Cinta Pertama Sang Ustadz

Cinta Pertama Sang Ustadz
Bab 87 Yess!!!


__ADS_3

Shinta terdiam beberapa saat, dia meyakinkan dirinya akan menerima atau tidak niat baik dari Ustad Jaki.


Namun, tiba-tiba suara Ustad Jaki mengagetkannya.


"Shinta," Ustad Jaki memanggil Shinta yang sepertinya sedang melamun.


Reflek Shinta mengangguk dan berkata,


"I-iya," dengan lantangnya Shinta menjawab meskipun agak tergagap karena kaget.


Dan hal itu membuat Ustad Jaki dan kedua orang tua Shinta tersenyum senang mendengar jawaban dari Shinta.


"Alhamdulillah...," ucap syukur dari Ustad Jaki dengan kelegaan hatinya yang kini menjadi plong tanpa beban.


"Pak, Bu, Insya Allah saya akan ke sini bersama keluarga saya setelah acara di Pondok Pesantren usai" Ustad Jaki memberitahukan kedatangan lagi esok hari bersama keluarganya.


"Baiklah akan kami tunggu niat baiknya," Papa Shinta tertawa senang mengucapkannya.


Shinta malu, kepalanya menunduk ke bawah, menyembunyikan rona merah di wajahnya, tidak berani melihat Ustad Jaki.


Kok langsung jawab iya aja sih, kan aku lagi ngambek. Huffft.... Shinta... Shinta... jual mahal dikit kek biar lihat usahanya dapetin kamu gimana, Shinta mengatakan dalam hati merutuki kebodohannya yang secara reflek mengiyakan pertanyaan dari orang tuanya.


Sebelum makan malam bersama, mereka shalat bersama di ruman Shinta dengan Ustad Jaki yang menjadi imamnya.


Terpancar kesenangan dari wajah kedua orang tua Shinta. Mereka senang memiliki menantu yang mempunyai ilmu agama yang lebih dari pada mereka, karena harapan mereka agar Shinta bisa lebih baik lagi jika mempunyai suami seperti Ustad Jaki.


Lantunan ayat suci Al Qur'an yang dilantunkan oleh Ustad Jaki begitu indah dan doa yang dipanjatkannya sangat menyayat hati hingga mampu membuat Shinta dan kedua orang tuanya menitikkan air mata mendengarnya.


Setelah itu mereka mengajak Ustad Jaki makan malam bersama. Kemudian Ustad Jaki berpamitan pulang setelah mengobrol sebentar bersama selepas makan malam tadi.


"Udah Shin, kamu gak usah cemburu sama Ustadzah Farida, kita cuma bahas masalah persiapan acara besok di Pondok kok. Gak usah cemberut gitu. Lain kali bilang aja kalau kamu cemburu, biar aku tau kalau kamu lagi cemburu," Ustad Jaki kembali menggoda Shinta ketika mereka berada di teras rumah mengantar Ustad Jaki yang akan pulang.


"Siapa yang cemburu?" Shinta mengelak.


"Lah tadi itu sampai ngambek gak mau dianterin pulang," Ustad Jaki kembali mengingatkan Shinta akan kejadian tadi siang.


"Dasar gak peka!" seru Shinta sambil masuk ke dalam rumah meninggalkan Ustad Jaki yang akan pulang.

__ADS_1


"Shin... Shinta... gak cium tangan dulu nih, Abang mau pulang," Ustad Jaki berteriak agar Shinta mendengar candaannya.


"Bukan mahram!" teriak Shinta dari dalam rumah.


Ustad Jaki terkekeh mendengar jawaban Shinta. Ternyata dia masih mendengar candaannya meskipun sudah berada di dalam rumah.


Sesampainya di rumah, Ustad Jaki tidak henti-hentinya bersenandung dengan riang dengan senyum yang tidak hilang sedari tadi.


"Assalamualaikum...," salam diucapkan Ustad Jaki sembari masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam...," jawab semua orang yang ada di ruang tengah.


"Gimana Le hasilnya?" tanya Umi Sarifah ingin tahu.


Ustad Jaki akan menjawab, mulutnya sudah terbuka, namun disahut oleh Rhea.


"Gimana Ustad, diterima gak?" sahut Rhea penasaran.


"Pada penasaran ya...," kejahilan Ustad Jaki kembali terpancing.


"Yess!!" jawab Ustad Jaki sambil tangan kanannya lurus ke atas mirip seperti orang yang berhasil memenangkan pertandingan.


Semua orang melongo melihat aksi Ustad Jaki yang berselebrasi memenangkan hati Shinta. Beberapa detik kemudian mereka tertawa dan mengucap syukur.


"Alhamdulillah....," ucap mereka bertiga sehingga membuat senyum Ustad Jaki semakin mengembang.


"Selamat ya Le, semoga lancar sampai nanti kalian resmi menjadi suami istri," ucapan dan doa disertakan Umi Sarifah pada Ustad Jaki.


"Selamat ya Ustad, semoga Shinta gak cemburu lagi sampai nanti akhirnya menjadi pasangan yang sah," ucapan dan doa disertai ledekan diberikan Rhea pada Ustad Jaki.


"Selamat ya saudaraku. Akhirnya nikah juga, semoga diberikan kelancaran. Udah siap belum ninggalin predikat jomblonya?" Ustad Fariz pun ikut memberikan doa dan ucapan selamat yang disertai ledekan pada Ustad Jaki.


"Ck, kalian ini pasangan suami istri yang suka meledek orang lain. Klop banget dah. Sepertinya kalian memang benar-benar berjodoh," Ustad Jaki merespon ledekan dari Rhea dan Ustad Fariz.


"Hahahaha....," tawa mereka bertiga pun terdengar di seluruh ruangan rumah.


Ustad Fariz, Rhea dan Umi Sarifah sangat senang melihat Ustad Jaki yang kini menemukan penyemangat hidupnya.

__ADS_1


Keesokan harinya, acara perpisahan santri diadakan di aula Pondok Pesantren Al-Mukmin. Semua santri ikut berpartisipasi dalam acara tersebut, baik yang lulus ataupun yang masih mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al-Mukmin.


Sesuai undangan yang diberikan Ustad Jaki pada keluarga Shinta. Saat ini Shinta datang menghadiri acara tersebut, namun Papa dan Mama Shinta tidak bisa hadir karena ada urusan di luar kota yang menyebabkan mereka harus pergi ke luar kota. Mama Shinta mengikuti suaminya untuk menyelesaikan pekerjaannya di luar kota.


Karena Ustad Jaki belum menentukan hari untuk datang ke rumah Shinta bersama keluarganya, maka Papa dan Mama Shinta segera menyelesaikan urusan mereka di luar kota, agar pada saat Ustad Jaki dan keluarganya datang ke rumah, mereka bisa menyambutnya tanpa ada halangan dari pekerjaan mereka.


"Shinta, ayo sini," Rhea memanggil Shinta dengan melambaikan tangannya ke arah Shinta agar mendekat kepadanya.


"Duduk sini," Rhea menepuk kursi yang ada di sebelahnya.


Kursi itu sudah disiapkan oleh Ustad Jaki untuk Shinta agar bisa duduk bersama keluarganya.


"Belum dimulai kan acaranya?" tanya Shinta pada Rhea ketika sudah duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Rhea.


"Sebentar lagi. Kamu datang sendiri?" Rhea mengedarkan pandangannya mencari sosok kedua orang tua Shinta yang belum pernah dia temui.


"Iya, Papa sama Mama minta maaf karena mereka sedang ada urusan di luar kota, jadi tidak bisa menghadiri acara ini," Shinta menyampaikan permintaan maaf dari kedua orang tuanya.


Rhea mengangguk-anggukkan kepalanya dan menghentikan pencariannya.


"Ustad Jaki mana?" Shinta bertanya pada Rhea.


Kebetulan sekali usia Rhea dan Shinta sama, jadi mereka bisa akrab dan dekat layaknya seorang teman tanpa menggunakan embel-embel untuk memanggil nama mereka.


"Tuh dia lagi sibuk," Rhea menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah Ustad Jaki yang sedang berbicara dengan Ustad Fariz di sebelah panggung.


Tanpa sadar Shinta tersenyum melihat penampilan Ustad Jaki yang sangat mempesona dengan memakai pakaian khas seorang muslim yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


"Cieee segitunya liatin calon imam," Rhea menggoda Shinta ketika dia melihat Shinta yang tersenyum melihat Ustad Jaki.


Shinta terhenyak sadar dan malu mendapat ledekan dari Rhea. Segera dia menetralkan wajah dan sikapnya agar tidak terlalu kentara di depan Rhea.


"Ehemmm...," Shinta berdehem dan tersenyum merespon ledekan dari Rhea.


"Eh itu Ustadzah Farida bukan?" tanya Shinta ketika melihat seorang wanita mendekat dan berbicara pada Ustad Jaki.


"Yaelah... Ustad Jaki cari penyakit dah," celetuk Rhea melihat arah tunjuk Shinta yang mengarah pada Ustad Jaki yang sedang berbicara dengan Ustadzah Farida dan Ustad Fariz di sebelah panggung.

__ADS_1


__ADS_2