
Di dalam mobil, Rhea melihat suaminya sepertinya sedang banyak pikiran. Rhea jadi merasa bersalah karena membebani suaminya dengan keadaannya. Entah karena Rhea sensitif atau karena memang dia peka, dia merasa sangat bersalah pada suaminya.
""Bie, apa Mbak Mirna akan baik-baik aja?" Rhea bertanya untuk mengalihkan pikiran suaminya.
"Dia pasti akan baik-baik aja. Tanya aja sama Shinta kalau gak percaya," Ustadz Fariz mengerti kecemasan Rhea, oleh sebab itu dia menyuruh Rhea bertanya pada Shinta agar dia tidak lagi mencemaskan Mirna.
"Bu Mirna akan baik-baik saja. Itu sudah wajar dirasakan oleh penderita mioma. Jadi kamu gak usah khawatir, cukup khawatirkan bayi yang ada di kandunganmu saja. Pikirkan saja agar dia sehat dan bisa lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun," Shinta menyahuti percakapan Ustadz Fariz dan Rhea, karena dia tahu jika Rhea selalu merasa bersalah jika dengan Mirna.
"Kalau kondisi Mbak Mirna berbahaya, pasti Shinta gak ikut kita pulang, pasti dia akan berada di sana karena awalnya Mbak Mirna kan pasiennya. Bener gak Sayang?" Ustadz Jaki meminta dukungan dari istrinya.
"Tumben suamiku pinter?" Shinta mencoba menggoda Ustadz Jaki.
"Ahay suami...," seru Ustadz Jaki kesenangan.
Shinta menutup matanya dengan kedua telapak tangannya karena malu pada tingkah suaminya.
"Tuh Rhea, denger gak kamu aku dipanggil suami sama Shinta?" ucap Ustadz Jaki pada Rhea bermaksud pamer padanya.
"Lah kan bener Ustadz Jaki suaminya Shinta. Masa' dipanggil Nak?" jawab Rhea yang di sambut tawa oleh Ustadz Fariz dan Shinta.
"Ck, kamu tuh gak tau orang lagi seneng apa?" Ustadz Jaki kembali menggerutu sambil memegang setir mobilnya dan berkonsentrasi pada jalan.
"Baru dipanggil gitu aja seneng," Rhea meledek Ustadz Jaki bermaksud untuk menjahilinya.
"Dari pada dipanggil Jaki, kan gak keliatan sayang-sayangnya, biar gak kalian aja yang bisa sayang-sayangan, romantis-romantisan," ucap Ustadz Jaki sambil melirik Shinta.
Seketika Shinta menoleh dan menatap Ustadz Jaki dengan tatapan tajam, dan hal itu membuat Ustadz Jaki tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya agar istrinya tidak marah padanya.
Rhea tertawa melihat tingkah konyol pasangan suami istri di depannya, namun setelah dia menoleh ke samping, Ustadz Fariz hanya tersenyum padanya, tapi senyum itu menurut Rhea bukan senyum Ustadz Fariz seperti biasanya, menurut Rhea Ustadz Fariz sekarang ini tersenyum getir padanya.
Kamu kenapa Bie? Sepertinya kamu sedang banyak pikiran. Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan tentang Ustadzah Indri? Atau mungkin kamu memikirkan tentang Mbak Mirna? Ya Allah... kenapa semua cobaanmu datang ketika kami sedang berbahagia menunggu kelahiran anak kami? Rhea menatap suaminya tanpa berkedip sambil membatin.
"Kenapa?" tanya Ustadz Fariz pada Rhea.
Rhea terhenyak dari pemikirannya dan menggelengkan kepalanya disertai senyuman manisnya agar suaminya tidak khawatir padanya.
Sesampainya di rumah, Rhea segera digendong Ustadz Fariz masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sedangkan Shinta dan Ustadz Jaki menemani Umi Sarifah di ruang tengah untuk menunggu Ustadz Fariz yang akan membahas masalah Ustadzah Indri.
Rhea segera memejamkan matanya dan tidur ketika Ustadz Fariz menemaninya untuk tidur, dan setelah dirasa Rhea sudah tertidur pulas, Ustadz Fariz segera ke ruang tengah menemui Umi Sarifah untuk membahas masalah Ustadzah Indri. Dan Shinta segera masuk ke dalam kamarnya karena mereka sedang membicarakan masalah Pondok Pesantren, jadi dia sungkan jika berada di sana bersama dengan mereka.
"Apa Rhea sudah tidur?" Umi Sarifah bertanya pada Ustadz Fariz.
"Sudah Umi," jawab Ustadz Fariz sambil duduk di kursi yang berada di depan Umi Sarifah.
__ADS_1
"Apa rencanamu selanjutnya Le? Umi pasti akan membantu sebisa mungkin.
"Fariz hanya ingin Ustadzah Indri berhenti menggangguku Umi, berhenti mendekatiku dan berhenti mengatakan bahwa dia ingin menjadi istriku. Demi Allah Fariz merasa terganggu Umi. Dan yang membuatku takut, Zahra akan kembali terguncang seperti tadi," ucap Ustadz Fariz dengan rasa khawatirnya.
"Lalu, kita harus bagaimana? Kita berhentikan Ustadzah Indri? Atau kita tegur dia dan memberinya peringatan?" Umi Sarifah bertanya pada Ustadz Fariz dan Ustadz Jaki dengan memandang mereka berdua bergantian.
"Menurut Umi bagaimana?" Ustadz Jaki bertanya balik pada Umi Sarifah.
Tampak Umi Sarifah sedang berpikir, kemudian dia seperti mengingat sesuatu.
"Oh iya, apa Ustadzah Rani sudah bisa mengajar lagi? Bukannya Ustadzah Indri menggantikan Ustadzah Rani untuk sementara waktu karena Ustadzah Rani melahirkan? Jika Ustadzah Rani sudah bisa mengajar lagi, maka Ustadzah Indri akan pergi dengan sendirinya bukan?" Umi Sarifah mengatakan pemikirannya.
"Bukannya Ustadzah Rani sendiri yang merekomendasikan Ustadzah Indri pada kita ya?" Ustadz Jaki menanyakan ingatannya pada Ustadz Fariz.
"Iya benar, kata Ustadzah Rani sih Ustadzah Indri ini masih saudara sepupunya, jadi kita percaya saja dengan pilihan Ustadzah Rani. Benar kan Ustadz?" Ustadz Fariz bertanya pada Ustadz Jaki untuk mencari dukungannya.
"Apa kita bicarakan ini dengan Ustadzah Rani aja ya, sekalian minta dia untuk segera kembali mengajar menggantikan Ustadzah Indri?" Ustadz Jaki menyampaikan idenya.
"Bagaimana Umi?" Ustadz Fariz bertanya pada Umi Sarifah.
"Ya sudah, kita bicarakan dengan Ustadzah Rani terlebih dahulu. Apa bisa Ustadzah Rani datang ke sini agar lebih enak bicaranya karena kan ada Ustadzah Indri juga di sini," Umi Sarifah menyetujui usulan dari Ustadz Jaki.
"Ok, kalau gitu Jaki hubungi Ustadzah Rani dulu untuk memastikan kapan dia bisa datang ke sini," Ustadz Jaki segera menghubungi Ustadzah Rani.
Setelah beberapa menit Ustadz Jaki berbicara melalui telepon dengan Ustadzah Rani, Ustadz Jaki pun menyampaikan apa yang Ustadzah Rani bicarakan dengannya.
"Huuffft... semoga cepat selesai ya Umi. Fariz hanya mencemaskan keadaan Zahra saja Umi," ucap Ustadz Fariz yang masih khawatir dengan keadaan istrinya.
"Amin... semoga tidak ada masalah lagi yang membuat istrimu jadi sedih lagi," Umi Sarifah menimpali ucapan Ustadz Fariz.
"Masih ada Umi. Tadi aja di rumah sakit kita bertemu dengan Mbak Mirna," ceplos Ustadz Jaki.
Seketika Ustadz Fariz melihat Ustadz Jaki ketika membicarakan tentang Mirna. Dengan menghela nafas beratnya Ustadz Fariz merutuki dalam hati dengan menatap Ustadz Jaki yang keceplosan memberitahu Umi Sarifah tentang Mirna. Ustadz Jaki yang merasa keceplosan hanya nyengir lebar dan mengatakan kata maaf tanpa suara pada Ustadz Fariz.
Sebenarnya Ustadz Fariz tidak mau Umi Sarifah ikut memikirkan tentang masalahnya, namun karena masalah Ustadzah Indri ada kaitannya dengan Pondok Pesantren Al-Mukmin, jadi dia tidak bisa mengambil keputusannya sendiri tanpa berdiskusi dengan Umi Sarifah.
"Ada masalah apa dengan Mirna? Apa penyakitnya waktu itu masih belum sembuh?" Umi Sarifah bertanya dengan raut wajah khawatir.
"Kata Shinta dia ndablek Umi, gak mau berobat, minum obatnya juga kalau pas lagi kumat aja. Ya akhirnya tadi dia harus di rawat di rumah sakit," Ustadz Jaki menjelaskan apa yang terjadi dengan Mirna pada Umi Sarifah.
"Astaghfirullahaladzim... Apa Umi harus menengok ke sana?" Umi Sarifah bertambah cemas.
"Hufffttt... lebih baik tunggu kabar selanjutnya saja Umi. Tapi Fariz gak akan ikut ke sana Umi," Ustadz Fariz menghela nafasnya dengan berat, dia tahu nantinya pasti akan seperti ini jika Umi Sarifah tahu tentang keadaan Mirna, karena Umi Sarifah dan Rhea sama-sama tidak tega dengan orang lain.
__ADS_1
"Ya sudah Umi, Fariz ke kamar dulu," Ustadz Fariz beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Jaki juga Umi," Ustadz Jaki ikut berdiri dan berjalan mengikuti Ustadz Fariz menuju kamar mereka.
"Eh Le, Jaki, apa kamu tidak kembali ke Pondok Pesantren?" Umi Sarifah menanyakan pada Ustadz Jaki.
"Besok aja Umi, ini masih momen pengantin baru," Ustadz Jaki menjawab disertai senyum lebar yang membuat wajahnya terlihat sangat lucu dan segera mengambil langkah seribu meninggalkan Umi Sarifah.
Umi Sarifah hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan anaknya yang kadang masih seperti anak kecil itu.
"Gara-gara kamu kan Umi jadi khawatir gitu," Ustadz Fariz menyalahkan Ustadz Jaki ketika beriringan menaiki tangga.
"Ya maaf, keceplosan sih," jawab Ustadz Jaki sambil mengeluarkan cengiran handalannya.
"Mangkanya itu mulut dikondisikan," ucap Ustadz Fariz kesal sambil menjapit bibir Ustadz Jaki dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Maklum belum dapat vitamin C tadi. Kalau udah dapat vitamin C pasti gak bakalan keceplosan," jawab Ustadz Jaki setelah melepaskan japitan tangan Ustadz Fariz dari mulutnya.
"Buruan beli di apotek biar gak keseleo lagi tuh mulut," Ustadz Fariz masih sangat kesal pada Ustadz Jaki.
"Beda dong, sekarang vitamin c ku ada di kamar," jawab Ustadz Jaki dengan bangganya.
"Di kamar?" Ustadz Fariz bingung dengan jawaban Ustadz Jaki.
Melihat Ustadz Fariz yang kebingungan, Ustadz Jaki membisikkan sesuatu di telinga Ustadz Fariz.
"Dasar Ustadz mesum!" ucap Ustadz Fariz sambil memukul lengan Ustadz Jaki.
"Kayak dirinya sendiri enggak aja," cibir Ustadz Jaki.
"Hehehe... nagihi sih," Ustadz Fariz tersenyum lebar mengatakannya sambil berjalan cepat menuju kamarnya.
"Eh mau kemana?" tanya Ustadz Jaki yang membuat Ustadz Fariz berhenti dan menoleh padanya.
"Praktek," jawab Ustadz Fariz singkat sambil masuk dan dengan cepat menutup pintu kamarnya.
"Ck, dasar Ustadz mesum," ucap Ustadz Jaki lirih sambil tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Di dalam kamar Shinta sedang membaca buku yang ditulis oleh Rhea sambil menikmati minuman dingin. Tadi dia sempat diberikan oleh Rhea buku-buku yang ditulisnya mulai dari awal dia menjadi penulis.
"Sayang....," Ustadz Jaki memanggil Shinta dengan suara yang sangat manja.
Shinta menoleh dan menampilkan wajah penuh tanya.
__ADS_1
"Bercocok tanam yuk, nanam ucet, siapa tau bisa jadi kecebong dengan cepat, ucetku kan aktif pasti dia bisa ngebut di sana," ucap Ustadz Jaki.
Reflek Shinta tersedak dan menyemburkan sebagian minumannya mendengar ucapan dari suaminya.