
Mirna segera mengganti gamis dan hijabnya menggunakan gamis dan hijab yang terbaik menurutnya. Setelah itu dia bergegas menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin.
Langkah kaki Mirna sangat ringan, dia sangat bahagia saat ini hingga tidak mau mengerti perasaan orang lain. Baginya kebahagiaannya yang terpenting dan dia tidak mau dipandang sebelah mata oleh orang lain karena tidak bisa memiliki anak.
"Loh Bu Mirna mau ke mana?" tanya seorang petugas keamanan yang berjaga di pos penjagaan yang berada di gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Saya mau bertemu dengan anak-anak saya," jawab Mirna sambil berlalu berjalan memasuki kawasan Pondok Pesantren Al-Mukmin.
"Mas, apa gapapa Bu Mirna masuk ke wilayah Pondok?" tanya petugas keamanan tadi pada temannya yang sedang berjaga bersamanya.
"Anaknya ada di dalam, mau gimana lagi," jawab petugas keamanan tersebut.
Dan petugas keamanan yang bertanya itu hanya bisa menatap punggung Mirna yang berjalan masuk ke wilayah Pondok Pesantren dan berkata dalam hatinya,
Semoga tidak terjadi hal yang buruk lagi.
Mata Mirna mulai mencari apa yang dia cari. Dia memang bertujuan datang ke tempat itu bertemu dengan Hana dan Emir untuk memberikan kabar tentang kehamilannya.
Selain itu, tujuan dia yang paling utama yaitu menyombongkan kehamilannya pada Rhea. Dia ingin Rhea tahu jika dia bisa hamil dengan mantan suaminya.
Mirna sengaja melakukan itu karena Rhea dan Ustadz Fariz kehilangan Yasmin, anak mereka di waktu bayi karena diculik. Dan itu membuat Mirna berpikir sebagai karma mereka karena menyakitinya, seorang wanita yang dikira tidak bisa hamil oleh semua orang.
Matanya menelisik mencari keberadaan Rhea, namun hasilnya nihil.
Ah mungkin dia masih di dalam rumah. Lebih baik aku menemui Hana dan Emir saja dulu, batin Mirna.
Kemudian dia menuju ruang informasi untuk meminta tolong pada mereka agar memanggilkan Hana dan Emir.
"Hana, Emir, Ibu sedang mengandung. Ada adik kalian dalam perut Ibu," ucap Mirna dengan binar bahagianya di hadapan Hana dan Emir.
Tentu saja Hana dan Emir sangat kaget, di usia Mirna saat ini dia bisa hamil dan kehamilannya itu sudah dinanti-nantikannya selama bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
"Hana, bisa pulang ke rumah? Ibu kesepian saat Bapakmu tidak ada di rumah. Lagian Ibu malas mau ngapa-ngapain. Ibu mual-mual terus, pusing dan lemas juga kalau habis muntah-muntah," pinta Mirna pada Hana.
"Masa' sih Bu? Kok Ibu sekarang sepertinya sangat sehat sekali," sahut Emir dengan entengnya.
"Kamu ini gak tau apa-apa Mir. Kalau orang sedang hamil itu memang begitu. Dan sekarang Ibu seperti ini karena Ibu sangat bersemangat bertemu dengan kalian untuk mengabarkan berita bahagia ini," ucap Mirna dengan sedikit kesal.
"Ya sudah Bu, Hana mau minta ijin dulu sama Ustadzah. Ayo Emir kamu juga harus kembali, sebentar lagi kamu ada kelas lagi kan?" ucap Hana sambil menarik tangan Emir agar berdiri dari duduknya.
Setelah Hana meminta ijin pada Ustadzah yang bertugas, dia segera kembali menemui Mirna dan mengajaknya untuk pulang. Hana bahagia melihat Mirna terlihat sangat bahagia dengan kehamilannya. Dia berjanji akan menjaga Mirna dan bayinya sebagai ucapan terima kasihnya telah menyayangi dia dan adiknya selama menjadi ibu sambung mereka.
Pada saat hendak melewati rumah Umi Sarifah yang kini ditempati oleh Ustadz Fariz dan keluarganya, Mirna dan Hana melihat keluarga Ustadz Fariz di depan rumah mereka.
Terlihat di sana Izam sedang bercanda bersama dengan Salsa dan Yasmin. Izam dan Salsa baru saja pulang dari kuliahnya dan Izam akan membantu mengajar nanti ketika sore hari tiba.
Sedangkan Ustadz Fariz sedang berpamitan pada Rhea untuk kembali ke Pondok Pesantren.
"Sebentar Bu, Hana mau berpamitan pada Kyai dan Bunda," ucap Hana sambil tangannya menggandeng tangan Mirna.
"Semua orang di Pondok ini memanggilnya Bunda Bu. Sebentar ya Bu, Hana mau pamit pada mereka dulu," ucap Hana sembari melepaskan tangan Mirna.
"Eh tunggu, Ibu ikut. Ibu ingin bertemu dengan mereka," ucap Mirna menghentikan Hana yang akan meninggalkannya untuk menemui Ustadz Fariz dan keluarganya.
Hana pun kembali menggandeng tangan Mirna. Dia dengan hati-hati berjalan agar kandungan Mirna baik-baik saja.
"Assalamu'alaikum...," ucap Hana memberikan salam pada Ustadz Fariz dan keluarganya.
Seketika Ustadz Fariz dan Rhea menghentikan candaan dan pembicaraan mereka. Begitupula dengan Izam, Salsa dan Yasmin. Tawa mereka bertiga seketika berhenti dan mengalihkan perhatian mereka pada Hana dan Mirna yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Wa'alaikumussalam...," jawab mereka semua.
"Mbak Mirna, apa kabar Mbak?" ucap Rhea dengan senyumnya.
__ADS_1
Rhea berjalan menghampiri Mirna dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengannya.
Dengan mengangkat dagunya, Mirna menyambut tangan Rhea dan menjabat tangannya. Kemudian dia berkata,
"Aku baik, bahkan sangat baik. Aku sekarang sedang hamil dan usia kehamilanku sudah delapan minggu," ucap Mirna dengan sombongnya.
"Alhamdulillah... selamat ya Mbak," ucap Rhea dengan senyumnya yang merekah.
Mendengar ucapan selamat dari Rhea dan melihat wajahnya yang tersenyum dengan tulus membuat Mirna semakin kesal.
Bukan seperti itu yang dia mau. Dia menginginkan Rhea sedih dan iri padanya. Sedih karena anaknya yang hilang tidak ditemukan dan iri karena setelah hilangnya anaknya itu Rhea dan Ustadz Fariz belum dikarunia anak lagi.
Sungguh Mirna tidak mengerti apa yang terjadi. Sebenarnya yang menolak untuk memiliki anak kembali adalah Ustadz Fariz, dia memang ingin sekali memiliki banyak anak, namun dia memikirkan kondisi Rhea yang pastinya akan bersedih jika dia hamil kembali. Dia takut jika Rhea akan teringat kembali pada Yasmin.
Oleh sebab itulah Ustadz Fariz mengesampingkan egonya untuk memiliki anak kembali. Baginya kesehatan dan kebahagiaan istri serta keluarganya lah yang harus dia utamakan.
Dan sekarang, tanpa diketahui oleh Mirna, Yasmin anak Ustadz Fariz dan Rhea sudah berada dekat dengan mereka. Dan mereka hanya menunggu bukti yang akan mereka kumpulkan agar Yasmin bisa menerima fakta bahwa dia memang anak kandung dari Ustadz Fariz dan Rhea.
"Terima kasih. Aku sangat bahagia sekali karena di usiaku saat ini aku diberi kepercayaan oleh Allah untuk memiliki anak. Oh iya, bagaimana denganmu? Apa kamu tidak hamil lagi?"
Perkataan Mirna kali ini sangat membuat Ustadz Fariz menjadi kesal, namun Rhea menghadapinya dengan senyuman.
"Pasti kami akan menemukan Yasmin Mbak. Sebentar lagi pasti kami akan memeluknya kembali," jawab Rhea dengan senyum manisnya.
Aneh, ditanya kehamilan malah jawab tentang anaknya yang hilang. Bilang aja gak bisa hamil lagi, batin Mirna sambil tersenyum ketika mengatakan dalam hatinya.
Hana melihat gadis asing yang sangat cantik berdiri di antara Izam dan Salsa. Dia menatap iri padanya karena bisa berbicara, bercanda dan tertawa bersama dengan Izam.
Sedangkan Yasmin yang ditatap oleh Hana hanya memberikan senyuman manisnya pada Hana.
Siapa gadis cantik itu? Kenapa dia dekat sekali dengan Izam? Hana bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1