
Akhirnya Hana memohon pada Mirna agar dia tidak bersekolah hari ini. Dan mereka pun pulang pada saat itu juga, sebelum jam masuk sekolah berbunyi.
Hana mencoba untuk bertahan pada saat itu, dia mencoba untuk tidak mendengarkan apa yang diucapkan teman-temannya tentang dirinya.
Namun kejadian Mirna bertengkar dengan ibu temannya yang menghinanya itu membuat Hana lebih mantap untuk berpindah sekolah.
Bukannya Hana tidak bersyukur karena ibu sambungnya yaitu Mirna yang membelanya, namun karena hal itu sudah bisa dipastikan Hana semakin dijadikan bahan ejekan dan bully an teman-temannya.
"Assalamu'alaikum....," Hana dan Mirna memberi salam ketika memasuki rumah Oak Ratmo.
"Loh Hana kok sudah pulang Mbak? Apa Hana sakit?" tanya Anita dengan cemas pada Mirna ketika melihat Hana dan Mirna yang menggendong baby Emir berjalan masuk ke dalam rumah.
Mirna berlalu masuk ke dalam kamarnya yang berada di rumah Pak Ratmo, kamar yang dulu dia tempati sebelum menikah dengan Pandu.
Dan Hana pun mengikuti Mirna masuk ke dalam kamar tersebut setelah mencium punggung tangan Anita.
Mirna keluar dari kamarnya setelah menidurkan baby Emir di ranjang miliknya.
"Kok kamu belum berangkat ke warung Nit? Harusnya kamu sudah masak jam segini."
Mirna melampiaskan kekesalannya pada Anita yang sedang bersiap-siap akan berangkat ke warung.
"Sebentar lagi Mbak. Ini lagi menyiapkan bahan-bahan untuk dibawa ke warung," jawab Anita sambil memasukkan bahan-bahan yang sudah disiapkannya ke dalam tas belanjaan.
"Ya sudah cepat berangkat. Kamu sudah pesan ojek?" tanya Mirna yang hatinya masih kesal karena peristiwa di sekolah Hana.
"Lagi nunggu Mas Pandu Mbak," jawab Anita tanpa sadar.
Sontak saja Mirna menoleh ke arah Anita dan menampakkan wajah kesalnya pada Anita.
"Maksud kamu apa nunggu Mas Pandu?" tanya Mirna dengan kesal dan suara agak meninggi.
Seketika gerakan tangan Anita berhenti. Dia lupa jika Mirna akan sangat marah jika mengetahui Pandu dekat dengan dirinya. Padahal Anita tidak punya niat sama sekali untuk mendekati Pandu.
"Tadi Anita Mas Pandu untuk memanggilkan ojek di depan sana Mbak, tapi kata Mas Pandu biar dia saja yang mengantar."
__ADS_1
"Seharusnya kamu menolaknya Nit. Kamu gak sadar apa, dia itu suamiku Nit, gak pantas kamu berboncengan dengan suami orang lain. Masa' gitu aja kamu gak ngerti Nit?"
Mirna menyela ucapan Anita dengan kesal menyudutkan Anita tanpa mencari tahu kejadian yang sebenarnya.
"Mbak Mirna dengerin Anita dulu dong. Tadi Anita sudah menolaknya, tapi Mas Pandu bilang dia gak keberatan karena dia ingin berterima kasih padaku karena telah menjaga anak-anaknya jika tidak sedang bersama Mbak Mirna. Dan juga katanya Anita kan bekerja untuk warung Mbak Mirna, jadi untuk ucapan terima kasihnya karena hari ini Anita menjaga warung sendirian karena Mbak Mirna menunggui Hana sampai pulang sekolah."
Anita menjelaskannya persis seperti yang dikatakan oleh Pandu. Namun penjelasan dari Anita tidak membuat wajah kesal Mirna hilang. Malah kini Mirna terlihat semakin kesal padanya.
Mirna mengeratkan giginya, nafasnya naik turun dan hidungnya kembang kempis mendengar penjelasan dari Anita seraya dia berkata dalam hatinya,
Mas Pandu gimana sih, istrinya kan aku, ngapain dia mau mengantarkan Anita dan tidak memperbolehkan Anita naik ojek? Kenapa dia peduli sekali dengan Anita? Jangan-jangan mereka saling suka. Lalu gimana dengan aku? Ah tidak bisa dibiarkan ini. Aku harus bisa membuat Mas Pandu selalu ingat padaku.
"Nit apa kamu sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang. Maaf ya agak telat karena tadi aku harus..... Mirna? Loh kok kamu ada di sini? Bukannya kamu ada di sekolah Hana dan menungguinya sampai pulang sekolah?"
Tiba-tiba saja Pandu masuk ke dalam rumah dan bersuara seiring dengan langkah kakinya yang memasuki rumah tanpa mengucap salam terlebih dahulu.
Pandu kaget melihat Mirna yang sudah berdiri di sana dengan wajah yang tidak bersahabat menatap dirinya.
"Kalau masuk rumah ucap salam dulu!"
"Eh iya, maaf Mir. Assalamu'alaikum," ucap Pandu dengan kikuk.
"Wa'alaikumussalam," jawab Mirna dengan sewot.
"Wa'alaikumussalam," jawab Anita lirih agar tidak terdengar jelas oleh Mirna.
"Antar aku, Hana dan Emir ke warung sekarang," ucap Mirna dengan tegas memerintahkan pada Pandu yang berstatus sebagai suaminya.
"Loh Hana sudah pulang? Bukannya dia sekolah Mir? Apa ada masalah?" tanya Pandu beruntun pada Mirna dengan rasa ingin tahunya.
"Nanti saja kita bicarakan di rumah, setelah Mas Pandu pulang dari kerja. Sekarang antar kita ke warung," jawab Mirna dengan ketus.
"Tapi Anita Mir-"
"Anita bisa naik ojek," Mirna menyela ucapan Pandu dengan kesal.
__ADS_1
Lalu dia beralih menatap Anita dan berkata,
"Iya kan Anita? Kamu kan udah besar, gak usah manja deh."
Anita menghela nafasnya mendengar ucapan Mirna. Dalam hati dia berkata,
Sabar... sabar Nit, Mbak Mirna lagi kesetanan. Sabar aja, nanti juga balik lagi baik kok. Ingat, kamu harus sabar menghadapi Mbak Mirna.
"Tapi aku tadi udah janji sama Anita Mir. Gini aja, biar aku antar kalian bergantian."
Pandu mencoba memberikan solusi karena dia merasa tidak enak dengan Anita yang sudah banyak membantunya. Apalagi keluarganya masih menumpang di rumah Pak Ratmo yang berarti rumah Anita juga.
"Gak ada. Biar Anita naik ojek saja. Mas Pandu itu paham gak sih, Mas Pandu itu suami Mirna. Apa kata orang jika melihat Mas Pandu boncengan dengan Anita? Bisa-bisa kalian dinikahkan kayak kejadian kita dulu."
Mirna dengan tegas menolak pendapat Pandu yang menyarankan untuk mengantarnya dan Anita bergantian.
Lebih baik aku nikah sama Anita Mir daripada sama kamu, Pandu berkata kesal dalam hatinya.
"Udah, kalian jangan bertengkar. Ada Hana di dalam, jangan sampai dia mendengar orang tuanya bertengkar. Dia pasti akan sedih mendengarnya. Biar aku naik ojek aja. Kalian berangkatlah bersama."
Anita bersuara untuk menghentikan kemarahan Mirna dan rasa tidak enak Pandu padanya.
Anita mengerti jika Pandu sebenarnya hanya merasa tidak enak dan ingin berterima kasih saja padanya. Oleh sebab itu Anita mau menerima tawaran Pandu untuk mengantarkannya ke warung.
Dan alasan lainnya karena Anita sudah menganggap Pandu seperti kakaknya sendiri karena Pandu merupakan suami dari Mirna, kakak sepupunya.
"Gitu kek dari tadi. Buang-buang tenaga aja," ucap Mirna sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf ya Nit, gara-gara saya, Mirna jadi marah sama kamu," ucap Pandu dengan perasaan menyesal pada Anita.
"Gapapa Mas, sudah biasa," jawab Anita sambil tersenyum, sehingga membuat Pandu yang melihatnya ikut tersenyum.
Tiba-tiba Mirna keluar dan melihat Anita bersama Pandu berbalas senyum membuatnya sangat kesal.
"Eheeeem.... gak usah senyum-senyum!"
__ADS_1