Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 229 Gadis itu....


__ADS_3

Sedari tadi Izam menunggu kedua orang tuanya yang masih belum pulang meskipun malam sudah sangat larut.


Diambilnya ponsel miliknya untuk menghubungi Bundanya. Dia tidak menghubungi Abi nya karena sudah bisa dipastikan teleponnya tidak akan diangkat karena sedang menyetir.


"Assalamu'alaikum Bunda, sudah sampai mana?" ucap Izam ketika teleponnya sudah diangkat oleh Bundanya.


Sepertinya sebentar lagi kita sampai. Izam tidur saja tidak perlu menunggu Bunda sama Abi, ucap Rhea dari seberang sana.


"Izam nunggu Abi sama Bunda aja. Hati-hati ya Bunda, Abi. Assalamu'alaikum," tukas Izam sebelum menutup teleponnya.


Setelah beberapa menit dia menunggu di ruang tamu dengan membaca mushaf yang ada di tangannya, Izam mendengar suara deru mobil milik Abi nya.


Izam pun mengakhiri bacaannya dan menutup mushaf nya itu. Kemudian dia membukakan pintu untuk mereka.


"Dia siapa Bi?" tanya Izam dengan memandang dengan tatapan heran pada Yasmin.


"Biarkan dia masuk dulu. Nanti kita bicarakan di dalam," jawab Ustadz Fariz sambil berjalan masuk ke dalam rumah dengan tangannya berada di pinggang istrinya.


Izam pun menyingkir dari tengah pintu untuk membiarkan Yasmin masuk ke dalam rumah.


Yasmin yang berambut pendek layaknya laki-laki membuat Izam menatapnya heran. Pasalnya penampilan Yasmin sekarang ini persis sekali anak laki-laki dengan memakai celana jeans, jaket hoodie warna hitam dan rambut cepak dengan model acak.


Namun wajahnya menunjukkan seperti layaknya perempuan pada umumnya. Wajah Yasmin yang cantik dengan bulu matanya yang lentik serta bibir pink alaminya membuat Izam terpanah padanya.


"Silahkan masuk," ucap Izam setelah menyingkir beberapa langkah dari tempatnya semula.


Yasmin pun masuk ke dalam rumah tersebut. Matanya berjelajah mengelilingi ruangan tamu tersebut. Matanya tertuju pada bingkai foto yang terdapat gambar Umi Sarifah, Ustadz Fariz, Rhea, Izam kecil, Ustadz Jaki, Shinta dan Salsa kecil. Foto itu diambil sebelum peristiwa kecelakaan Umi Sarifah dan Izam terjadi.


"Silahkan duduk," ucap Izam kemudian.


Rhea dan Ustadz Fariz sudah duduk di sana dan Izam pun duduk menemani mereka untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yang bersama dengan abi dan bundanya.


"Sekarang, apa bisa kamu ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ustadz Fariz pada gadis di depannya yang mengaku bernama Zahra.


Gadis itupun menceritakan apa yang terjadi sehingga dia dikejar-kejar oleh orang suruhan Bos Leo. Hal itu membuat Ustadz Fariz, Rhea dan Izam menjadi iba padanya.

__ADS_1


"Zahra, sebaiknya kamu istirahat dulu, besok kita lanjutkan kembali pembicaraannya. Sekarang kamu saya antar ke kamar yang bisa kamu tempati malam ini. Ayo..."


Rhea mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Terima kasih Bu," ucap Yasmin yang mengaku bernama Zahra pada mereka.


"Bunda. Panggil saja Bunda," ucap Rhea untuk meralat panggilan Yasmin padanya.


Yasmin pun mengangguk disertai senyumnya. Kemudian dia berkata,


"Terima kasih Bunda."


Rhea mengantarkan Yasmin menuju kamar yang akan dia tempati untuk malam ini.


"Masuklah," ucap Rhea setelah masuk terlebih dahulu pada kamar tersebut.


Yasmin pun masuk ke dalam kamar tersebut, dan dia tersenyum karena merasa nyaman berada di rumah itu.


"Maaf merepotkan Bunda dan keluarga," ucap Yasmin setelah masuk ke dalam kamar itu.


Rhea pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda dia tidak keberatan. Kemudian dia berkata,


Setelah Rhea keluar dari kamar itu, Yasmin membuka jaketnya yang menampakkan tanktop berwarna putih yang dia pakai sebagai dalaman jaket tersebut.


Rhea masuk ke dalam kamar tersebut dengan membawa beberapa gamis miliknya serta hijabnya.


"Zahra, coba kamu pakai gamis ini. Maaf Bunda tidak memiliki baju lainnya. Tapi jika kamu ingin berada di sini, kamu harus memakai pakaian seperti ini," ucap Rhea sambil menjejer gamis-gamis dan hijab-hijab tersebut di atas ranjang yang akan ditempati Yasmin malam ini.


"Ini baju-baju Bunda?" tanya Yasmin sambil membuka lipatan salah satu gamis dan melihatnya secara keseluruhan.


"Iya, itu milik Bunda pada saat Bunda pertama kali berhijab. Memang sudah sangat lama tidak Bunda pakai, tapi menurut Bunda semuanya masih bisa digunakan," jawab Rhea seraya mengambil alih gamis tersebut dan menempelkan gamis itu di bagian depan badan Yasmin.


"Ini bagus sekali Bunda, masih seperti baru," ucap Yasmin sambil tersenyum senang.


Entah kenapa Yasmin merasa senang dan nyaman berada di sana, hingga dia lupa kejadian tentang Bu Yati dan Pak Anto.

__ADS_1


Seketika Rhea terdiam ketika matanya tertuju pada kalung yang dipakai di leher Yasmin. Kalung itu mengingatkan Rhea dengan kalung miliknya yang digunakan oleh anaknya, Yasmin Zahra Mahadi.


Kalung itu tidak asing bagi Rhea. Kalung yang khusus dibuatkan oleh kakek dan neneknya untuknya. Kalung dengan tulisan nama Zahra dengan butiran berlian pada huruf-hurufnya.


"Bunda, Bunda kenapa?" tanya Yasmin yang bingung melihat Rhea tiba-tiba terdiam dan menatap dengan aneh pada dirinya, tepatnya pada kalung miliknya.


"Kalung ini.... kalung ini...."


"Oh, ini kalung dari orang tua saya Bun. Mereka bilang hanya kalung ini yang bisa mereka berikan pada saya," jawab Yasmin sambil memegang dan melihat kalungnya yang masih melingkar di lehernya.


"Oh, itu... itu..."


Rhea tidak bisa meneruskan ucapannya. Dia merasa kaget, namun ada perasaan senang dalam hatinya yang tidak bisa dia ungkapkan.


"Kenapa Bunda?" tanya Yasmin kemudian.


"Ah tidak, besok saja kita bicarakan lagi. Sekarang kamu bergantilah memakai ini," jawab Rhea sambil memberikan gamis yang tadi dia coba pasangkan di badan Yasmin.


Yasmin pun memakainya dan dia kesusahan menutup resleting belakangnya. Tangannya menggapai-gapai resleting tersebut untuk menutupnya, namun tidak bisa dia menggapainya.


"Sini, coba Bunda bantu," ucap Rhea sambil mendekat dan menutup resleting tersebut.


Rhea kembali dikagetkan dengan apa yang dilihatnya saat ini. Dia melihat tanda lahir yang persis seperti milik Yasmin, anaknya.


Tangan Rhea gemetar, matanya berkaca-kaca mendapati kembali kesamaan dengan yang dimiliki anaknya.


Sontak saja Rhea memeluk Yasmin dan menumpahkan air matanya. Dia menyebut-nyebut nama Yasmin ketika memeluk gadis yang mengaku bernama Zahra itu.


"Bunda kenapa?" tanya gadis tersebut.


Rhea mengurai pelukannya dan mengusap air matanya. Kemudian dia memandang wajah gadis yang ada di depannya itu secara intens.


Dia melihat seluruh bagian wajah gadis tersebut yang sangat cantik dan sangat mirip dengan seseorang jika benar-benar memandangnya.


"Bunda tidak kenapa-napa. Kamu harus pakai hijabnya ya jika kamu akan keluar dari kamar," pesan Rhea pada Yasmin sebelum keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Bi, Abi.... gadis itu Bi, Zahra Bi, dia.... dia Yasmin kita Bi. Dia anak kita yang hilang Bi," ucap Rhea pada Ustadz Fariz ketika sudah berada di dalam kamarnya.


"Maksud Bunda apa?"


__ADS_2