
Acara tasyakuran kembalinya Yasmin diselenggarakan dengan sangat meriah. Kegiatan Pondok Pesantren Al-Mukmin ditiadakan pada hari tersebut dan diganti dengan acara-acara yang bertema religi selama seharian penuh.
Acara tersebut diselenggarakan terbuka untuk umum sehingga masyarakat luas bisa datang dengan bebas menyaksikan tausiyah dari kyai-kyai ternama, pengajian serta acara hiburan yang bertema religi.
Mereka sangat bersyukur atas kembalinya Yasmin dan acara tersebut merupakan cerminan kebahagiaan dan rasa syukur mereka.
Dalam acara tersebut Ustadz Fariz memberitahukan bahwa Zahra adalah Yasmin Zahra Mahadi, putrinya yang sejak bayi menghilang karena diculik.
Semua masyarakat, santri dan para Ustadz serta Ustadzah sangat terkejut mendengar fakta tersebut. Mereka tidak menyangka setelah belasan tahun lamanya Yasmin bisa ditemukan.
Ada kelegaan dalam hati Hana, dia kini tersenyum lega mendengar fakta tersebut.
Ah, pantas saja mereka sangat dekat, ternyata mereka kakak beradik, batin Hana sambil tersenyum.
Panggung yang begitu besar dan megahnya berada di halaman Pondok Pesantren Al-Mukmin yang mampu menampung banyaknya orang yang datang menyaksikan acara tersebut.
Hana bangkit dari duduknya yang beralaskan rerumputan di halaman Pondok Pesantren Al-Mukmin yang sangat luas itu dan berjalan menuju toilet. Dia memang sendirian sekarang, semua orang yang dulunya bersamanya kini sedikit demi sedikit menjauh setelah kejadian Yasmin terjatuh waktu itu.
Mereka bukan menyalahkan Hana, tapi mereka takut karena label anak pembawa sial itu seolah terbukti dengan sendirinya.
Hana keluar dari toilet tersebut dan betapa kagetnya dia ketika melihat Salsa dan Yasmin sedang menunggu di depan pintu toilet tersebut. Dari segitu banyaknya toilet, semua pintunya tertutup sehingga membuat Salsa dan Yasmin menunggu.
Dan sialnya, di depan pintu yang mereka tunggu adalah toilet yang digunakan oleh Hana. Sehingga mereka bertatap muka secara langsung saat itu juga.
"Yasmin," Hana memanggil Yasmin sambil tersenyum padanya.
Salsa melengos, dia tidak suka dengan Hana yang bersikap baik pada Yasmin. Menurut Salsa, Hana hanya berpura-pura baik pada Yasmin agar dia bisa mendekati Izam.
"Ayo Yasmin, masuk," ucap Salsa sambil menarik tangan Yasmin untuk berjalan masuk ke dalam toilet tersebut.
Hana memandang mereka berdua masuk ke dalam toilet dan dia memutuskan untuk menunggu mereka di depan pintu toilet tersebut.
"Kak, kita seriusan mau di dalam berdua gini?" tanya Yasmin pada Salsa ketika mereka sudah berada dalam toilet yang sama.
Salsa melihat sekelilingnya dan melihat tangannya yang masih menggandeng tangan Yasmin. Kemudian dia tersenyum lebar dam melepas gandengan tangannya.
__ADS_1
"Ya pipis aja gapapa kan Yasmin. Kita kan sama-sama perempuan, gak usah malu," ucap Salsa yang masih setia dengan senyum lebarnya.
"Malu kak...," tukas Yasmin.
"Gapapa, cuek aja. Aku hadap sana dan kamu hadap situ," ucap Salsa sambil menunjuk arah yang dia maksud.
Yasmin terkekeh mendengar usulan dari Salsa. Memang jika dia bersama dengan Salsa selalu saja bisa membuatnya tertawa. Tingkah konyol dan kelucuan Salsa didapatkannya dari Abi nya.
Setelah urusan hajat mereka berdua selesai, Yasmin dan Salsa keluar dari toilet tersebut. Salsa mendengus kesal ketika melihat Hana yang masih saja berada di depan pintu toilet itu.
Salsa kembali menggandeng tangan Yasmin dan menariknya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Yasmin....," Hana memanggil Yamin dan mengikutinya.
Langkah kaki Salsa dan Yasmin yang begitu cepat itu berhasil disusul oleh Hana. Kini Hana sudah berada di sisi Yasmin.
"Yasmin, aku mau bicara," ucap Hana sambil memegang tangan Yasmin untuk menghentikan langkahnya.
Yasmin pun menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Hana.
Ucapan Salsa tidak diselesaikannya karena dia ingat apa yang dikatakan oleh Izam padanya. Izam melarangnya untuk mengungkit masalah itu dan Salsa tidak ingin membuat Izam marah padanya.
Yasmin tersenyum pada Salsa dan merangkul pundaknya, dia tahu jika Salsa tidak menginginkan hal buruk terjadi padanya karena dia sudah mendengar semua yang terjadi dari Bundanya dan Izam.
Hana yang melihat hal itu merasa iri dengan Salsa. Dari dulu selalu Salsa yang lebih dekat dengan Izam hingga kini dan sekarang Yasmin pun lebih dekat dengan Salsa dibandingkan dengan dirinya.
Hana mengerti jika mereka bersaudara, namun ada kalanya orang lain lebih dekat daripada dengan saudaranya. Dan Hana menginginkan hal itu terjadi pada dirinya dengan Izam dan Yasmin.
"Yasmin, aku ingin bicara sebentar saja," ucap Hana memohon pada Yasmin.
"Silahkan Mbak, ada apa? Bicara saja," ucap Yasmin dengan tersenyum.
"Bisakah kita bicara berdua saja?" tanya Hana pada Yasmin.
"Eh enggak, di sini aja kalau mau ngomong," tukas Salsa tidak menyetujui keinginan Hana.
__ADS_1
Yasmin tersenyum pada Salsa. Dia sangat menyayangi Salsa dan mereka sangat dekat sehingga dia merasakan sekali kekhawatiran Salsa padanya.
"Kita bicara di sini saja ya Mbak," ucap Yasmin pada Hana.
Hana menghela nafasnya. Dia tidak mengira jika hanya dengan berbicara berdua saja dengan Yasmin bisa sesulit itu.
Mau tidak mau Hana harus membicarakannya di depan Salsa. Sebenarnya dia ingin lebih dekat dengan Yasmin dan berbicara banyak dengannya. Namun semua itu sepertinya hanya tinggal angannya saja untuk sekarang ini.
"Yasmin, terima kasih karena kamu tidak menyalahkanku tentang kejadian waktu itu. Dan aku ingin meminta maaf atas kejadian waktu itu," ucapnya dengan menatap Yasmin.
Yasmin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Aku yakin Mbak Hana tidak sengaja waktu itu, dan aku sudah sembuh. Mbak Hana tidak usah khawatirkan itu lagi," ucap Yasmin dengan senyum manisnya pada Hana.
Salsa menatap jengah pada Hana yang masih saja ingin menaham Yasmin ketika perbincangan mereka sudah selesai.
"Kami mau pergi. Lepaskan tangan Yasmin. Kami sudah ditunggu keluarga kami untuk makan bersama," tukas Salsa dengan sedikit kesal menatap Hana.
Hana pun segera melepaskan tangan Yasmin. Dia tidak mau jika dia disalahkan atas terlambatnya Yasmin dan Salsa menemui keluarganya. Karena dia sudah berjanji dalam hatinya untuk memperjuangkan cintanya pada Izam.
Tidak jauh dari sana ada Izam yang menjemput Yasmin dan Salsa. Izam merangkul pundak Yasmin dan bercanda bersama Yasmin serta Salsa di sepanjang perjalanannya menuju rumah mereka.
"Andaikan saja aku bisa berada di antara mereka, pasti akan sangat menyenangkan dan pastinya aku sangat bahagia," ucap Hana lirih memandang punggung mereka bertiga.
Di rumah Mirna, Pandu baru saja pulang karena harus mengantarkan penumpangnya yang tujuannya lebih jauh dari biasanya. Setiap hari dia bekerja lebih keras mengingat dia akan mempunyai anak lagi dari Mirna.
"Mas Pandu dari mana aja sih? Mas Pandu selalu pulang malam-malam sekali. Mas Pandu gak macam-macam kan? Aku ini sedang mengandung anakmu loh Mas, jadi Mas-"
"Mirna, aku lelah. Seharian aku membawa penumpang dengan tujuan yang lebih jauh agar mendapatkan ongkos yang lebih banyak. Kamu jangan berpikiran macam-macam. Setiap hari aku pulang malam karena sebentar lagi anak kita akan lahir, dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi mengertilah."
Pandu menyela ucapan Mirna dan menjelaskan padanya dengan tatapan mengiba padanya.
Dan Mirna masih saja mengomel pada Pandu, sehingga Pandu meninggalkannya ke dalam kamar mandi.
Setelahnya dia mandi, Pandu keluar dari kamar mandi dengan malas.
__ADS_1
"Mirna, kamu kenapa?" tanya Pandu dengan panik ketika melihat Mirna meringkuk di sebelah tempat tidur mereka.