Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 251 Keputusan


__ADS_3

Senyum bahagia tidak luntur dari bibir Izam. Dia sangat bahagia mendengar jawaban dari Salsa.


"Assalamu'alaikum... Abi... Bunda...," seru Izam ketika masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam...," jawab Ustadz Fariz dan Rhea dari ruang tengah.


"Abi... Bunda...," sapa Izam sambil mencium punggung tangan Ustadz Fariz dan Rhea.


"Bahagia bener, ada apa?" tanya Rhea sambil memicingkan matanya melihat Izam yang tidak seperti pada saat meninggalkan rumah.


Izam duduk menghadap Ustadz Fariz dan Rhea. Dia masih saja belum bisa menghentikan senyumnya.


"Ehemm... Abi, Bunda, Izam ingin menikahi Salsa," ucap Izam dengan tegas menatap mata Ustadz Fariz dan Rhea secara bergantian.


Sontak saja Ustadz Fariz dan Rhea kaget, mereka saling menatap, kemudian mereka tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Izam.


"Alhamdulillah...," ucap Ustadz Fariz dan Rhea secara bersamaan.


"Apa kamu sudah yakin Izam?" tanya Ustadz Fariz pada Izam sambil menatap matanya untuk meyakinkannya.


Izam mengangguk dengan yakin dan berkata,


"Insya Allah Izam yakin Abi. Ini jawaban hati Izam dan Izam juga sudah meminta petunjuk dari Allah," jawab Izam dengan antusias.


Rhea dan Ustadz Fariz tersenyum sangat bahagia. Apa yang mereka harapkan benar-benar terjadi.


Bukan mereka tidak suka dengan Adiba, hanya saja mereka tidak ingin jika hubungan Salsa dengan keluarga mereka merenggang karena perasaan anak-anak mereka.


"Lalu bagaimana dengan Kyai Anwar Bi?" tanya Rhea pada Ustadz Fariz sambil memegang tangan suaminya, menyalurkan kekhawatirannya.


"Itu biar menjadi urusan Abi dan Izam. Bunda gak usah khawatir ya sayang," ucap Ustadz Fariz sambil menggenggam jemari tangan istrinya untuk menenangkannya.


Rhea pun tersenyum dan mengangguk meskipun dalam hatinya dia mengkhawatirkan hubungan Pondok Pesantren Al-Mukmin dengan Pondok Pesantren Al Hikmah.


"Bunda cukup doakan saja agar Izam bisa menjelaskan pada mereka," ucap Izam dengan memberikan senyumnya pada Bundanya agar tidak mengkhawatirkannya.


"Baiklah, kapan kita akan berkunjung ke rumah Kyai Anwar?" tanya Ustadz Fariz pada Izam.

__ADS_1


"Insya Allah besok Abi. Tapi...," ucap Izam ragu sambil memandang Ustadz Fariz dan Rhea secara bergantian.


"Tapi apa Zam?" tanya Rhea penasaran.


"Tapi Salsa bagaimana Bunda? Tadi Izam sudah berbicara pada Salsa dan dia menerimanya," jawab Izam ragu.


Rhea dan Ustadz Fariz terkekeh melihat ekspresi kebingungan Izam. Mereka tidak menyangka jika keluarga mereka akan berbesan dengan keluarga Ustadz Jaki.


"Bagaimana apanya Zam?" tanya Ustadz Fariz yang berniat menggoda Izam yang sedang malu dan bingung.


"Ya kita tinggal datang ke rumahnya dan melamar Salsa di hadapan keluarganya saja Zam. Apa yang perlu dikhawatirkan?" tanya Rhea sambil terkekeh.


"Maksud Izam itu Bunda. Kapan kita ke rumah Abi Jaki?" tanya Izam dengan wajah merona malu.


"Pasti kamu maunya nanti malam kan?" tanya Ustadz Fariz yang lagi-lagi berniat menggoda Izam.


Izam pun tersenyum dan mengangguk malu. Bahkan rona merah di wajahnya terlihat jelas karena kulitnya yang putih bersih menurun dari Rhea.


"Ya sudah kalau begitu biar Bunda yang siapkan untuk nanti malam. Dan Abi berbicaralah pada Ustadz Jaki agar bersiap menerima tamu dari jauh ini," tukas Rhea sambil terkekeh.


Terlihat jelas kebahagiaan pada wajah Izam. Senyum kelegaannya membuat Ustadz Fariz dan Rhea sangat lega dan bahagia.


"Lalu kamu kapan Yasmin?" tanya Salsa untuk membalas ledekan dari Yasmin.


"Aku kan masih sekolah Kak, masih belum saatnya," jawab Yasmin tidak mau kalah dengan Salsa.


"Sebentar lagi kamu kan lulus, udah bisa tuh nikah," Salsa mencoba menggoda Yasmin kembali.


"Yasmin masih mau melanjutkan sekolah Kak, lagipula Yasmin masih ingin tinggal bersama Abi dan Bunda, sama Kak Izam dan Kak Salsa juga. Yasmin baru beberapa saat di sini, jadi ingin mengganti masa-masa kecil Yasmin dulu bersama dengan kalian semua," ucap Yasmin sambil menunjukkan senyum dengan lesung pipi dikedua pipinya.


Salsa tersenyum dan membawa tubuh Yasmin dalam pelukannya. Yasmin pun membalas pelukan Salsa dengan eratnya.


"Assalamu'alaikum...," ucap salam Shinta yang memasuki rumah diikuti salam oleh Ustadz Jaki.


"Wa'alaikumussalam...," jawab Salsa dan Yasmin dari dalam kamar Salsa.


"Manda sama Abi Jaki sudah datang, Yasmin mau pulang dulu," ucap Yasmin sambil mencium punggung tangan Shinta dan Ustadz Jaki.

__ADS_1


"Hati-hati ya Yasmin. Apa perlu Abi Jaki antarkan pulang? Kan rumahnya jauh, Abi sama Manda takut kamu kesasar," ucap Ustadz Jaki sambil terkekeh.


"Tidak usah Abi, Yasmin sudah pesan taksi di luar," jawab Yasmin sambil terkekeh.


"Dasar anaknya Rhea," tukas Ustadz Jaki kembali terkekeh.


"Assalamu'alaikum...," ucap Yasmin sambil melambaikan tangannya pada semuanya.


"Wa'alaikumussalam...," jawab mereka semua dengan diiringi lambaian tangan dari Salsa dan Shinta.


Setelah itu Salsa bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin mengambil ponselnya menunggu pesan atau telepon dari Izam.


Namun, apa yang diinginkan oleh Salsa tidak terjadi. Ponsel yang sejak tadi digenggamnya tidak berdering ataupun mengeluarkan suara notifikasi pesan sekalipun.


"Iiiih... kesel... maunya apa sih? Kalau gak diharapakan malah kirim pesan banyak, bahkan telepon berkali-kali. Nah, giliran sekarang ditungguin malah gak ada pesan ataupun telepon sama sekali. Nyebelin tau gak?" ucap Salsa sambil mengomel di depan foto profil Izam yang ada di layar ponselnya.


"Sayang, nanti Ustadz Fariz sama keluarga mau makan malam di sini katanya," ucap Ustadz Jaki pada Shinta yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin setelah membersihkan diri.


"Loh kok mendadak sih sayang? Aku mana sempat masak? Belum pesan makanan pula. Gimana nih? Keburu gak kalau pesan sekarang?" tanya Shinta beruntun pada Ustadz Jaki.


"Kamu tenang aja sayang, aku udah pesankan semuanya tadi. Paling sebentar lagi juga akan datang makanannya," jawab Ustadz Jaki sambil memeluk pinggang istrinya dan mencium rambut basahnya yang memancarkan wangi aroma shampo.


Shinta tersenyum dan dia menghadap ke arah suaminya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. Ketika sudah sangat dekat sekali dengan bibir suaminya, Shinta mengarahkan bibirnya ke samping, pada telinga suaminya tepatnya. Kemudian dia berbisik,


"Aku mau menyiapkan meja makan dulu."


Ustadz Jaki yang matanya terpejam semenjak Shinta mendekatkan wajahnya, seketika matanya terbuka setelah mendengar bisikan dari istrinya itu.


"Yaa... padahal kurang dikit lagi loh sayang. Kita main dulu aja yuk, kan mereka belum datang," Ustadz Jaki merengek pada Shinta sambil mengikutinya dan merayu istrinya.


"Gak sempat. Udah nanti aja," tukas Shinta sambil terus berjalan menuju dapur.


"Dikiiiiiit aja loh sayang. Cuma icip-icip aja. Ya... ya...," Ustadz Jaki kembali merengek sambil mengikuti Shinta ke mana pun dia pergi.


"Abi sama Manda lagi ngapain? Abi minta apaan sih Nda sampai merengek begitu?" tanya Salsa heran ketika turun dari tangga lantai atas.


"Minta mainan baru," sahut Shinta sambil terkekeh.

__ADS_1


"Mainan? Mainan apa?" tanya Salsa heran.


"Squishy," sahut Ustadz Jaki dengan kesal dan berjalan meninggalkan Shinta yang tertawa melihat kekesalan suaminya.


__ADS_2