya Bapak harus liat ini deh."