
Acara aqiqah baby Yasmin tidak sebesar acara aqiqah Izam dan Salsa kala itu. Suasana duka masih menyelimuti mereka.
Seharusnya Pondok Pesantren Al-Mukmin dalam keadaan gembira dengan hadirnya anggota baru keluarga mereka, Yasmin Zahra Mahadi.
Namun mereka masih diselimuti rasa duka yang mendalam dengan kepergian Umi Sarifah dan Izam yang masih dalam tahap penyembuhan.
"Yasmin, ini nenek bawakan kalung yang di pakai Bundamu dulu sewaktu masih kecil."
Bu Ratih memberikan sebuah kalung anak-anak dengan liontin yang bertuliskan nama "Zahra" pada kalung tersebut.
"Wah Bu, ternyata Ibu masih menyimpannya ya?" tanya Rhea pada ibunya dengan tersenyum.
Diambilnya kalung tersebut dari tangan ibunya dan dipakaikan pada leher baby Yasmin.
"Tentu saja ibu simpan. Kalung ini pemberian dari nenek kamu Rhea, dan ini hanya satu-satunya. Kalung ini dibuat khusus untukmu. Lihat saja, pada ukiran namanya bertabur butiran berlian putih yang jumlahnya sama dengan tanggal dan bulan kelahiranmu."
Bu Ratih menjelaskan tentang kalung tersebut pada Rhea dan Ustadz Fariz yang duduk di samping Rhea.
"Seharusnya saya Bu yang memberikan kalung dengan nama Zahra, karena saya memanggilnya dengan nama Zahra."
Ustadz Fariz mengeluarkan candaannya sambil terkekeh ketika mengatakannya.
"Eh jangan salah, yang memberikan nama Zahra itu adalah Neneknya Zahra loh. Mangkanya dia membuatkan kalung dengan ukiran nama Zahra di sana. Dan itu dipesan langsung dari pembuatnya."
Kini Pak Adrian yang bersuara, dia ingin sedikit bercerita tentang keluarganya.
"Oh ya? Benarkah itu Yah?" tanya Rhea pada Ayahnya.
Rhea tidak menyangka jika kelahirannya sangat mendapatkan perhatian dari kakek dan neneknya.
"Kakek kamu dulu itu pengusaha toko emas di kota kita. Dan toko emasnya berkembang pesat sehingga mempunyai cabang hampir di semua daerah di kota kita. Jadi Kakek dan Nenekmu ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk cucu istimewa mereka. Hanya kamu cucu perempuan mereka pada saat itu, sehingga mereka sangat mengistimewakan kamu."
__ADS_1
Pak Adrian kembali meneruskan ceritanya. Dia menceritakan bagaimana jayanya keluarganya pada saat itu.
"Wah, kebetulan sekali ya nama ibu dan anak ini sama-sama Zahra. Jadi kalungnya bisa dipakai anaknya," Ustadz Fariz menanggapi cerita ayah mertuanya.
"Iya benar, sangat beruntung sekali cucu Kakek ini," ucap Pak Adrian sambil terkekeh.
"Mengingat tentang Kakek dan Nenek kalian, Ayah jadi ingat akan sesuatu. Ayah harap kalian bisa menjauhkan anak-anak kalian dari sikap kufur dan serakah. Ayah tidak ingin mereka akan berakhir seperti adik-adik Ayah yang seperti sekarang ini keadaannya."
Pak Adrian menghela nafasnya sesudah dia bercerita tentang keluarganya.
"Insya Allah Yah, kami berdua akan berusaha mendidik anak kami agar menjadi anak yang shaleh dan shalihah yang berakhlakul karimah."
Ustadz Fariz mengatakannya sambil tersenyum seraya tangannya menggapai tangan istrinya untuk digenggamnya.
Dan itu membuat Bu Ratih dan Pak Adrian tersenyum lega. Mereka lega dan merasa bersyukur anak perempuannya bisa mendapatkan suami yang insya Allah bisa membimbingnya menuju kebaikan.
Keluarga Pak Adrian memang termasuk keluarga terkaya dahulu di kotanya. Toko emas yang didirikan oleh ayah Pak Adrian selalu ramai dan mempunyai cabang di beberapa daerah.
Dan mereka tidak memiliki kemampuan khusus dalam bidang akademik ataupun keahlian. Sehingga mereka sama sekali tidak mempunyai keahlian khusus untuk bisa mereka banggakan.
Mereka hanya bisa berfoya-foya menghabiskan uang kedua orang tuanya. Meskipun mereka sudah menikah, mereka selalu meminta uang pada kedua orang tuanya dengan alasan untuk mendirikan usaha. Namun usaha mereka selalu gagal sebelum berkembang.
Hanya Pak Adrian saja yang selalu berusaha untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya dengan memberikan yang terbaik dalam hal akademik dan keahlian dalam hal berbisnis yang bisa membuat kedua orang tuanya bangga.
Naasnya, ketika kedua orang tua mereka meninggal dalam suatu kecelakaan, mereka tidak bisa lagi meminta uang pada mereka.
Akhirnya mereka menerima warisan yang sudah diatur oleh ayah mereka pada pengacaranya. Masing-masing mendapatkan dua toko emas untuk mereka kelola.
Namun sayangnya hanya dalam waktu satu tahun saja toko emas mereka bangkrut. Karena mereka terlilit oleh hutang, mereka menjadi tertekan dan meminta toko emas Pak Adrian untuk dijadikan jaminan hutang mereka.
Awalnya Pak Adrian menolak, namun lama-lama dia memberikan kedua toko emas miliknya sebagai jaminan hutang mereka karena dia sangat iba melihat nasib adik-adiknya yang telah menjual rumah mewah mereka dan berganti dengan rumah yang tidak begitu besar.
__ADS_1
Pak Adrian memiliki satu toko emas lagi yang murni milik dia sendiri, bukan dari pemberian kedua orang tuanya. Namun adiknya yang belum memiliki jaminan hutang meminta toko emas tersebut dan menuduh bahwa toko emas tersebut adalah pemberian dari kedua orang tua mereka.
Dengan berat hati Pak Adrian memberikan toko emas tersebut sebagai jaminan karena mereka mengatakan jika Pak Adrian bukan sosok kakak yang baik dan egois tidak mau menolong adiknya yang sedang kesusahan. Mereka juga mengatakan bahwa toko tersebut hanya sebagai jaminan bukan untuk mereka minta. Itu alasan yang mereka berikan untuk menyudutkan dan menekan Pak Adrian.
Dan benarlah, mereka semua gagal membayar hutangnya, sehingga ketiga toko emas Pak Adrian disita oleh pihak Bank, dan hutang pada pihak supplier ditanggung oleh Pak Adrian sebagai pemilik toko.
Dari situlah Pak Adrian tidak mau lagi memiliki usaha yang sama, dia lebih memilih usaha dalam bidang wedding organizer agar tidak lagi bisa diganggu oleh adik-adiknya yang tidak bertanggung jawab sama sekali dengan perbuatan mereka.
Kehidupan keluarga Rhea sangat memprihatinkan kala itu. Pak Adrian mati-matian berusaha untuk bangkit kembali dengan sisa uang yang dia miliki untuk membuat usaha tersebut.
Bukan hanya itu saja, hutangnya pada supplier untuk ketiga tokonya itu harus dia bayar dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Dari situlah perjuangan Pak Adrian sangat berat untuk beberapa tahun sebelum usaha Wedding Organizer nya berkembang pesat seperti sekarang ini.
"Sudah Yah, jangan mengingat itu lagi. Pasti Ayah bersedih jika mengingat hal itu. Sekarang kita sudah mempunyai dua cucu yang insya Allah bisa menjadi kebanggaan kita semua."
Bu Ratih menghibur hati suaminya. Dia tidak ingin kebahagiaan mereka kini bercampur dengan kesedihan masa lalu yang sudah lama mereka lupakan.
"Apa Ayah dan Ibu tinggal sementara di sini saja biar bisa membantu Rhea merawat Izam dan Yasmin?"
Rhea berusaha mengalihkan kesedihan ayahnya dengan lebih mendekatkan mereka dengan cucu-cucunya.
"Bagaimana Yah?" tanya Bu Ratih pada suaminya.
"Seperti rencana awal kita saja Bu. Satu minggu kita di sini, dan satu minggu kita pulang ke rumah. Begitu seterusnya sampai semuanya sudah memungkinkan," jawab Pak Adrian.
"Mumpung adik Rhea sudah besar, kita bisa menginap di sini dalam beberapa hari," Ibu Rhea menyahuti ucapan suaminya.
"Rhea senang sekali kalau begitu. Apalagi Izam sudah dalam tahap pemulihan, pasti dia akan sangat senang jika Kakek dan Neneknya ada di sini."
Rhea menanggapinya dengan sangat antusias dan mata yang berbinar.
Di sisi lain ada Hana yang sedang dihadapkan dengan pertanyaan yang sulit.
__ADS_1
"Hana, apa Hana mau pindah sekolah?"