
Tanpa sepengetahuan Ani dan Pak Minto, Pandu selalu menyempatkan datang ke dalam hutan. Dia memandang jurang yang persis sekali ada dalam ingatannya. Dia sangat berusaha untuk menemukan ingatannya kembali. Semakin dia menemukan satu serpihan ingatannya, dia semakin ingin mencari ingatannya yang lain.
Hingga dia mengingat jika dia hidup di kota dan bekerja di sana. Namun dia tak mengerti kota yang mana yang dia tempati sebelum dia kecelakaan dan terdampar di hutan itu.
Pandu memang merasa bahagia tinggal bersama Pak Minto dan Ani di hutan itu, terlebih kini dia mempunyai Hana yang hadir dalam pernikahannya dengan Ani, namun Pandu masih ingin mencari tahu tentang dirinya yang sebenarnya.
Dia ingin tahu jati dirinya yang sebenarnya dan dia tidak tahu apa yang terjadi setelah dia menemukan semua ingatannya. Karena dia memang berjanji untuk tetap bersama mereka di hutan tersebut, namun Pandu tidak tahu apa yang nanti dia perbuat jika ingatan masa lalunya kembali hadir.
Malam hari, mimpi itu hadir kembali menyapa Pandu yang sedang nyenyak dalam tidurnya. Namun mimpi ini berbeda dengan mimpi yang sebelumnya.
Pandu memakai pakaian adat jawa berwarna putih dengan hiasan pengantin pria sedang menjabat tangan seorang laki-laki dihadapannya yang merupakan penghulu yang sedang membantu Pandu mengucapkan ijab kabul atas nama Rheina Az Zahra dan beberapa lama kemudian wanita cantik memakai kebaya dengan hiasan adat pengantin jawa duduk di sampingnya untuk mencium tangannya.
Mimpi itu terasa sangat nyata bagi Pandu, hingga dia bergumam dalam tidurnya menyebut nama Rheina Az Zahra. Dan untungnya saja Ani sedang terlelap dalam tidurnya, mungkin karena Pandu tidak berteriak sehingga Ani tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Pandu dalam tidurnya.
Ketika bangun dari tidurnya, Pandu masih mengingat mimpinya itu. Dia menerka-nerka untuk mencari jawabannya dalam dirinya sendiri.
Apa itu hanya mimpi? Aku yakin tidak, dia wanita yang sama seperti aku mimpikan sebelum-sebelumnya, dan wajahnya selalu saja menggangguku. Apa kami sudah menikah? Lalu, apa yang akan aku lakukan nanti? Aku harus mencari tau. Ya... aku harus mencari tau kebenarannya. Aku harus mencari tau siapa diriku sebenarnya, Pandu berkata dalam hatinya.
Keesokan harinya, Pandu berbicara pada Pak Minto dan Ani ketika mereka sedang sarapan pagi bersama.
"Pak, Ani saya ingin bekerja. Saya ingin mencari pekerjaan di kota," Pandu memberitahukan keinginannya.
Pak Minto dan Ani terhenyak, mereka menghentikan makannya dan saling pandang. Ani menggelengkan kepalanya pada Bapaknya. Pandu mengerti jika Ani pasti tidak akan mengijinkannya. Tapi dia tidak mau menyerah begitu saja, dia benar-benar ingin menemukan jati dirinya dan tentunya menemukan siapa wanita yang bernama Rheina Az Zahra yang dipanggil Rhea dalam mimpinya.
"Apa kamu yakin?" Pak Minto bertanya pada Pandu.
"Yakin Pak. Saya ingin kita mempunyai uang yang lebih sehingga bisa membahagiakan Ani dan Hana," Pandu meyakinkan Pak Minto dan Ani dengan alasannya.
__ADS_1
"Tapi kita begini saja aku sudah bahagia Mas. Aku gak mau Mas Pandu jauh dari kita," Ani tidak mengijinkan Pandu.
"Tapi aku merasa tidak berguna sebagai seorang suami dan seorang ayah yang hanya di rumah saja, tidak berusaha mencari uang untuk kebutuhan kita," Pandu menaikkan sedikit nada bicaranya.
"Tapi Mas nanti kamu-"
"Kalau begitu kamu ikut Bapak saja ke desa-desa, siapa tau ada yang membutuhkanmu untuk bekerja. Jadi kamu tidak perlu ke kota, lebih baik ikut Bapak saja," Pak Minto menyahut perkataan Ani agar tidak menyulut emosi Pandu.
"Tapi Pak, saya ingin bekerja di kota. Saya ingin mendapatkan uang lebih banyak di sana," Pandu masih berusaha mencari alasan untuk bisa pergi ke kota.
"Mau kerja apa kamu di sana? Ijasah saja kamu tidak punya. Kalau hanya sekedar jadi kuli, lebih baik di daerah sini saja, toh sama saja pekerjaannya, malah bisa pulang setiap hari, bisa bertemu dengan anak istrimu setiap hari. Kalau di kota kamu pasti jarang pulang. Apa kamu gak kangen sama anak dan istrimu?" Pak Minto mencoba menghentikan niatan Pandu untuk berangkat ke kota.
"Paling tidak saya sudah mencobanya Pak, jadi saya tidak akan menyesal nantinya," Pandu masih saja dengan keinginannya.
"Kamu benar-benar akan meninggalkan kami Mas?" tanya Ani dengan suara yang bergetar dan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Pak Minto tidak tega melihat anaknya bersedih seperti itu, akhirnya dia memutuskan sesuatu.
"Ya sudah, hari ini kamu cobalah ikut bapak pergi ke desa-desa sekitar sini. Kita coba apa yang kamu bisa kerjakan," ucap Pak Minto menengahi perdebatan anak dan mantunya.
"Tapi Pak-"
"Bapak tidak mau berdebat Pandu," ucap Pak Minto dengan tegas.
Pandu melihat Ani yang memasang wajah sedih dan itu membuat Hana menjadi menangis. Memang benar apa yang dirasakan seorang ibu pasti bisa dirasakan oleh anaknya terutama anak yang masih bayi dan meminum asi darinya.
"Baiklah Pak, Pandu akan ikut Bapak," jawab Pandu secara terpaksa.
__ADS_1
Secercah senyum terbit di bibir Ani ketika menenangkan Hana yang sedang rewel. Dia merasa lega karena suaminya tidak jadi pergi ke kota meninggalkannya dengan Hana di rumah itu.
Akhirnya Pandu mengikuti Pak Minto untuk pergi ke desa sekitar mencari pekerjaan di sana. Ketika Pandu menunggu Pak Minto untuk mengobati warga desa di rumahnya, Pandu duduk di teras dengan seorang remaja laki-laki yang sedang memainkan ponselnya.
"Kamu anaknya Bapak yang sedang diobati ya?" tanya Pandu pada remaja tersebut dengan duduk di sampingnya.
"Iya. Kenapa Mas?" tanya remaja laki-laki tersebut.
"Tidak, hanya bertanya saja. Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Pandu pada remaja laki-laki tersebut.
"Mas gak tau?" tanya remaja laki-laki tersebut yang disambut gelengan kepala oleh Pandu.
"Ini namanya media sosial Mas. Kita bisa mencari orang yang kita kenal bahkan bisa mengetahui apa saja tentang mereka," jawab remaja laki-laki tersebut menjelaskan pada Pandu.
"Benarkah? Bolehkah aku pinjam sebentar saja untuk mencari seseorang?" Pandu bertanya dengan penuh harap.
"Mas mau cari orang?" tanyanya pada Pandu.
Pandu mengangguk dan berkata, "Bolehkah?"
Remaja laki-laki itupun mengangguk memperbolehkan Pandu memakai ponselnya untuk mencari orang yang dimaksud oleh Pandu dan menyerahkan ponsel itu pada Pandu.
"Ini bagaimana caranya?" Pandu bertanya dengan menunjukkan ponsel tersebut pada remaja laki-laki pemilik ponsel itu.
Remaja laki-laki itupun mengambil kembali ponselnya dan memberitahukan cara mencari seseorang melalui beberapa media sosial yang ada pada ponselnya.
"Nah, sekarang ini Mas ketik siapa nama orang yang Mas cari. Siapa namanya biar saya ketikkan," ucap remaja laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Rheina Az Zahra," jawab Pandu dengan senyumnya yang merekah.