
"Apa maksudmu?" Ustad Fariz mengernyitkan dahinya bingung akan ucapan istrinya yang begitu tiba-tiba disaat dia baru saja pulang ke rumah.
"Aku janji akan mengijinkan kalian menikah. Tapi dengan syarat aku tidak akan diceraikan," Mirna mengatakan permintaannya yang sudah dia pikirkan semalam.
"Apa kamu bilang?" Ustad Fariz kembali bertanya karena dia merasa permintaan istrinya ini terlalu tiba-tiba dan tidak disangka olehnya.
"Aku memang mengijinkanmu untuk menikah dengan wanita itu, tapi aku harap kamu tidak melupakanku dan kamu harus bersikap adil. Jangan karena kamu mencintainya lantas kamu mengabaikan ku," Mirna mengiba.
Ustad Fariz memegang pundak Mirna dan menuntunnya untuk berdiri.
"Selama ini apa pernah aku tidak memperlakukanmu seperti layaknya seorang istri? Aku selalu menunjukkan kasih sayangku, dan selalu menurutimu. Apa semua itu masih menjadikanmu ragu?"
Mirna diam dan kepalanya masih menunduk kemudian dia mengangguk. Dalam hati dia tidak menginginkan suaminya untuk menikah lagi, namun dia takut dengan yang dia dengar semalam.
Ucapan Ustad Jaki masih jelas terngiang-ngiang di telinganya. Dia membenarkan semua yang dikatakan oleh Ustad Jaki. Dan harusnya memang benar dia yang harus mengalah jika tidak mau dipoligami. Mirna bimbang saat ini atas keputusannya.
"Mirna, apa yang kamu pikirkan sehingga kamu berkata seperti itu?" tanya Ustad Fariz dengan lembut dan mengajak Mirna duduk di ruang tamu.
"A-aku... aku gak mau diceraikan," masih dengan menunduk Mirna berbicara.
"Siapa yang akan menceraikan mu Mirna?" ucap Ustad Fariz.
"Tapi kamu mencintainya mas," mirna mendongakkan kepalanya menatap suaminya.
"Itu urusan hati ku, biarlah aku yang mengurusnya. Aku mohon kamu tenanglah. Jangan kamu ganggu Rhea karena dia tidak tahu apa-apa. Selama ini aku tidak pernah melanggar kewajiban ku sebagai seorang suami bukan, dan hak kamu sebagai istri juga aku berikan. Lalu apa yang kamu ragukan?" Ustad Fariz berbicara dengan suara yang lemah. Sungguh berat yang dia rasa.
Ustad Fariz memang sangat mudah diluluhkan hatinya, selama ini setiap Mirna berbuat kesalahan, dia pasti akan selalu dimaafkan karena dia selalu memasang muka sedih. Sama seperti sekarang, dia melakukannya lagi sehingga Ustad Fariz menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan istrinya.
"Tapi bagaimana jika rasa itu tidak akan pernah hilang seperti saat ini? Aku dengar kalian sudah lama saling mencintai dan sampai sekarang kalian tidak bisa menghilangkan rasa itu," Mirna kembali ke sifatnya yang semula.
Ustad Fariz menghela nafasnya berat. "Sudahlah Mirna aku tidak mau membicarakan hal ini sekarang," ucap Ustad Fariz seraya pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan setelah sekitar lima menit dia kembali keluar dari rumah menuju Pondok untuk mengajar.
Mirna hanya menatap suaminya pergi sesudah mengucapkan salam padanya. Mirna sadar jika dia memang kadang menjengkelkan dan bersikap semaunya.
Perasaan Ustad Fariz sangat tidak tenang. Selama dia mengajar. Pikirannya masih tertuju pada masalah semalam. Ingin rasanya dia cepat menyelesaikan masalah itu agar hati dan pikirannya tidak merasa tersiksa terlalu lama.
Ustad Fariz kini sedang duduk di rerumputan pinggir danau. Seperti semalam dia masih merenung. Mencari tahu apa yang diinginkan oleh hatinya.
Jujur dalam hatinya dia sangat menginginkan untuk bersatu dengan Rhea sedari dulu, bahkan sampai sekarang pun masih sama seperti itu. Namun dia takut jika dia tidak bisa adil pada kedua istrinya jika dia melakukan poligami.
Dan dia juga takut jika Mirna akan berlaku tidak baik pada Rhea.
Benar apa kata Rhea, disini tempatnya tenang, kita bisa berpikir dan merenung disini. Ah, ini akan menjadi tempat favoritku sekarang, karena dengan aku berada disini, aku seperti sedang bersamamu, batin Ustad Fariz.
Tiba-tiba ada suara yang membuyarkan lamunan Ustad Fariz.
"Kyai, maaf menggangu, Umi Sarifah memanggil Kyai ke Ndalem sekarang," salah satu santri menyampaikan pesan dari Umi Sarifah.
"Baik, terima kasih ya," ucap Ustad Fariz pada santri tersebut.
Belum santri itu pergi ternyata ada santri lain yang juga datang menyampaikan pesan.
"Kyai, maaf saya disuruh Ibu Mirna untuk menyampaikan pada Kyai bahwa Ibu Mirna menunggu di rumah untuk makan siang," santri yang baru saja datang itu menyampaikan pesan dari Mirna.
"Baiklah, terima kasih. Kalian boleh kembali," ucap Ustad Fariz seraya berdiri daei duduknya.
Ustad Fariz menimbang, dia akan kemana dulu, karena mereka memintanya untuk menemui mereka bersamaan. Akhirnya langkah kaki Ustad Fariz mengantarkannya ke Ndalem, ke rumah Umi Sarifah karena pesannya lah yang lebih sampai duluan daripada pesan Mirna, istrinya.
Setelah mengucap salam, Ustad Fariz masuk ke dalam ruang makan yang di sana sudah ada Umi Sarifah dan Ustad Jaki. Mereka belum makan karena masih menunggu Ustad Fariz untuk makan bersama.
__ADS_1
Acara makan siang kali ini hanya saling diam, tidak ada obrolan sama sekali yang mereka bahas. Berbeda dengan biasanya, ada saja yang selalu mereka bahas dan menjadi bahan candaan mereka. Entah itu masalah pondok, santri, atau bisa dari masalah mereka sendiri.
Sebenarnya Ustad Jaki dan Umi Sarifah ingin menanyakan tentang masalah semalam pada Ustad Fariz, namun sepertinya Ustad Fariz masih belum mau membicarakannya. Jadi, Umi Sarifah dan Ustad Jaki tidak mau merusak acara makan mereka menjadi tidak nyaman.
Setelah mereka semua selesai makan, mereka berkumpul di ruang televisi untuk menikmati teh atau kopi dan camilan seperti biasanya sambil menonton televisi dan berbincang bertukar pendapat.
"Le, bagaimana tentang yang semalam? Apa sudah kamu pikirkan?" tanya Umi Sarifah pada Ustad Fariz untuk membuka pembicaraan mereka.
"Masih bingung Umi," jawab Ustad Fariz sambil meminum tehnya.
"Apalagi yang dibingungkan Ustad?" tanya Ustad Jaki.
"Banyak Ustad, banyak sekali yang jadi pertimbangan ku saat ini," jawab Ustad Fariz.
"Apalagi Ustad? Apa Mbak Mirna gak mengijinkan Ustad untuk menikahi Rhea?" tanya Ustad Jaki menyelidik.
"Tadi pagi dia tiba-tiba mengatakan jika dia mengijinkan ku menikahi Rhea asal dia tidak diceraikan," jawab Ustad Fariz sambil berpikir.
"Lah itu bagus dong, berarti dia sudah sadar akan kesalahannya," ucap Ustad Jaki.
"Yang aku bingung itu, kok dia tiba-tiba ngomong gitu ya, aneh aja tiba-tiba dia bahas masalah itu ketika aku baru tiba di rumah tadi pagi," jelas Ustad Fariz.
"Udah deh Ustad, gak usah dipikirin yang kayak gitu, kalau udah ada lampu hijau, langsung tancap aja. Iya gak Mi' ?" Ustad Jaki meminta pendapat Umi Sarifah.
"Semua itu kembali sama dirimu Le, kamu maunya gimana. Tanyakan pada dirimu sendiri dan jangan lupa tanyakan juga pada Allah dan mintalah petunjuknya," jawab Umi Sarifah dengan bijak.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
"Assalamu'alaikum....," ucap salam orang yang berada di depan pintu.
"Wa'alaikumusalam....," jawab Umi Sarifah, Ustad Jaki dan Ustad Fariz serempak.
"Eh ada wanita cantik, silahkan masuk. Tumben kesini?" tanya Ustad Jaki pada orang tersebut.
"Ini mau ngantar pesanan Umi. Kemarin Umi minta dibuatkan kue bolu pandan. Jadi sekalian masak buat channel ku tadi," ucap Rhea dengan senyum mengembang di bibirnya.
Ustad Fariz yang mendengar suara Rhea langsung berdiri dan menghampirinya.
"Zahra... ka-kamu... ini beneran kamu?" tanya Ustad Fariz tidak percaya dengan penglihatannya.
"Ustad, hehehe... maaf lancang datang kesini," ucap Rhea menjawab pertanyaan Ustad Fariz.
Ustad Fariz bengong, perasaannya bercampur aduk antara senang dan bimbang.
"Ayo masuk, Umi ada di dalam," ucap Ustad Jaki.
"Tidak usah Ustad, ini nitip aja kuenya buat Umi. Tolong sampaikan ya," ucap Rhea dengan tersenyum.
Ada perasaan cemburu pada hati Ustad Fariz. Dia tidak suka jika Rhea tersenyum pada pria lain, terlebih pada Ustad Jaki yang semalam mengatakan bahwa dia akan menikahi Rhea jika Ustad Fariz tidak menikahinya.
Ustad Fariz tahu benar jika Rhea memang murah senyum pada siapa saja. Namun, entah mengapa rasanya dia sekarang jadi cemburu jika Rhea tersenyum pada pria lain.
"Ayolah sebentar saja, pasti Umi ingin bertemu denganmu," bujuk Ustad Jaki agar Rhea mau masuk untuk menemui Umi Sarifah.
"Mmm... tapi sebentar aja ya Ustad, soalnya ada yang harus segera dikerjakan," Rhea tersenyum lebar menampakkan barisan giginya.
Ustad Fariz lebih terbakar cemburu sekarang ini karena melihat keakraban antara Zahra nya dan Ustad Jaki.
"Ayo masuk, Umi ada di dalam," Ustad Jaki berjalan terlebih dahulu.
__ADS_1
Rhea berjalan mengikuti Ustad Jaki, dan Ustad Fariz berjalan di belakang Rhea.
"Eee cantiknya Umi udah datang. Sini duduk dekat Umi," Umi Sarifah sangat senang dengan kedatangan Rhea.
"Ini Umi kue pesanan Umi kemarin. Maaf jika rasanya gak seenak perkiraan Umi," ucap Rhea dengan tersenyum manis.
"Duh senyumnya gak kuat.... bikin klepek-klepek...," goda Ustad Jaki pada Rhea.
Seketika Ustad Fariz menoleh pada Ustad Jaki dan menatap tajam padanya. Ustad Jaki tahu arti tatapan dari Ustad Fariz, namun dia mengacuhkannya agar Ustad Fariz lebih cemburu dan termotivasi untuk segera menyelesaikan masalah hatinya.
"Kamu itu Le, bikin Rhea malu aja. Udah jangan digodain terus," Umi Sarifah melarang Ustad Jaki menggoda Rhea karena jika tidak dilarang, sudah bisa dipastikan kalau Ustad Jaki akan terus-terusan menggoda Rhea.
Umi Sarifah tahu niatan Ustad Jaki yang sebenarnya, namun Umi Sarifah tidak tega melihat Ustad Fariz menahan rasa cemburunya.
"Umi, Rhea permisi pulang dulu ya," Rhea berpamitan pada Umi Sarifah.
"Loh kok cepat?mau kemana?" tanya Umi Sarifah pada Rhea.
"Ada kerjaan Umi. Kapan-kapan aja Rhea datang lagi," ucap Rhea untuk membujuk Umi Sarifah agar memperbolehkannya pulang.
" Ya sudah, tapi kamu sudah janji akan menginap kan? Biar Umi ada temannya," bujuk Umi Sarifah.
"Emmm... Rhea pulang dulu Umi. Assalamu'alaikum...," Rhea tidak menjawab pertanyaan Umi dan dia berpamitan pulang dengan mencium punggung tangan Umi Sarifah.
" Wa'alaikumusalam...," jawab mereka bertiga.
"Diantar siapa?" suara Ustad Fariz membuat Rhea menoleh, dan ternyata Ustad Fariz mengikutinya di belakangnya.
"Ada deh... mau tau aja," ucap Rhea mencoba bercanda dengan Ustad Fariz untuk menghilangkan kecanggungan mereka yang terasa tiba-tiba.
"Rheina Az Zahra," seru Ustad Fariz.
"Pak Sardi Ustad, ih serem tau gak kalau kayak gitu," Rhea mengerucutkan bibirnya.
"Maaf, kamu sih ditanya malah jawabnya gitu," ucap Ustad Fariz pelan sebagai tanda penyesalan.
"Ya udah Ustad Rhea pulang dulu. Assalamu'alaikum..." Rhea berjalan cepat menuju mobilnya dengan menghembuskan nafas pelan setiap langkahnya untuk menetralkan debaran jantungnya karena bertemu dengan Ustad Fariz.
"Wa'alaikumusalam...," jawab Ustad Fariz dengan tidak melepaskan pandangannya pada sosok Rhea yang sedang berjalan.
Ustad Fariz membalikkan badannya, ternyata di belakangnya sudah ada Ustad Jaki dan Umi Sarifah yang melihat mereka sedari tadi dari depan pintu.
"Ehem... jadi gak nih ngasih peluang buat aku?" kejahilan dari ide Ustad Jaki mulai dilancarkan.
Ustad Fariz hanya melihat Ustad Jaki dengan penuh amarah.
"Kalau gak rela dimiliki orang lain, ya perjuangin dong. Iya kan Umi?" Ustad Jaki meminta pendapat Umi.
"Sebenarnya hati kamu gimana to le?" Umi bertanya pada Ustad Fariz dam Ustad Fariz hanya menatap Umi sejenak, kemudian dia menunduk kembali.
"Kamu sudah meminta petunjuk pada Allah?" tanya Umi Sarifah kembali.
"Sudah Umi mulai dari pertama kita bertemu kembali sampai semalam juga Fariz minta petunjuk Allah setiap malam," jawab Ustad Fariz.
Ternyata ada Mirna yang mendengar percakapan mereka sejak Rhea pulang tadi. Mirna masuk ke dalam rumah Umi Sarifah melalui pintu belakang yang biasanya digunakan untuk keluar masuk santri bagian piket di rumah Umi Sarifah.
Tadinya dia ingin mencari suaminya karena tidak pulang pada saat jam makan siang, namun dia malah mendengar hal yang penting menurutnya.
"Gimana hasilnya? Apa ada petunjuk dari Allah?" tanya Umi Sarifah pada Ustad Fariz.
__ADS_1