
Umi Sarifah segera berlari untuk menolong Rhea. Santriwati yang tahu sebagian ada yang menolong dan ada juga yang berlari untuk memberitahu Ustad Fariz.
Ustad Fariz dengan segera berlari menuju tempat Rhea, dia segera membopong tubuh istrinya itu menuju rumah Umi Sarifah karena Umi Sarifah menyuruhnya untuk dibawa ke rumahnya.
Umi Sarifah segera memanggil dokter jaga yang ada di Pondok Pesantren tersebut. Ustad Fariz khawatir, dia duduk disebelah istrinya dan memegang erat tangan istrinya.
Umi menyuruhnya untuk kembali ke Masjid, tapi Ustad Fariz menolak, dia lebih memilih shalat di rumah karena dia sangat cemas pada istrinya.
Pada saat Ustad Fariz sedang shalat, dokter tersebut datang dan memeriksa kondisi Rhea. Dokter tersebut mengulang pemeriksaannya beberapa kali, kemudian dia menghubungi temannya untuk datang membantunya.
Umi Sarifah yang mendengar itu menjadi panik, namun dokter tersebut menenangkan Umi Sarifah karena menurutnya Rhea baik-baik saja.
Ustad Fsriz kembali dari shalatnya, dan bergantian dengan Umi Sarifah yang menjalankan shalat, sedangkan Ustad Fariz menunggu Rhea dengan dokter tersebut yang kemudian pamit untuk ke depan sebentar.
Ustad Jaki menggantikan Ustad Fariz untuk menjadi imam shalat maghrib. Mirna kaget mendapati bukan suaminya yang menjadi imam, tapi dia tidak tahu jika suaminya tidak ada di masjid tersebut.
Mirna tidak mengetahui jika Rhea pingsan dan dibawa ke rumah Umi Sarifah. Setelah shalat maghrib, Ustad Jaki kembali ke rumah Umi Sarifah, namun dia kaget karena Dokter Shinta berada di teras rumah Uni Sarifah, dokter Shinta adalah dokter di rumah sakit terdekat yang memeriksa Mirna pada saat itu yang kebetulan juga merupakan teman Ustad Jaki.
Dokter Shinta mengikuti dokter Dina yang merupakan temannya dan bertugas hari ini berjaga di klinik kesehatan di Pondok Pesantren Al-Mukmin ke dalam kamar Rhea berada saat ini. Dan Ustad Jaki pun mengikutinya.
Umi Sarifah, Ustad Fariz dan Ustad Jaki hanya membatalkan puasa mereka dengan minuman dan kurma saja, karena mereka sangat khawatir dengan Rhea, jadi mereka berbuka puasa dengan cepat.
Dokter Shinta pun tersenyum ketika memeriksanya. Dia tidak tahu jika Rhea adalah istri Ustad Fariz karena setahu Dokter Shinta istri Ustad Fariz adalah Mirna yang dia periksa pada saat itu. Dan Dokter Shinta pun mengira jika Rhea adalah istri dari Ustad Jaki.
"Ustad, selamat karena sepertinya istri anda sedang mengandung," ucap Dokter Shinta dengan senyumnya melihat ke arah Ustad Jaki.
"Alhamdulillah...," ucap mereka semua yang ada di sana.
Ustad Jaki bingung karena Dokter Shinta memandangnya ketika berbicara, namun dia berpikir karena Dokter Shinta temannya jadi dia menyampaikan berita itu padanya.
"Alhamdulillah... Umi sebentar lagi punya cucu," ucap Ustad Jaki memandang Umi Sarifah.
"Ustad, selamat ya atas kehamilan Rhea. Akhirnya jadi Abi juga," ucap Ustad Jaki sembari mengulurkan tangannya untuk memberi selamat.
"Ini beneran kan Dok?" tanya Ustad Fariz seraya menerima jabatan tangan Ustad Jaki.
"Insya Allah, nanti setelah pasien sadar segera diperiksakan ke rumah sakit saja, biar lebij jelas dan apabila berkenan di tes dahulu pakai testpack jika ingin lebih yakin," ucap Dokter Shinta dengan senyum namun berwajah bingung.
"Kayaknya ini beneran deh Ustad, no tipu-tipu," ucap Ustad Jaki dengan candaan dan kekehannya.
"Maaf, pasien ini apa istri anda Ustad Jaki?" tanya Dokter Shinta ragu.
"Hah? Ini istri Ustad Fariz, aku belum nikah, kan nungguin kamu," jawab Ustad Jaki menggoda Dokter Shinta.
Dokter Shinta tertunduk malu, sedangkan Umi Sarifah dan Ustad Fariz hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan Ustad Jaki yang tidak pernah berubah sejak dulu.
__ADS_1
"Eumm...," Rhea melenguh.
Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya dan tangannya bergerak perlahan.
"Sayang, kamu udah sadar?" tanya Ustad Fariz mendekat dan duduk di sebelah istrinya.
"Bie, aku kenapa?" tanya Rhea lirih sambil memijit pelipisnya.
"Kamu tadi pingsan, sekarang apa masih ada yang sakit?" tanya Ustad Fariz dengan menempelkan punggung tangannya pada dahi istrinya.
Rhea menggeleng lemah. Dia menatap orang sekelilingnya, dan dia bingung karena ada dua dokter di dekatnya.
"Gak usah bangun sayang, tiduran aja," Ustad Fariz membantu Rhea untuk duduk di ranjang tersebut dengan bantal sebagai penyangga punggungnya.
"Bie, kenapa ada dua dokter disini?" tanya Rhea lirih dan berbisik.
"Mereka ini dokter yang memeriksa kamu tadi," jawaban Ustad Fariz masih belum bisa menjawab keheranan Rhea.
"Maaf Bu, saya Dokter Shinta. Menurut hasil pemeriksaan saya, Ibu sekarang sedang hamil, dan saya sarankan agar Ibu memeriksakannya agar lebih akurat," ucap Dokter Shinta.
Rhea terdiam kaget, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Hanya matanya saja yang bergerak-gerak lucu dengan raut wajah terkejut.
"Sayang, kamu dengar itu? Kamu periksa dulu ya supaya kita bisa tau," Ustad Fariz mengambil kepala Rhea dan menyandarkan di dadanya.
"Saya permisi dulu, nanti jika mau periksa silahkan hubungi saya atau langsung saja datang ke rumah sakit," Dokter Shinta dan Dokter Dina pamit pada Umi Sarifah, kemudian mereka keluar dari kamar itu.
"Shin, mau balik ke rumah sakit?" tanya Ustad Jaki pada Dokter Shinta yang berjalan menuju gerbang pondok.
"Iya Ustad," jawab Dokter Shinta setelah menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Yuk aku anterin," ucap Ustad Jaki.
"Gak usah naik ojek aja deket," Dokter Shinta menolak dengan halus.
"Udah anggap aja aku tukang ojeknya," Ustad Jaki pun memaksa.
"Eh Ustad tunggu sebentar, sebaiknya belikan Bu Rhea testpack di mini market depan situ, biar cepat tau hasilnya. Tapi nanti harus diperiksakan lagi ke klinik atau rumah sakit," tutur Dokter Shinta sebelum Ustad Jaki mengambil kendaraannya.
"Ya udah nanti tolong kamu belikan ya, aku gak ngerti soal gitu itu," Ustad Jaki meninggalkan Dokter Shinta untuk mengambil kendaraannya.
Pada saat Ustad Jaki mengeluarkan mobilnya, ternyata Dokter Shinta tidak ada. Di tekannya tombol telepon dengan kontak nama Shinta.
Sekali berdering telpon pun diangkat oleh Dokter Shinta. Ternyata dia berada di mini market depan Pondok Pesantren Al-Mukmin. Dia membelikan testpack untuk Rhea.
Setelah itu Ustad Jaki mengantarkan Dokter Shinta kembali ke rumah sakit dan menjadwalkan untuk pemeriksaan kandungan Rhea.
__ADS_1
Testpack yang dibelikan Dokter Shita kini sudah diberikan Ustad Jaki pada Rhea untuk memakainya.
Ustad Fariz, Umi Sarifah dan Ustad Jaki menuggu di dalam kamar, Rhea menggunakan testpack itu di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Ketika Rhea keluar dari kamar mandi, ekspresinya tidak menggambarkan apa-apa karena dia sendiri tidak percaya dengan apa yang terjadi. Wajahnya menggambarkan orang yang sedang syok.
"Sayang...," Ustad Fariz mengulurkan tangannya untuk membantu Rhea berjalan.
"Gimana Nduk?" tanya Umi Sarifah.
Rhea mengulurkan hasil testpack nya pada Umi Sarifah. Betapa senangnya Umi Sarifah ketika melihat dua garis yang ada pada alat testpack tersebut.
"Alhamdulillah...," mata Umi Sarifah berkaca-kaca dan memeluk Rhea.
Seakan menular, Rhea pun menangis bahagia di pelukan Umi Sarifah. Sedangkan Ustad Fariz di peluk oleh Ustad Jaki untuk memberi selamat.
"Tadi udah dibuatin janji untuk periksa besok pagi di Doker Shinta," ucap Ustad Jaki.
"Terima kasih ya, besok apa kamu mau antar kita ke rumah sakit?" tanya Ustad Fariz yang kini sudah merangkul pundak Rhea.
"Boleh, mau lihat juga ponakan aku gimana. Umi ikut juga gak?" Ustad Jaki bertanya pada Umi dengan posisi meniru Ustad Fariz yaitu merangkul pundak Umi Sarifah.
"Kalian aja yang antar Rhea ke rumah sakit, Umi di rumah aja," ucap Umi Sarifah.
"Oiya, malam ini kalian tidur disini aja biar Rhea cepat istirahatnya," Umi Sarifah berucap sambil berjalan keluar kamar.
Rhea dan Ustad Fariz saling memandang dan tersenyum ketika mendengar ucapan Umi Sarifah. Kemudian mereka mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah dengan saling bercerita tentang hari yang mereka lewati. Mereka sangat bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Allah pada mereka. Dan mereka berharap agar Allah senantiasa memberikan kebahagiaan bagi keluarga mereka. Dengan harapan-harapan yang mereka utarakan, sepasang suami istri ini berpelukan erat membawa harapan mereka hingga dalam mimpi.
Sekarang ini, Rhea bersiap-siap ke rumah sakit dengan diantar oleh suaminya dan Ustad Jaki yang bertugas menjadi sopir.
"Oooh jadi karena ini aku diajak?" ucap Ustad Jaki ketika sudah duduk di depan kemudi dan menoleh ke belakang menyaksikan kedua manusia yang duduk bersama dengan saling terkait tangannya.
"Kenapa duduknya gak di depan kayak biasanya?" tanya Ustad Jaki dengan mode jahilnya.
"Kan ada istri" jawab Ustad Fariz dengan melingkarkan tangannya ke pundak istrinya.
"Waktu itu ngantar Mbak Mirna duduknya di depan," Ustad Jaki melancarkan kejahilannya sambil mengemudikan mobilnya.
"Ustad...," ucap Ustad Fariz kesal dengan beradu pandang melalui kaca spion yang ada di tengah.
Ustad Jaki terkekeh melihat ekspresi Ustad Fariz yang malu. Sedangkan Rhea menatap suaminya dengan tersenyum membuat Ustad Fariz bertambah malu.
Mirna menguntit dari belakang mobil mereka menggunakan motor yang dia pinjam dari pamannya. Tadi dia dengar dari pamannya jika Ustad Fariz pergi dengan Rhea, dan Mirna marah karena tidak diajak, oleh sebab itu dia berniat mengikuti mobil mereka.
Rumah sakit? Loh... loh... loh... ngapain mereka kesini? Apa wanita itu sakit? Mirna membatin dengan mata tidak pernah lepas dari pandangannya kepada mobil yang dikendarai suaminya.
__ADS_1
Mirna segera masuk mengikuti Ustad Fariz yang melingkarkan tangannya di pinggang Rhea, sedangkan Ustad Jaki berjalan lebih dahulu di depan mereka.
"Bu Mirna? Bu Mirna mau periksa lagi sama saya?" tanya Dokter Shinta ketika berpapasan dengan Mirna pada saat mengikuti suaminya.