Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 144 Apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_3

Suasana rumah sakit menjadi kacau karena terjadi kecelakaan di perbatasan jalan antara desa dan kota. Semua anggota medis menjadi sangat sibuk dan ruang UGD menjadi penuh sesak sehingga sangat sulit bagiku untuk mencari pasien yang membutuhkan keahlianku.


"Dokter Shinta, di sini pasiennya. Silahkan dok," seorang perawat UGD memanggil Shinta dan mengarahkan Shinta pada pasien yang membutuhkan seorang dokter kandungan.


Shinta pun mengikuti perawat tersebut menuju bed pasien yang membutuhkannya. Anehnya langkah kaki Shinta sepertinya terasa berat.


"Dok, ini pasiennya!" perawat yang tadi berteriak pada Shinta.


Bismillahirrahmanirrahim... ucap Shinta dalam hati untuk mengenyahkan keraguannya.


Seorang wanita yang diberitahukan perawat sedang mengandung itu terbujur di atas bed pasien. Shinta perlahan mendekat tidak kuasa membayangkan wanita hamil seperti dirinya sedang berjuang untuk hidup.


Shinta semakin mendekat, dan ketika badan perawat yang berada di samping bed pasien menyingkir untuk memberi tempat bagi Shinta memeriksa, pada saat itu juga Shinta menjadi syok.


"Tidak....!" Shinta berseru ketika melihat tubuh pasien tersebut yang sedang tidak sadar dan berlumuran darah di atas bed pasien.


Badan Shinta terpaku tidak bisa digerakkan, bahkan kini badannya menjadi lemas seolah tak bertulang dan kepalanya berputar-putar.


Bruk!!!


"Dokter....!"


Beberapa perawat menolong Shinta dan membawanya menuju ruangan lain karena ruang UGD dalam keadaan penuh pasien kecelakaan tadi.


Perawat Shinta segera memberi kabar pada Ustadz Jaki tentang keadaan Shinta. Dengan kekhawatiran yang memuncak, Ustadz Jaki segera menuju rumah sakit.


"Ustadz, ada apa?" tanya Ustadz Fariz ketika melihat Ustadz Jaki tergesa-gesa menuju garasi.


"Mau ke rumah sakit, Shinta pingsan. Assalamu'alaikum...," jawab Ustadz Jaki dengan cepat kemudian dia berlari secepat mungkin.


"Eh Shinta kenapa?" pertanyaan Ustadz Fariz tidak dijawab oleh Ustadz Jaki.


"Wa'alaikumussalam...," ucap Ustadz Fariz kembali.

__ADS_1


"Kenapa ya Shinta?" Ustadz Fariz bertanya dengan heran pada dirinya sendiri.


Ustadz Fariz segera pulang ke rumah dan bertanya pada Rhea, ternyata Rhea dan Umi Sarifah tidak mengetahui perihal Shinta yang sedang pingsan di rumah sakit. Mereka semua merasa cemas dan khawatir pada Shinta dan kandungannya.


"Coba kamu hubungi Jaki, tanyakan ada apa sebenarnya?" Umi Sarifah memerintahkan Ustadz Fariz untuk menghubungi Ustadz Jaki.


"Lebih baik nanti saja, sekarang dia pasti masih di jalan. Kirim pesan dulu aja, agar dia bisa menghubungi kita nanti kalau dia sudah bisa menghubungi kita," Rhea mencegah Ustadz Fariz ketika akan menghubungi Ustadz Jaki.


"Iya, benar juga Umi. Biar Fariz kirim pesan aja dulu ya," Ustadz Fariz menyetujui ucapan Rhea dan Umi Sarifah pun mengangguk setuju.


Di rumah sakit, Ustadz Jaki merasa jika perjalanannya dari Pondok Pesantren Al-Mukmin ke rumah sakit sangat lama dan langkah kakinya menuju ruangan Shinta berada terasa sangat jauh.


"Sus, mana istri saya?" Ustadz Jaki bertanya dengan tegesa-gesa pada perawat yang menghubunginya tadi.


"Silahkan masuk Pak, dokter Shinta baru saja sadar, sekarang dokter Shinta sedang beristirahat di dalam," perawat tersebut menjawab pertanyaan Ustadz Jaki sekaligus memberitahukan di mana Shinta berada sekarang ini.


"Shinta... Sayang... kamu kenapa?" Ustadz Jaki bertanya dengan gelisah ketika sudah dekat dengan Shinta.


Shinta menoleh ke arah Ustadz Jaki yang memandangnya dengan penuh kecemasan, sedangkan Shinta berwajah sedih, matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar ketika akan menjawab pertanyaan dari Ustadz Jaki.


Air matanya berlinang deras ketika berada dalam pelukan suaminya. Dia tak kuasa menahan air mata kesedihannya. Ustadz Jaki semakin gusar mendengar suara isakan tangis Shinta yang terasa memilukan baginya.


"Kenapa Sayang? Ada apa?" Ustadz Jaki bertambah panik.


Shinta masih terisak, dia mencoba menghentikan tangisnya agar suaminya tidak lagi cemas.


"Udah, jangan nangis ya. Ini ingusnya di lap dulu," ucap Ustadz Jaki sambil mengelap ingus Shinta dengan menggunakan ujung hijab Shinta.


Sruuuuttt...


"Nah pinter... sekarang ceritain ya ke suami ganteng kamu ini apa yang sebenarnya terjadi," Ustadz Jaki mencoba bertanya pada istrinya dengan diselingi candaan agar istrinya tersenyum ataupun tertawa.


Shinta menghirup nafas dalam-dalam kemudian dia menghelanya perlahan berkali-kali hingga perasaannya sedikit lega. sedangkan Ustadz Jaki memandang wajah Shinta untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi padanya, namun nihil, dia tidak mendapatkan hasil apapun.

__ADS_1


Ah gak bakat jadi paranormal nih, gak bisa tau apa yang sedang dirasakan oleh istri sendiri, Ustadz Jaki membatin dalam keadaan masih memandang wajah istrinya yang masih sibuk mengatur nafasnya.


"Tasya, dia-"


"Kenapa bahas dia sih? Aku gak suka kamu masih memikirkan tentang wanita itu," ucap Ustadz Jaki kesal dan emosi sehingga dia berdiri tidak jauh dari Shinta.


"Bukan begitu, dia....,"


"Kenapa lagi?" sahut Ustadz Jaki dengan emosinya yang masih belum bisa dia hilangkan jika mendengar nama Tasya disebut oleh Shinta.


"Dia berada di UGD, aku gak tau keadaannya sekarang, tapi tadi pada saat aku melihatnya, banyak darah di... di...," Shinta kembali terisak ketika bayangan Tasya berada di UGD tadi melintas di pelupuk mata Shinta.


"Darah? Memangnya dia kenapa?" tanya Ustadz Jaki dengan nada datar.


"Aku gak tau, aku belum sempat memeriksanya, dan aku pingsan pada saat akan memeriksanya," ucap Shinta lirih dengan raut wajah menyesal.


"Sudah, kamu jangan pikirkan itu. Lebih baik kamu pikirkan kesehatan kamu dan anak kita," Ustadz Jaki mendekat dan mengusap perut Shinta serta mencium perutnya, meniru apa yang pernah dia lihat ketika Ustadz Fariz mengusap perut Rhea.


"Tapi aku harus tau keadaannya Sayang, dia sahabatku, aku harus menolongnya sebisa mungkin," Shinta mengucapkannya dengan cemas.


"Tidak dengan mengorbankan dirimu. Aku gak mau kamu melakukan itu hanya demi seorang sahabat yang tidak bisa melihat sahabatnya bahagia. Dia ingin merenggut kebahagiaanmu, jadi tidak pantas jika dia disebut sebagai sahabat. Ingat itu," Ustadz Jaki berkata dengan kesal dan tegas.


"Lalu, aku harus bagaimana?" Shinta menatap suaminya dengan iba.


"Tunggu sebentar, kita akan cari tau tentang keadaan dia," jawab Ustadz Jaki dengan berjalan menuju pintu.


"Apa kamu akan menemuinya?" tanya Shinta dengan perasaan takut.


Tiba-tiba Shinta merasa takut, hatinya seperti dicubit. Dia takut jika suaminya akan menemui Tasya dan merasa iba padanya, sehingga suaminya mau menerima permintaan Tasya.


"Enggak! Gak akan! Aku gak akan menemui dia apapun alasannya. Apalagi kamu jadi pingsan dan kepikiran gara-gara dia" Ustadz Jaki dengan tegas menjawab pertanyaan Shinta.


Secercah kebahagiaan tersirat di hatinya, namun bayangan Tasya membuatnya kembali bersedih dan khawatir pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Lalu siapa yang akan mencari tau tentang keadaan Tasya jika aku tetap berada di sini?" Shanti bertanya dengan wajah bingung pada Ustadz Jaki.


Ustadz Jaki berjalan mendekati Shinta. Dengan senyum manisnya dia membisikkan sesuatu pada Shinta. Dan senyum Shinta pun merekah ketika suaminya membisikkan idenya padanya.


__ADS_2