
Sejak kejadian pingsannya Shinta waktu itu, Ustadz Jaki lebih memperhatikan Shinta lagi. Di setiap kesempatan dia selalu mendatangi rumah sakit jika Shinta masih berada di rumah sakit. Dan jika Ustadz Jaki tidak berada di rumah sakit, dia kembali menjadi suami siaga seperti pada awal dia mengetahui Shinta sedang hamil waktu itu.
Ustadz Jaki berkali-kali menghubungi dan mengirim pesan pada Shinta. Kekhawatirannya sangat berlebihan, namun dalam lubuk hati Shinta sangatlah senang dan merasa bersyukur mempunyai suami yang sangat memperhatikannya.
Di tengah malam Shinta terbangun, dia merasakan perutnya lapar namun ditahannya karena Shinta melihat suaminya masih tertidur. Shinta kembali memejamkan matanya namun tidak bisa. Hingga pada saat waktu Ustadz Jaki terbangun pada saat akan melakukan shalat malam, Shinta pun menyambutnya dengan senyum manisnya ketika mata Ustadz Jaki terbuka dari tidurnya.
"Astaghfirullahaladzim... kaget aku. Tumben Sayang udah bangun, biasanya nunggu dibangunin dulu, pakai senyum-senyum lagi, kan suamimu ini jadi senang, hehehe.... jadi terharu," ucap Ustadz Jaki sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Shinta.
"Iiih... gosok gigi dulu, bau," ucap Shinta sambil menjauhkan wajah Ustadz Jaki dari hadapannya.
"Yang baru tidur gini vitaminnya banyak loh," canda Ustadz Jaki sambil mendekatkan kembali wajahnya pada wajah Shinta.
"Aaaah gak mau, maunya yang lain," jawab Shinta sambil menjauhkan kembali wajah suaminya dari hadapannya.
"Mau yang lain? Mau apa? Kan semalam udah," ucap Ustadz Jaki sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
"Bukan yang itu, aku lapar, aku mau makan....," ucapan Shinta menggantung karena takut suaminya tidak akan mengabulkannya.
"Oh lapar. Mau makan apa sayangnya Jaki?" tanya Ustadz Jaki dengan senyum dan menengadahkan wajahnya di depan wajah Shinta.
"Mmm... lebih baik sholat dulu aja deh biar cepet. Setelah itu aku kasih tau pengen makan apa," jawab Shinta dengan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Ok istriku, mari kita laksanakan shalat dulu," Ustadz Jaki turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.
Setelah Ustadz Jaki keluar dari kamar mandi, kini giliran Shinta lah yang masuk dalam kamar mandi. Setelah itu mereka melaksanakan shalat berjamaah.
"Sekarang istri Jaki yang tersayang ini mau makan apa?" tanya Ustadz Jaki pada Shinta setelah mereka sudah selesai melaksanakan shalat mereka.
"Mmm... pengen... pengen makan sate ayam," jawab Shinta dengan sungkan sambil tersenyum lebar.
"Hah, sate ayam? Jam segini?" Ustadz Jaki melongo mendengar permintaan dari istrinya.
Shinta pun mengangguk sambil tersenyum lebar kembali agar suaminya tidak marah padanya.
"Tapi Sayang ini jam berapa? Mana ada yang jual sate ayam jam segini? Nanti aja ya agak pagian dikit pasti ada yang jual di pasar," Ustadz Jaki mencoba melakukan negosiasi dengan istrinya.
"Maunya sekarang, lapar," jawab Shinta dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ya ampun Sayang, kamu kenapa ngidamnya selalu malam-malam sih? Aneh-aneh pula," Ustadz Jaki menggerutu sambil mengganti pakaiannya.
"Siapa yang nyuruh bikinnya malam-malam? Coba kalau bikinnya pagi, siapa tau ngidamnya juga pagi," jawab Shinta sekenanya karena dia tidak mau ngidamnya disalahkan oleh suaminya.
__ADS_1
"Emang bisa gitu ya?" tanya Ustadz Jaki dengan serius menghadap istrinya.
"Gak tau, kan baru ngerasain sekarang," jawab Shinta dengan entengnya tanpa berpikir.
"Ya udah, besok-besok bikinnya pagi atau siang aja, biar kalau ngidam gak nyusahin," ucap Ustadz Jaki sambil mendekati istrinya sesudah ganti baju.
Shinta berwajah kesal karena menurutnya suaminya terlalu banyak alasan. Ustadz Jaki tahu jika istrinya sedang kesal padanya, karena dia melihat ke lain arah, tidak mau melihat wajah suaminya.
"Terus mau nyari di mana sate ayam jam segini Sayang? Kalau aku berangkat nyari sekarang, sepertinya sama saja, pulangnya pasti pagi nunggu yang jual buka dulu," Ustadz Jaki mencoba memberikan penjelasan pada istrinya.
"Gak mau nanti, laparnya sekarang," jawab Shinta sambil merajuk pada suaminya.
"Terus giman dong?" tanya Ustadz Jaki frustasi.
"Bikin sendiri lah, itu kan ada ayam di belakang," jawab Shinta dengan antusias dan matanya bersinar senang.
"Hah?! Yang benar aja Sayang, masa' iya suamimu ini di jam malam-malam gini disuruh menyembelih ayam dan mengolahnya jadi sate?" tanya Ustadz Jaki menegaskan permintaan Shinta.
Shinta menganggukkan kepalanya dengan antusias. Kali ini dia benar-benar ingin melihat lagi pengorbanan suaminya untuk memenuhi ngidamnya.
"Yassalam... nyuruh Mbak Atik aja ya Sayang," Ustadz Jaki mencoba merayu istrinya sambil menciumi tangan Shinta.
"Gak mau... pokoknya Suamiku sendiri yang harus menyembelih, membersihkan dan mengolahnya jadi sate. Kalau Mbak Atik yang melaksanakan berarti suamiku Mbak Atik dong?" Shinta berkata dengan kesal.
Langkah kakinya berat keluar dari kamarnya. Namun saat melihat testpack yang berada dalam pigura yang dengan indahnya bergantung di tembok kamarnya, Ustadz Jaki menjadi bersemangat karena itu demi anak mereka.
"Loh mau ke mana Sayang?" tanya Ustadz Jaki ketika melihat Shinta mengikutinya berjalan di belakangnya.
"Mau lihat perjuangannya suami aku dong," jawab Shinta dengan senyum lebarnya seperti tadi.
Ck, t**au aja kalau aku mau sedikit curang. Gagal kan jadinya mau minta bantuan Mbak Atik, Ustadz Jaki menggerutu dalam hatinya.
Di ruang makan terlihat Ustadz Fariz yang sedang meminum teh hangatnya di temani Rhea dan Baby Izam.
"Mau ke mana kalian, tumben jam segini udah keluar dari kamar?" tanya Ustadz Fariz heran ketika melihat Ustadz Jaki dan Shinta menuruni tangga.
"Ini, Shinta ngidam lagi," jawab Ustadz Jaki dengan lemas.
"Oh ngidam.... yang semangat dong, kan suami siaga," Ustadz Fariz mengejek Ustadz Jaki dengan senyum ejekannya.
"Siaga, siaga banget malah. Mangkanya ini mau bertempur dengan ayam buat sate ayam sendiri jam segini, hebat kan?" ucap Ustadz Jaki dengan kesal dan mengeluarkan senyum paksanya.
__ADS_1
"Hah?!" Ustadz Fariz dan Rhea terkejut, namun sedetik kemudian mereka tertawa bersama mendengar jawaban dari Ustadz Jaki dan membayangkan Ustadz Jaki sedang menyembelih ayam, membersihkannya dan mengolahnya menjadi sate.
"Masih untung bukan sate kambing loh Ustadz. Kalau sate kambing kan lebih susah," ucap Rhea sambil tertawa terbahak-bahak melihat wajah Ustadz Jaki yang sedang kesal.
"Puas-puasin tertawa. Ane doain nanti Rhea ngidam yang lebih parah dan lebih merepotkan," ucap Ustadz Jaki dengan kesal sambil menuju dapur untuk mengambil belati tajam yang akan digunakan untuk menyembelih ayam.
"Astaghfirullahaladzim... jangan sampai ya Sayang," ucap Ustadz Fariz sambil menengadahkan wajahnya pada wajah Rhea.
Rhea hanya tersenyum dan menggerakkan pundaknya tanda dia tidak tahu. Dan Shinta terkekeh sambil mengikuti suaminya menuju belakang rumah tempat kandang ayam berada.
Di pagi buta Ustadz Jaki sudah membuat heboh kandang ayam. Pasalnya yang dia tangkap tanpa melihat pada saat menangkapnya adalah induk ayam yang baru saja menetaskan telurnya. Jadilah induk ayam tersebut mengamuk dan menyerang tangan Ustadz Jaki.
Shinta tertawa terbahak-bahak melihat pengorbanan suaminya itu. Sedangkan Ustadz Jaki sangat-sangat kesal sekali mendengar istrinya menertawakannya.
Setelah mendapatkan ayam yang tepat, Ustadz Jaki menyembelihnya dan Shinta yang melihat itu tiba-tiba terisak melihat ayam yang disembelih oleh suaminya.
Ustadz Fariz dan Rhea tertawa melihat Ustadz Jaki yang sangat kewalahan melakukan permintaan dari istrinya. Dia menyembelih ayam itu sendiri, mencabuti bulu ayam tersebut sendiri, memotong-motong daging ayam itu sendiri dan membakar sate itu sendiri.
"Sayang, jangan lupa siapin dulu bakarannya sama arangnya," Shinta memerintahkan suaminya dari tempatnya duduk saat ini yang tidak jauh jaraknya dari tempat Ustadz Jaki sedang memanjakan ayam hasil sembelihannya.
"Hah pakai arang juga? Di kompor aja ya Sayang, kan gak ada arang," jawab Ustadz Jaki yang berniat menolak permintaan yang merepotkan menurutnya.
"Ada kok, aku lihat beberapa waktu lalu santri-santri yang masak sate kambing waktu idul adha kemarin punya sisa arang banyak, terus di simpan di dapur umum," jawab Shinta dengan senyum manisnya.
Yassalam.... nambah lagi kerjaan, Ustadz Jaki menggerutu dalam hatinya.
Tidak hanya itu saja, bahkan bumbu satenya pun harus Ustadz Jaki sendiri yang membuatnya. Permintaan ngidam Shinta kali ini sangat membuatnya kerepotan karena prosesnya yang sangat panjang.
Bahkan Umi Sarifah dan Mbak Atik pun dilarang keras oleh Shinta pada saat akan membantu Ustadz Jaki membuat bumbunya. Mereka hanya membagi resepnya saja pada Ustadz Jaki pada saat membuat bumbu tersebut.
Setelah berpeluh dan berbau keringat serta bau bakar-bakar sate tadi, Ustadz Jaki segera PMmembersihkan badannya, setelah itu dia bergabung dengan yang lainnya di meja makan untuk sarapan bersama dengan menu sate ayam buatan Ustadz Jaki sang suami siaga.
Mata Shinta berbinar melihat sate ayam buatan suaminya yang sangat banyak berada di atas meja. Pada saat Shinta akan memakan sate tusukan pertamanya, dia menitikkan air matanya dan itu membuat Ustadz Jaki kaget, heran dan juga bingung.
"Ada apa Sayang? Kenapa? Gak enak ya? Apa ada yang kurang?" tanya Ustadz Jaki sangat khawatir.
Shinta menggeleng dan berkata,
"Aku... aku ingat pada saat ayam ini kamu sembelih, kasihan....," ucap Shinta sambil meneteskan air matanya lebih banyak lagi.
"Allahu akbar....," ucap Ustadz Jaki sambil menutup wajahnya.
__ADS_1
Rhea, Ustadz Fariz dan Umi Sarifah tertawa mendengar jawaban dari Shinta dan melihat ekspresi Ustadz Jaki saat ini. Sedangkan Ustadz Jaki merasa frustasi karena usahanya sedari tadi tidak berhasil membuat istrinya senang dan bangga dengan hasil kerja kerasnya, malah sekarang Shinta tidak mau memakan sate ayamnya dan dia meminta Mbak Atik untuk membuatkannya telur mata sapi.