Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 74 Kejutan


__ADS_3

"Selamat sore," sapa seorang kurir di depan pintu rumah Pak Ratmo.


"Selamat sore, ada perlu apa?" tanya Anita yang berjalan dari ruang tamu.


"Apa benar ini rumah ibu Mirna?" tanya kurir tersebut pada Anita untuk memastikan.


"Iya benar, ada apa ya?" tanya Anita pada kurir tersebut.


"Ini untuk ibu Mirna, dan ini tolong untuk ditanda tangani," kurir tersebut meminta tanda tangan Mirna.


"Maaf Pak sebentar," Anita meminta waktu pada kurir tersebut.


"Mbak Mirna.. Mbak... Mbak Mirna ada kiriman buat Mbak Mirna, cepetan," teriak Anita dari depan pintu.


"Siapa Nit? Ada kiriman apa?" tanya Mirna dengan berlari kecil dari dalam kamarnya.


"Ini Bu ada kiriman buat Bu Mirna, dan tolong tanda tangan di sebelah sini," kurir memberikan berkas kiriman yang beratasnamakan Mirna tersebut dan menyuruh Mirna untuk menandatanganinya.


Mirna pun menandatanganinya dan dia masuk kembali ke dalam rumah setelah kurir sudah meninggalkan rumah Pak Ratmo.


"Apa ini?" Mirna segera membuka dalam surat tersebut ternyata isi dari kiriman tersebut adalah surat panggilan dari pengadilan agama untuk sidang perceraiannya yang berikutnya.


""Kenapa aku selalu dikirimi surat panggilan untuk sidang sih? Aku kan udah bilang gak mau cerai. Pokoknya aku gak mau cerai!" teriak Mirna sambil melempar surat tersebut ke lantai.


"Apa ini Mbak?" Anita mengambil lembaran tersebut dan dibacanya.


"Oooh surat panggilan sidang cerai dari pengadilan agama toh," Anita manggut-manggut sambil membaca sirat tersebut.


Mirna masih saja bermuka kesal dan rasanya pikirannya buntu karena dia belum mempunyai cara untuk membatalkan perceraian itu.


"Emangnya Mbak Mirna gak tau kalau ini surat panggilan dari pengadilan agama? Kan Mbak Mirna udah pernah dapat," Anita menyatakan rasa penasarannya pada Mirna.


"Aku gak pernah merhatiin, abis tak baca langsung tak buang. Lagian siapa yang mau cerai, aku gak mau cerai kok. Biarin aja mereka ngirim-ngirim terus suratnya, sampai mereka bosen dan capek pun aku gak akan datang ke pengadilan," Mirna mengatakannya tanpa gentar sedikitpun.


"Emangnya gak pengen datang Mbak?" tanya Anita kembali.


"Kamu aja yang datang kalau kamu mau," ketus Mirna karena kesal pada pertanyaan Anita dan dia meninggalkan Anita sendiri bengong mendengar jawaban dari Mirna.

__ADS_1


"Hah, emangnya aku yang cerai? Ckckck... dasar.... huss gak boleh ngatain orang. Astaghfirullahaladzim...," Anita berbicara sendiri selepas Mirna meninggalkannya.


...----------------...


Hari berganti hari selepas kepergian Ustad Fariz kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. Rhea kembali diselimuti kerinduan yang mendalam pada suaminya.


Berminggu-minggu sudah Ustad Fariz meninggalkan Rhea kembali ke Pondok Pesantren Al-Mukmin, niatnya ingin kembali menemui Rhea di rumah orang tuanya, namun rencana itu selalu gagal karena kesibukannya yang luar biasa di Pondok Pesantren Al-Mukmin serta acara dakwahnya. Selain itu dia juga disibukkan dengan persidangan perceraiannya dengan Mirna.


"Ustad, tumben mantan istri kamu gak pernah nongol? Apa dia udah insyaf ya?" taya Ustad Jaki pada Ustad Fariz pada saat mereka mengoreksi hasil ujian para santri di kantor.


Ustad Fariz mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas ujian pada Ustad Jaki dan berkata, "Kamu rindu sama dia?"


"Dih najis, siapa bilang? Cuma heran aja, biasanya dia kan gak bisa diam dalam situasi genting kayak gini. Tau gitu Rhea kan gak usah ngungsi ke rumah orang tuanya ya, jadi gak ada yang terkena penyakit rindu yang berkepanjangan," jawab Ustad Jaki sekaligus menyindir Ustad Fariz.


"Iya juga ya, apa Rhea aku jemput aja ya?" Ustad Fariz meminta pendapat Ustad Jaki.


"Tapi kalau tiba-tiba dia muncul bagaimana? Apa dia memata-matai kita ya? Tau Rhea tidak ada di sini, dia gak muncul. Apa dia mengira kalian sudah tidak bersama lagi?" Ustad Jaki mengira-ira dengan pikirannya sendiri.


"Huss...kamu ini ada-ada aja. Eh tapi dia gak pernah datang loh pas persidangan, aneh kan?" Ustad Fariz juga menyatakan keheranannya.


"Astaghfirullahaladzim... ya enggak lah Ustad, enak aja. Ustad kan tau rasa rinduku udah habis buat Zahra ku, gak ada tempat untuk orang lain lagi," Ustad Fariz memprotes ucapan Ustad Jaki mengenai dirinya.


"Iya... iya tau, mentang-mentang udah halal," sewot Ustad Jaki pada Ustad Fariz.


" Mangkanya sana cepetan nikah biar ada yang dirindukan, ada yang di peluk, ada yang nemenin tidur juga," Ustad Fariz menggoda Ustad Jaki dengan mengiming-iminginya.


"Udah, gak usah iming-iming gitu. Persiapkan aja buat sidang besok," Ustad Jaki kesal selaku diiming-iming tentang pernikahan oleh Ustad Fariz, manalagi Ustad Fariz udah dua kali nikah, jadi bikin tambah sebal dan kesal Ustad Jaki.


"Gimana hasil sidangnya Le?" tanya Umi Sarifah setelah mereka makan malam bersama.


"Insya Allah besok yang terakhir Umi, doakan Umi supaya lancar dan tidak berkepanjangan," jawab Ustad Fariz sambil mengutak-atik ponselnya.


"Rhea udah kamu kasih tau?" tanya Umi Sarifah ingin tahu.


"Belum Umi, rencananya Fariz akan kasih kejutan datang ke sana langsung setelah putusan sidang selesai," Ustad Fariz tersenyum membayangkan rencananya untuk memberi kejutan pada istrinya, seperti waktu itu.


"Kamu itu ada-ada aja. Jangan sampai dia marah. Kalau dia marah, kamu nanti yang bingung," Umi Sarifah mencoba menasehati Ustad Fariz.

__ADS_1


"Iya Umi, doakan semuanya lancar ya," Ustad Fariz kembali meminta doa Umi Sarifah.


"Iya, pasti Umi doakan. Oh iya, gimana keadaan Rhea di sana? Kalian tiap hari komunikasi kan?" tanya Umi Sarifah penasaran.


"Ya pastilah Umi, dia kan gak bisa kalau gak dengar suara istrinya, malah gak bisa tidur kalau gak video call istrinya," sahut Ustad Jaki yang berniat menyindir Ustad Fariz.


"Rhea lagi sibuk menyelesaikan buku barunya Umi. Kami juga tetap berkomunikasi kok," Ustad Fariz memberitahu Umi Sarifahnagar todak khawatir.


"Bagus itu, jadi Umi gak khawatir lagi sama kalian berdua. Karena jujur saja Umi takut kalau kalian terlalu lama berjauhan," Umi Sarifah memberitahukan kekhawatirannya pad Ustad Fariz.


"Tenang aja Umi, Fariz akan membawa menantu kesayangan Umi kembali ke sini," Ustad Fariz berjanji pada Umi Sarifah.


"Baiklah, akan Umi tunggu, tapi jangan terlalu lama ya, Umi sudah kangen sama menantu Umi," sambung kembali Umi Sarifah.


"Siap Umi ku," jawaban Ustad Fariz membuat Umi Sarifah tersenyum karena senang mempunyai anak-anak seperti Ustad Fariz dan Ustad Jaki serta menantu seperti Rhea yang sudah menjadi putrinya sendiri, tidak seperti hidupnya beberapa tahun yang lalu kesepian karena tidak adanya anak dalam rumah mereka.


Pagi ini Ustad Fariz sudah bersiap-siap untuk menghadiri persidangan perceraiannya yang akan digelar pada siang hari. Semuanya sudah dia persiapkan berkat bantuan kenalan-kenalannya dalam bidang hukum. Dia menginginkan agar perceraiannya dengan Mirna cepat selesai dan tidak berbuntut panjang lagi sehingga dia bisa hidup tenang dan bahagia bersama dengan Zahra nya dan anaknya ketika sudah lahir nanti.


"Sudah siap Le?" tanya Umi Sarifah ketika melihat Ustad Fariz sudah bersiap untuk pergi.


"Sudah Umi. Ini sebentar lagi akan berangkat. Doakan cepat selesai dan cepat pulang ya Umi," Ustad Fariz meminta doa pada Umi Sarifah dan mencium punggung tangannya.


"Iya Umi doakan supaya cepat selesai dan cepat pulang, juga cepat bawa kembali pulang menantu Umi," Umi Sarifah mengatakan doanya sebelum Ustad Fariz pergi.


Ustad Fariz tersenyum dan mengangguk seraya mengucap salam, "Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam...," jawab Umi Sarifah mengiringi kepergian Ustad Fariz.


Setelah beberapa jam kepergian Ustad Fariz dari rumah untuk menghadiri sidang, Ustad Fariz pulang dengan senyum yang mengembang di setiap langkahnya.


"Assalamu'alaikum...," Ustad Fariz mengucap salam tanpa melihat depan pada saat masuk rumah, karena sedari tadi pandangan matanya tertuju pada ponselnya.


"Wa'alaikumussalam...," jawab beberapa orang yang diantara suaranya Ustad Fariz sangat kenal dan sangat dia rindukan.


Ustad Fariz mengalihkan pandangannya dari ponselnya pada orang yang menjawab salamnya.


"Zahra? Sayang..."

__ADS_1


__ADS_2