
"Kalau Mbak pengen, beli sendiri aja sih, kenapa pakai ribut-ribut?" seru Ustad Jaki.
"Sudahlah Mirna, kamu gak usah ribut. Zahra tidak pernah meminta uang padaku untuk membeli barang apapun. Dia hanya aku beri uang untuk belanja keperluan sehari-hari saja," ucap Ustad Fariz sambil memijat pelipisnya.
"Itu dia dapat duit dari mana?" tuduh Mirna dengan ngeyelnya.
"Pakai duitnya sendirilah, emang Mbak gak bisa hasilkan duit?" sahut Ustad Jaki kesal.
"Sudah... sudah, kita makan aja dulu, gak baik ribut di depan makanan," ucap Umi Sarifah menengahi.
"Maaf Mbak Mirna, ini bukan pakai uangnya Ustad Fariz, saya berani bersumpah Mbak," ucap Rhea sungguh-sungguh.
"Udah, ayo kita makan," ucap Ustad Fariz yang sudah pusing mendengar rengekan Mirna.
Rhea mengambil nasi dan lauk pada piringnya, dia sengaja tidak mengambil piring suaminya karena takut jika nanti Mirna tersinggung karena dialah istri pertamanya.
Namun setelah Rhea mengambil nasi dan lauk yang ada di piringnya, piring suaminya masih tetap kosong dan Mirna sudah menyantap makanannya.
Rhea memberikan piringnya yang berisikan makanan pada suaminya.
"Bie, ini makanannya," ucap Rhea seraya menukar piring kosong suaminya dengan piringnya.
"Makasih sayang," ucap Ustad Fariz keceplosan memanggil sayang pada Rhea di depan Mirna.
Mirna melirik tajam pada suami dan madunya yang sedang tersenyum setelah saling menukar piring.
"Oow jadi minta diambilkan makanannya? Ngomong dong Mas, aku kan juga bisa ngambilin," ucap Mirna sewot.
"Jadi istri harus sadar tanpa harus diperintah," sindir Ustad Jaki pada Mirna.
"Untung gak jadi istrimu. Kasian yang jadi istrimu nanti," ucap Mirna.
"Dih, siapa yang mau punya istri kayak situ. Amit-amit," ucap Ustad Jaki sambil bergidik ngeri.
"Kamu-" Mirna menuding Ustad Jaki dengan telunjuknya dan mata melototnya, namun ucapannya belum selesai karena disela oleh Umi Sarifah.
"Udah kalian tenang, kita sedang makan," seru Umi Sarifah.
Rhea menjadi tidak enak karena dirinya merasa yang menjadi sumber kekacauan di meja makan ini. Rhea dengan segera menghabiskan makanannya dengan cepat. Makanan ditelannya meskipun masih belum lembut dikunyah karena dia ingin cepat pulang ke rumah untuk menghindari masalah yang mungkin akan ada lagi yang diributkan oleh Mirna.
Setelah Rhea selesai menghabiskan makanannya, dia segera mengambil minuman untuk dirinya dan mengambilkan minuman untuk suaminya. Setelah itu dia membawa piring kotor dan gelas kotornya ke dapur untuk di cuci. Kemudian dia kembali ke meja makan untuk berpamitan.
"Umi, maaf Rhea tinggal dulu," ucap Rhea sambil mencium tangan Umi Sarifah.
Kemudian dengan cepat dia berpindah ke tempat duduk suaminya.
"Bie, aku tinggal dulu ya," Rhea mengambil tangan suaminya dan mencium tangannya.
"Nduk, kemana?" tanya Umi Sarifah ketika Rhea mengambil kotak paket miliknya tadi.
"Ada yang harus dikerjakan Umi," jawab Rhea dengan lembut dan senyuman manisnya.
__ADS_1
Ustad Fariz hanya memandang Rhea dan dia tahu apa yang membuat Rhea bersikap seperti itu. Lagi-lagi Rhea yang harus mengalah, Ustad Fariz tahu itu.
"Assalamu'alaikum...," salam yang dilontarkan oleh Rhea di jawab bersamaan oleh semuanya.
"Wa'alaikumussalam...."
Hanya Mirna yang menjawabnya dengan sewot dan mengunyah makanannya. Ustad Fariz memandang Mirna dengan kecewa, dan disaat dia menoleh, Umi Sarifah tersenyum getir padanya, sedangkan Ustad Jaki menggelengkan kepalanya.
Inilah yang Ustad Fariz takutkan waktu itu, dia bimbang sewaktu akan menikahi Rhea karena takut jika Rhea terluka karena sikap Mirna. Dan benar semuanya sudah mulai terjadi. Ustad Fariz hanya menghela nafasnya dengan berat.
Namun dia harus kuat dan bisa melindungi Rhea, karena dia sudah berjanji dan jalan inilah yang dia pilih untuk menuju kebahagiaannya, maka dengan cara apapun dia harus membahagiakan Rhea yang sudah mau menikah dengannya untuk menjadi istri keduanya.
Setelah makan, Ustad Fariz dan Ustad Jaki ijin pada Umi Sarifah untuk kembali ke Pondok Pesantren.
"Mau kemana Mas?" tanya Mirna menghalangi jalan suaminya.
"Astaghfirullahaladzim... kamu apa-apaan sih Mir?" Ustad Fariz dan Ustad Jaki kaget ketika mereka sedang berbicara malah dihadang oleh Mirna.
"Cuma tanya mau kemana," ucap Mirna.
"Yuk buruan, udah jamnya," ajak Ustad Jaki pada Ustad Fariz dengan menggeret tangannya.
Mirna sangat kesal, padahal rencananya dia ingin mengikuti suaminya seharian. Sekarang jika dia mengikutinya, pasti suaminya akan marah padanya.
Nanti ajalah tiba-tiba datang ke ruangannya , batin Mirna.
Sore harinya semua Ustad dan Ustadzah berkumpul ruang pertemuan, mereka sedang mengadakan rapat lanjutan untuk kegiatan di bulan ramadhan. Rapat itu sempat terjeda oleh waktu shalat maghrib dan isya, sehingga rapatnya hingga malam baru selesai.
Setelah shalat meletakkan mukenanya, Rhea segera menuju ke ruangan kantor suaminya. Namun dia tidak mendapati suaminya di dalam kantor. Kemudian Rhea menghubungi suaminya, dan ternyata rapat mereka belum selesai. Rhea diperintahkan suaminya untuk menunggunya di dalam ruangannya.
Banyak buku yang tertata rapi pada rak di ruangan tersebut. Rhea memilih satu buku yang membuatnya tertarik.
Dibacanya buku itu sambil duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Hingga tak terasa matanya terpejam karena terlalu lama menunggu suaminya.
Ustad Fariz langsung masuk ke ruangannya karena lampu ruangannya menyala, jadi dia berpikiran jika Rhea masih ada di ruangannya.
"Assalamu'alaikum....," ucapnya sambil membuka pintu.
Matanya langsung tertuju pada seorang wanita cantik sang pemilik hatinya sedang tertidur di sofa.
"Sayang, sayang... bangun yuk," Ustad Fariz mengusap-usap pipi Rhea untuk membangunkannya, namun Rhea hanya sedikit bergerak untuk memindahkan letak kepalanya.
"Bismillahirrahmanirrahim....," ucap Ustad Fariz dengan mengangkat tubuh Rhea, dia berniat untuk membawa Rhea pulang dengan menggendongnya.
Tidur Rhea sangat pulas, hingga dia tidak mengetahui jika dirinya sedang berada di dalam gendongan suaminya.
"Lho Mas... Mas... mau kemana?" kejar Mirna yang baru saja akan datang ke ruangan suaminya.
"Mau pulang. Udah kamu langsung pulang aja, udah malam," jawab Ustad Fariz yang sedang berjalan dengan menggendong Rhea ala bridal style.
"Lah itu ngapain pakai gendong-gendongan segala," ketus Mirna.
__ADS_1
"Rhea lagi tidur Mirna," jawab Ustad Fariz.
"Halah pasti cuma pura-pura aja biar digendong. Lagian dulu aku ketiduran di sana gak digendong pulangnya, malah disuruh jalan sendiri," sewot Mirna.
"Kamu kan bisa bangun waktu itu. Udah kamu langsung pulang ya, udah malam, gak boleh kemana-mana," perintah Ustad Fariz sambil berlalu pulang menuju rumah yang ditinggalinya bersama Rhea.
"Emmm...," gumam Rhea sambil meregangkan tangannya, namun dia merasa aneh karena tidak senyaman biasanya.
Rhea kaget ketika membuka mata dan mendapati wajah suaminya ada di depan wajahnya.
"Bie..," kata pertama yang keluar dari mulut Rhea sesudah membuka matanya.
Ustad Fariz tersenyum dan masih melanjutkan jalannya.
"Loh... loh Bie kok digendong? Turunin Bie, badan aku berat," ucap Rhea gugup.
"Nanggung kurang bentar lagi," jawab Ustad Fariz.
"Malu Bie...," Rhea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Ustad Fariz terkekeh melihat sikap istrinya yang sedang malu.
"Buka pintunya sayang," perintah Ustad Fariz pada Rhea.
Masih dalam gendongan suaminya, Rhea merogoh saku gamisnya untuk mengambil kunci rumahnya.
"Turunin Bie, gak bisa ambil ini kuncinya," rengek Rhea.
"Alasan ya," goda Ustad Fariz pada Rhea.
"Enggak iiih... buat apa coba," bibir Rhea mengerucut, membuat suaminya beristighfar dalam hati.
Ustad Fariz menurunkan istrinya tepat di depan pintu rumah, dan Rhea pun segera membuka pintu itu dengan kuncinya.
Namun Ustad Fariz jika bertemu dengan Rhea pasti kejahilannya timbul, dia melingkarkan tangannya di pinggang Rhea dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher Rhea pada saat Rhea sedang mengaitkan kunci pada pintu.
"Sayang... aku rindu sekali sama kamu, rasanya tiga hari ini aku tidak bisa tidur jika tidak bersama kamu," ucapnya dengan memejamkan matanya untuk menghirup aroma khas istrinya.
"Bohong ih," jawab Rhea sambil mengusap rambut suaminya.
"Yuk masuk," ucap Rhea kemudian setelah pintunya sudah terbuka.
Ternyata Mirna belum pulang, dia mengikuti Ustad Fariz dan Rhea sampai rumahnya. Dia sangat kesal melihat kemesraan suami istri itu.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam rumah, Mirna menendang batu yang ada di depannya, entah ke arah mana batu itu terlempar, hingga ada suara yang menyahut setelah batu itu mendarat.
meow... meow...
Ternyata suara kucing bersahut-sahutan dengan lantangnya karena dua kucing tersebut yang sedang mojok lagi indehoy di lempar batu oleh Mirna, jadilah mereka marah berteriak-teriak, mungkin jika kucing-kucing itu bisa bahasa manusia mereka akan mengumpat Mirna dan meneriakinya.
Mirna segera bersembunyi ketika mengetahui Ustad Fariz menyibak jendela karena suara kucing-kucing tadi.
__ADS_1
Selamet... selamet gak ketahuan , ucap Mirna dalam hati sambil mengusap dadanya dan bersembunyi dibalik dedaunan dengan berjongkok.