Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 151 Kebetulan atau takdir?


__ADS_3

Dengan berbekal info dari beberapa orang tentang lokasi Pondok Pesantren Al-Mukmin, Pandu dan keluarganya berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Al-Mukmin.


beberapa kali mereka berhenti untuk beristirahat di beberapa tempat. Jarak antara jalan raya dengan Pondok Pesantren Al-Mukmin masih sangat jauh, dan sepertinya mereka tidak akan bisa sampai malam ini karena Hana sudah mulai lelah dan mengantuk.


"Kita istirahat dulu di sini ya," ucap Pandu sambil mengajak istri dan anaknya duduk di pos ronda.


Ani menurut saja mengikuti Pandu yang sedang menggendong Hana karena kecapekan berjalan sedari tadi. Ani melihat sekeliling pos tersebut yang memang sudah sepi dan sepertinya semua orang sudah berjelajah ke alam mimpi.


Kemudian Ani mengalihkan pandangannya pada Hana yang tertidur di pangkuan Pandu. Dia merasa iba pada Hana yang masih sangat kecil untuk merasakan semua ini. Ani benar-benar meratapi hidupnya yang tidak pernah terduga akan menjadi seperti gelandangan yang tidak mempunyai rumah.


"Tidurlah, besok pagi saja kita teruskan perjalanannya. Semoga warga daerah ini ada yang membutuhkan tenagaku untuk bekerja," ucap Pandu pada Ani yang sepertinya sedang berpikir.


Ani pun mengangguk, dia menuruti ucapan suaminya untuk beristirahat karena memang sepertinya dia butuh beristirahat. Sebenarnya sedari tadi perut Ani terasa nyeri dan kencang, namun dia tidak berani untuk berkeluh kesah pada suaminya. Hanya dirasa sendirilah sakitnya itu, karena dia tidak mau menyusahkan suaminya yang pastinya akan sangat khawatir padanya.


Adzan subuh terdengar berkumandang di telinga Pandu. Dengan segera dia membangunkan istrinya agar terbangun sebelum warga sekitar melihat mereka tidur di sana.


"Ani... An... bangun, sudah subuh," ucap Pandu sambil menggerak-gerakkan tubuh Ani.


"Emmmm... ada apa Mas?" tanya Ani yang masih belum bisa membuka matanya secara sempurna.


"Sudah subuh, sebaiknya kita segera pergi dari sini," jawab Pandu sambil membantu Ani duduk dari tidurnya.


Ani pun mencoba untuk sadar sepenuhnya. Dia membuka lebar-lebar matanya sambil menutup mulutnya ketika menguap.


"Masih ngantuk ya?" tanya Pandu pada Ani.


"Iya Mas, semalam gak bisa tidur nyenyak, banyak nyamuk," jawab Ani sambil mengusap-usap matanya kembali setelah menguap.


"Sudah bisa jalan kan sekarang? Hana tidak usah dibangunkan, biar aku gendong saja dia," ucap Pandu sambil berdiri dan menggendong Hana yang masih sangat terlelap.


"Sepertinya Hana sangat kelelahan. Maaf kita masih belum mendapatkan tempat tinggal," ucap Pandu yang merasa bersalah pada anak dan istrinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mas, semoga saja sebentar lagi kita akan mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan," ucap Ani sambil berjalan beriringan dengan Pandu.


Sesuai arahan dari beberapa orang, akhirnya Pandu dan Ani menemukan gapura yang bertuliskan 'Pondok Pesantren Al-Mukmin'.


"Sepertinya itu tempatnya Mas," ucap Ani sambil menunjuk ke arah gerbang yang bertuliskan 'Pondok Pesantren Al-Mukmin'.


Pandu mengangguk ketika Ani mengalihkan pandangannya dari gerbang tersebut pada Pandu.


"Semoga kita mendapat kabar baik ya. Ayo kita ke sana," ucap Pandu sambil menurunkan Hana yang sudah bangun.


Mereka bertiga berjalan menuju gerbang Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan Hana berada di tengah di gandeng oleh Pandu dan Ani.


"Permisi Pak, apa kita bisa bertemu dengan pihak dari Pondok Pesantren ini?" Pandu bertanya pada satpam yang berada di pos keamanan.


"Ada perlu apa ya Pak? Apa Bapak salah satu wali santri di sini?" tanya satpam tersebut pada Pandu.


"Bukan Pak, kami hanya ingin bertemu dengan pihak Pondok Pesantren ini, karena saya sedang butuh pekerjaan dan siapa tau mereka membutuhkan tenaga saya untuk bekerja," jawab Pandu dengan sedikit malu pada Satpam tersebut.


"Wah maaf Pak, saya tidak bisa memutuskan itu. Sebaiknya Bapak-"


"Tolonglah Pak biarkan saya bertemu dan berbicara pada pemiliknya, sekali saja Pak.... Kasihan anak kami jika harus kembali berjalan tanpa tujuan," Pandu mengiba pada satpam tersebut dengan mengenyahkan harga dirinya demi anaknya.


Satpam tersebut tampak sedang berpikir, dia kembali memperhatikan Hana yang berwajah kelelahan setelah bangun tidur.


"Sebentar Pak saya tanyakan dulu," ucap satpam tersebut pada Pandu.


Satpam tersebut berbicara pada rekan satpam yang lain di pos keamanan, kemudian salah satu dari mereka pergi dari sana.


Setelah beberapa lama, satpam tadi kembali dan mempersilahkan Pandu beserta keluarganya menuju rumah Umi Sarifah tentunya dengan mengantar mereka.


"Assalamu'alaikum....," satpam tersebut memberi salam ketika berada di depan pintu rumah Umi Sarifah.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam...," jawab seseorang dari dalam rumah.


"Mbak Atik, Umi Sarifah atau Kyai Fariz ada? Ini ada orang yang mau ketemu. Tadi saya sudah bertanya Umi Sarifah katanya disuruh bawa ke sini," ucap satpam tersebut ketika pintu rumah sudah dibuka oleh Mbak Atik.


"Sebentar saya panggilkan dulu," jawab Mbak Atik yang kemudian masuk ke dalam rumah untuk memanggilkan Umi Sarifah dan Ustadz Fariz.


Tidak berapa lama keluarlah Umi Sarifah dari dalam rumah dan mempersilahkan Pandu beserta anak dan istrinya masuk ke dalam ruang tamu. Sedangkan Satpam yang tadi mengantarkan Pandu dan keluarganya ke rumah Umi Sarifah, sekarang kembali ke pos keamanan.


"Ada perlu apa ya? Apa ada yang bisa kami bantu?" Umi Sarifah bertanya pada Pandu dan Ani ketika mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Maaf Umi, kami semalam baru datang dari tempat yang jauh dan kami belum menemukan tempat tinggal serta pekerjaan. Maaf, apa di sini ada pekerjaan untuk saya? Apa saja tidak apa-apa, asalkan kami bisa tinggal di sini," ucap Pandu dengan sopan dan mengiba.


"Kalai itu Umi tidak tau. Sebentar ya, Umi akan panggilkan Kyai Fariz dulu. Beliau yang bertanggung jawab atas Pondok Pesantren Al-Mukmin ini," jawab Umi Sarifah dengan senyum yang sangat menenangkan seperti biasanya.


Pandu mengangguk dan menunggu Umi Sarifah yang masuk ke dalam untuk memanggil Kyai yang dimaksud tadi.


Tidak berapa lama, Umi Sarifah keluar bersama dengan Ustadz Fariz. Pandu bersalaman pada Ustadz Fariz dan Ustadz Fariz menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada ketika Ani mengulurkan tangannya pada Ustadz Fariz.


Pandu memperkenalkan Ani dan Hana pada Ustadz Fariz dan Umi Sarifah. Kemudian dia mulai bercerita pada mereka tentang tujuannya datang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin ini. Ustadz Fariz berpikir sejenak, karena setahunya di Pondok Pesantren Al-Mukmin sekarang tidak sedang membutuhkan tenaga kerja apapun, namun Ustadz Fariz merasa kasihan pada Pandu dan anak istrinya, apalagi Ustadz Fariz melihat perut Ani yang sudah terlihat sedikit membesar karena kehamilannya.


"Umi, apa Ustadz Jaki ada di rumah?" tanya Ustadz Fariz pada Umi Sarifah.


"Apa mau tanya pada Ustadz Jaki dulu?" tanya Umi Sarifah kembali pada Ustadz Fariz.


"Iya Umi, Ustadz Jaki yang lebih tau tentang kepengurusan Pondok Pesantren Al-Mukmin," jawab Ustadz Fariz.


"Sebentar, biar Umi panggilkan dulu. Sepertinya dia masih belum berangkat tadi," ucap Umi Sarifah sambil berdiri dari duduknya.


Tidak berapa lama Ustadz Jaki duduk di kursi ruang tamu tidak tanpa datang dengan Umi Sarifah karena Umi Sarifah lebih memilih untuk bermain bersama Izam dan Salsa ketika berpapasan dengan mereka di ruang tengah.


"Rhea, tolong antarkan minuman itu untuk tamu yang ada di depan. Mbak Atik sedang sibuk menjemur baju di belakang," ucap Umi Sarifah sambil bermain dengan Izam dan Salsa, sedangkan Shinta masih bersiap-siap untuk pergi bekerja seperti biasanya.

__ADS_1


"Rheina Az Zahra!" ucap Pandu tanpa sadar ketika melihat Rhea membawa nampan yang berisi minuman untuk mereka.


__ADS_2