Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 40 Mimpi yang meresahkan


__ADS_3

Pagi Mirna diawali dengan tidak semangat dan penuh amarah. Mimpinya semalam masih teringat jelas di pikirannya, hingga disaat dia memejamkan matanya lagi setelah bermimpi tadi, rasanya mimpi itu terlihat jelas di matanya.


Mukanya di tekuk, tidak ada senyuman ataupun semangat yang ditunjukkan oleh wajahnya. Hingga pada saat dia duduk di teras rumah pun terasa melihat suaminya dan Rhea sedang menggandeng seorang anak ketika ada seorang anak berusia sekitar lima tahunan yang sedang digandeng ayah ibunya berjalan melewati rumah Paman Mirna.


Sungguh meresahkan hati Mirna dan membuatnya kembali terbakar cemburu. Mirna merenung, bukan merenungi kesalahannya melainkan merenungkan bagaimana caranya agar dia bisa menjadi yang utama di hati suaminya. Agar perhatian suaminya hanya terpusat padanya.


Paman Mirna sudah memperingatinya, namun dasarnya Mirna sangat keras kepala dia tidak mengindahkan petuah-petuah dari Pamannya maupun Umi Sarifah yang selama ini selalu mempedulikannya.


Di dalam benak dan hati Mirna sudah terisi dengan rasa iri dan cemburu. Sehingga dia tidak peduli lagi akan perasaan orang lain. Perasaannya lah yang terpenting untuknya.


Mirna merasa bosan berada di rumah Pamannya, apalagi keponakan-keponakannya belum pulang dari pesantren. Mereka nyantri di Pondok Pesantren lain di luar kota.


Mirna berjalan-jalan keluar rumah sambil memikirkan cara-cara agar dia bisa mengambil hati suaminya. Karena selama ini dia merasa gagal hanya dengan cara biasa.


Tak terasa tanpa sadar langkah kaki Mirna mengajaknya ke daerah Pondok Pesantren Al-Mukmin. Dia kini berada di kebun dan melihat Rhea sedang memetik beberapa sayuran.


"Loh Bu Mirna mau ambil sayuran juga? Mau ambil yang mana Bu, biar saya bantu," ucap salah satu santri yang sedang memetik sayur untuk di masak di dapur umum.


"Ssstttt... jangan keras-keras. Sini kamu," Mirna meletakkan jari manisnya di bibirnya kemudian menggerakkan tangannya untuk menyuruh santri tersebut mendekat padanya.


Santri tadi mendekat pada Mirna dan berkata, "Ada apa Bu? Ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu jangan bilang siapa-siapa kalau saya ada disini ya. Awas aja kalau ada yang tau," ancam Mirna pada santri tersebut.


"I-iya Bu," santri itu mengangguk lantas pergi meninggalkan Mirna dengan sedikit berlari menuju ke dapur umum.

__ADS_1


"Sumringah sekali wanita itu, pasti dia senang karena aku tidak ada disini. Liat aja nanti, kamu akan merasakan sakit lebih dari yang aku rasakan," seringai licik terbit di bibir Mirna.


Rhea sudah selesai memetik sayuran yang akan dia masak nanti. Kini dia berjalan menuju rumah Umi Sarifah karena sebagian sayurnya akan diberikan untuk Umi Sarifah.


Disepanjang perjalanan dari kebun ke rumah Umi Sarifah, Rhea selalu menebar senyum pada setiap santri dan santriwati yang menyapanya.


Karena itulah Rhea selalu dihormati dan disukai oleh santri dan santriwati di Pesantren tersebut. Sikap dan sifat Rhea bertolak belakang dengan Mirna. Hingga para santri menyebut Kyai nya mempunyai istri yang seperti api dan air, yang satu bisanya memanasi keadaan dan satunya lagi bisa memadamkan apinya.


Terlihat di sana ada Ustad Fariz sedang menanam bunga di taman yang ada di samping rumah Umi Sarifah dan Ustad Jaki yang sedang menyiram bunga-bunga setelah ditanam tadi.


Rhea menghampiri suaminya setelah meletakkan sayuran di dapur Umi Sarifah. Mereka berdua menanam bunga bersama. Dengan kejahilannya, Rhea mengoles hidung suaminya dengan tanah yang agak basah digunakan untuk menanam bunga.


Ustad Fariz membalasnya, dan terjadilah aksi balas membalas, kemudian mereka saling kejar mengejar seperti film India yang berkejar-kejaran di kebun bunga.


Ustad Jaki tertawa melihat mereka yang seperi anak kecil, muka mereka yang cemong terkena tanah dan saling kejar mengejar untuk membalas.


Kejahilan Ustad Jaki kembali, dia mengarahkan selang airnya ke arah pohon yang berada Mirna di baliknya.


"Kok banyak semut ya disitu? Kasihan pohonnya dikerubungi semut, pasti sakit digigit semut sebanyak itu," ucap Ustad Jaki dengan suara yang sengaja dikeraskan.


Mirna terkaget tersiram air yang begitu deras, dan dia mendengar suara Ustad Jaki, sehingga dia tidak berani menampakkan diri ataupun memarahinya karena bajunya yang basah terkena air.


"Kok semutnya tambah banyak sih? Gak punya rumah buat pulang ya sampai buat rumah di pohon?" ucap Ustad Jaki lagi sambil menyiram pohon tersebut dengan lebih banyak air deras yang keluar dari selang.


Mirna kelabakan karena tidak siap menerima air yang mengarah dengan deras padanya. Dan lagi-lagi dia tidak bisa menampakkan dirinya karena marah dan malu bercampur manjadi satu.

__ADS_1


Ustad Jaki kesusahan menahan tawanya. Hingga tawanya lepas ketika dia melihat Mirna yang kewalahan menerima derasnya air yang dia siramkan melalui selang kemudian berbalik untuk pergi dan sialnya karena tergopoh-gopoh karena terkena semburan air dan takut ketahuan, dia kepleset jatuh terduduk karena sendal jepitnya terlalu basah terkena air dan licin.


Mirna menoleh ke arah Ustad Jaki yang sedang tertawa puas menertawakannya. Mirna melotot penuh amarah pada Ustad Jaki.


"Astaghfirullahaladzim ngeri...," ucap Ustad Jaki sambil meletakkan selang airnya dan mengusap dadanya.


Kemudian dia menengadahkan kedua tangannya sejajar dengan wajahnya dan mulutnya berkomat-kamit merapal doa.


Sialan, dia pikir aku setan apa? Awas kamu ya, akan ku balas nanti. Tunggu saja! Mirna membatin penuh emosi sampai-sampai dadanya naik turun bernafas dengan emosinya.


"Ada apa Ustad?" tanya Rhea dari arah mereka sekitar dua puluh meter dari Ustad Jaki berada.


Mendengar suara Rhea, Mirna kembali bersembunyi di balik pohon. Ternyata langkah kakinya yang membawanya ke Pondok Pesantren Al-Mukmin salah. Setelah dia menjadi korban kejahilan Ustad Jaki, kini dia melihat sikap suaminya yang sangat manis dan sangat bahagia bersama istri keduanya.


Kini Ustad Fariz membantu Rhea membersihkan pipinya dari tanah yang dioleskan oleh Ustad Fariz tadi, dan Rhea pun melakukan hal yang sama, mereka saling bantu membersihkan wajah pasangannya dari tanah yang mereka oleskan tadi.


Ustad Jaki melihat Mirna yang besungut kesal dan dengan muka marah dan mata yang berapi-api dia meninggalkan tempat persembunyiannya ketika Ustad Fariz dan Rhea berjalan pulang ke rumah mereka sambil bergandengan tangan.


Sebenarnya Ustad Jaki kasihan pada Mirna, namun melihat sikap dan sifat Mirna yang sangat keterlaluan membuat Ustad Jaki mengenyahkan rasa kasihannya pada Mirna.


Sore hari, Rhea mulai memasak untuk berbuka bersama suaminya. Sangat bahagia rasanya dia berhari-hari bisa berdekatan dengan suaminya layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Sayangnya jika ada Mirna dia harus membagi tiga hari bersama suaminya pada Mirna.


Sebenarnya Rhea sedih mengetahui Mirna pergi dari rumah tanpa pamit pada suaminya, apalagi itu karena dirinya. Namun ada sedikit rasa bahagia karena dengan tidak adanya Mirna dia bisa bebas bersama suaminya kapan saja.


Astaghfirullahaladzim...., batin Rhea karena pikirannya tadi yang sedikit senang karena tidak ada Mirna.

__ADS_1


"Bie... gawaaaaaat....," teriak Rhea dari arah dapur.


__ADS_2