Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 128 Ingatan yang hilang


__ADS_3

Di suatu desa terpencil, seorang laki-laki yang sudah bertahun-tahun hilang ingatan karena kecelakaan kini mulai menemukan puing-puing ingatannya kembali. Ingatan itu tiba-tiba saja datang padanya dalam jangka waktu yang lama.


Ingatan itu tidak datang setiap waktu, bahkan terkadang dalam jeda waktu yang lama, dia hanya mengingat satu waktu saja dan hanya sekelebat saja, tidak banyak yang dia ingat.


Dia ditolong oleh seorang laki-laki yang sudah berumur di tepi sungai di daerah perhutanan. Tadinya laki-laki yang sudah berumur itu pergi ke hutan untuk mencari kayu dan anak perempuannya ikut untuk mencuci pakaian di sungai yang berbatasan antara desanya dengan hutan tersebut.


"Pak... Pak... cepat sini!" Ani berteriak memanggil bapaknya yang sedang mencari kayu tidak jauh dari tempatnya berada.


"Ada apa toh Nduk?" Pak Minto berlari tergesa-gesa mendekati anaknya.


"Ini Pak lihat," Ani menunjuk seorang laki-laki muda yang tergeletak dengan darah di kepalanya.


"Siapa ini Nduk?" Pak Minto bertanya tanpa menyentuh tubuh laki-laki yang tergeletak itu.


"Gak tau Pak, tadi Ani ke sini dan dia sudah ada di sini? Apa dia mati Pak? Atau hanya tidak sadar?" Ani berkata dengan ketakutan.


"Sebentar Bapak lihat dulu. Kamu tunggu dulu disitu," ucap Pak Minto sambil memeriksa tubuh laki-laki misterius tersebut.


"Dia masih hidup. Sepertinya kepalanya terluka. Kita harus mengobatinya. Bantu Bapak ya membawa dia ke rumah," Pak Minto memerintahkan Ani untuk membantunya.


Mereka membawa laki-laki itu ke dalam rumahnya. Ani membersihkan luka di kepalanya dan membersihkan badan laki-laki tersebut yang bisa dijangkaunya. Sedangkan Pak Minto mulai membuat obat-obatan yang akan diberikan pada laki-laki tersebut.


Tidaklah sulit untuk Pak Minto menyembuhkan luka laki-laki tersebut karena Pak Minto merupakan seorang tabib yang mempunyai kemampuan turun temurun dari keluarganya, dan dia lebih memilih hidup di daerah hutan namun tidak jauh dari desa yang berpenduduk dengan alasan lebih tenang.


Setelah semua luka luarnya diobati oleh Pak Minto, laki-laki itu juga diberi minum obat ramuan oleh Pak Minto meskipun belum sadar. Selang beberapa jam, laki-laki itupun mulai sadar.


"Auch... dimana ini?" laki-laki tersebut mendesis kesakitan dengan memegang kepalanya.

__ADS_1


Pak Minto yang sedang membuat obat di sebelahnya kini menghampirinya.


"Apa ada yang sakit?" tanya Pak Minto pada laki-laki tersebut.


"Kepalaku, kakiku, aargh.... semua tubuhku terasa sakit," jawab laki-laki tersebut.


"Sebentar Bapak ambilkan kamu obat dulu," ucap Pak minto yang kemudian mengambilkan obat yang tadi sudah dia buat di sebelahnya.


"Ini kamu minum dulu obatnya," Pak Minto membantu laki-laki tersebut untuk meminum obat yang sudah dia buat untuk laki-laki itu.


"Sekarang lebih baik kamu istirahat kembali," ucap Pak Minto dengan membantu menidurkan kembali laki-laki tersebut.


Berhari-hari Pak Minto dan Ani merawat laki-laki itu dengan telaten meskipun mereka belum mengetahui siapa sebenarnya lelaki tersebut dan dari mana asalnya. Hingga penyebab laki-laki itu bisa ada di tempat itupun mereka belum tahu. Mereka tidak mengetahuinya karena lelaki tersebut tidak ingat apa-apa. Bahkan dirinya sendiripun dia tidak ingat.


Akhirnya Pak Minto dan Ani sepakat untuk merawat lelaki tersebut hingga cidera di kakinya sembuh dan bisa berjalan kembali.


Lelaki itu dipanggil dengan nama Pandu oleh Pak Minto dan Ani karena lelaki tersebut tidak juga mengingat siapa dirinya. Sepertinya dia amnesia karena benturan di kepalanya.


Selama Pandu cidera, dia selalu dibantu oleh Ani ketika Pak Minto tidak berada di rumah. Sampai dia sembuh pun Pandu masih berada di rumah mereka karena dia tidak mau pergi dari tempat itu, dia bingung akan pergi ke mana karena tidak ada tempat yang dia tuju yang dia ingat.


Dari situlah tumbuh benih-benih cinta dalam hati Ani. Memang sosok Pandu yang memiliki wajah yang menarik itu bisa membuat hati Ani memilihnya. Hingga timbul perasaan cinta dan tidak rela jika Pandu mengingat masa lalunya dan pergi dari rumahnya.


"Mas Pandu masih tetap ingin tinggal di sini?" Ani bertanya pada Pandu ketika Pandu membelah kayu pohon untuk dijadikan kayu bakar.


"Aku gak tau mau pergi ke mana. Apa aku harus pergi dari sini?" Pandu menghentikan kegiatannya dan bertanya pada Ani.


"Enggak. Mas Pandu di sini aja biar tambah rame. Sepi kalau cuma berdua aja sama Bapak," Ani menjawab sambil memilih sayuran yang akan dimasaknya.

__ADS_1


Selama ini mereka menggantungkan hidupnya dari hasil Pak Minto mengobati orang-orang di desa-desa sekitar. Kadang mereka memberi uang, tapi kadang juga jika orang tersebut tidak memiliki banyak uang, mereka memberi Pak Minto hasil bercocok tanam mereka, seperti sayuran, beras dan sebagainya. Namun Pak Minto dan Ani juga bercocok tanam sayuran di dekat rumahnya untuk makan mereka sehari-hari.


Pandu tersenyum mendengar jawaban dari Ani. Dia kagum dengan Ani yang menurutnya seorang gadis polos dan lugu yang baik dan sopan, sehingga Pandu nyaman berada di keluarga tersebut. Pak Minto pun baik terhadapnya yang merupakan orang asing yang tidak dikenalnya sama sekali.


Pak Minto datang dan melihat interaksi dari keduanya. Pak Minto yakin jika Ani, anak gadisnya itu menyukai Pandu. Dan sepertinya Pandu juga demikian menurut Pak Minto.


Setahun sudah memang Pandu berada di sana dan tidak mengingat apapun tentang dirinya dan masa lalunya. Namun dia juga tidak mau keluar dari rumah Pak Minto. Dengan itu Pak Minto ingin menikahkan Ani dengan Pandu.


"Pandu, apa kamu mau menikah dengan Ani?Bapak yakin jika Ani mau menikah denganmu. Dan Bapak juga yakin kamu tidak akan menolaknya," Pak Minto mengatakannya ketika mereka sedang makan bersama di atas tikar dengan makanan yang seadanya.


Pandu sedikit kaget dengan pertanyaan dari Pak Minto. Namun ketika dia melihat Pak Minto dan Ani yang sepertinya mengharapkannya, dan Pandu mengingat semua pertolongan mereka padanya, Pandu menyetujui permintaan Pak Minto.


"Baik Pak, saya akan menikahi Ani, putri Bapak," Pandu menjawabnya disertai senyuman lega dari Pak Minto dan Ani.


Keesokan harinya mereka menikah hanya dengan melaksanakan ijab kabul saja. Kini status Ani sudah menjadi istri Pandu, dan Pandu menjadi suami dari Ani.


Ani yang tadinya malu-malu, kini menjadi lebih perhatian, manja dan agresif pada Pandu. Dan Pandu pun tak menolak karena jiwa laki-lakinya juga menyambut Ani dalam pelukannya.


Malam itu, malam sesudah mereka melakukan ijab kabul, malam itu juga mereka melakukan malam pertaman mereka. Hingga mereka tertidur hanya menggunakan selimut saja.


"Rhea!" tiba-tiba Pandu meneriakkan nama seorang wanita dalam mimpinya.


"Rhea, tolong aku! Di mana kamu? Rhea!" Pandu mengigau seolah-olah dia sedang mencari wanita yang bernama Rhea.


Ani pun terbangun ketika mendengar Pandu berteriak memanggil nama seorang wanita.


"Rhea?"

__ADS_1


__ADS_2