
Beberapa hari di rumah orang tuanya Rhea merasa sangat senang. Mereka bertemu dengan Ustad Yadi yang memang sudah mengetahui pernikahan mereka dari orang tua Rhea.
Ustad Yadi turut senang karena akhirnya mereka berdua bersatu dalam ikatan pernikahan. Sebenarnya dari dulu Ustad Yadi tahu jika Ustad Fariz dan Rhea saling mencintai, namun keadaan tidak berpihak pada mereka waktu itu. Kini hanya doa yang bisa diberikan oleh Ustad Yadi untuk mereka berdua agar keluarga mereka diberikan kebahagian bersama anak-anak mereka.
Kini mereka sudah pulang ke Pondok Pesantren Al-Mukmin. Hari-hari mereka akan kembali seperti biasanya.
Rhea kini sering banyak bergerak karena dia ingin melahirkan secara normal. Seperti sekarang ini, pagi-pagi sekali dia berjalan-jalan pagi mengitari daerah luar Pondok Pesantren ditemani oleh suaminya.
Banyak para tetangga yang menyapa mereka dan memang sudah banyak terdengar pujian untuk mereka berdua.
Setelah berjalan-jalan, mereka kembali ke rumah karena Ustad Fariz akan mengajar. Di saat Ustad Fariz sudah berangkat ke Pondok Pesantren, Rhea mulai membersihkan rumah dan mencuci pakaian.
Selama beberapa hari ini, Mirna memperhatikan keseharian Rhea. Dia sudah mempunyai rencana dan tinggal melaksanakannya di waktu yang tepat.
Dan inilah saatnya yang tepat bagi Mirna untuk melaksanakan rencananya itu. Di tangannya kini sudah ada botol minyak goreng. Dia membawanya ke belakang rumah Rhea dan melumurkan minyak goreng tersebut di lantai sumur belakang rumah Rhea.
Sesudah mengangkat cucian di mesin cuci, kini Rhea beranjak menuju belakang rumah untuk menjemur pakaian. Sayangnya pada saat dia melewati lantai sumur, tiba-tiba kakinya terpleset dan Rhea yang membawa bak cucian jatuh dengan posisi duduk yang lumayan keras.
Rhea meringis kesakitan dan dia menjerit ketika melihat darah mengalir di kakinya.
Santri yang mendengar teriakan Rhea segera datang dan membantu Rhea. Namun mereka tidak berani membantu berjalan ataupun mengangkat badan Rhea.
"Kyai... kyai... Bunda Rhea... Bunda Rhea...," santriwati yang memanggil Ustad Fariz ngos-ngosan berlari untuk segera memberitahukan kabar tersebut.
"Kenapa? Ada apa dengan Bunda Rhea?" tanya Ustad Fariz panik.
"Kepleset di sumur," ucap santri itu cepat.
Dengan segera Ustad Fariz berlari ke arah sumur rumahnya. Dengan perasaan kaget dan khawatir, dia menggendong tubuh Rhea dan segera membawanya ke rumah sakit.
Pondok Pesantren Al-Mukmin heboh dengan kabar Rhea yang terpleset di sumur dan mengeluarkan darah di kakinya. Mirna tersenyum puas mendengar kabar tersebut.
Tak diketahui Mirna bahwa ada dua santriwati yang melihat ekspresi puas yang terpancar jelas dari wajah Mirna.
Mereka bimbang akan memberi tahu pada Kyai nya atau tidak. Tapi mereka takut dengan Mirna jika Mirna tahu mereka yang melaporkannya.
Di sumur tersebut ada Ustad Jaki yang mencari tahu tentang kejadian itu. Pasalnya tadi pagi pun Ustad Fariz mengatakan bahwa dia sudah memastikan bahwa lantai di sumur itu tidak licin, karena dia tahu jika istrinya akan menjemur pakaian, jadi dia memastikannya agar lantai itu aman untuk dilewati Rhea.
__ADS_1
Ustad Jaki menemukan becak minyak goreng di lantai yang dilewati oleh Rhea. Dia mencurigai seseorang, tapi dia tidak mempunyai bukti untuk menuduhnya.
Tiba-tiba dua orang santriwati itu mendekat ke arah Ustad Jaki yang sedang memeriksa kembali lantai sumur tadi.
"Assalamua'alaikum Ustad," ucap kedua santriwati tersebut.
"Wa'alaikumussalam....," jawab Ustad Jaki sambil mendongakkan kepalanya.
"Ada perlu apa?" tanya Ustad Jaki pada kedua santriwati yang ada di hadapannya.
Kedua santriwati itu memperhatikan sekitar mereka dengan ketakutan. Ustad Jaki mengerti jika mereka merasa tidak aman. Kemudian Ustad Jaki membawa mereka masuk ke dalam rumah Ustad Fariz dan Rhea.
Namun, mereka masih saja ragu-ragu untuk berbicara.
"Sebenarnya apa yang akan kalian bicarakan?" tanya Ustad Jaki penasaran.
"Emmm... i-itu Ustad, e...," santriwati itu ragu untuk berbicara mereka saling sikut-sikutan untuk menyuruh berbicara.
"Apa kalian mau berbicara dengan Umi Sarifah?" tanya Ustad Jaki agar mereka mau berbicara karena Ustad Jaki mempunyai feeling bahwa apa yang akan mereka bicarakan sangat penting.
"Oke, sekarang kalian ikut saya," Ustad Jaki mengajak mereka masuk kedalam mobil.
"Ustad, kita mau kemana?" tanya salah satu santriwati tersebut.
"Katanya mau bicara sama Umi Sarifah, beliau sedang berada di rumah sakit mengantar Rhea yang sepertinya terjadi pendarahan," ucap Ustad Jaki sambil mengemudikan kendaraannya.
"Astaghfirullahaladzim... Apakah parah Ustad?" tanya salah satu santriwati tadi.
"Apakah akan terjadi keguguran?" tanya santriwati yang satunya lagi.
"Kenapa? Kalian khawatir?" tanya Ustad Jaki.
"I-iya Ustad, kita berharap agar Bunda Rhea dan bayinya selamat," ucap mereka gugup dan khawatir.
"Kalau kalian tau sesuatu, tolong kalian katakan, karena nasib Bunda Rhea dan bayinya kita belum tau," Ustad Jaki berharap agar ada titik terang dalam masalah tersebut.
Kedua santriwati tersebut saling menoleh dam diam, mereka menunduk seperti merenungkan sesuatu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera masuk ke dalam ruang tunggu yang ada di ruangan UGD karena Rhea sekarang masih ditangani oleh dokter.
"Assalamu'alaikum, Umi... ini ada yang mau bicara sama Umi," Ustad Jaki membawa kedua santriwati tersebut menghadap Umi Sarifah.
"Ada apa Nduk?" tanya Umi Sarifah pada mereka berdua.
"Mmmm... i-itu Umi... mmmm...," mereka berdua sama-sama ragu untuk berbicara.
"Umi sebaiknya ajak mereka ke taman saja" ucap ustad Jaki.
"Baiklah, kita bicara di taman saja," ucap Umi Sarifah pada kedua santriwati tersebut.
"Kalian jalan saja dulu ke taman," ucap Ustad Jaki dengan menghentikan lengan Umi Sarifah yang akan berjalan ke taman.
Kemudian Ustad Jaki memberikan ponselnya yang sudah dia tekan tombol on untuk merekam suara dan memberikannya pada Umi Sarifah.
Umi menurut saja permintaan anak-anaknya, karena dia tahu pasti ada alasan dibalik semua itu.
Di taman rumah sakit kedua santriwati itu menceritakan bahwa mereka melihat Mirna membawa botol minyak goreng menuju belakang rumah Rhea. Karena arah jalan mereka sama, mereka melihat bahwa Mirna menumpahkan satu botol minyak goreng ke lantai sumur yang dilewati oleh Rhea.
Sekitar beberapa menit setelah itu mereka mendengar berita bahwa Rhea terpleset di lantai sumur belakang rumahnya.
Umi Sarifah tidak mengira jika Mirna tega melakukan perbuatan sekeji itu. Umi Sarifah berterima kasih pada mereka karena mau berkata jujur padanya. Kemudian Umi Sarifah mengajak mereka berdua kembali ke ruang UGD untuk menunggu hasil pemeriksaan Rhea.
Sesampainya di depan ruang UGD, Umi Sarifah segera memberikan ponsel Ustad Jaki kembali padanya. Setelah itu Ustad Jaki sengaja menjauh dan memeriksa hasil rekaman tadi.
"Astaghfirullahaladzim... wanita apa sebenarnya dia ini?!" Ustad Jaki geram mendengar rekaman suara tersebut dan dia mengirimkannya pada Ustad Fariz.
"Kyai, bagaimana keadaan Bunda Rhea?" tanya salah satu santriwati tadi.
"Masih diperiksa, doakan semoga Bunda Rhea dan bayinya baik-baik saja," jawab Ustad Fariz yang tampak sangat khawatir sehingga sedari tadi dia hanya berdiri di depan pintu UGD.
"Ustad, periksalah pesanku, aku kirim sesuatu yang penting. Aku akan mengantar mereka berdua kembali ke Pondok Pesantren dulu, nanti aku kembali lagi," ucap Ustad Jaki yang mendapat anggukan dari Ustad Fariz.
Sepeninggalan Ustad Jaki dan dua santri tersebut, Ustad Fariz membuka pesan dari Ustad Jaki dan mendengarkan rekaman suara yang dikirimkan oleh Ustad Jaki.
"Umi.....," Ustad Fariz memandang nanar Umi Sarifah dan Umi Sarifah mengangguk dengan raut wajah penuh kesedihan.
__ADS_1