Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 57 Berita yang tersebar


__ADS_3

Malam yang indah, dengan gemerlap cahaya bintang yang bertaburan tak tentu arah dan rembulan malam yang bersinar menyelimuti heningnya malam. Rhea memperhatikan langit yang tanpa batas itu dengan tatapan memuja, memuja kebesaran Allah pencipta alam semesta di balkon kamarnya.


"Sayang, di pengajian ibu-ibu besok yang ada di Masjid kampung sebelah, aku jadi pengisi acaranya. Kamu ikut ya?" ucap Ustad Fariz yang tiba-tiba berada di belakang tubuh Rhea dan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya.


"Pengajian? Kapan Bie?" tanya Rhea sambil menoleh ke belakang memandang wajah suaminya.


"Insya Allah minggu depan. Mmm... rencananya aku bakal membawakan tema tentang istri shalihah. Siapa tau ada bahan yang kamu butuhkan untuk menulis buku kamu yang baru," Ustad Fariz tersenyum melihat wajah istrinya yang masih menoleh memandang wajahnya.


"Mau.. mau... aku mau," seru Rhea gembira.


Mata mereka saling menatap intens manik mata pasangannya. Terbit senyuman bahagia dari Ustad Fariz melihat istri cantiknya ini bahagia hanya dengan hal yang sepele saja.


Cupp!


Ustad Fariz mencium sekilas bibir pink istrinya yang sangat cantik di bawah sinar rembulan malam yang menyinari mereka saat ini. Rona malu tersirat di wajah cantik Rhea yang terbias oleh siraman sinar rembulan malam.


Begitu indahnya malam ini seindah hati kedua pasangan suami istri yang berada di bawah langit malam disertai indahnya gemerlap malam dan pancaran sinar rembulan.


Di luaran Pondok Pesantren Al-Mukmin gosip yang dibuat oleh Mirna semakin merebak. Dari daerah wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin sampai desa tetangga. Dan kemungkinan besar gosip akan merebak secepat angin berhembus ke lain tempat.


Pagi ini Mbak Atik berbelanja ke pasar karena persediaan bahan makanan untuk beberapa hari sudah habis. Biasanya Mbak Atik berbelanja dengan Umi Sarifah di pasar, namun kali ini Mbak Atik ke pasar sendiri karena Umi Sarifah sedang tidak enak badan.


Di pasar Mbak Atik mendengar obrolan penjual dan pembeli tentang gosip yang dibuat oleh Mirna.


Mbak Atik diam saja seolah-olah tidak mengerti yang mereka bicarakan. Hingga ada penjual yang mengenali Mbak Atik karena biasanya Mbak Atik dan Umi Sarifah berbelanja di sana.


"Mbak, Mbak yang kerja di rumah Umi Sarifah kan?" tanya penjual daging dengan memperhatikan wajah Mbak Atik.


Mbak Atik hanya diam dan senyum pada penjual daging tersebut agar tidak lagi bertanya padanya. Ternyata tidak seperti dugaannya.


"Mbak bener gak sih gosip yang beredar itu?" tanya lagi si penjual daging pada Mbak Atik.


"Berita apa ya Bu? Eh itu dagingnya udah kan Bu? Berapa harganya?" Mbak Atik ingin cepat-cepat menyudahi obrolan mereka.


"Seratus lima puluh lima ribu Mbak. Masa' Mbak gak tau sih, itu loh istri Kyai Pondok Pesantren Al-Mukmin katanya menceraikan istri pertamanya karena hasutan dari istri keduanya. Benar begitu Mbak?" tanya kembali penjual daging itu yang masih penasaran.


"Ini Bu uangnya, pas ya. Dagingnya Bu," Mbak Atik meminta dagingnya setelah membayar karena dagingnya belum diberikan oleh si penjual daging tersebut.


"Bentar dulu Mbak, bener apa gak beritanya?" tanya si penjual daging tersebut sambil menahan kantong yang berisi daging milik Mbak Atik.

__ADS_1


"Gak bener Mbak. Gak ada yang seperti itu. Udah siniin Mbak dagingnya," ucap Mbak Atik agak kesal.


"Kalau gak benar, kok Bu Mirna nangis-nangis Mbak kalau cerita? Kata ibu-ibu juga gak mungkin Bu Mirna bohong, soalnya Bu Mirna kalau cerita meyakinkan banget Mbak," ucap Si penjual daging yang masih menahan kantong daging milik Mbak Atik di tangannya.


"Iya loh, mana kalau cerita Bu Mirna nangis-nangis lagi. Istri mana coba yang gak sedih digitukan sama istri kedua dari suaminya. Mana suaminya percaya banget sama istri keduanya, mentang-mentang istri keduanya lebih muda, lebih cantik jadi dibelain terus," sahut ibu-ibu pembeli daging yang baru beberapa menit ada disitu.


"Maaf Bu ibu, itu kan hanya gosip, belum tentu benar, jadi jangan dipercaya sebelum ada buktinya. Dan selama saya bekerja di sana, tidak ada kejadian seperti yang ibu-ibu bicarakan. Kami semua baik-baik saja, damai," jawab Mbak Atik kesal setelah itu menyahut kantong dagingnya dari tangan ibu penjual daging tersebut kemudian dia segera meninggalkan mereka.


"Bukti apa lagi Mbak, wong udah jelas kok Bu Mirna sendiri yang ngomong," teriak ibu-ibu pembeli tadi mengiringi kepergian Mbak Atik.


Di setiap stand yang di kunjungi Mbak Atik selalu membahas tentang berita tersebut, ternyata bukan hanya penjualnya saja yang membicarakan berita tersebut, para pembeli dari berbagai kampung dan desa pun turut menimpali berita tersebut. Dan itu artinya berita tersebut sudah menjadi konsumsi warga sekitar maupun desa tetangga.


Bu Mirna luar biasa, dia bisa menyebarluaskan berita hanya dalam hitungan beberapa hari saja. Kasian Mbak Rhea, kalau begini dia yang dipersalahkan. Aku harus segera memberitahukan pada mereka agar berita ini tidak menyebar lebih luas lagi. Eh, tapi Umi Sarifah kan lagi sakit, gak mungkin aku kasih tau berita ini, bisa-bisa Umi Sarifah jadi kepikiran. Gimana ya ... gimana ini... ayo Atik berpikirlah..., Mbak Atik berucap dalam hati di setiap langkahnya.


Di dapur, Mbak Atik gelisah, ingin rasanya dia mengatakan pada keluarga di rumah ini agar mereka bisa cepat mengatasi berita yang beredar di luaran sana, tapi dia juga takut jika kesehatan Umi Sarifah jadi lebih buruk.


Mbak Atik memilah sayuran dengan melamun. Kebetulan Ustad Jaki sedang mengambil minuman di dispenser, dia heran melihat Mbak Atik yang sepertinya memikirkan sesuatu.


"Mbak, Mbak Atik, Mbak... ngelamun?" Ustad Jaki menyadarkan Mbak Atik dari kegiatan melamunnya.


"Eh Ustad Jaki, em itu, anu, apa, em...," Mbak Atik gugup sehingga ucapannya terbata-bata.


"Itu mas, maaf saya mau ngomong sesuatu, tapi rahasia ya mas, jangan sampai Umi Sarifah tau, soalnya saya takut Umi Sarifah jadi kepikiran," Mbak Atik akhirnya memutuskan untuk bercerita pada Ustad Jaki.


Mbak Atik menceritakan kejadian di pasar pada Ustad Jaki. Semuanya Mbak Atik sampaikan pada Ustad Jaki tanpa ada yang terlewat. Dan itupun membuat Ustad Jaki geram. Tangan Ustad Jaki mengepal menaham amarah ketika mendengar Mbak Atik bercerita.


"Tadinya saya akan cerita pada Umi Sarifah, tapi saya ingat jika Umi Sarifah sedang sakit, jadi saya tidak mau Umi Sarifah tambah kepikiran, benar kan Ustad?" Mbak Atik meminta persetujuan dari Ustad Jaki.


"Iya Mbak benar. Lebih baik berita ini jangan sampai Umi Sarifah dan Rhea tau. Karena tidak baik jika mereka berdua kepikiran. Nanti biar saya dan Ustad Fariz aja yang menyelesaikannya. Makasih ya Mbak," Ustad Jaki meninggalkan Mbak Atik di dapur yang menghela nafas lega karena Ustad Jaki sudah bisa membantu mengatasi masalah tersebut.


"Sayang, nanti jadi ya ikut pengajian?" tanya Ustad Fariz pada Rhea yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


"Jadi dong. Aku udah siapkan semuanya, jadi nanti tinggal berangkat aja," ucap Rhea tanpa menoleh pada Ustad Fariz yang berada di sofa, dia hanya menatap suaminya melalui pantulan cermin yang ada di depannya.


Ustad Fariz mengangguk dan tersenyum melihat istrinya sangat antusias mengikutinya untuk berdakwah. Ustad Fariz beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati istrinya. Dipegangnya kedua pundak Rhea dari belakang dan menatapnya dari pantulan cermin yamg ada di depan mereka.


"Cantik banget, istrinya siapa sih?"Ustad Fariz menggoda istrinya yang pasti nantinya akan tersipu malu.


Dan benar saja semburat merah terpancar di pipi Rhea saat ini, begitu jelas merona meskipun dilihat dari cermin.

__ADS_1


"Sekarang udah pinter banget ya gombalnya," ucap Rhea menutupi malunya.


"Cuma sama kamu sayang, gapapa kan ibadah," ucap Ustad Fariz sambil meletakkan dagunya di pucuk kepala Rhea.


"Hmmm.... wangi...," ucap Ustad Fariz setelah mencium rambut di pucuk kepala Rhea.


Rhea kembali tersipu malu oleh perlakuan suaminya yang anehnya bisa menimbulkan gelenyar aneh dalam tubuhnya.


Ustad Jaki sibuk mengumpulkan informasi di luar wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin. Dia mencoba membeli sesuatu di setiap toko kelontong yang ada di wilayah itu serta bertanya-tanya pada mereka para ibu-ibu yang memang benar-benar sedang menggosipkan Ustad Fariz dan Rhea.


Sepulangnya dia mencari berita yang menyangkut Ustad Fariz dan Rhea, Ustad Jaki segera menemui Ustad Fariz.


"Ustad aku mau bicara," Ustad Jaki menyeret tangan Ustad Fariz, namun Ustad Fariz bertahan sehingga badannya tidak terseret oleh Ustad Jaki.


"Ada apa sih Ustad?" tanya Ustad Fariz heran.


"Penting. Ayo buruan," jawab Ustad Jaki yang dengan sigap menyeret kembali tangan Ustad Fariz dan lagi-lagi Ustad Fariz bertahan di tempatnya semula.


"Ayo Bie, aku udah siap," Rhea turun dari tangga dan berjalan mendekati mereka.


"Loh kalian mau kemana?" tanya Ustad Jaki bingung.


"Kan hari ini ngisi pengajian ibu-ibu di Masjid desa sebelah," jawab Ustad Fariz sambil menghempaskan tangan Ustad Jaki.


Ustad Jaki kaget, bisa-bisanya dia melupakan hari ini, yang artinya Ustad Fariz dan Rhea berada di tengah-tengah ibu-ibu yang kemungkinan besar membicarakan Rhea dan Ustad Fariz tiap hari.


"Telat," ceplos Ustad Jaki.


"Telat? Enggak kok, kan masih satu jam lagi acaranya, perjalanan juga paling sepuluh menitan," ucap Ustad Fariz heran.


"Bukan itu. Ayo Ustad ikut aku sebentar aja, ini benar-benar penting," Ustad Jaki memaksa agar Ustad Fariz mau meluangkan waktu sebentar untuk berbicara dengannya.


"Gak bisa Ustad, nanti aja ya. Gak enak kalau sampai telat nanti," Ustad Fariz menolak ajakan Ustad Jaki untuk berbicara.


"Tapi-"


"Udah yuk sayang kita berangkat, tadi aku udah pamit sama Umi," Ustad Fariz menyela ucapan Ustad Jaki.


"Ah bodoh amat dah, dikasih tau malah... aduh... gak tega juga," Ustad Jaki ngomong dengan dirinya sendiri karena Rhea dan Ustad Fariz sudah tidak berada di tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2