
Keesokan harinya Ustadzah Farida tetap ijin untuk tidak mengajar dalam beberapa hari dengan alasan menunggui Bapaknya yang sedang sakit di rumah sakit.
"Ustadzah apa perlu kita menjenguk Bapaknya Ustadzah Farida di rumah sakit?" Ustadzah Anisa bertanya pada Ustadzah Nurul pada saat mereka berada di ruang pengajar.
"Boleh Ustadzah, kapan kita akan pergi ke sana?" Ustadzah Nurul menyetujui usulan dari Ustadzah Anisa.
"Bagaimana kalau nanti sore setelah kita selesai mengajar?" Ustadzah Anisa memberikan pendapatnya.
"Terserah Ustadzah Anisa saja. Atur saja dengan yang lain kapan bisanya kita ke sana," jawab Ustadzah Nurul menyetujui usulan dari Ustadzah Anisa.
"Ya sudah Ustadzah, saya konfirmasi dulu dengan yang lain," ucap Ustadzah Anisa dan mendapatkan anggukan sebagai tanda setuju dari Ustadzah Nurul.
Sore harinya selepas mereka mengajar, mereka berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk bapak dari Ustadzah Farida. Ustadzah Anisa sudah mengetahui ruang perawatannya karena tadi pagi dia sudah meminta pada Ustadzah Farida. Mereka semua berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan mobil milik Pondok Pesantren Al-Mukmin yang dikendarai oleh Pak Ratmo.
"Farida, kamu mau berapa hari bolos gak ngajar? Di sini juga kamu gak ngapa-ngapain, mending kamu ngajar aja sana, ngapain di sini kalau cuma baca buku aja," ucap ibu Ustadzah Farida ketika melihat Ustadzah Farida sedang membaca buku sedari tadi.
"Iya Nduk, apa kamu gak kasihan sama santri-santri kamu?" bapak Ustadzah Farida ikut menyahuti ucapan istrinya.
"Farida malu Bu, Pak. Farida gak tau harus bagaimana nanti ketika bertemu dengan Ustadz Jaki dan keluarganya," jawab Ustadzah Farida sambil menutup buku yang dibacanya.
"Ya biasa aja, mau gimana lagi," ucap ibu Ustadzah Farida dengan entengnya.
"Apa ibu gak malu kalau jadi Farida setelah ditolak malam itu? Dan yang bikin Farida malu ibu memaksa Ustadz Jaki untuk memperistri Farida, belum juga omongan ibu tentang istri Kyai yang jadi istri kedua dan tentang keguguran istri Ustadz Jaki kemarin itu, pasti mereka sangat kesal sama Farida Bu," ucap Ustadzah Farida yang sedikit kesal pada ibunya.
Ibu Ustadzah Farida hendak menjawab, namun pada saat dia membuka mulutnya, bapak Ustadzah Farida sudah mengeluarkan pertanyaan terlebih dahulu pada Ustadzah Farida, sehingga ibu Ustadzah Farida hanya membuka mulutnya saja tanpa mengeluarkan suara.
"Lalu sampai kapan kamu menghindar seperti ini Nduk?" bapak Ustadzah Farida bertanya pada Ustadzah Farida.
__ADS_1
"Entahlah Pak, Farida belum tau," jawab Ustadzah Farida lemas.
Perdebatan mereka berlangsung lumayan lama karena ibu Ustadzah Farida yang mengharuskan Ustadzah Farida untuk tetap mengajar dan mereka masih membahas tentang kejadian malam itu dan niatan mereka untuk menjadikan Ustadzah Farida sebagai istri kedua Ustadz Jaki.
Tanpa diketahui Ustadzah Farida dan bapak ibunya, ada beberapa Ustadz dan Ustadzah pengajar dari Pondok Pesantren Al-Mukmin yang mendengar percakapan mereka sedari tadi.
Mereka sudah datang sedari tadi sejak Ustadzah Farida berdebat dengan ibunya. Tadinya mereka hendak mengetuk pintu kamar tersebut, namun mereka urungkan ketika mereka mendengar suara perdebatan dari dalam kamar tersebut.
Mereka tidak bisa lagi menunggu karena jumlah mereka yang lebih dari lima orang itu bisa menghambat jalan di luar kamar tersebut, jadi mereka memutuskan untuk mengetuk pintu kamar tersebut setelah perdebatan Ustadzah Farida dengan kedua orang tuanya di dalam kamar sedikit reda.
Tok... tok... tok...
Ustadzah Anisa mengetuk pintu kamar inap bapak Ustadzah Farida.
"Assalamualaikum....," Ustadzah Anisa mengucap salam sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumussalam...," jawab semua orang yang berada di dalam kamar inap tersebut.
Apa mereka mendengar percakapan kami tadi ya? Wah gawat kalau memang benar mereka dengar, bisa-bisa aku bertambah malu nanti, Ustadzah Farida berkata dalam hatinya sambil membuka lebar pintu kamar tersebut agar mereka bisa masuk ke dalam kamar tersebut.
Para Ustadz dan Ustadzah tersebut berbincang-bincang dengan kedua orang tua Ustadzah Farida, dan mereka juga memberikan buah tangan serta tidak lupa memberikan doanya untuk kesembuhan bapak dari Ustadzah Farida.
Sesampainya mereka di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ustadzah Santi yang memang suka ceplas-ceplos membahas kembali apa yang mereka dengar tadi di kamar rumah sakit, dan seperti kejadian waktu itu, ketika Mirna mengatakan tentang pelakor yang mendekati suaminya adalah Rhea, Ustadzah Santi pun keceplosan mengatakan dihadapan Umi Sarifah, Rhea dan Ustadz Jaki pada saat itu.
Dan kini, beberapa orang yang berada di Pondok Pesantren Al-Mukmin tidak sengaja mendengar ucapan Ustadzah Santi yang membahas tentang keluarga Ustadzah Farida yang menginginkan Ustadz Jaki untuk menjadikan Ustadzah Farida sebagai istri keduanya. Bahkan mereka sudah bertamu dan menghadap pada Umi Sarifah untuk menyampaikan keinginan mereka.
Banyak yang mencibir tindakan Ustadzah Farida dan keluarganya, namun Ustadzah Farida tidak tahu karena dia belum juga masuk untuk mengajar.
__ADS_1
Selang beberapa hari kemudian, Ustadzah Farida melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan lemah, hatinya merasa tidak siap untuk berhadapan dengan Ustadz Jaki ataupun Umi Sarifah serta Ustadz Fariz.
Dalam hatinya dia berharap agar dia bisa selalu menghindari pertemuan dengan keluarga pemilik Pondok Pesantren Al-Mukmin tempat dia mengajar.
Ustadzah Farida sedikit terlambat, dia tidak masuk ke ruang pengajar lebih dahulu, dan dia langsung menuju ruang kelas di mana dia harus mengajar pada hari itu.
Pandangan para santriwati berbeda padanya, dan mereka seolah membicarakan sesuatu dengan berbisik-bisik pada teman lainnya.
Ustadzah Farida tidak mau ambil pusing karena dia sendiri sedang mempunyai banyak pikiran sehingga sulit baginya untuk menelaah kejadian yang ada di hadapannya.
Suasana yang sama pun dia temukan di kelas lain saat dia mengajar di kelas lain, bahkan saat dia berjalan pun mata semua orang seolah memandang ke padanya dengan tatapan yang aneh menurutnya, tidak seperti biasanya yang menyapa Ustadzah Farida dengan hormat.
Ustadzah Anisa yang tidak sengaja mendengar para santrinya membicarakan tentang Ustadzah Farida pun menjadi cemas, dia takut jika Ustadzah Farida mengetahui berita-berita yang beredar mengenai dirinya.
Entah dari mana berita itu bisa beredar luas, Ustadzah Anisa tidak mengerti. Dan dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarga pemilik Pondok Pesantren Al-Mukmin jika mengetahu tentang berita yang beredar di kalangan santri dan pengurus Pondok Pesantren Al-Mukmin saat ini.
Ustadzah Anisa segera mencari Ustadzah Farida, namun dia tidak menemukan Ustadzah Farida di mana pun. Sedangkan Ustadzah Farida yang sedang merasa tidak bersemangat dan hatinya merasa tidak enak, dia pergi ke dapur umum untuk berniat membuat teh hangat, namun kurang dari selangkah dia masuk ke dalam dapur, dia mendengar suara dari dalam dapur yang menghentikan langkahnya.
"Eh Ustadzah Farida udah masuk kan tadi? Kok gak isin yo, gak malu gitu ke sini lagi setelah ditolak mentah-mentah lamarannya sama Ustadz Jaki?"
"Iya, aku dengar katanya keluarga Ustadzah Farida maksa loh supaya Ustadz Jaki mau menjadikan Ustadzah Farida sebagai istrinya."
"Kalau aku yo pasti isin, malu. Mau ditaruh di mana mukanya kalau bertemu dengan Ustadz Jaki sama keluarganya. Mana Bu dokter Shinta habis keguguran lagi. Kok tega ya keluarganya Ustadzah Farida?"
"Iya loh, ada yang dengar waktu itu sampai Ustadz Jaki marah-marah sama ibunya Ustadzah Farida yang ngeyel menjodohkan anaknya sama Ustadz Jaki. Mana Bu Rhea juga dihina sama ibu Ustadzah Farida katanya, ya jelas Kyai marah waktu itu istrinya dihina. Wes pokoknya malam itu ramai sampai bu dokter Shinta semaput, pingsan."
Kaki Ustadzah Farida gemetar, hatinya yang terasa tidak enak ternyata pertanda jika akan terjadi sesuatu padanya. Ustadzah Farida membalikkan badannya, dan sekuat tenaga dia berjalan cepat bahkan sedikit berlari agar cepat sampai di kamarnya dengan air mata yang menetes di setiap langkahnya.
__ADS_1
Ustadzah Anisa yang mencari Ustadzah Farida kaget ketika berpapasan dengan Ustadzah Farida yang tidak menyapanya dan berlari kecil dengan berurai air mata.
"Ada apa dengan Ustadzah Farida? Apa dia sudah mendengarnya?" Ustadzah Anisa bertanya pada dirinya sendiri dengan melihat punggung Ustadzah Farida yang berlari menjauh darinya.