Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 192 Aku ingin....


__ADS_3

"Tukar pasangan?"


Mirna bergumam ketika mengingat apa yang dikatakan oleh Ustadz Jaki ketika akan pergi setelah menghadiri acara tasyakuran pernikahannya bersama Pandu tadi.


Kenapa bertukar pasangan? Bukannya hanya aku yang pernah bersama Mas Fariz?


Mirna menerawang jauh. Dia mengingat-ingat semua kejadian dan merangkainya seperti teka-teki puzzle.


Apa jangan-jangan... Ah gak mungkin, bisa saja mereka bertemu ketika baru saja datang ke sini.


Mirna mengingat pada saat Pandu menyebut nama Rhea pada saat bertemu dengannya tadi.


Apa mungkin?


Tanyanya dalam hati. Mirna merasa kesal jika semua berhubungan dengan Rhea. Dia merasa bahwa Rhea adalah sumber kesengsaraannya.


"Mir, tolong buatkan aku teh hangat ya," ucap Pandu ketika baru masuk kamar mereka.


Malam ini Mirna sudah mulai menempati rumah yang ditinggali Pandu yang terletak di belakang rumah Pak Ratmo.


Hana dan baby Emir untuk malam ini tidur bersama Anita. Memang Anita dan Pak Ratmo memberikan kesempatan bagi Mirna dan Pandu untuk saling mengenal di hari pertama mereka menjadi suami istri.


Khususnya malam pertama mereka yang mungkin saja bisa membuat mereka bukan hanya saling kenal melainkan lebih dari itu, mereka bisa lebih intim layaknya sepasang suami istri.


"Ada apa Mir? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Pandu pada Mirna dengan melihat tubuhnya sendiri dari atas hingga bawah.


Ternyata dia boleh juga. Orang desa tapi wajah dan badannya oke juga. Gak kalah dengan orang kota.


Mirna berkata dalam hatinya ketika terpaku melihat Pandu yang baru saja mandi dan hanya memakai boxer tanpa atasan.


"Mir... Mirna!"


Pandu berseru untuk menyadarkan Mirna yang masih saja tertegun di hadapannya.


"Eh, i-iya, ada apa?" tanya Mirna yang gagap merasa seperti ketahuan sedang mencuri pandang pada suaminya.


"Tolong buatkan aku teh hangat ya. Badanku agak kurang fit soalnya," ucap Pandu sambil memijat-mijat pundaknya sendiri dengan tangannya.


"Tehnya ada di mana?" tanya Mirna sambil beranjak dari duduknya.


"Sepertinya ada di kantong plastik itu. Maaf belum sempat aku rapikan kemarin setelah berbelanja," jawab Pandu sambil menunjuk kantong plastik yang ada di meja yang berada di pojok kamar mereka.


Mirna pun mengambil kantong plastik yang di tunjukkan oleh Pandu. Sedangkan Pandu sibuk mencari kaosnya di dalam lemari.


"Ini ditaruh di mana?" tanya Mirna sambil menunjukkan balsem yang dia ambil dari dalam kantong plastik tersebut.

__ADS_1


Pandu menoleh sekilas lalu berkata,


"Taruh di laci meja itu saja."


Kemudian dia meneruskan kembali kegiatannya menata lemarinya agar muat ditempati oleh baju-baju Mirna.


Ini apa ya? Kok kayak ramuan obat-obatan. Apa ini obat herbal? Apa dia sakit?


Mirna berkata dalam hatinya sambil membolak-balik bungkusan plastik yang ada di dalam laci meja tersebut.


Bungkusan plastik itu berisikan daun-daunan dan rempah layaknya ramuan obat herbal pada umumnya.


"Kamu suka minum obat herbal?" tanya Mirna pada Pandu tanpa menoleh.


Mirna masih menata barang-barang yang ada dalam kantong plastik yang dia pegang sekarang. Sedangkan Pandu masih sibuk menata baju-bajunya di lemari.


"Dulu ketika masih tinggal di daerah hutan, setiap hari aku meminum ramuan herbal," jawab Pandu tanpa menoleh pada Mirna.


Mungkin ini yang dibuat jadi minuman herbal itu. Benar juga sih, ramuan herbal lebih sehat, Mirna menanggapi ucapan Pandu dalam hatinya.


Akan ku buatkan ini saja untuknya, kan dia lagi mengeluh gak enak badan. Biasanya kalau minuman herbal kan lebih berkhasiat daripada teh biasa kayak gini. Daripada nanti aku disuruh pijitin kan lebih baik dikasih minum ini aja. Aku juga capek, ogah banget kalau harus disuruh pijitin dia.


Mirna berkata dalam hatinya ketika sudah selesai menata semua barang yang ada dalam kantong plastik tadi.


Dia menimbang-nimbang antara teh celup biasa yang dijual di pasaran berada di tangan kirinya dan plastik yang berisi ramuan herbal di tangan kanannya.


Mirna pun berjalan keluar kamar menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat sesuai dengan permintaan Pandu tanpa berpamitan dulu padanya.


Pandu menghentikan kegiatannya dan dia melihat punggung Mirna yang berjalan keluar kamar. Setelah itu dia menghela nafas dan mengusap dadanya.


Semoga dia tidak marah. Tapi bagaimana kehidupan pernikahan kami ya setelah malam ini? Semoga saja sama seperti pernikahanku dengan Ani dulu, meskipun aku gak cinta sama dia, tapi pernikahan kami berjalan dengan baik. Ahh... aku rindu dengan pernikahanku bersama Rhea dulu. Kami dulu sangat bahagia.


Pandu berkata dalam hatinya sambil menerawang jauh mengingat kehidupan pernikahannya dengan Rhea dan pernikahannya dengan Ani.


Di dalam dapur, Mirna sedang sibuk membuatkan minuman untuk Pandu sambil menata dapur yang sedikit berantakan dan masih belum banyak mempunyai perabotan serta bahan makanan.


Ramuan herbal tersebut dimasak oleh Mirna dengan harapan Pandu akan lebih baik setelah meminum minuman herbal yang dia buat sekarang.


Warna minuman itu sama dengan teh pada umumnya. Hanya saja rasanya berbeda jauh, karena minuman herbal tersebut terbuat dari beberapa rempah dan daun-daunan yang diambil dari hutan tempat tinggal Pandu bersama Pak Minto dulu.


"Ini Mas minumannya," ucap Mirna sambil meletakkan minuman tersebut di atas meja yang berada di dalam kamar mereka.


Pandu mendekat ke arah meja tersebut untuk mengambil gelas minuman yang baru saja dibuat oleh Mirna untuknya.


"Masih panas," ucap Mirna ketika melihat Pandu sedikit berjingkat ketika memegang gelas tersebut.

__ADS_1


Pandu memandang Mirna dan memberikan senyumnya ketika mendengar Mirna memperingatkannya bahwa gelas tersebut masih panas.


"Mir, lemarinya sudah aku bersihkan. Sekarang baju kamu bisa dipindahkan di sana," ucap Pandu kemudian.


"Besok aja Mas. Sekarang aku capek banget. Aku mau istirahat aja," jawab Mirna.


"Mas, aku mau tanya?" ucap Mirna setelah dia duduk di atas ranjang.


"Tanya apa?" dahi Pandu berkerut menanggapi ucapan Mirna.


"Apa kamu kenal dengan Rhea? Kenapa Ustadz Jaki tadi mengatakan jika kita bertukar pasangan?" ucap Mirna.


"Besok saja kita bahas masalah ini," tukas Pandu untuk mengakhiri pembicaraan mereka.


Dan Mirna pun menurut, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mencari tahu lebih lanjut karena Pandu sudah berjanji akan membicarakannya besok dan dia sudah sangat lelah hari ini.


Keinginan Mirna saat ini hanya lebih cepat beristirahat dengan harapan besok ketika dia bangun badannya akan segar kembali.


Pandu meminum minuman yang masih panas itu dengan meniupinya dan meminumnya perlahan. Butuh waktu beberapa menit untuk menghabiskannya karena minuman tersebut masih panas.


Kok rasanya gak asing ya? Rasanya hampir sama dengan obat yang biasa diberikan oleh Pak Minto. Gak mungkin kan jika Mirna membuatkan aku obat itu? Bukannya tadi Mirna membuatkan aku teh?


Mirna sudah tidur di ranjang dengan menghadap ke arah lain. Dia memunggungi Pandu yang juga duduk di ranjang.


Gerah sekali sih. Aku kan biasanya gak pernah pakai hijab pada saat tidur. Tapi masa' aku gak berhijab di depan dia? Eh bukannya dia sudah jadi suamiku ya? Berarti gak masalah dong aku lepas hijabku. Masa bodoh ah, lepas aja, daripada gak bisa tidur.


Mirna berkata dalam hatinya. Kemudian sesuai dengan keputusannya tadi, dia membuka hijabnya dan memperlihatkan rambut hitam panjangnya di hadapan Pandu.


Pandu terbelalak kaget karena dia tidak menyangka jika Mirna akan membuka hijabnya di depan matanya.


Mirna berpura-pura tidak tahu jika Pandu sedang menatapnya sambil meminum minuman buatannya tadi.


Semakin lama tubuh Pandu semakin terasa panas. Dia merasakan seperti sedang merasakan efek dari obat yang dibuat oleh Pak Minto untuknya.


Memang benar, Pandu masih memiliki stok obat yang diracik oleh Pak Minto untuknya karena sebelum Pak Minto meninggal, dia mengajak Pandu untuk mencari bahan obat Pandu di hutan. Dan dia mempunyai stok obat yang cukup untuknya setelah Pak Minto meninggal.


Obat-obatan tersebut dibawakan oleh Ani semua karena mereka akan meninggalkan rumah itu menuju tempat yang baru. Dan kini, obat itu dibuatkan oleh Mirna untuknya.


Obat itu mulai bereaksi. Sama seperti yang dulu-dulu, Pandu merasa harus melakukan hal seperti sebelum-sebelumnya agar efek dari obat tersebut tidak menyiksanya.


"Mir... Mirna... Mir...," Pandu memanggil-manggil Mirna dengan menggoyang-goyangkan lengan Mirna.


"Emmm... apa sih Mas?" ucap Mirna dengan malas karena dia sudah sangat mengantuk.


"Aku... aku..."

__ADS_1


"Aku apa sih Mas?" tanya Mirna yang kini sudah dalam keadaan duduk di atas ranjang sambil mengusap-usap matanya agar bisa terbuka lebar.


"Aku ingin....."


__ADS_2