
Kini Yasmin duduk di hadapan keluarga besar tersebut. Dia merasa gugup layaknya orang yang sedang di sidang karena membuat kesalahan.
Namun entah kenapa tidak ada rasa takut dalam dirinya berada dalam lingkungan keluarga tersebut. Dia hanya gugup karena semua perhatian mereka yang ada di ruang itu mengarah padanya.
"Zahra, tolong ceritakan tentang semua kehidupanmu," ucap Rhea dengan antusias.
Diambilnya nafasnya dalam-dalam, kemudian dia menceritakan kisah hidupnya, mulai dari kecil dia dititipkan pada Maria, ibu susunya dan tentang kedua orang tuanya, yaitu Pak Anto dan Bu Yati yang bekerja keras untuk membayar hutang-hutang mereka pada Bos Leo, serta kejadian terakhir yang membawanya bisa bertemu dengan Ustadz Fariz dan Rhea pada malam itu.
Yasmin menceritakan dengan mata yang berkaca-kaca, dia baru menyadari jika kehidupannya sungguh tragis. Semua orang yang berada di sana menatap iba padanya. Mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Yasmin.
"Jadi kamu sudah tidak bersekolah?" tanya Rhea pada Yasmin.
Yasmin mengangguk dan tersenyum pada Rhea agar mereka tidak mengasihaninya.
"Apa kamu mau bersekolah?" tanya Ustadz Fariz pada Yasmin.
Yasmin kini mengalihkan perhatiannya pada Ustadz Fariz. Dia memandang Ustadz Fariz seolah ingin menjawab pertanyaannya, namun dia hanya bisa diam.
Ustadz Fariz mengerti arti diam gadis tersebut. Entah mengapa, dia sangat mudah mengetahui isi hati gadis itu.
"Jika kamu masih ingin melanjutkan sekolah, kamu bisa tinggal di sini dan melanjutkan sekolahmu serta belajar lebih dalam tentang agama di sini. Apa kamu bersedia?" tanya Ustadz Fariz kembali.
Tanpa berpikir panjang, Yasmin mengangguk dengan cepat dan terlihat binar bahagia dari kedua matanya.
"Yeee... Salsa punya teman sekarang," seru Salsa sambil bertepuk tangan.
Semua orang tertawa melihat tingkah Salsa yang selalu bisa membuat suasana menjadi ceria.
"Zahra, apa bisa Bunda melihat kembali kalung milikmu?" tanya Rhea pada Yasmin.
"Boleh Bunda," jawab Yasmin seraya melepas kalung tersebut dari lehernya.
Diletakkannya kalung yang bertuliskan Zahra itu di atas meja. Ustadz Fariz, Rhea, Ustadz Jaki dan Shinta pun melihat kalung tersebut dengan teliti. Dan mereka sangat heran karena kalung tersebut benar-benar sama dengan kalung hang dipakai oleh baby Yasmin pada saat itu.
__ADS_1
"Maaf Zahra, apa Bunda boleh melihat tanda lahir kamu?" Rhea kembali melayangkan permintaannya.
Yasmin mengernyitkan dahinya, dia bingung dengan permintaan Rhea, namun dia tidak berpikir panjang, dia menyetujui permintaan Rhea saat itu juga.
"Tentu saja boleh Bunda," jawab Yasmin seraya tangannya hendak melepas hijabnya namun Rhea melarangnya.
"Stop, jangan dibuka!" seru Rhea menghentikan gerakan tangan Yasmin yang hendak melepaskan hijabnya.
Tentu saja Yasmin kaget dan menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka hijabnya.
"Biar Bunda saja yang melihatnya," ucap Rhea kemudian.
Yasmin pun menurut, dia membenarkan kembali hijabnya.
Rhea melihat tanda lahir Yasmin dan mengambil gambarnya. Kemudian dia memanggil Shinta.
"Shin, sini, lihatlah!"
Shinta pun mendekat dan ikut melihat tanda lahir milik gadis yang dipanggil Zahra itu. Shinta mengangguk pada Rhea membenarkan jika apa yang dilihatnya sama seperti apa yang dipikirkan oleh Rhea.
Yasmin melihat tatapan penuh kasih itu dari Rhea, dan dia merasakannya sehingga sangat nyaman berada di antara mereka semua.
"Terima kasih Bunda," ucap Yasmin dengan memberikan senyum manisnya pada Rhea.
"Terima kasih semuanya," ucap Yasmin kembali dengan melihat satu persatu mereka semuanya yang ada di sana.
"Salsa, bisa kamu ajak Zahra melihat-lihat wilayah Pondok Pesantren?" tanya Ustadz Fariz pada Salsa.
"Bisa dong Abi Fariz," jawab Salsa dengan senyum lebarnya.
"Yuk, aku ajak berkeliling melihat-lihat Pondok Pesantren Al-Mukmin," ucap Salsa sambil menggandeng tangan Yasmin.
Yasmin pun menurut, dia mengikuti Salsa untuk melihat-lihat daerah Pondok Pesantren Al-Mukmin.
__ADS_1
Banyak pasang mata yang melihat ke arah Yasmin dan Salsa. Mereka berdua gadis yang berwajah cantik menjadi pusat perhatian diantara para santri yang sedang melakukan kerja bakti di wilayah sekitar Pondok Pesantren.
Banyak yang mempertanyakan siapa gadis yang bersama dengan Salsa, namun mereka tidak berani bertanya. Kecantikan Yasmin yang tidak pernah mereka temui sebelumnya membuat mereka seketika tahu jika Yasmin adalah orang baru di wilayah itu.
Rhea menunjukkan pada suaminya gambar tanda lahir yang dia ambil dari Yasmin tadi. Dia sangat yakin jika gadis tersebut benar-benar Yasmin anak mereka.
"Sepertinya kita harus mengadakan tes DNA saja agar akurat," usul Shinta pada mereka semua.
"Sebaiknya kita selidiki dulu agar kita tau persis siapa Zahra itu sebenarnya," ucap Ustadz Fariz.
Bukan Ustadz Fariz tidak mau melakukan tes DNA, dia hanya tidak mau istrinya kembali kecewa jika hasil dari tes DNA tersebut menyatakan bahwa Zahra yang sekarang ada di rumahnya itu bukan anak mereka.
"Baiklah, sebaiknya kita mencari tau ke wilayah tempat tinggalnya saja," tukas Ustadz Jaki.
"Bi, Zahra bilang jika dia memiliki ibu susu. Kenapa kita tidak bertanya saja padanya. Pasti dia lebih tau banyak tentang Zahra dibandingkan dengan Zahra sendiri," ucap Rhea sangat antusias.
"Benar juga. Nanti Bunda tanyakan saja pelan-pelan padanya agar dia tidak curiga," tukas Ustadz Fariz sambil memegang tangan istrinya yang berada di dekatnya.
Sementara itu di rumah Mirna, dia sedang merasa mual dan muntah berkali-kali sejak pagi buta sehingga dia tidak bisa pergi ke warungnya untuk berjualan.
"Kamu kenapa Mir?" tanya Pandu pada Mirna yang sedang memijat kedua pelipisnya.
"Kepalaku sangat pusing Mas. Badanku lemas, dari tadi pagi mual dan muntah-muntah terus," jawab Mirna lirih dan lesu seolah tak bertenaga.
"Kamu sakit? Kenapa kamu tidak periksa ke dokter saja? Mungkin kamu terlalu kelelahan," ucap Pandu sambil duduk meminum kopi yang sudah dibuatkan oleh Mirna.
Dengan sisa tenaganya yang masih lemas itu Mirna menjawab pertanyaan Pandu dengan nada kesal.
"Ya masa' aku berangkat sendiri Mas? Harusnya kan Mas Pandu yang mengantar aku untuk periksa ke dokter."
Mendengar jawaban dari Mirna, Pandu menghela nafasnya. Dia tahu jika menghadapi Mirna harus ekstra sabar, jika tidak maka akan terjadi peperangan dalam rumah mereka.
Emir, anak Pandu kini menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Mukmin. Sebelum Pak Ratmo meninggal, beliau meminta pada Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki agar memperbolehkan Emir menjadi santri di sana dan Hana membantu ustadzah mengajar di sana.
__ADS_1
Permintaan Pak Ratmo itu dikarenakan beliau tidak mau Emir dan Hana berada jauh dari orang tuanya. Pak Ratmo menginginkan Hana dan Emir berada di dekat Pandu dan Mirna. Dan Anita pun sudah menikah dengan Ustadz Fadli.
"Ya sudah, nanti aku akan mengantarmu periksa ke dokter," ucap Pandu, setelah itu dia pergi meninggalkan Mirna untuk bekerja sebagai tukang ojek.