Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 169 Hak dan tidak berhak


__ADS_3

Shinta mencari Pandu ke sekeliling rumah sakit karena tidak menemui Pandu di depan kamar jenazah. Dan ketika Shinta melewati taman rumah sakit, segera dia menemui Pandu dan menyampaikan niatnya untuk membantu membiayai semuanya yang berkaitan dengan istrinya.


"Pak, sesuai dengan janji saya yang kemarin, saya akan membiayai semua biaya perawatan istri Bapak dan anak Bapak selama di rumah sakit ini," ucap Shinta untuk mengawali pembicaraan mereka.


"Terima kasih dok," jawab Pandu dengan suara lirih dan lesu.


"Lalu bagaimana dengan pemakamannya Pak? Jadi dimakamkan di mana?" Shinta bertanya kembali pada Pandu, karena dia takut jika Pandu merubah pikirannya yang semula ingin di sini menjadi kembali ke tempat asalnya.


"Saya masih berusaha mencari uang untuk biaya pemakamannya di sini dok. Nanti saya akan bekerja sambil merawat anak saya," jawab Pandu masih dengan menunduk lesu.


"Sebentar lagi akan ada yang datang dan mengajak anda untuk berbicara. Saya harap anda bisa mengkondisikan keadaan anda. Di sini rumah sakit, saya harap anda tidak akan emosi dalam berbicara," Shinta memperingatkan Pandu terlebih dahulu sebelum mereka bertemu dengan Pandu.


"Siapa dok?" tanya Pandu sambil mendongakkan kepalanya melihat wajah Shinta.


"Nanti pasti anda akan tau," jawab Shinta dengan tegas.


Dan kebetulan sekali, ponsel Shinta berdering. Segera Shinta mengambil ponselnya dari saku bajunya. Dan melihat pada layar ponselnya nama kontak yang sedang melakukan panggilan telepon padanya.


"Maaf Pak, tolong tunggu di sini sebentar," ucap Shinta sebelum menjauh dari Pandu.


Shinta segera mengangkat teleponnya yang tertera nama suaminya pada layar ponselnya. Kemudian mereka menetapkan tempat untuk mereka semua bisa berbicara dengan nyaman.


Shinta kembali menemui Pandu dan memberitahukan apa yang sudah menjadi keputusan mereka.


"Maaf Pak, apa Bapak bisa ikut ke ruangan saya untuk membicarakan tentang pemakaman istri Bapak?" Shinta bertanya pada Pandu ketika sudah berada di dekat Pandu.


Pandu yang sedang melamun dan berpikir melonjak kaget mendengar suara Shinta yang tiba-tiba sudah ada di sana.


"Baik dok," jawab Pandu sambil beranjak dari duduknya.


Pandu berjalan mengikuti Shinta menuju ruang prakteknya. Di dalam ruangan Shinta mereka hanya berdua dengan pintu ruangan yang sengaja dibuka oleh Shinta, sesuai dengan perintah suaminya.


Shinta duduk di kursi kebanggaannya, sedangkan Pandu duduk di depan Shinta layaknya pasien yang sedang berkonsultasi pada dokternya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, datanglah orang-orang yang telah mereka tunggu.


"Assalamu'alaikum....," Ustadz Jaki memberi salam sebelum masuk ruangan Shinta.


Ustadz Fariz dan Rhea pun mengucap salam setelah Ustadz Jaki. Ustadz Fariz menggandeng tangan Rhea untuk menenangkannya, karena Ustadz Fariz tahu jika istrinya itu sedang tidak baik-baik saja bertemu dengan mantan suaminya.


"Wa'alaikumussalam...," Shinta menjawab salam dari orang yang akan masuk ke dalam ruangannya.


Sontak saja Pandu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang ingin menemuinya. Mata Pandu terbelalak sempurna melihat Rhea yang katanya sudah menjadi mantan istrinya itu datang menemuinya.


"Rhea!" ucap Pandu ketika melihat sosok Rhea masuk ke dalam ruangan tersebut.


Rhea mengeratkan pegangan tangannya yang kini sudah berada di lengan suaminya. Untungnya saja sekarang Rhea sedang menggunakan cadar, sehingga Pandu tidak bisa melihat wajah yang dirindukannya itu dengan leluasa.


Ustadz Fariz memang sudah mengira hal itu akan terjadi, maka dari itu dia menyuruh istrinya agar memakai cadar pemberian darinya.


"Tundukkan pandangan anda dari istri saya!" suara Ustadz Fariz tegas memerintahkan Pandu agar tidak melihat Rhea dengan berlebihan.


"Maaf," ucap Pandu lirih karena sedikit takut melihat wajah tegas dari Ustadz Fariz yang telah memperingatkannya.


Ustadz Jaki menata kamera yang sudah dia atur untuk merekam video pembicaraan mereka, setelah itu Ustadz Jaki memulai pembicaraan mereka mengenai tempat pemakaman, proses pemakaman dan biaya pemakaman istri Pandu.


Sebenarnya Pandu kaget ketika melihat Ustadz Jaki meletakkan sebuah kamera yang letaknya tidak jauh dari mereka. Namun posisinya tidak bisa membuatnya mempertanyakan hal itu. Pandu hanya diam saja mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan padanya.


"Apa anda benar-benar ingin memakamkan istri anda di sini?" Ustadz Jaki bertanya pada Pandu.


Pandu pun menunduk dan mengangguk lemah. Sungguh dia merasa sangat malu sekarang. Di hadapannya kini ada suami dari mantan istrinya yang akan menolongnya untuk pemakaman istrinya. Sungguh sangat malu bukan?


"Baiklah, kami akan membantu anda, tapi kami juga ingin anda bekerja sama dengan kami," kini Ustadz Fariz yang mengatakannya.


Dengan seketika, Pandu mendongakkan kepalanya melihat ke arah Ustadz Fariz.


"Jika memang anda masih ingin berada di daerah ini nantinya, tolong untuk tidak mengganggu Rhea dan keluarga saya lagi. Karena Rhea sendiri juga tidak menginginkan hal itu. Saya dan istri saya sudah memiliki anak, dan kami sudah hidup bahagia. Tolong hargai kami. Apa anda setuju dengan syarat kami?" Ustadz Fariz menjelaskan syarat yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Tapi-"


"Kita berhak untuk menyukai dan mencintai siapa saja, tapi kita tidak punya hak untuk memaksakan seseorang untuk menyukai dan mencintai kita kembali. Jadi tolong jalani saja kehidupan kita masing-masing yang sekarang. Sebab saya sudah bahagia dengan keluarga saya dan kehidupan saya yang sekarang," Rhea menyela ucapan Pandu sehingga Pandu tidak bisa meneruskan apa yang akan dibicarakannya.


Pandu menoleh ke arah Rhea ketika Rhea berbicara dan dia sadar jika memang Rhea sangat membencinya sekarang ini.


Sebenci itukah kamu sama aku Rhea? Apa tidak ada rasa rindu sedikitpun untukku?Mungkin ini cara Allah menyadarkan ku. Dan aku juga tidak mempunyai cara lain untuk permasalahan ku. Aku harus menerima syarat ini agar satu masalahku bisa terselesaikan, Pandu berkata dalam hatinya dengan masih memandang ke arah Rhea.


"Ehemmm...," Ustadz Fariz berdehem untuk menyadarkan Pandu agar tidak melihat Rhea kembali.


Pandu pun tersadar ketika mendengar deheman dari Ustadz Fariz. Kemudian dia berdiam untuk sesaat, dan setelah itu dia memutuskan untuk menerima syarat dari mereka.


"Baiklah, saya akan melakukannya," ucap Pandu sambil menunduk ke bawah.


"Baik, karena sudah diputuskan, kita akan segera mengurusnya. Sekarang Bapak boleh kembali," Shinta berkata pada Pandu.


"Terima kasih," ucap Pandu sebelum keluar dari ruangan tersebut.


Pandu tidak bisa berkata-kata lagi selain berterima kasih pada mereka. Dan dia keluar dengan rasa malu yang tak bisa diungkapkan. Untuk saat ini dia akan melupakan keinginannya untuk membawa Rhea kembali padanya.


Dan dia berjanji akan berusaha bekerja dan menjadi sukses seperti dulu untuk kedua anaknya dan untuk menunjukkan pada Rhea ketika dia akan memintanya untuk kembali padanya.


"Sip... udah terekam semuanya. Tinggal nanti di save aja," ucap Ustadz Jaki sambil memberikan kameranya pada Ustadz Fariz.


Ustadz Fariz pun menerimanya dan memeriksa hasilnya dengan Ustadz Jaki yang ikut memeriksa hasilnya di sampingnya.


Sedangkan Shinta mendekati Rhea yang sedang melihat-lihat alat USG yang berada di dekat bed pasien yang dia duduki sedari tadi.


"Mau periksa Bu?" tanya Shinta yang berniat bercanda pada Rhea.


"Boleh deh Shin. Alat ini bukan hanya untuk melihat kehamilan saja kan? Soalnya akhir-akhir ini perutku merasa gak enak," jawab Rhea sambil memegang perutnya.


Sontak saja Ustadz Fariz mengalihkan perhatiannya dari layar kamera yang menampilkan video rekaman pembicaraan mereka tadi setelah mendengar keluhan istrinya pada Shinta.

__ADS_1


"Kamu sakit Sayang?" tanya Ustadz Fariz yang kini sedang melihat ke arah istrinya.


__ADS_2