Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 55 Kepoin Zahra


__ADS_3

"Anita, sini. Eh awas kamu ya kalau sampai yang tadi kamu bilang ke Bapakmu," mata Mirna melotot mengancam Anita.


"Mbak Mirna kenapa takut? Berarti yang Mbak Mirna katakan tadi gak benar ya?" bukannya menjawab malah Anita balik bertanya pada Mirna.


"Ya bener lah. Ngapain aku bohong. Aku cuma gak mau aja Paman gak ngebolehin aku keluar rumah lagi gara-gara ketahuan ngobrol sama ibu-ibu tadi," sanggah Mirna sambil memotong sayuran.


"Oooo bergibah maksudnya? Lah terus Mbak Mirna bakalan di sini terus gitu? Gak balik ke Pondok Pesantren Al-Mukmin?" kepala Anita manggut-manggut menyetujui, namun setelah itu dia bertanya karena heran.


"Balik lah, ngapain aku di sini terus? Cuma sekarang biarin aja dia seneng-seneng dulu, biar dia puas dulu, baru setelah itu aku balik ke sana," jawab Mirna dengan menyeringai.


"Mbak, boleh nanya gak? Enak gak sih dipoligami?" pertanyaan Anita membuat Mirna kesal.


"Kamu itu ya, kayak gitu pakai ditanyain. Udah, kamu aja yang masak," Mirna menaruh pisau dan sayurannya.


Mirna duduk di kursi yang ada disitu, mengambil ponselnya yang ada di sakunya dan mulai memainkan ponselnya.


Anita mendengus kesal dan tidak percaya jika dia harus memasak sendiri karena pertanyaannya tadi, sedangkan Mirna malah asyik bermain ponselnya.


Huffttt... nasib-nasib punya saudara sepupu kayak gitu. Kalau umurnya gak lebih tua dari aku, pasti udah aku kerjain dari tadi. Astaghfirullahaladzim..... terpaksa Anita meneruskan memasak sendiri sambil menggerutu dalam hati.


Mirna hanya mengawasi Anita yang sedang memasak,dan disaat dia melihat ke arah meja yang ada di depannya, dia melihat ada sebuah buku novel.


"Punya siapa ini Nit?" tanya Mirna dengan membolak-balikkan buku tersebut.


"Oh buku itu? Punya Anita dong. Kenapa, Mbak Mirna pengen baca?" tanya Anita yang mengalihkan pandangannya sebentar dari aktivitas memasaknya.


"Dih ngapain, buang-buang waktu. Eh kamu tau gak yang namanya Zahra, bukunya judulnya... judulnya... mmmm... apa ya, lupa aku, cuma ingat covernya aja," Marni berucap sambil berpikir keras mengingat-ingat judul buku dan gambar cover buku milik Rhea yang dia bawakan pada saat acara bedah buku di Pondok Pesantren Al-Mukmin.


"Cari aja Mbak di internet pasti ketemu," usul Anita pada Mirna.

__ADS_1


"Oh iya ya, kenapa gak kepikiran?" ucap Mirna lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Anita.


Anita menggelengkan kepalanya heran dengan sikap sepupunya itu yang bertindak tanpa berpikir dahulu. Selama Anita bersama dengan Mirna, Anita menilai bahwa Mirna lebih dulu ngomong tanpa berpikir dahulu. Dan benarlah, selama ini Mirna selalu seperti itu, bertindak tanpa berpikir dahulu sehingga sekarang dia mendapatkan buah dari perbuatannya, dia diceraikan oleh suaminya.


"Katanya gak suka buku, tapi kok nyari tau tentang buku itu tadi?" tanya Anita ingin tahu.


" Ah berisik kamu, pengen tau aja. Lagian aku bukan nyari tau bukunya. Aku nyari tau orangnya," jawab Mirna sambil memainkan ponselnya.


"Dih, tadi nanya sekarang giliran ditanya malah sewot," Anita kesal dengan sepupunya yang lebih tua darinya itu.


"Lagian kamu banyak nanya. Udah selesai belum masaknya?" tanya Mirna tak kalah kesal dengan Anita.


"Ya belum lah. Mbak Mirna bantuin sini biar cepat selesai," sewot Anita.


"Bentar, ini masih belum nemu yang tadi," ucap Mirna sambil melihat ponselnya dengan serius.


"Mbak kenal penulisnya?" tanya Anita.


"Maksudnya Mbak?" tanya Anita bingung.


"Haduh kamu ini oon banget sih, gitu aja gak ngerti," Mirna ngomel sambil matanya masih fokus pada ponselnya.


"Lah kan gak ngerti Mbak, mangkanya nanya. Lagian Mbak Mirna ngomongnya gak jelas banget, aku kan gak ngerti," Anita mengoceh tidak mau dikata-katakan oleh Mirna.


" Jadi kapan hari itu sebelum mereka menikah, wanita itu membawakan acara bedah buku di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Nah yang dibedah bukunya waktu itu ya buku yang tak cari ini tadi. Aku cuma pernah lihat buku itu, belum pernah baca. Jadi cuma tau gambar cover dan nama penulisnya aja," Mirna menjelaskan pada Anita agar Anita tidak banyak bertanya lagi padanya.


"Ooooh gitu. Eh bukannya kalau acara seperti itu berarti dia penulisnya sendiri ya Mbak? Eh tapi ada juga sih yang bukan penulisnya tapi bawain acara seperti itu, berarti dia orang sastra Mbak," Anita berpendapat di sela kegiatan memasaknya.


"Masa' sih? Orang pinter dong dia?" tanya Mirna yang tidak terima jika Rhea lebih unggul darinya.

__ADS_1


"Coba deh Mbak Mirna cari lagi yang bener, biar gak penasaran," ucap Anita.


Mirna tidak terima jika memang benar Rhea lebih pintar dan lebih unggul darinya. Dan mata Mirna melotot kaget melihat buku yang dia cari menampilkan profil penulisnya.


Ya, Zahra sang penulis buku tersebut adalah Rhea, Rheina Az Zahra, wanita yang dibencinya, wanita yang menghancurkan rumah tangganya, wanita yang mengambil suaminya, wanita yang mengambil kasih sayang dan cinta suaminya, wanita yang merampas kebahagiaannya. Itulah pemikiran Mirna tentang Rhea.


Tangan Mirna menggebrak meja yang ada dihadapannya. Sontak saja Anita kaget hingga pisaunya jatuh ke bawah. Untung saja tidak mengenai kakinya.


"Ada apa sih Mbak kayak liat setan gitu?" tanya Anita sambil memegang dadanya yang masih berdebar karena kaget. Iya kalau berdebar karena ketemu cowok ganteng kan enak, lah ini berdebarnya karena dikagetin setan, eh Mirna maksudnya.


"Ini lebih gawat dari sekedar setan. Liat nih, wanita ini ternyata penulisnya," Mirna beranjak mendekati Anita dan menunjukkan apa yang dia temukan di ponselnya.


"Wow... hebat Mbak. Aku mau ah belajar dari dia. Kenalin dong Mbak biar aku bisa belajar sama dia, ya...," mata Anita membelalak melihat profil penulis buku yang dicari oleh Mirna, dia adalah istri dari mantan suami Mirna.


"Enggak, hebat apaan. Gak usah kamu belajar dari dia. Bukannya jadi bener malah nanti kamu ikut-ikutan jadi pelakor lagi," ucap Mirna kesal.


Bilang aja iri, sainganmu lebih cantik dan lebih pintar Mbak. Udah gak ada celah buat Mbak Mirna kembali, Anita membatin dan cekikikan dalam hati.


Di Pondok Pesantren Al-Mukmin Rhea menikmati hari-harinya menjadi ibu hamil. Karena dia tidak merasakan mual sama sekali, jadi dia tetap beraktifitas kembali seperti biasanya.


Rhea merasakan lelah pada kakinya. Dia berada di ranjang dan memijit kakinya sendiri. Ustad Fariz yang baru masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang memijat kakinya, dia langsung mengambil alih untuk memijat kaki istrinya.


"Capek ya?" tanya Ustad Fariz yang tangannya masih sibuk memijat kaki Rhea.


"Gak kok cuma dikit aja," Rhea nyengir agar tidak dimarahi suaminya karena dia mulai beraktifitas kembali.


"Dikurangi ya aktifitasnya biar gak capek," Ustad Fariz begitu telaten memijat kaki istrinya.


Rhea memandang suaminya yang memijatnya dengan sangat telaten membuatnya sangat bersyukur telah mendapatkan suami sepertinya.

__ADS_1


"Bie, boleh gak aku minta sesuatu?"


__ADS_2