
Ustadz Jaki dengan riangnya menuruni tangga dengan membawa kunci mobil.
"Mau ke mana Le?" tanya Umi Sarifah yang sedang memangku Baby Izam di ruang tengah di temani oleh Rhea.
"Jemput istri Jaki tercinta Umi," jawab Ustadz Jaki dengan tersenyum lebar.
"Hah, jam segini? Ada masalah Ustadz?" tanya Rhea pada Ustadz Jaki yang merasa heran.
"Enggak lah, pengen cepat ngajakin pulang aja, biar gak capek. Kan gak boleh terlalu capek," ucap Ustadz Jaki yang berjalan kembali setelah berhenti karena pertanyaan dari Umi Sarifah.
"Tunggu Ustadz, emang boleh pulang lebih cepat? Kalau pasiennya masih banyak gimana?" tanya Rhea pada Ustadz Jaki.
Tiba-tiba Ustadz Fariz datang dari dalam rumah dan menyahut pembicaraan mereka.
"Udah biarin, dia emang lagi lebay. Dari tadi aja setiap setengah jam sekali hubungi Shinta, pesannya aja ngirimnya beberapa menit sekali. Aku yakin, pasti Shinta merasa seperti sedang di teror," tawa Ustadz Fariz pecah ketika mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Hah, beneran Ustadz?" Rhea bertanya dengan diiringi tawanya.
"Kan aku suami yang super duper perhatian, jadi aku harus selalu waspada," Ustadz Jaki menyombongkan dirinya.
"Kenapa gak ikut nungguin di sana aja Ustadz mulai dari berangkat sampai pulang? Kan lebih siaga, gak was-was kalau ditinggal," Rhea memberikan ide bermaksud untuk meledek Ustadz Jaki.
"Eh jangan dikasih masukan kayak gitu, yang ada bakalan dia lakuin," Ustadz Fariz berucap lirih ketika sudah duduk di sebelah Rhea.
"Apa boleh Umi?" Ustadz Jaki bertanya pada Umi Sarifah mengenai usulan dari Rhea.
"Tuh kan?!" Ustadz Fariz merasa senang karena tebakannya benar.
"Trus ngajar kamu gimana?" tanya Umi Sarifah yang terkekeh mendengar pertanyaan konyol dari Ustadz Jaki.
"Ya Jaki gak ngajar dulu Umi. Digantiin sama Ustadz Fariz aja," jawab Ustadz Jaki dengan entengnya.
"Enak aja. Enggak, gak ada acara ganti-gantiin ngajar," seru Ustadz Fariz tidak menyetujui apa yang diucapkan oleh Ustadz Jaki.
"Wahai saudaraku, sesama saudara haruslah saling mendukung. Berdosa jika kau tidak membantu saudaramu ini," ucap Ustadz Jaki sambil bergaya seperti sedang berdakwah.
__ADS_1
"Membantu itu untuk yang membutuhkan. Udah sana pergi," Ustadz Fariz mengusir Ustadz Jaki yang selalu bisa membuatnya kesal.
"Lihatlah Umi, anakmu ini-" Ustadz Jaki masih saja berucap seperti berdeklamasi, namun sebelum ucapannya selesai, Ustadz Fariz segera mengusirnya kembali.
"Pergi gak?!" ucap Ustadz Fariz sambil melepas sandalnya dan mengarahkan sandalnya ke atas seperti akan melemparkannya pada Ustadz Jaki.
Sontak saja Ustadz Jaki segera berlari dan mengucap salam ketika sudah berada di depan rumah.
"Umi, Jaki berangkat jemput istri Jaki dulu. Assalamu'alaikum....," teriak Ustadz Jaki dari depan rumah.
Setelah sudah sampai di rumah sakit, Ustadz Jaki segera menuju ruangan praktek dokter Shinta. Ternyata pasien di sana masih banyak yang mengantri, sehingga Ustadz Jaki tidak bisa masuk ataupun bertemu dengan istrinya. Ustadz Jaki segera mengirim pesan pada istrinya, namun tidak ada balasan hingga lama dia menunggu di sana.
Ketika pasien sudah habis, perawat yang tadi pagi memergokinya di dalam ruang perawatan dokter Shinta menyuruh Ustadz Jaki untuk masuk ke dalam ruangan dokter Shinta.
"Ehemm... Pak, tolong di tutup ya pintunya agar tidak ada yang nyelonong masuk," ucap perawat tadi yang bermaksud bercanda dengan Ustadz Jaki.
Bukannya malu malah Ustadz Jaki berterima kasih pada perawat tersebut.
"Ok. Terima kasih ya udah diingatkan," jawaban dari Ustadz Jaki ini membuat Shinta yang berada di dalam ruangannya merasa malu, berbeda dengan Ustadz Jaki yang malah tersenyum lebar ketika mengucapkannya.
Ustadz Jaki memandang wajah istrinya dengan menopang dagunya menggunakan kedua tangannya yang berada di atas meja.
Shinta yang tadinya kesal melihat Ustadz Jaki kini menjadi malu dilihat seperti itu oleh suaminya, dan jika Shinta melihat wajah Ustadz Jaki, pasti dia rasanya ingin tertawa karena teringat semua tingkah konyolnya.
"Udah nunggu dari tadi ya?" tanya Shinta sambil mengutak-atik ponselnya dan membaca pesan dari Ustadz Jaki yang sudah sedari tadi dia kirimkan padanya.
"He'eh. Sampai bosen dan capek aku nungguin di luar dari tadi," Ustadz Jaki mengeluh pada Shinta.
"Siapa suruh datang jam segitu. Kan udah tau pulangnya jam berapa," jawab Shinta dengan merapikan semua peralatannya yang berada di meja.
"Kamu kan lagi hamil, gak boleh terlalu capek. Mangkanya aku jemput lebih awal. Lagian ngapain aja sih di dalam memeriksa pasiennya lama banget," ucap Ustadz Jaki yang tidak mau disalahkan oleh istrinya.
"Ya harus diperiksa dengan teliti dong, belum konsultasinya, mangkanya lama," jawab Shinta.
"Gak usah lama-lama, nanti kamu capek kalau kelamaan. Langsung aja sat set udah kelarin," ucap Ustadz Jaki.
__ADS_1
"Ngawur! Udah ayo pulang, katanya pengen cepat pulang," ucap Shinta sambil membawa tasnya berjalan menuju pintu.
Ustadz Jaki pun tersenyum senang berjalan menyusul istrinya. Dengan cepat Ustadz Jaki mensejajarkan langkahnya dengan Shinta dan memeganginya seperti memapahnya.
"Sayang, hati-hati, pelan-pelan aja jalannya," ucap Ustadz Jaki yang masih memegangi pundak Shinta.
Seketika Shinta melambatkan jalannya, bahkan langkahnya sedikit sekali sehingga jalannya teramat sangat pelan sekali.
"Ya gak kayak siput juga jalannya Sayang," tegur Ustadz Jaki pada Shinta.
"Iiih cerewet sekali sih. Tadi suruh pelan sekarang disuruh cepetan. Yang mana yang bener? Ini juga masa' dipapah kayak orang manula aja. Digandeng aja kan bisa," sontak saja Shinta mengeluarkan kekesalannya pada Ustadz Jaki hingga Ustadz Jaki melongo mendengar Shinta yang berkata dengan sangat cepat.
"Tenang... nafas dulu. Ambil nafas.... keluarkan...," perintah Ustadz Jaki pada Shinta.
"Kamu pikir aku mau melahirkan?" Shinta terkekeh bertanya pada Ustadz Jaki.
Sungguh dia tidak menyangka, selalu ada saja tingkah dari suaminya itu untuk membuatnya bahagia hanya dengan kehadirannya saja.
Tingkah Ustadz Jaki yang sangat berlebihan menjaga Shinta itu berlanjut hingga di rumah. Perlakuan Ustadz Jaki itu membuat Umi Sarifah, Ustadz Fariz dan Rhea tertawa. Mereka merasa terhibur dengan sikap Ustadz Jaki yang menurut Ustadz Jaki sikapnya biasa saja karena dia ingin menjadi suami siaga untuk istri dan bayinya.
Malam harinya Shinta kembali dikagetkan dengan pigura yang berada dalam kamar mereka. Pigura yang berisi testpack hasil pemeriksaannya tadi pagi itu berada di tembok depannya. Sehingga pada saat dia tertidur, pigura tersebut bisa dilihat dengan jelas olehnya.
"Sayang, itu apa-apaan dipasang di sana? Ngapain juga pakai dipigurain?" Shinta tidak habis pikir dengan semua kekonyolan suaminya.
"Gapapa sayang, biar tambah semangat kalau lagi nganu," jawab Ustadz Jaki sambil menaik turunkan alisnya.
"Hah? Ini lagi, apaan tangannya udah main-main ke sini," ucap Shinta sambil menahan senyumnya ingin menjahili suaminya.
"Ya nganu, itu kan udah dipasang di sana piguranya, cuma mau buktikan aja bisa nambah semangat apa enggak?" Ustadz Jaki memberikan alasannya dengan meneruskan kegiatan tangannya.
"Kan tadi ada yang bilang kalau aku harus istirahat lebih awal supaya gak capek. Ya udah sekarang aku mau istirahat dulu," ucap Shinta sambil memakai selimutnya dan memejamkan matanya.
Ustadz Jaki melongo mendengar jawaban dari istrinya. Dia tidak mengira jika ucapannya tadi menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
"Apes... apes... nih mulut kenapa pakai ngomong gitu sih tadi," Ustadz Jaki menggerutu sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, sedangkan Shinta menahan tawanya sebisa mungkin agar suaminya tidak mengetahui jika dia belum tidur.
__ADS_1