Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 170 Rezeki di kala cobaan datang


__ADS_3

Mendengar istrinya mengeluh tentang sakitnya pada Shinta, dengan segera Ustadz Fariz mendekati istrinya yang sekarang duduk di bed pemeriksaan dan mengobrol bersama Shinta.


"Kamu sakit Sayang?" tanya Ustadz Fariz yang kini sedang melihat ke arah istrinya.


"Enggak Bie, cuma rasanya gak enak aja, kayak ada yang aneh gitu. Abi gak usah khawatir, Bunda gapapa kok," Rhea menjawab dengan senyum manisnya setelah membuka cadarnya.


Ustadz Fariz terlihat sangat khawatir, bahkan kamera yang tadinya dia pegang saja kini sudah diberikan pada Ustadz Jaki. Baginya istrinya lah yang harus diutamakan.


"Sini Rhe biar aku periksa dulu," ucap Shinta sambil membawa gel yang akan dioleskan ke perut Rhea.


Rhea pun menurut, kini dia dalam posisi tidur di atas bed pemeriksaan. Sedangkan Ustadz Fariz berada di samping Rhea dengan tangannya yang masih memegang erat tangan Rhea.


Dengan berpegangan tangan itu mereka saling menguatkan satu sama lain dan menyalurkan perasaan sayang mereka untuk saling berbagi perasaan senang dan duka sekalipun.


Bibir Shinta terangkat naik ketika melihat layar USG yang menampilkan hasil pemeriksaan dari perut Rhea.


"Gimana Shin?" tanya Ustadz Fariz pada Shinta yang masih memeriksa kembali perut Rhea.


"Coba Ustadz lihat itu," jawab Shinta sambil menunjukkan sesuatu yang berada di layar USG tersebut.


"Kenapa Shin?" tanya Rhea dengan khawatir.


"Apa penyakit lambungnya kembali kambuh?" kini Ustadz Fariz ikut khawatir.


"Ada apa sih? Apa Rhea beneran sakit?" Ustadz Jaki yang sedang melihat video rekaman di kameranya kini ikut bertanya.


"Kalian ini, khawatir sih khawatir tapi jangan doain yang buruk-buruk. Jangan ngomongin penyakit karena Rhea gak sakit," jawab Shinta dengan sedikit kesal.


"Lalu kenapa aku merasa aneh dan gak enak gitu Shin? Aku takut jika penyakit lambungku bertambah parah," Rhea berkata dengan lesu.

__ADS_1


"Mangkanya Bunda tuh kalau dilarang makan yang pedes-pedes harus nurut. Pokoknya mulai sekarang gak boleh makan yang pedes-pedes," sahut Ustadz Fariz dengan tegas.


"Ini kenapa pada ngomongin penyakit lambung sih? Rhea ini gak sedang sakit, dia sedang hamil enam minggu," Shinta berkata dengan kesal dan bernada sedikit tinggi hingga membuat Ustadz Fariz, Rhea dan Ustadz Jaki tercengang mendengarnya.


"Ha-hamil?" celetuk Rhea karena terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Shinta.


"Kamu gak becanda kan Shin? Istriku benar-benar hamil?" tanya Ustadz Fariz pada Shinta untuk mengetahui kebenaran pendengarannya.


"Iya benar, usia kandungan Rhea saat ini udah masuk enam minggu," jawab Shinta dengan tersenyum senang mengabarkan berita gembira itu.


"Enam minggu? Kok udah gede aja? Kapan buatnya?" sahut Ustadz Jaki sambil berjalan ke arah mereka untuk memberikan kamera yang dia pegang pada Ustadz Fariz.


"Masa' iya harus lapor kamu pas buatnya," jawab Ustadz Fariz dengan reflek sambil menutup mulu Ustadz Jaki dengan telapak tangannya.


"Paling enggak kan kedengaran dari kamarku pas nganu," ucap Ustadz Jaki sambil nyengir ketika sudah melepaskan tangan Ustadz Fariz dari mulutnya.


"Sayang... sini deh," Shinta memangil Ustadz Jaki dengan suara yang mendayu-dayu sehingga Ustadz Jaki merasa senang ketika dipanggil oleh istrinya.


"Ada apa Sayang?" Ustadz Jaki bertanya dengan suara lembut dan tersenyum manis pada istrinya itu.


"Sini aku periksa juga mulutnya, siapa tau mulutnya beranak," Shinta menjawab sambil tersenyum dan suara yang sangat lembut.


Seketika raut wajah Ustadz Jaki berubah. Wajah yang tadinya sumringah senang, kini menjadi kesal mendengar ucapan istrinya.


Serentak Ustadz Fariz dan Rhea menertawakan Ustadz Jaki yang awalnya senang kini menjadi kesal.


"Sembarangan, masa' mulut suami sendiri dikira beranak," kini Ustadz Jaki berucap dengan sewot.


"Habisnya, mulutnya itu loh lemes banget sih? Sini aku periksa sekalian mumpung di sini," Shinta semakin gencar menjahili suaminya.

__ADS_1


"Ogah, mendingan perut kamu aja sekalian diperiksa, siapa tau kaya Rhea tiba-tiba hamil," ucap Ustadz Jaki dengan entengnya.


"Ngawur aja tiba-tiba hamil. Ada suaminya ini pasti lah bisa hamil, bukan tiba-tiba," Ustadz Fariz memprotes ucapan Ustadz Jaki dengan kesal.


"Lah kan bener tiba-tiba aja hamil, masa' iya gak ngerasa apa-apa?" Ustadz Jaki bertanya pada Rhea.


"Mungkin Rhea sama seperti aku dulu, gak ngerasain morning sickness jadi gak tau kalau sedang hamil. Tapi kalau aku dulu kan memang gak mens, apa kamu juga gak mens Rhe?" Shinta menjelaskan pada Ustadz Jaki dan bertanya pada Rhea.


"Ya emang gak ngerasa apa-apa, jadi gak tau kalau sedang hamil. Dan bulan kemarin sepertinya aku mens, tapi hanya flek biasa aja, dan itu gak banyak. Aku pikir itu karena aku sedang kelelahan aja. Jadi mana tau aku kalau sedang hamil," Rhea menjelaskan apa yang terjadi padanya.


"Dan ternyata kamu sedang mengandung. Jadi kamu harus lebih hati-hati sekarang, dan jangan kelelahan. Mengerti Bunda?" ucap Shinta dengan candaannya.


"Alhamdulillah Sayang, Allah telah memberikan rezeki pada kita. Allah percayakan bayi ini pada kita, jadi kita harus menjaganya," tukas Ustadz Fariz dengan raut wajah penuh kegembiraan sambil mengusap perut Rhea dan memeluk Rhea serta mencium kening Rhea sangat lama.


Rhea mengangguk dan sudah tidak bisa berkata-kata lagi, matanya sudah berair dan menetes ke pipinya. Dia sangat tidak mengira jika Allah memberikan rezeki padanya di saat ujian juga datang padanya.


"Sayang.... ayo kamu juga periksa sekarang, aku pengen lihat, siapa tau ada nyelip disitu yang udah terbuahi," Ustadz Jaki merengek pada Shinta.


"Dibuahi dari Hongkong?" celetuk Shinta kemudian.


"Gak mau dari Hongkong, nanti ada tulisannya made in Hongkong atau made in China. Gak mau kayak gitu, mending made in Indonesia. Biar bangga sama buatan Indonesia," Ustadz Jaki menanggapi ucapan istrinya.


Shinta melongo mendengar ucapan dari suaminya, sedangkan Rhea tertawa karena merasa terhibur oleh Ustadz Jaki. Dan Ustadz Fariz menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika Ustadz Jaki akan mengatakan hal konyol seperti itu.


"Bener-bener udah gak waras suamimu Shin. Kenapa gak kamu sterilkan aja itu mulutnya, biar ngomongnya gak ngalor ngidul kayak gitu," ucap Ustadz Fariz yang heran pada Ustadz Jaki.


"Beda dong sterilisasinya sama yang lain. Alat sterilnya aja beda, apalagi caranya. Dan gak akan aku kasih tau karena nanti Ustadz akan meniru cara saya dalan mensterilkan mulut saya yang-"


"Udah gak usah kebanyakan ngomong," Shinta menyela perkataan Ustadz Jaki sambil menutup mulut suaminya itu menggunakan tangannya yang masih memakai sarung tangan karet yang digunakan untuk memeriksa Rhea tadi.

__ADS_1


__ADS_2