
Ustadz Jaki terpaksa turun ke bawah menuju ruang tamu menemui Ustadzah Farida dan ibunya. Namun sebelumnya dia memastikan istrinya sudah tertidur terlebih dahulu. Jika memang Shinta tidak tertidur, dia pasti akan mengajak istrinya untuk ikut bersamanya menemui Ustadz Farida dan ibunya.
Ustadz Jaki tiba di ruang tamu, dan di sana dia melihat Ustadzah Farida dan ibunya ditemani oleh Umi Sarifah, Rhea dan Ustadz Fariz. Memang sengaja Umi Sarifah menyuruh Ustadz Fariz untuk bergabung dengan mereka karena Ustadzah Farida merupakan pengajar di Pondok Pesantren Al-Mukmin dan dia mengira kedatangan Ustadzah Farida dengan ibunya ada kaitannya dengan Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Assalamu'alaikum...," Ustadz Jaki mengucap salam dan duduk di samping Umi Sarifah.
"Wa'alaikumussalam...," jawab semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Ada apa Umi?" Ustadz Jaki bertanya pada Umi Sarifah.
"Ustadzah Farida dan ibunya ingin berbicara pada Ustadz Jaki, katanya ada yang penting dan harus disampaikan sekarang," Umi Sarifah memberitahukan sesuai dengan apa yang dia dengar tadi dari ibu Ustadzah Farida.
"Maaf, ada apa ya Ustadzah Farida dan ibu mencari saya malam-malam begini?" Ustadz Jaki bertanya dengan perasaan was-was, dia merasa ada hal yang seolah akan membuatnya terkejut nanti.
"Ustadz Jaki, apa Ustadz Jaki bisa ke rumah sakit sekarang?" ibu Ustadzah Farida memberitahukan tujuannya datang menemui Ustadz Jaki.
"Ke rumah sakit? Untuk apa?" Ustadz Jaki bertanya keheranan.
"Bapaknya Farida sakit keras dan dia ingin bertemu dengan Ustadz Jaki sekarang di rumah sakit," jawab ibu Ustadzah Farida.
"Maaf Bu, tapi untuk apa ya? Karena saya rasa kami belum pernah bertemu," Ustadz Jaki kembali dibuat bingung dengan permintaan dari ibu Ustadzah Farida.
Tanpa diketahui semua orang yang berada di ruang tamu, Shinta berada di balik tembok yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Persis seperti Rhea waktu mendengarkan pembicaraan Ustadz Fariz dengan Pak Ratmo waktu itu.
__ADS_1
Jantung Shinta berdebar keras ketika mendengar bahwa Bapak dari Ustadzah Farida ingin bertemu dengan suaminya, ditambah lagi dengan kondisi Bapak Ustadzah Farida yang sedang sakit keras.
"Sebenarnya Ustadz Jaki harus mendengar sendiri dari Bapaknya Farida, jadi saya harap Ustadz Jaki mau menemui Bapaknya Farida di rumah sakit," ibu Ustadzah Farida kembali memaksa Ustadz Jaki agar mau menemui suaminya di rumah sakit.
"Maaf Bu, tapi saya ingin tau dulu untuk apa saya ke sana," Ustadz Jaki menahan kekesalannya karena di malam hari yang seharusnya dia bisa beristirahat dengan istrinya yang sedang dalam kondisi pemulihan dia malah disibukkan dengan keinginan dari Bapak Ustadzah Farida yang belum dikenalnya.
Umi Sarifah, Ustadz Fariz dan Rhea hanya diam saja karena mereka bertiga juga merasa ada hal yang dirasa kurang berkenan untuk mereka.
"Huffftt... baiklah, ini tentang permintaan Bapaknya Farida. Dia merasa hidupnya tidak akan lama lagi karena penyakit yang dideritanya sekarang, dan Bapaknya Farida ingin meminta sesuatu pada Ustadz Jaki," ibu Ustadzah Farida sedikit memberitahu keinginan suaminya.
"Jika ini tentang Ustadzah Farida saya menolak Bu, maaf jika saya tidak bisa memenuhi permintaan kalian," Ustadz Jaki berdiri dari duduknya hendak meninggalkan mereka.
"Le, duduklah dulu, tidak sopan meninggalkan tamu begitu saja," ucap Umi Sarifah yang berniat untuk mengembalikan kesabaran Ustadz Jaki.
"Tapi Umi-"
"Maaf Bu saya tidak bisa mengabulkannya. Sampai kapanpun saya tidak akan menduakan istri saya. Dan lelaki di luar sana yang belum beristri itu banyak Bu, kenapa harus saya yang sudah beristri?" Ustadz Jaki menyatakan kekesalannya.
"Karena Farida mencintai Ustadz Jaki dan kami percaya pada pilihan anak kami," jawab ibu Ustadzah Farida dengan tanggap.
Umi Sarifah merasa ketenangan mereka kini terusik kembali. Dan Rhea memegang tangan suaminya yang berada di sampingnya, dia tidak ingin jika suaminya nantinya akan menjadi target selanjutnya dari drama keluarga Ustadzah Farida. Ustadz Fariz merangkul pundak Rhea dari samping dan mendekatkannya pada tubuhnya agar istrinya menjadi lebih tenang, karena dia tahu kegelisahan istrinya. Sedangkan Ustadzah Farida menundukkan kepalanya ketika Ustadz Jaki dengan lantang menolaknya.
Shinta, dia tidak bisa lagi menahan air matanya. Benar saja firasatnya sedari tadi, kini jantungnya berdetak lebih cepat daripada yang tadi dan air matanya lolos begitu saja jatuh membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
"Tapi saya tidak mencintai anak ibu. Saya hanya mencintai istri saya dan saya tidak akan meninggalkannya sampai kapanpun dan dengan alasan apapun," Ustadz Jaki kembali berdiri hendak meninggalkan ruangan tersebut.
"Tapi Farida bisa jadi istri kedua Ustadz, dia siap kok menjadi yang kedua," ibu Ustadzah Farida kembali memaksa Ustadz Jaki.
"Bu maaf, jadi istri kedua tidak semudah itu Bu, lebih baik jadi istri satu-satunya. Jadi-"
"Maaf, bukannya anda sendiri jadi istri kedua Kyai ya? Jadi kenapa anda melarang putri saya untuk jadi istri kedua seperti anda?" ibu Ustadzah Farida berkata dengan kesal pada Rhea.
"Jaga ucapan Ibu! Ibu tidak mengerti dengan apa yang kami alami. Jadi jangan berbicara seperti itu dengan istri saya," Ustadz Fariz terpancing emosi karena ibu Ustadzah Farida yang tidak mau menerima penolakan dari Ustadz Jaki dan terlebih lagi dia melukai hati Zahra nya.
"Karena saya merasakan itu Bu, jadi sebagai sesama wanita saya ingin memberitahukan bahwa-"
"Sudahlah Rhea tidak usah dijelaskan," Ustadz Jaki menyela perkataan Rhea, kemudian dia beralih pada ibu Ustadzah Farida.
"Saya tidak akan menerima permintaan kalian untuk menikahi Ustadzah Farida sampai kapanpun itu, dan ibu harus tau jika saya tidak mau nantinya akan seperti saudara saya ini, menikah hanya karena wasiat yang tidak dia kehendaki, dan akhirnya dia terpaksa menerima pernikahan itu. Tapi kita bisa lihat hasilnya bagaimana, mereka berpisah, karena sampai kapanpun sesuatu yang dipaksakan pasti akan berakhir tidak baik," Ustadz Jaki berdiri hendak meninggalkan kembali ruangan itu namun ibu Ustadzah Farida kembali menghentikannya.
"Saya dengar istri Ustadz Jaki tadi keguguran, Farida bisa memberikan keturunan untuk Ustadz Jaki. Jadi apa salahnya jika-"
"Sudah cukup Bu, saya tidak akan menikahi anak ibu dan masalah keturunan itu Allah yang mengaturnya Bu. Ibu tidak bisa mengaturnya kapan kita bisa-"
"Shinta!" Rhea dan Ustadz Fariz menyerukan nama Shinta karena mereka kaget dengan kedatangan Shinta di sana.
"Sayang kamu kenapa di sini? Kenapa kamu tidak beristirahat di kamar?" Ustadz Jaki bertanya dengan penuh kekhawatiran dan kegugupan.
__ADS_1
Shinta yang bermata sembab dan berderai air mata melihat suaminya dengan penuh kesedihan, setelah itu dia berjalan keluar dengan terseok-seok dengan tangan kanan memegangi perutnya dan tangan kirinya memegang kepalanya. Ustadz Jaki menghentikan langkah Shinta dengan meraih tangannya, namun saat itu juga Shinta merasa tidak bertenaga dan dia jatuh pingsan di pelukan suaminya.
"Shinta! Sayang bangun!"