
Pagi ini Mirna sangat bersemangat karena niatnya pagi ini dia akan memasak sendiri untuk Ustad Fariz. Dari semalam Mirna sudah merencanakan apa saja yang akan dia masak untuk Ustad Fariz.
Sedari bangun tidur Mirna tidak bisa menunggu nanti karena dia ingin membuat Ustad Fariz terkesan dengan sikap dan masakannya.
Mas Fariz kan ingin aku berubah, jadi aku akan menunjukkan di hadapannya jika aku sudah berubah. Mirna, kamu nanti harus tenang dan sabar ketika di wilayah Pondok Pesantren Al-Mukmin. Ingat itu Mirna! dalam hati Mirna mengingatkan dan memberi semangat pada dirinya sendiri.
Seperti biasa Mirna berbelanja dengan Anita yang selalu setia mengikuti Mirna dan sebenarnya dia sebagai mata-mata dari Bapaknya, yaitu Pak Ratmo.
Di warung sayur Bu Dian sudah banyak ibu-ibu yang berbelanja sambil membuat forum gibah di sana.
"Eh itu Bu Mirna datang, kamu aja yang tanya," Bu A yang biasa berbelanja bicara pada Bu B.
"Kok aku sih, kamu aja," ucap Bu B dengan menyenggol lengan Bu C.
"Eh Bu Mirna, belanja apa Bu?" Bu D menyapa Mirna yang baru datang bersama Anita.
"Ini mau masak macem-macem Bu," jawab Mirna sambil memilih beberapa sayuran, ikan dan daging.
"Masak banyak ya Bu? Apa mau ada acara?" tanya Bu B yang mendadak kepo melihat belanjaan Mirna yang tidak seperti biasanya.
"Cuma pengen masakin buat suami aja Bu," jawab Mirna tanpa sadar sambil memilih-milih ikan.
"Suami? Memangnya Bu Mirna nikah lagi?" tanya Bu A tanpa sadar.
"Ngawur, wong baru aja di talak kok udah nikah lagi," sahut Bu D.
"Oiya ya. Hehehehe....," Bu A terkekeh menertawakan kebodohannya.
"Bu Mirna, Bu Mirna bohong ya sama kita-kita. Bu Mirna kan yang membalikkan fakta? Bu Mirna kan yang selalu berusaha mencelakai istri kedua dari suami Bu Mirna?" Bu C yang bertugas untuk bertanya, kini sudah menanyakan pertanyaan mereka pada Mirna.
__ADS_1
"Bu Mirna kok jahat sih? Meskipun kita berada di posisi Bu Mirna, kita gak akan tega loh Bu melakukan seperti apa yang Bu Mirna lakukan," sahut Bu D kemudian.
Mirna akan menjawab, namun selalu saja disahuti oleh ibu-ibu yang lain. Jadi belum sampai Mirna mengeluarkan suara, hanya mulutnya saja yang sudah terbuka, namun suara ibu-ibu yang lain sudah terdengar, sehingga Mirna tidak ada kesempatan untuk menjawab.
"Sadar Bu... Bu Mirna yang jahat kok malah nuduh orang yang jahatin situ. Harusnya Bu Mirna itu bersyukur bisa menjadi istri seorang Kyai dari Pondok Pesantren Al-Mukmin, kok malah kayak gitu kelakuannya, pantes aja diceraikan," sahut Bu B yang ikut menyerang Mirna.
"Berarti bener ya tausiyah Kyai Fariz tempo hari di Masjid desa sebelah tentang istri shalihah. Pasti istri shalihah nya itu istrinya yang kedua, yang ikut kemarin," ucap Bu A.
"Iya loh mana cantik, baik lagi, pantesan mereka romantis banget ya," ucap Bu membenarkan.
"Kan katanya kemarin di pertemuan itu Bu Mirna sering keluar rumah bahkan nginep di luar rumah tanpa meminta ijin pada suaminya, sering melawan suaminya, suka memfitnah istri kedua dari suaminya, bahkan yang lebih parahnya lagi Bu Ibu, Bu Mirna sengaja mencelakakan wanita itu dengan tujuan agar wanita itu keguguran, parah kan?" Bu D memperkeruh suasana.
Entah bagaimana dan asalnya dari mana apa yang mereka katakan itu malah bertambah, dari yang aslinya hanya 10 sekarang menjadi 100. Begitulah gosip jika berada di orang yang tepat, semuanya akan bertambah dengan sendirinya, semakin hari semakin panjang gosipnya.
"Cukup Bu, cukup! Saya tidak pernah melakukan itu semua, saya difitnah," teriak Mirna dengan kesal.
"Udah ada bukti dan saksinya masih ngelak," sahut Bu A.
Anita menarik tangan Mirna dan menaruh kembali semua belanjaannya.
"Ayo Mbak kita pulang."
"Enggak Nit, aku tidak terima, aku harus menjelaskan pada mereka," seru Mirna ketika mempertahankan badannya yang tangannya ditarik oleh Anita.
"Dih gak malu," kasak kusuk dari ibu-ibu hanya ini yang terdengar oleh Mirna di saat dia berdebat dengan Anita.
"Ayo Mbak pulang, percuma Mbak Mirna mau ngomong apapun gak ada yang mau denger Mbak, mereka udah tau semuanya," Anita tidak bisa lagi menahan malunya.
Mirna masih saja mengomel dengan mempertahankan badannya agar tidak terseret Anita, dan ibu-ibu itupun masih tetap menggunjing dan mencibir Mirna tanpa ampun, karena gara-gara bukti mereka pada saat bergibah bersama Mirna dipertontonkan pada acara pertemuan di Pondok Pesantren Al-Mukmin, mereka jadi bahan omongan orang-orang dan mereka pun dimarahi oleh suami-suami mereka.
__ADS_1
Anita pun menyerah, dia berlari pulang meninggalkan Mirna untuk memanggil Bapaknya. Pak Ratmo pun berlari menuju warung sayur Bu Dian untuk mengajak Mirna pulang.
Bu Dian hanya diam tidak berani melerai mereka semua. Apalagi pada saat Pak Ratmo datang, semuanya bertambah mencibir Pak Ratmo yang merupakan abdi di Pondok Pesantren Al-Mukmin mempunyai keponakan seperti Mirna.
Pak Ratmo jadi ikut terseret dalam perbuatan Mirna. Hilang sudah kesabaran Pak Ratmo, dan dia menyeret Mirna hingga sampai rumahnya.
"Memalukan sekali kamu Mirna!" Pak Ratmo sudah tidak bisa menahan kemarahan dan emosinya hingga Mirna kaget dan tertunduk takut.
"Kamu sudah mencoreng nama baik Pamanmu. Apa mau kamu Mirna...," ucap Pak Ratmo dengan penuh penekanan.
Mirna tetap menundukkan kepalanya, dia ketakutan, tangannya memainkan ujung hijabnya. Memang Pak Ratmo tidak pernah marah ataupun emosi seperti ini pada Mirna. Baru kali ini Mirna mendapati Pamannya semarah ini padanya.
"Pokoknya mulai sekarang Paman melarangmu untuk keluar dari rumah. Jika kamu tetap bersikeras keluar rumah, Paman tidak akan segan-segan mengusirmu keluar dari rumah ini. Ingat itu!" Pak Ratmo meninggalkan Mirna yang masih duduk dan berjalan menuju meja makan untuk mengambil minuman.
"Astaghfirullahaladzim... salah apa aku sampai punya keponakan ndablek kayak gitu," Pak Ratmo tidak percaya jika Mirna bisa melakukan hal sebodoh itu.
Pak Ratmo selama ini sangat bersyukur karena Mirna bisa mempunyai suami yang hebat seperti Ustad Fariz. Namun tidak disangka jika keponakannya itu tidak bisa menjaga sikap dan parahnya lagi dia melakukan hal bodoh yang sangat dibenci oleh siapapun.
Setelah itu Pak Ratmo segera berangkat ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. Melihat Pamannya sudah pergi, Mirna memanggil Anita.
"Anita... Anita... sini kamu cepetan," seru Mirna dari ruang tengah memanggil Anita yang berada di kamarnya.
"Apa sih Mbak," jawab Anita dengan muka kesalnya pada Mirna.
"Tolongin Mbak ya," Mirna memelas pada Anita.
"Tolongin apa dulu Mbak? Kalau nolongin yang aneh-aneh aku gak mau ya," Anita membuat perjanjian.
"Gak aneh kok. Mmm... tolong hubungi Mas Fariz dong, bilang aja aku sakit," Mirna mengatakan dengan wajah mengiba pada Anita.
__ADS_1