
Mirna sangat marah dan kesal pada semua orang. Hatinya penuh dengan amarah dan wajahnya penuh dengan kekesalan. Amarah dan emosi telah merajai hatinya.
"Paman heran sama kamu Mir, bukannya kamu introspeksi dirimu dan merenungi kesalahanmu, malah kamu berbuat hal konyol lagi," Pak Ratmo tidak bisa lagi menutupi kemarahannya.
"Hal konyol? Hal konyol apa sih Paman?" sewot Mirna dengan wajah besungut marah pada Pamannya.
"Seperti tadi, itu hal konyol yang benar-benar memalukan Mirna. Apa kamu tidak berpikir jika itu bisa.mempermalukanmu dan keluargamu?" tanya Pak Ratmo yamg ikut terbawa emosi.
"Konyol bagaimana? Memalukan bagaimana?" Mirna emosi karena dia tidak merasa ada kesalahan dalam tindakannya.
"Pokoknya Paman tidak mau kamu melakukan hal seperti itu lagi. Atau lebih baik kamu di rumah saja, jangan pergi kemana-mana, apalagi ke Pondok Pesantren Al-Mukmin," Pak Ratmo memperingatkan Mirna dengan tegas.
Memang dasarnya Mirna ngeyel dan keras kepala. Siapapun yang memberitahunya tidak sesuai dengan pikirannya, tidak mungkin akan dilakukan perintah itu oleh Mirna. Karena yang terbaik buat dia adalah seperti kemauannya. Begitulah menurut Mirna, hanya dia yang tahu apa yang dia inginkan.
"Kenapa Paman jadi ngatur-ngatur aku?" Mirna kembali emosi mendengar ucapan Pamannya.
"Astaghfirullahaladzim Mirna... pantas saja suamimu menceraikanmu, kamu memang tidak bisa mendengarkan perkataan orang lain, bahkan perkataan Pamanmu sendiri bisa kamu tentang," Pak Ratmo sampai beristighfar menghadapi Mirna.
"Tau apa Paman dengan diriku? Aku seorang diri, sebatang kara tanpa ada yang membelaku," Mirna murka dan bibirnya bergetar menahan tangisnya.
Mirna merasa bahwa dirinya tidak ada yang memihaknya. Bahkan dia tidak merasa disayangi oleh siapapun. Akankah dia bisa mendapatkan kasih sayang, perhatian dan keluarga seperti Rhea? Dia selalu menanyakan hal itu pada dirinya sendiri.
Menurutnya dia pantas untuk dicintai, disayangi dan mempunyai orang yang mendukungnya. Namun lagi-lagi dia harus menerima kenyataan pahit ketika dia tersadar dari lamunannya.
Percuma saja selama ini dia meyakinkan dirinya jika dia bisa melebihi Rhea. Dia bisa mendapatkan apa yang bisa Rhea dapatkan, bahkan dia bisa memiliki lebih dari apa yang Rhea miliki. Namun kenyataan berkata lain, Mirna memang jauh lebih dari Rhea, sayangnya lebihnya itu lebih rendah bukannya lebih tinggi, dan hal itulah yang menyebabkan Mirna bertambah iri dan benci pada Rhea.
" Mirna, selama ini kamu tidak sendiri. Kamu tau tidak, jika Ayahmu memang meninggalkan pesan agar Ustad Fariz menikahimu. Itu karena Ayahmu berharap banyak pada Ustad Fariz agar dia bisa mendidikmu dan menjagamu menjadi pribadi yang lebih baik dan agar bisa menjadi wanita shalihah. Tapi nyatanya kamu sendiri yang tidak mau berubah. Kamu tetap dengan keras kepalamu dan egoismu itu. Jadi jangan salahkan jika suamimu kini menyerah padamu, menyerah untuk melepaskanmu," tutur Pak Ratmo panjang lebar agar Mirna bisa merenungi perbuatannya.
"Halah, emang dasarnya Mas Fariz aja yang ingin menyingkirkanku karena dia udah bersatu dengan cinta pertamanya," sewot Mirna menanggapi penuturan dari Pamannya.
__ADS_1
Pak Ratmo mengusap dadanya seraya beristighfar. Sepertinya dia harus lebih bersabar lagi untuk berhadapan dengan Mirna.
"Astaghfirullahaladzim Mirna... Mirna.. sepertinya Paman harus punya banyak stok sabar untuk menghadapi kamu. Sekarang Paman mengerti apa yang dirasakan oleh suamimu. Salut Paman sama suamimu yang bisa bertahan dan sabar sekali menghadapimu selama beberapa tahun hidup bersamamu," ucap Pak Ratmo tanpa basa-basi.
"Paman apa-apaan sih, bukannya belain ponakannya malah belain orang lain. Memang benar, tidak ada yang sayang sama aku. Apa seburuk itu aku dihadapan semua orang?" Mirna histeris berteriak sambil menangis.
"Mirna, semua itu dari dirimu sendiri. Jika kamu baik pada orang lain, maka orang lain akan baik padamu," kini suara Pak Ratmo mulai melunak.
"Ah itu teori kuno, buktinya aku sudah baik sama orang, tapi tetap saja orang-orang lebih berpihak pada Rhea," ucap Mirna sembari mengusap sedikit air matanya yang tadi sempat menetes karena histeris.
"Mirna... Mirna, sudahlah, Paman lelah. Lebih baik kamu beristirahat dan merenungi kesalahanmu," ucap Pak Ratmo seraya pergi meninggalkan Mirna yang masih menggerutu tidak jelas terdengar oleh Pak Ratmo karena dia mengambil langkah seribu untuk meninggalkan Mirna.
Kini Mirna masuk ke dalam kamar yang biasanya dia gunakan untuk menginap di rumah Pamannya. Diambilnya satu demi satu pakaian yang ada dalam tasnya.
Serasa dejavu , batin Mirna sambil tersenyum kecut memindahkan pakaiannya ke dalam lemari.
Direbahkan tubuhnya pada ranjang yang ada di kamar tersebut. Sangat dingin, tidak ada kehangatan sama sekali yang dirasanya.
Paman Mirna kembali ke Pondok Pesantren Al Mukmin untuk meminta maaf pada keluarga besar Umi Sarifah yang menjadi kacau karena tindakan Mirna.
Umi Sarifah menyambut Pak Ratmo seperti biasanya. Umi tidak marah ataupun menaruh benci pada Pak Ratmo karena Umi Sarifah tahu jika memang pribadi Mirna lah yang sulit untuk diubah dan dikendalikan.
Pak Ratmo juga ingin meminta maaf segera dengan Ustad Fariz karena dia tidak ingin hubungan mereka canggung.
Sebenarnya Umi Sarifah tidak ingin mengganggu istirahat Ustad Fariz dan Rhea, namun kasihan Pak Ratmo jika dia merasa terbebani dengan masalah ini, masalah yang dia anggap ada karena kelalaiannya dan kesalahannya dalam mendidik dan mengawasi Mirna.
Tok... tok.. tok...
Pintu kamar Ustad Fariz dan Rhea diketuk oleh Umi Sarifah. Dengan ragu-ragu Umi Sarifah mengetuk pintu kamar itu kembali setelah tidak mendapatkan jawaban ataupun pergerakan orang dari dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Kriet...
"Umi? Maaf, Umi pasti menunggu lama," ucap Ustad Fariz sambil mengusap-usap matanya yang baru saja bangun agar terbuka dengan sempurna.
"Enggak apa-apa Le. Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Umi Sarifah yang berdiri di depan pintu kamar Ustad Fariz dan Rhea.
"Alhamdulillah dia sudah agak tenang Umi," jawab Ustad Fariz disertai senyumnya.
"Siapa Bie?" tanya Rhea dari dalam kamar dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Umi sayang...," jawab Ustad Fariz sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena malu dengan Umi Sarifah yang ada di depannya.
Umi Sarifah tersenyum menggoda. Dan itu sukses membuat Ustad Fariz kikuk dan bertambah malu.
"Tadi aja gak malu mesra-mesraan di depan Umi,masa' sekarang gini aja malu?" Umi Sarifah menggoda Ustad Fariz.
Ustad Fariz tersenyum kikuk dan kembali menggaruk tengkuknya untuk mengalihkan rasa malunya pada Umi Sarifah.
"Oh iya, Umi ada perlu sama Fariz?" tanyanya pada Umi Sarifah untuk mengalihkan perhatian.
"Astaghfirullahaladzim... Umi sampai lupa, itu ada Pak Ratmo ingin bertemu dengan mu dan Rhea. Tadinya Umi gak mau ganggu kalian, tapi kok ya liat Pak Ratmo kayak gitu, Umi jadi kasihan," ucap Umi Sarifah.
"Pak Ratmo kenapa Umi?" tanya Ustad Fariz ingin tahu.
Tiba-tiba saja Rhea berada di samping Ustad Fariz dan melingkarkan tangannya pada lengan suaminya itu, kemudian kepalanya disandarkan pada lengan suaminya. Dengan mata setengah terpejam dia ikut mendengarkan percakapan antara Umi Sarifah dan suaminya.
"Pak Ratmo sepertinya merasa bersalah pada kita, jadi dia ke sini ingin meminta maaf," ucap Umi Sarifah sambil membenarkan rambut Rhea yang menutupi sebagian matanya.
Rhea belum memakai hijabnya karena dia tahu hanya Umi Sarifah yang ada di luar sana.
__ADS_1
"Baiklah Umi, sebentar lagi kita akan ke bawah," ucap Ustad Fariz yang kemudian mendapatkan anggukan dari Umi Sarifah.